Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
Tafsir Tematik QS Al Baqarah ayat 13 tentang Kemunafikan
Munafik ~ QS Al Baqarah ayat 13 <http://adanipermana.co.cc/blog/?p=16> June
15, 2008 – 10:55 am
http://adanipermana.co.cc/blog/?p=16
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُواْ أَنُؤْمِنُ كَمَا
آمَنَ السُّفَهَاء أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ
يَعْلَمُونَ13
"Dan apabila dikatakan kepada mereka : berimanlah kamu sebagaimana
orang-orang lain telah beriman, mereka menjawab : apakah kami akan beriman
sebagaimana berimannya orang-orang yang bodoh itu telah beriman, Ingatlah!
sesungguhnya merekalah yang sebenarnya bodoh, akan tetapi mereka tidak tahu"
(13)
{ وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ كَمَا آمَنَ النَّاسُ } أَيْ كَإِيمَانِ
النَّاس بِاَللَّهِ وَمَلَائِكَته وَكُتُبه وَرُسُله وَالْبَعْث بَعْد الْمَوْت
وَالْجَنَّة وَالنَّار وَغَيْر ذَلِكَ مِمَّا أَخْبَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِهِ
وَعَنْهُ وَأَطِيعُوا اللَّه وَرَسُوله فِي اِمْتِثَال الْأَوَامِر وَتَرْك
الزَّوَاجِر
"Dan apabila dikatakan kepada mereka : berimanlah kamu sebagaimana
orang-orang lain telah beriman", yaitu seperti berimannya manusia kepada
Allah, malaikat, kitab-kitabnya, hari berbangkit setelah mati, dan ta'at
kepada Allah serta Rasul-Nya dalam segala urusan dan menjauhkan apa yang
dilarangnya. Ketika hal tersebut dikatakan kepada kaum munafik agar mereka
beriman secara tulus ikhlas yang tidak dicampuri oleh kemunafikan, mereka
menjawab {أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء }, - akan berimankah kami
sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman - as-Sufaha' (jamak dari
as-Safah yaitu orang yang akalnya tipis, tidak dapat menindaki suatu urusan
dan mengaturnya dengan baik yang tidak memiliki kejernihan berfikir dan
bashirah. Mereka menisbatkan as-Safah kepada orang-orang beriman dengan
penuh ejekan dan pelecehan sehingga hal itu menyebabkan mereka dicatatkan
oleh Allah sebagai orang yang memiliki sifat tersebut dan membatasi sifat
tersebut dan ketipisan akal hanya buat mereka. Yang mereka maksudkan
orang-orang bodoh adalah dari kalangan sahabat Rasulullah ialah seperti
Shuhaib, Ammar, Bilai, dan Abdullah bin Salam'.
قَالَ عَبْد الرَّحْمَن بْن زَيْد بْن أَسْلَمَ فِي قَوْله : { قَالُوا
أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء } قَالَ : هَذَا قَوْل الْمُنَافِقِينَ ,
يُرِيدُونَ أَصْحَاب النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Berkata Abdurrahman bin Zaid bin Aslam pada firman Allah "akan berimankah
kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman" , ia berkata ini
adalah perkataan orang-orang munafik yang ditujukan kepada para sahabat Nabi
saw.
Maka Allah secara tegas membantah pernyataan kaum munafik ini {13أَلا
إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ }, - ingatlah
sesungguhnya merekalah orang yang bodoh sebenar-benarnya, dan mereka berbuat
kebatilan akan tetapi mereka tidak mengetahuinya atas kebodohan dan
kesesatannya itu. Disini kita dapati kejelasan penetapan dalam ungkapan Al
Quran yang disertai dengan empat penguatan yakni {أَلا }, yang berarti
peringatan, {inna} yang berarti penguatan, kata ganti yang terpisah Hum,
kemudisan kata As Sufahaa yang berarti bentuk ma'fifah (definitive). Semua
ini terangkup dalam kalimat {أَلا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاء }, kemudian
ayat ini diakhiri dengan bentuk istidraak {وَلَـكِن لاَّ يَعْلَمُونَ },
tetapi mereka tidak tahu. Memang benarlah, kapankah orang yang bodoh itu
mengakui kebodohannya, pasti mereka mengaku-ngaku dirinya lebih tinggi dan
lebih pintar. Benarlah apa yang diungkapkan oleh Sayyid Quthb rahimahullah
dalam tafsirnya "bahwa dengan lewatnya suatu masa-kemasa dan suatu zaman-ke
zaman bahwa peradaban manusia tentang kemunafikan ini adalah
berulang-ulang". Kita dapat sadari hal ini dan kita dapat lihat disekeliling
kita bahwa sifat kemunafiakn ini merajalela. Sebagai contoh kecil ada
sebagian mu'min yang ingin benar-benar syari'at Allah itu tegak, akan tetapi
hal itu amatlah sulit karena terbentur musuh dari luar (non muslim) dan juga
musuh intern sendiri (muslim). Jikalau umat non muslim yang tidak bersetuju,
itu adalah hal yang wajar, akan tetapi bagaimana jika yang merintangi
tegaknya Syari'at Allah dan Rasul-Nya itu datang dari orang Islam sendiri.
Ini adalah suatu fenomena disebuah negara yang mayoritasnya pemeluk islam,
dimana sebagian umat islam geli atau bahkan dengan tegasnya menolak syari'at
agamanya sendiri. Seperti contohnya penolakan yang datangnya dari Jaringan
Islam Liberal (JIL), menurut pentolan JIL yang bernama Ulil Absar Abdala dan
Luthfi Assyaukanie mereka paling vokal menentang syariat Allah ini, pada
salah satu artikelnya yang dimuat di koran tempo Ulil menyatakan tidak
setuju dengan pelaksanaan syari'at Islam melalui aparat pemerintah. Wewenang
dan kewajiban pelaksanaan syari'at islam menurutnya sepenuhnya urusan umat
islam sendiri. [Sabili No.1 TH. X 25 Juli 2002/ 14 Jumadil Awal 1423] Hal
ini sudah jelas tergambarkan bahwa yang menolak dengan tegas ataupun secara
sembunyi-sembunyi baik mereka sadari atau pun tidak disadari, serta siapapun
orang yang menentang, merintangi serta mengajak serta membekingi kemaksiatan
mereka adalah termasuk kedalam katagori "orang-orang yang membuat kerusakan
dimuka bumi karena mereka merintangi tegaknya agama Allah dan Rasul-Nya.
Sumber : Tafsir At
thobary<http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=TABARY&nType=1&nSora=1&nAya=1>,
Ibnu
Katsir<http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=KATHEER&nType=1&nSora=1&nAya=1>,
Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu
Abbas<http://altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=10&tSoraNo=1&tAyahNo=2&tDisplay=yes&UserProfile=0>,
Sabili Edisi No.1 TH. X 25 Juli 2002/ 14
Wallahu'alam bish showab
--
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
A Dani Permana
www.adanipermana.co.cc
www.computer-knowledge.biz
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam