Kalau kita membicarakan aleg yang "mengaku" wakil rakyat, bak mengurai
benang kusut. Hati kesal namun gak tuntas2.

Kalaupun saja kita tidak memilih satu diantara mereka alias golput, mereka
tidak bisa berbuat banyak dan tidak ada hak mereka untuk memaksa kita guna
memilih. Toh didalam bilik suara tidak seorangpun yang tahu apa yang kita
lakukan?

Memilih dalam pemilu menurut saya itu hanya tanggung jawab moral secara
pribadi sebagai warga Negara. 

Kalau tindakan kita dalam memilih itu hanya untuk dijadikan bahan
"legitimasi" para caleg untuk duduk dikursi legislative dan setelah itu
mereka melupakan amanat pemilihnya, itu sangat2 menyakitkan. Dan itu yang
sekarang ini banyak terjadi.

 
-----Original Message-----
From: Bango Samparan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Monday, September 01, 2008 10:07 AM
To: Milis Is-lam
Subject: [is-lam] Pemilih Oh Pemilih

Bagi orang partai fenomena maraknya golput tentu saja sangat menggelisahkan
mereka. Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan, kadang halus kadang kasar,
mereka mengecam golput. Salah satu kecaman yang populer diberondongkan,
"Jika Anda golput, Anda tak lagi berhak berpartisipasi dalam proses politik
pasca kondangan pemilihan!"

Saya selalu geli mendengar kecaman yang semacam itu, sebab yang ikutan
memilihpun pada hakekat dan realitasnya juga kehilangan hak berpartisipasi
mereka.

Memilih pada dasarnya adalah kontrak perwakilan, pemilih mewakilkan
"keinginan-keinginan"nya kepada wakilnya untuk dilaksanakan. Jika kontrak
ini jadi, logikanya wakil pemilih harus bertindak atas nama pemilih -
memperjuangkan secara maksimal "keinginan-keinginan" pemilih.

Apa mau dikata, sampai hari kontrak perwakilan semacam itu tidak pernah
terjadi. Setelah kontrak perwakilan selesai, wakil pemilih memang bertindak
atas nama pemilih, tetapi "keinginan-keinginan" yang diperjuangkan jelas
bukan milik pemilih. Bisa "keinginan-keinginan" partai, pribadi, dan yang
lebih susah lagi bila "keinginan-keinginan" itu justru milik pihak asing.

Melihat kenyataan itu, disiplin ekonomi publik sejak awal justru selalu
mengungkapkan bahwa calon wakil rakyat memang tidak pernah memiliki motivasi
kecuali mengejar "keinginan-keinginan" pribadinya - gaji, tunjangan, relasi,
lobi, popularitas, dll. "Keinginan-keinginan" pemilih hanya akan dilayani
oleh wakil rakyat bila kekuatan menjadikan dan melengserkan calon wakil
rakyat menjadi wakil rakyat ada di tangan rakyat. Pada kondisi semacam itu,
logika wakil rakyat adalah "Tentu saja saya harus memperjuangkan
'keingingan-keinginan' pemilih, karena jika tidak saya akan dipecat oleh
pemilih. Jika saya lengser, bagaimana saya bisa mencapai
'keinginan-keinginan' pribadi saya lewat jabatan wakil rakyat."

Sayangnya, sampai saat ini pemilih hanya memiliki atau diberi kekuatan
menjadikan dan tidak (tidak akan pernah?) memiliki atau diberi kekuatan
untuk melengserkan wakil rakyat. Walhasil, tindakan memilih adalah tindakan
gambling. Jadi, mesti Anda memilih, siap-siap saja Anda kehilangan hak
berpartisipasi dalam proses politik pasca kondangan pemilihan.

Orang partai memang kaum cerdik pandai, mereka mengancam para calon golput,
tetapi membuktikan ancamannya kepada para pemilih. Para pemilih malah jadi
serba susah mau mengkritik. "Wong yang menjadikan mereka wakil rakyat saya
juga je! Wong mereka bertindak atas nama saja je!"

(Diambil dari xprihadime.wordpress.com seijin penulis)

Salam hangat
B. Samparan


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke