http://musliminsuffer.wordpress.com/
bismi-lLahi-rRahmani-rRahiem
In the Name of Allah, the Compassionate, the Merciful
=== News Update ===
Harun Nasution dan Nurcholish Madjid Dalam Kasus Penyelewengan Tauhid
Berkedok Ayat Tentang Ahli Kitab
Ikbal Irham seorang dosen IAIN Medan yang mengaku muridnya mendiang
Harun Nasution di Pasca sarjana IAIN (UIN) Jakarta mengemukakan,
Harun Nasution mengajarkan dalam perkuliahan bahwa Bunda Theresia
(Nasrani) kelak masuk surga. Dan itu ada ayatnya:
(113) (114)
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang
berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di
malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS Ali Imran/ 3: 113).
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera
kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk
orang-orang yang saleh. (QS Ali Imran/ 3: 114).
Dosen yang murid Harun Nasution itu mengemukakan hal tersebut dalam
seminar di Masjid IAIN Medan, Sabtu 11 Maret 2006M/ 10 Shafar 1427 H.
Dia juga berupaya membela Nurcholish Madjid di hadapan Dr Masri
Sitanggang, seorang pembicara dalam seminar ini. Karena Dr Masri
menegaskan bahwa Nurcholish Madjid dulu tidak mampu mempertahankan
pendapatnya tentang Islam bukan nama agama, ketika dibantah oleh
Masri dalam seminar di Medan, 27 Juli 1993. Saat itu, Masri membantah
Nurcholish Madjid dengan makalah berjudul Kajian Kritis terhadap
Makalah Nurcholish Madjid Berjudul: Beberapa Renungan tentang
Kehidupan Keagamaan untuk Generasi Mendatang.
Murid Harun Nasution dijawab
Ungkapan dosen yang murid Harun Nasution tentang Ahli Kitab itu saya
(Hartono Ahmad Jaiz) jawab: Nah itulah buktinya. Karena pelajaran
hafalan (ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam) sudah dibredel di IAIN, maka mahasiswa (walaupun di pasca
sarjana) tidak hafal ayat, tidak hafal hadits, tidak tahu tafsir
ayat, dan tak kenal asbabun nuzulnya. Maka ketika dikemukakan hal
yang sebenarnya bertentangan dengan isi ayat dan hadits, mahasiswa
hanya ikut saja, tidak bisa membantahnya. Padahal kalau tahu asbabun
nuzulnya, bahwa ayat itu berkaitan dengan Raja Najasyi, maka tahu
bahwa Ahli Kitab di situ orang yang sudah masuk Islam. Sebagaimana
orang yang beriman dari kalangan Fir'aun masih disebut min ali
fir'aun, dari kalangan Fir'aun, tetapi sudah beriman, keyakinannya
tidak seperti Fir'aun.
Di samping itu, kalau hafal hadits, maka akan menyanggah pernyataan
Harun Nasution itu, karena ada hadits sohih riwayat Muslim, siapa
saja yang sudah mendengar seruan Nabi Muhammad saw dan kemudian mati
dalam keadaan tak beriman kepadanya maka pasti termasuk
penghuni-penghuni neraka.
Haditsnya:
.( ).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bahwa beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di
tanganNya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar
(agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia
mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali
dia termasuk penghuni neraka." (Hadits Riwayat Muslim bab Wujubul
Iimaan birisaalati nabiyyinaa saw ilaa jamii'in naasi wa naskhul
milal bimillatihi, wajibnya beriman kepada risalah nabi kita saw bagi
seluruh manusia dan penghapusan agama-agama dengan agama beliau).
Masalah Ahli Kitab yang beriman
Untuk menjelaskan sesatnya faham Harun Nasution mengenai ayat laisu
sawa' perlu kita merujuk kepada penjelasan ulama, di antaranya
penafsiran Imam Ibnu Taimiyyah dalam Kitab Daqoiqut Tafsir juz 1
halaman 313-319. Kami susun dalam bentuk pemahaman yang diambil
darinya (bukan terjemahan, tapi pemaparan dengan melandaskan padanya)
sebagai berikut.
1. Orang yang beriman dari ahli kitab, maksudnya beriman kepada Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tetapi tidak bisa melaksanakan
syari'at Islam secara terang-terangan karena tidak dapat hijrah ke
Darul Islam, masih di Darul Harb, hingga hanya mampu melaksanakan apa
yang dapat ia lakukan, dan gugur dari apa yang tidak dapat
dilakukannya. Itu sebagaimana Raja Najasyi di Habasyah yang dia
beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun
masih berada di lingkungan Nasrani dan hanya dapat melaksanakan apa
yang dia mampu, maka gugur dari apa yang dia tidak mampu. Maka masih
disebut min ahlil kitab (dari kalangan ahli kitab) karena dalam
kenyataan secara lahiriah masih di golongan dan tempat Nasrani.
