Wa'alaikum salam wr wb,

Terimakasih pak Nizami. Informasinya sangat bermanfaat insyaAllah.

Cuma ingin menambahkan sedikit - ada kawan saya yang memasang jet
pump. Ternyata akibatnya, sumur-sumur tetangganya jadi kering. Jadi
sebagai kompensasinya, dia persilahkan tetangganya mengambil air dari
jet pump dia.
Alhamdulillah, silaturahmi mereka jadinya tetap terjaga dengan baik.

Jadi hati-hati saja, karena kita sesuai syariat tetap harus menjaga /
memuliakan tetangga kita.

Soal masalah PAM / regulasi sumber daya alam yang paling penting ini,
saya pernah tulis secara ringkas di
http://harry.sufehmi.com/archives/2005-05-13-914/


Salam, HS


2008/11/20 A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>:
> Assalamu'alaikum wr wb,
> Ini mungkin OOT dgn Milis Islam, tapi saya yakin semua
> anggota milis Islam pakai air dan butuh air.
> Jadi semoga bermanfaat.
> Wassalam
>
> Saya biasanya pakai pompa air Sanyo biasa dengan
> kedalaman pipa sampai 9 meter. Beberapa tahun lalu di
> musim kemarau selalu kering dan tidak keluar airnya.
> Jika sudah begitu terpaksa minta air ke tetangga.
>
> Karena keseringan kering dan terlalu sering minta air
> ke tetangga, akhirnya malu juga dan terpaksa pasang
> air PAM. Pertama-tama sih tarifnya biasa-biasa saja,
> jadi tidak terlalu masalah.
>
> Meski begitu, kualitas air PAM dibanding air tanah
> jauh beda. Kalau air tanah begitu jernih dan segar
> karena murni dari tanah, air PAM itu bau kaporit
> seperti di kolam renang dan sering keruh airnya.
> Jangankan untuk minum. Untuk mandi saja terasa
> bedanya. Air tanah jauh lebih segar dan nyaman.
>
> Kalau untuk minum maaf, saya tidak bisa meminumnya.
> Apalagi saya pernah membaca berita ada mayat
> mengambang di Kali Malang, padahal air kali itu satu
> sumber dari air PAM. Meski mungkin sudah bersih karena
> telah diproses, tetap saja saya tidak tega kalau
> teringat hal itu. Sehingga kami terpaksa beli air Aqua
> yang harga per gallonnya sekarang sekitar Rp 12 ribu
> (sekalian antar). Jika satu gallon hanya bertahan 3
> hari, dalam sebulan kami harus beli 10 gallon atau
> habis sekitar Rp 120 ribu. Itu pun kadang Aqua
> sekarang sulit didapat di toko-toko terutama ketika
> lebaran kemarin.
>
> Ketika air tanah kering, saya tidak mau pakai jetpump
> dengan pertimbangan biayanya ketika itu sekitar Rp 3
> juta cukup mahal. Akhirnya beli pompa semi jetpump
> yang kedalamannya sampai 11 meter. Ketika di musim
> kemarau kering lagi, oleh tukang pompanya diturunkan
> sekitar 2 meter hingga kembali bisa keluar air.
>
> Malang ketika musim hujan akhirnya pompanya terendam
> air dan rusak. Dibetulin tidak bisa juga, akhirnya
> beli pompa semi jetpump lagi seharga 483 ribu berikut
> pipa-pipanya. Total mungkin habis Rp 1,5 juta untuk
> pergantian dari pompa biasa ke semi jetpump.
>
> Ternyata itu pun air yang mengalir sangat kecil. 3
> hari kemudian tidak keluar air lagi hingga terpaksa
> pakai air PAM.
>
> Biaya PAM pertama-tama masih murah. Cuma sekitar Rp
> 150 ribu per bulan. Bulan berikutnya naik jadi sekitar
> 250 ribu per bulan. Kemudian Rp 295 ribu per bulan.
> Dan terakhir Rp 354 ribu per bulan. Padahal saya
> berusaha keras menjaga agar jika bak sudah penuh, air
> tidak keluar terus.
>
> Mahal sekali. PAM yang diprivatisasi jadi milik Swasta
> Thames PAM Jaya, kemudian diambil alih oleh AETRA
> memang mengutamakan bisnis. Untuk pemakaian 51 m3 air
> kena sekitar Rp 354 ribu atau sekitar Rp 7.000/m3.
> Termasuk termahal di Asia. Padahal kita butuh air itu
> untuk mandi, mencuci piring dan pakaian.
>
> Akhirnya saya berpikir, jika sebulan bayar Rp 354
> ribu, maka setahun bisa habis Rp 4,2 juta lebih. Kalau
> 20 tahun, bisa habis Rp 84 juta. Bisa beli mobil atau
> rumah kecil!
>
> Padahal pasang pompa jetpump biayanya jauh lebih
