Masdar Farid Mas'udi Ekstremisme Pemahaman Keagamaan Picu Radikalisme
Penulis : Dwi Tupani JAKARTA--MI: Terorisme tidak akan bisa padam karena eksekusi terhadap pelakunya. Terorisme yang menjadi paham para pelaku teror seperti Amrozi dan kawan-kawan merupakan ekses dari pemahaman agama yang literalistik, kondisi kemiskinan yang terjadi, dan pengaruh situasi global yang terjadi di negara-negara Islam. ''Ekstremisme pemahaman berbuntut pada tindakan radikalisme. Semua dinilai hitam-putih. Paham literalistik bukan monopoli agama, melainkan juga ideologi lainnya, seperti sosialisme, kapitalisme, ataupun ideologi Pancasila,'' kata intelektual Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas'udi saat dihubungi Dwi Tupani dari Media Indonesia di Jakarta, Minggu (9/11). Oleh karena itu, menurutnya, perlu kerja sama dan berkesinambungan antara ulama, pemerintah, dan negara-negara seluruh dunia untuk memberantas masalah tersebut. Berikut petikan wawancara selengkapnya dengan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini: Kelompok Radikal dalam Islam sepertinya tidak pernah padam, selalu bermunculan. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi? Perlu diketahui bahwa radikalisme keagamaan itu tidak hanya monopoli Islam. Semua agama memiliki fenomena yang sama. Penyebabnya adalah pemahaman agama yang terlalu literalistik, yang juga ada di semua agama. Pola keagamaan radikal hanya memahami secara literalistik, dimana dimensi dalam memahami teks direduksi sedemikian rupa. Pada saat yang sama, kondisi kontekstual sosial, ekonomi, politik, dan budayanya tidak dipahami. Yang terjadi, teks menjadi soliter, dan dalam menghadapi kontekstual sifatnya menyangkal realita yang ada. Semua dinilai hitam-putih. Paham literalistik bukan monopoli agama, tetapi juga ideologi lainnya, seperti sosialisme, kapitalisme, ataupun ideologi Pancasila. Apakah pemahaman literalistik mendorong tindakan teror? Pemahaman literalistik belum cukup melahirkan pola perilaku ekstrim. Orang dengan pemahaman yang hitam-putih seperti itu biasanya merasa ideologi/ agamanya yang paling benar. Itu hal yang wajar, orang berhak menilai dirinya benar. Ia menafikan kebaikan dari pihak lain. Ia hanya merasa dirinya benar, dan yang lain salah. Bahkan merasa benar menghabisi hidup orang lain yang dinilai salah. Tetapi itu baru potensi timbulnya kekerasan. Lalu apa pemicu perilaku kekerasan itu? Untuk bisa tumbuh, pohon kekerasan atau ekstrimis yang memiliki benih pemahaman literalistik adalah realisme sosial yang ada. Terutama masalah sosial ekonomi. Mereka yang mengalami proses keterpinggiran sosial misalnya nganggur, biasanya mudah tumbuh subur benih ekstrimis. Apa contohnya? Contohnya adalah Amrozi, Imam Samudera, dkk. Mereka lama di Afganistan dan terlatih menjadi pemain lapangan untuk melakukan jihad. Di sini mereka teralienasi, keahlian tersebut tak terpakai. Mereka masuk ke dalam warga masyarakat yang termarginalkan. Begitu juga dengan Salik Firdaus, pelaku bom bunuh diri. Dalam kondisi miskin dan tidak terdidik, serta tidak menemukan makna hidup. Orang dengan kondisi saat ini sangat mudah diindoktrinasi dengan ketenangan instan. Misalnya, jihad dengan bunuh diri serta merta masuk surga. Ia yang ingin memiliki makna hidup tidak diberi "makna hidup" tapi karena "kiprah mati". Ini adalah kebahagiaan optimal dengan cara instan. Apa alasan lainnya yang juga menyebabkan perilaku ekstrimis? Penyubur lainnya adalah kondisi sosial-politik di suatu negara. Untuk tataran konteks nasional Indonesia, konflik Poso, ataupun Ambon, membuat mereka "meledak" dan membuat aksi paling keras. Begitu juga dengan adanya isu sosial politik global. Isu di Palestina dan Afganistan menjadi air yang menyirami terorisme global, dengan isu ketidakadilan global. Akibat "keprihatinan" pada situasi tersebut, terjadilah aksi kekerasan terorisme. Jadi apakah kekerasan itu dibenarkan? Perlu diketahui, soal ekstrimisme dan terorisme itu soal lain. Bukan berarti terorisme dibenarkan, bisa membunuh orang yang tidak tahu menahu dengan apa yang diprihatinkan oleh pelaku. Korban-korban yang tidak bersalah, yang dituntut "pertanggungjawaban" itu tidak dibenarkan. Seperti bom Bali, ataupun bom Marriot, korbannya kan bukan pihak yang bertanggung jawab langsung. Seperti dikatakan Al Quran, "Barang siapa membunuh orang bukan karena pembunuhan. Laksana dia membunuh seluruh umat manusia." Dalam hal ini, orang boleh melakukan eksekusi asal dalam proses seksama. Pembunuhan dengan alasan keadilan pun, harus dari otoritas penegak hukum, tidak boleh main hakim sendiri. Dengan demikian berarti tindakan eksekusi terhadap Amrozi dkk sudah tepat? Eksekusi terhadap Amrozi cs telah diputuskan oleh Pengadilan. Sebab, alasan meledakkan bom Bali tidak ada hubungannya dengan kezaliman di Palestina ataupun Afganistan. Aksi bom Marriot, banyak saudara yang beragama Islam yang menjadi korban. Hal-hal tersebut menjadi pembenaran kenapa Amrozi layak dihukum karena terlibat/ melakukan pembunuhan. Apalagi proses eksekusi dilakukan oleh keputusan hukum dan aparat hukum. Merebaknya radikalisme dalam Islam apakah karena kegagalan dakwah kelompok Islam moderat? Untuk mengurangi ekstrimisme, radikalisme akibat pemahaman yang literalistik, diperlukan kerjasama para alim ulama, kiai, dan mubalig untuk membangun keagamaan yang lebih terbuka. Jangan keagamaan yang menerapkan kebaikan untuk diri sendiri saja. Harus dicairkan oleh para alim ulama agar ajaran agama menjadi inklusif. Tapi perlu diingat, bahwa kaum alim ulama tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Siapa yang harus menyelesaikan masalah ini? Proses marginalisasi akibat literalisme adalah tanggung jawab pemerintah. Masyarakat yang mereka termarginalisasi bisa dihilangkan sedemikian rupa dengan memberantas kemiskinan. Sebab, orang yang fakir dapat berubah menjadi kafir. Sementara secara global, pemimpin negara-negara di dunia juga harus menyelesaikan masalah ketidakadilan yang terjadi di Palestina dan Afganistan. Karena jika masalah global itu tidak selesai, selalu bisa menjadi dalih ekstrimisme yang simultan. (Tup/X-4) Alkhori M Alkhor Community Qatar
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
