My humble note: Radikalisme sebuah keadaan yang netral, karena itu bisa dipasangkan dengan keadaan yang lain.
Amrozi, dkk. adalah penganut radikalisme. Ya. BTW, bukankah pihak lain juga banyak yang menganut sebuah radikalisme jenis lain. Debu nun di seberang lautan tampak, gajah pun mencolok mata, sirna:-) Salam hangat B. Samparan --- On Tue, 11/11/08, Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > From: Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [is-lam] Ekstremisme Pemahaman Keagamaan Picu Radikalisme > To: [email protected] > Date: Tuesday, November 11, 2008, 2:01 AM > Masdar Farid Mas'udi > > Ekstremisme Pemahaman Keagamaan Picu Radikalisme > > > Penulis : Dwi Tupani > > > > > JAKARTA--MI: Terorisme tidak akan bisa padam karena > eksekusi terhadap > pelakunya. Terorisme yang menjadi paham para pelaku teror > seperti Amrozi dan > kawan-kawan merupakan ekses dari pemahaman agama yang > literalistik, kondisi > kemiskinan yang terjadi, dan pengaruh situasi global yang > terjadi di > negara-negara Islam. ''Ekstremisme pemahaman > berbuntut pada tindakan > radikalisme. Semua dinilai hitam-putih. Paham literalistik > bukan monopoli > agama, melainkan juga ideologi lainnya, seperti sosialisme, > kapitalisme, > ataupun ideologi Pancasila,'' kata intelektual > Nahdlatul Ulama Masdar Farid > Mas'udi saat dihubungi Dwi Tupani dari Media Indonesia > di Jakarta, Minggu > (9/11). Oleh karena itu, menurutnya, perlu kerja sama dan > berkesinambungan > antara ulama, pemerintah, dan negara-negara seluruh dunia > untuk memberantas > masalah tersebut. > Berikut petikan wawancara selengkapnya dengan Ketua > Pengurus Besar Nahdlatul > Ulama ini: > Kelompok Radikal dalam Islam sepertinya tidak pernah padam, > selalu > bermunculan. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? > Perlu diketahui bahwa radikalisme keagamaan itu tidak hanya > monopoli Islam. > Semua agama memiliki fenomena yang sama. Penyebabnya adalah > pemahaman agama > yang terlalu literalistik, yang juga ada di semua agama. > Pola keagamaan > radikal hanya memahami secara literalistik, dimana dimensi > dalam memahami > teks direduksi sedemikian rupa. Pada saat yang sama, > kondisi kontekstual > sosial, ekonomi, politik, dan budayanya tidak dipahami. > Yang terjadi, teks > menjadi soliter, dan dalam menghadapi kontekstual sifatnya > menyangkal > realita yang ada. Semua dinilai hitam-putih. Paham > literalistik bukan > monopoli agama, tetapi juga ideologi lainnya, seperti > sosialisme, > kapitalisme, ataupun ideologi Pancasila. > Apakah pemahaman literalistik mendorong tindakan teror? > Pemahaman literalistik belum cukup melahirkan pola perilaku > ekstrim. Orang > dengan pemahaman yang hitam-putih seperti itu biasanya > merasa ideologi/ > agamanya yang paling benar. Itu hal yang wajar, orang > berhak menilai dirinya > benar. Ia menafikan kebaikan dari pihak lain. Ia hanya > merasa dirinya benar, > dan yang lain salah. Bahkan merasa benar menghabisi hidup > orang lain yang > dinilai salah. Tetapi itu baru potensi timbulnya kekerasan. > > Lalu apa pemicu perilaku kekerasan itu? > Untuk bisa tumbuh, pohon kekerasan atau ekstrimis yang > memiliki benih > pemahaman literalistik adalah realisme sosial yang ada. > Terutama masalah > sosial ekonomi. Mereka yang mengalami proses keterpinggiran > sosial misalnya > nganggur, biasanya mudah tumbuh subur benih ekstrimis. > Apa contohnya? > Contohnya adalah Amrozi, Imam Samudera, dkk. Mereka lama di > Afganistan dan > terlatih menjadi pemain lapangan untuk melakukan jihad. Di > sini mereka > teralienasi, keahlian tersebut tak terpakai. Mereka