Berbeda dengan yang sudah jelas melaksanakan Islam secara nyata, baik
lahir maupun batin, dan berada di negeri Darul Islam, bukan Darul
Harb, maka walaupun tadinya dari ahli kitab, ataupun kafir ataupun
musyrik, maka sudah tidak disebut dari golongan ahli kitab, atau
kafir atau musyrik.
2. Sebaliknya, orang-orang yang menampakkan dirinya sebagai muslim di
Darul Islam, bahkan secara lahiriyah juga melaksanakan Islam, tetapi
hatinya kafir, mengingkari Islam, maka secara lahir mereka disebut
Islam. Tetapi orang ini adalah munafik. Jadi sebutannya muslim, namun
hakekatnya kafir. Maka Abdullah bin Ubay bin Salul, walaupun dia
berada di Madinah bersama Nabi Muhammad saw, menampakkan diri
mengerjakan Islam, namun dia munafik, maka Allah melarang untuk
menshalati jenazahnya, karena hakekatnya Abdullah bin Ubay itu kafir.
Ini berbalikan dengan Raja Najasyi. Dalam riwayat yang jelas,
ternyata Raja Najasyi beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, hanya saja adanya di negeri Nasrani, maka ketika
meninggal, kemudian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam
shalat ghaib untuk Najasyi itu.
Keadaan Najasyi itu sebagaimana pula orang mukmin yang menyembunyikan
keimanan di antara warga Fir'aun (Ali Fir'aun), sebagaimana pula
istri Fir'aun, Asiyah, masih disebut Ali Fir'aun (Warga Fir'aun),
karena belum berhijrah ke Darul Islam, walau batinnya sudah beriman.
Dan melakukan keimanannya sebatas apa yang dia mampui, sedang yang
tidak dimampui maka gugur kewajibannya.
Itu bisa dirujuk pada firman Allah subhanahu wata'ala:
(113) (114)
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang
berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di
malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS Ali Imran/ 3: 113).
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera
kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk
orang-orang yang saleh. (QS Ali Imran/ 3: 114).
(199)
Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada
Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan
kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka
tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka
memperoleh pahala di sisi Tuhan-nya. Sesungguhnya Allah amat cepat
perhitungan-Nya. (QS Ali Imran/ 3: 199).
(28)
Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut
Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan
membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah
Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa
keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka
dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang
benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan
menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang
melampaui batas lagi pendusta. (QS Ghafir/40: 28).
(11)
Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang
beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah
rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan
perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim", (QS
At-Tahrim/66 :11).
Dalam Al-Qur'an, isteri termasuk keluarga, maka istri Nabi Luth as
adalah keluarga Luth, hanya saja karena kafir maka termasuk
orang-orang yang diadzab.
(58) (59) (60)
Mereka menjawab: "Kami sesungguhnya diutus kepada kaum yang berdosa,
kecuali Luth beserta pengikut-pengikutnya. Sesungguhnya Kami akan
menyelamatkan mereka semuanya, kecuali isterinya, Kami telah
menentukan, bahwa sesungguhnya ia itu termasuk orang-orang yang
tertinggal (bersama-sama dengan orang kafir lainnya)". (QS Al-Hijr/
15: 58. 59, 60).
Imam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, di kalangan orang-orang yang
menampakkan dirinya sebagai Muslim ada yang munafik, yaitu batinnya
kafir, baik (berideologi) Yahudi, musyrik, maupun menafikan
sifat-sifat Allah (mu'thil). Demikian pula (sebaliknya) dari kalangan
orang Ahli Kitab dan Musyrikin, ada yang tampaknya seperti mereka
tetapi dalam batinnya beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu
'alaihi wa sallam, berbuat dengan ilmunya sebatas kemampuannya, dan
gugur dari kewajiban mengenai apa yang dia tidak mampu
mengerjakannya, Allah tidak membebani kecuali sekadar kemampuannya,
sebagaimana Najasyi yang tidak mampu pindah ke negeri Muslim/ Darul Islam.[1]
3. Adapun sebelum datangnya Nabi Muhammad saw, makna Ahli Kitab yang
mukmin itu adalah orang-orang yang beriman kepada nabinya sebelum
agamanya diganti/ diubah dan dinasakh (dihapus oleh nabi yang baru).
Umatnya Nabi Musa, maka yang mukmin yaitu yang mengikuti agama Nabi
Musa as, memegangi Taurat dengan konsisten/ istiqomah. Ketika datang
Nabi Isa as maka mengikuti dan beriman pula kepada Nabi Isa as.
Demikian pula umatnya Nabi Isa alaihis salam, mengikuti dan beriman
kepada Nabi Isa as, memegangi Injil dengan istiqomah sebelum ada
penggantian/ perubahan tangan-tangan orang, dan sebelum dinasakh
(datangnya Nabi baru lagi, Nabi Muhammad saw). Ketika datang Nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam maka mengikuti dan mengimani
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Itulah yang disebut
beriman, yang dijanjikan surga oleh Allah swt atas mereka.
sumber : http://www.nahimunkar.com/?p=75#more-75
===
-muslim voice-
______________________________________
BECAUSE YOU HAVE THE RIGHT TO KNOW
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam