Bagi orang partai fenomena maraknya golput tentu saja sangat menggelisahkan 
mereka. Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan, kadang halus kadang kasar, 
mereka mengecam golput. Salah satu kecaman yang populer diberondongkan, “Jika 
Anda golput, Anda tak lagi berhak berpartisipasi dalam proses politik pasca 
kondangan pemilihan!”

Saya selalu geli mendengar kecaman yang semacam itu, sebab yang ikutan 
memilihpun pada hakekat dan realitasnya juga kehilangan hak berpartisipasi 
mereka.

Memilih pada dasarnya adalah kontrak perwakilan, pemilih mewakilkan 
“keinginan-keinginan”nya kepada wakilnya untuk dilaksanakan. Jika kontrak ini 
jadi, logikanya wakil pemilih harus bertindak atas nama pemilih - 
memperjuangkan secara maksimal “keinginan-keinginan” pemilih.

Apa mau dikata, sampai hari kontrak perwakilan semacam itu tidak pernah 
terjadi. Setelah kontrak perwakilan selesai, wakil pemilih memang bertindak 
atas nama pemilih, tetapi “keinginan-keinginan” yang diperjuangkan jelas bukan 
milik pemilih. Bisa “keinginan-keinginan” partai, pribadi, dan yang lebih susah 
lagi bila “keinginan-keinginan” itu justru milik pihak asing.

Melihat kenyataan itu, disiplin ekonomi publik sejak awal justru selalu 
mengungkapkan bahwa calon wakil rakyat memang tidak pernah memiliki motivasi 
kecuali mengejar “keinginan-keinginan” pribadinya - gaji, tunjangan, relasi, 
lobi, popularitas, dll. “Keinginan-keinginan” pemilih hanya akan dilayani oleh 
wakil rakyat bila kekuatan menjadikan dan melengserkan calon wakil rakyat 
menjadi wakil rakyat ada di tangan rakyat. Pada kondisi semacam itu, logika 
wakil rakyat adalah “Tentu saja saya harus memperjuangkan 
‘keingingan-keinginan’ pemilih, karena jika tidak saya akan dipecat oleh 
pemilih. Jika saya lengser, bagaimana saya bisa mencapai ‘keinginan-keinginan’ 
pribadi saya lewat jabatan wakil rakyat.”

Sayangnya, sampai saat ini pemilih hanya memiliki atau diberi kekuatan 
menjadikan dan tidak (tidak akan pernah?) memiliki atau diberi kekuatan untuk 
melengserkan wakil rakyat. Walhasil, tindakan memilih adalah tindakan gambling. 
Jadi, mesti Anda memilih, siap-siap saja Anda kehilangan hak berpartisipasi 
dalam proses politik pasca kondangan pemilihan.

Orang partai memang kaum cerdik pandai, mereka mengancam para calon golput, 
tetapi membuktikan ancamannya kepada para pemilih. Para pemilih malah jadi 
serba susah mau mengkritik. “Wong yang menjadikan mereka wakil rakyat saya juga 
je! Wong mereka bertindak atas nama saja je!”

(Diambil dari xprihadime.wordpress.com seijin penulis)

Salam hangat
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke