Benar, hitungan mengenai konsumsi, produksi, dan impor tampaknya tidak
bisa dipakai untuk menganalisis kenaikan harga BBM Indonesia.
Sebenarnya bagaimana sih kontrak kerja sama kita dengan pihak asing
dalam eksplorasi dan eksploitasi migas kita? Apa yang terjadi
sebenarnya dengan migas kita pasca produksi.
Pada kasus blok Cepu misalnya, besar kesempatan kita untuk mengelolanya
secara mandiri, toh akhirnya masih menggunakan pihak asing lagi.
Jangan-jangan benar tesis almarhum Teuku Yacob bahwa negeri ini memang
lebih layak disebut sebagai Republik Kleptokrasi Indonesia.
Salam Hangat
B. Samparan
--- AFR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> sulit ma'mur dr oil industry kalo pengelolaannya dipercayakan
> kapitalis barat. prinsip mereka, "boleh jadi gak punya resources di
> negeri sendiri, tapi rampas milik mereka dgn perjanjian/kontrak".
> bentuk kontrak skrg tidak cuma macam psc, tac, job, teknologi &
> project tapi bisa meliput global country security.
>
> di INA yg dibutuhkan itu org2 bersih, yg komit dgn peraturan yg
> dibuatnya sendiri. para kapitalis itu bisa merusak tatanan kalo
> pejabat yg berkepentingan buruk mental.
>
>
> salam,
> Fahru
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/listinfo/is-lam