masuk > ke dalam warga > masyarakat yang termarginalkan. Begitu juga dengan Salik > Firdaus, pelaku bom > bunuh diri. Dalam kondisi miskin dan tidak terdidik, serta > tidak menemukan > makna hidup. Orang dengan kondisi saat ini sangat mudah > diindoktrinasi > dengan ketenangan instan. Misalnya, jihad dengan bunuh diri > serta merta > masuk surga. Ia yang ingin memiliki makna hidup tidak > diberi "makna hidup" > tapi karena "kiprah mati". Ini adalah kebahagiaan > optimal dengan cara > instan. > Apa alasan lainnya yang juga menyebabkan perilaku > ekstrimis? > Penyubur lainnya adalah kondisi sosial-politik di suatu > negara. Untuk > tataran konteks nasional Indonesia, konflik Poso, ataupun > Ambon, membuat > mereka "meledak" dan membuat aksi paling keras. > Begitu juga dengan adanya > isu sosial politik global. Isu di Palestina dan Afganistan > menjadi air yang > menyirami terorisme global, dengan isu ketidakadilan > global. Akibat > "keprihatinan" pada situasi tersebut, terjadilah > aksi kekerasan terorisme. > Jadi apakah kekerasan itu dibenarkan? > Perlu diketahui, soal ekstrimisme dan terorisme itu soal > lain. Bukan berarti > terorisme dibenarkan, bisa membunuh orang yang tidak tahu > menahu dengan apa > yang diprihatinkan oleh pelaku. Korban-korban yang tidak > bersalah, yang > dituntut "pertanggungjawaban" itu tidak > dibenarkan. Seperti bom Bali, > ataupun bom Marriot, korbannya kan bukan pihak yang > bertanggung jawab > langsung. Seperti dikatakan Al Quran, "Barang siapa > membunuh orang bukan > karena pembunuhan. Laksana dia membunuh seluruh umat > manusia." Dalam hal > ini, orang boleh melakukan eksekusi asal dalam proses > seksama. Pembunuhan > dengan alasan keadilan pun, harus dari otoritas penegak > hukum, tidak boleh > main hakim sendiri. > Dengan demikian berarti tindakan eksekusi terhadap Amrozi > dkk sudah tepat? > Eksekusi terhadap Amrozi cs telah diputuskan oleh > Pengadilan. Sebab, alasan > meledakkan bom Bali tidak ada hubungannya dengan kezaliman > di Palestina > ataupun Afganistan. Aksi bom Marriot, banyak saudara yang > beragama Islam > yang menjadi korban. Hal-hal tersebut menjadi pembenaran > kenapa Amrozi layak > dihukum karena terlibat/ melakukan pembunuhan. Apalagi > proses eksekusi > dilakukan oleh keputusan hukum dan aparat hukum. > Merebaknya radikalisme dalam Islam apakah karena kegagalan > dakwah kelompok > Islam moderat? > Untuk mengurangi ekstrimisme, radikalisme akibat pemahaman > yang > literalistik, diperlukan kerjasama para alim ulama, kiai, > dan mubalig untuk > membangun keagamaan yang lebih terbuka. Jangan keagamaan > yang menerapkan > kebaikan untuk diri sendiri saja. Harus dicairkan oleh para > alim ulama agar > ajaran agama menjadi inklusif. Tapi perlu diingat, bahwa > kaum alim ulama > tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. > Siapa yang harus menyelesaikan masalah ini? > Proses marginalisasi akibat literalisme adalah tanggung > jawab pemerintah. > Masyarakat yang mereka termarginalisasi bisa dihilangkan > sedemikian rupa > dengan memberantas kemiskinan. Sebab, orang yang fakir > dapat berubah menjadi > kafir. Sementara secara global, pemimpin negara-negara di > dunia juga harus > menyelesaikan masalah ketidakadilan yang terjadi di > Palestina dan > Afganistan. Karena jika masalah global itu tidak selesai, > selalu bisa > menjadi dalih ekstrimisme yang simultan. (Tup/X-4) > > > > Alkhori M > > Alkhor Community > > Qatar > > > > _______________________________________________ > Is-lam mailing list > [email protected] > http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