> murah. Di Pasar Kenari biaya totalnya hanya Rp 3,8
> juta dengan pompa Shimizu (tanpa penampung air). Di
> satu situs internet, saya lihat biaya pengeboran Rp
> 200 ribu per meter. Jadi kalau 20 meter habis Rp 4
> juta hanya untuk pemboran. Belum biaya pipa dan
> jetpumpnya.
>
> Sementara ketika tanya-tanya ipar di Kebon Nanas, ada
> tukang pompa yang terkenal di daerah itu. Bang Sabur
> namanya. Dia pernah memasang pompa di masjid At Taubah
> dan majels Ta'lim Al Washiyyah. Padahal di masjid
> itu kan keran air untuk wudlu bisa sampai lebih dari
> 20 keran.
>
> Akhirnya setelah tanya harga, total biayanya hanya Rp
> 3,5 juta dengan pompa Panasonic 125 watt (tanpa
> penampung air) dengan perjanjian digali hingga 24
> meter dengan kedalaman pipa hingga 17 meter.
>
> Ketika sampai 21 meter, setelah menembus beberapa
> lapisan tanah, pasir, dan batu akhirnya sampai lapisan
> yang berisi tanah hitam. Bang Sabur bertanya ke saya
> ini tanahnya sudah hitam. Kalau diperdalam lagi cuma 3
> meter (jadi 24 meter), khawatirnya lapisannya masih
> tanah hitam sehingga airnya justru kuning dan bau dan
> tidak bisa dipakai untuk mencuci. Mau terus jadi 24
> meter atau berhenti cukup di sini? Kata bang Sabur.
>
> "Kalau berhenti sekarang airnya bagus ya?" Tanya
> saya.
>
> "Iya." Katanya.
>
> Memang kalau digali terus hingga 32 meter mungkin
> lapisannya bisa jadi tanah merah. Tapi kalau cuma 3
> meter, takutnya lapisannya belum berubah. Akhirnya
> saya bilang stop saja.
>
> Ketika pengeboran sudah selesai dan pipa-pipa
> dimasukkan ke dalam lubang, setelah 2,5 pipa bang
> Sabur meminta saya untuk menaik-turunkan pipa. Terasa
> ada air pada kedalaman 10 meter. Jadi jika pipa
> ditanam hingga 17 meter, minimal 3 tahun ke depan
> tidak akan kering. "Jika kering, panggil saya
> gratis," kata bang Sabur. Perjanjiannya kalau dalam
> setahun kering, panggil lagi gratis.
>
> Pengeboran dimulai hari Kamis dan berakhir Minggu
> sore. Minggu Malam sudah selesai. Ini agak lama karena
> memang manual. Tidak pakai mesin. Kalau pakai mesin di
> perumahan akan kotor karena air lumpur langsung
> dibuang keluar, kata bang Sabur.
>
> "Di tempat lain bahkan jetpumpnya sudah 7 tahun
> tidak rusak dan tidak kering." Kata bang Sabur.
>
> Begitu selesai, 3 jam pertama harus dikuras, kata bang
> Sabur sebab air masih kotor bercampur tanah. Tapi hari
> Senin meski agak keruh kualitasnya sudah di atas air
> PAM. Hari Kamis sudah lumayan jernih.
>
> Cuma memang meski dayanya 125 watt, ketika saya cek
> kecepatan putar meteran listrik, kecepatannya sama
> dengan kecepatan AC 1 PK yang dayanya sekitar 860
> watt.. Oleh karena itu harus dipasang penampung air
> minimal 500 liter sehingga jetpump tidak harus selalu
> menyala dan otomatisnya bisa jalan. Jika tidak, maka
> meski menetes sedikit, jetpump akan mati-nyala
> mati-nyala.
>
> Untuk pemasangan penampung biayanya paling tidak Rp
> 700 ribu untuk penampung merk "Penguin" yang jika
> penuh otomatis akan mematikan jetpump. Ketika saya cek
> di Material, harganya Rp 715 ribu. Total biaya
> pemasangan penampung air antara Rp 1 juta-1,5 juta
> tergantung pakai menara atau sekedar coran.
>
> Bagaimana jika rumah dekat sungai/septic tank/got?
> "Tidak masalah," kata bang Sabur. Karena
> disekeliling pipa akan dicor sehingga air kotor tidak
> masuk. Air yang terpompa betul-betul murni air tanah.
> "Saya pernah pasang pompa dengan jarak hanya 20
> meter dari sungai dan bersih," katanya.
>
> Begitulah pengalaman saya memasang Jetpump.
> Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi pembaca lainnya.
> Lebih baik kita keluar uang agak banyak di awal
> misalnya Rp 3,5 juta, ketimbang harus bayar PAM Rp 350
> ribu per bulan yang tarifnya biasanya setiap 1-2 tahun
> selalu dinaikkan.
>
> http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0601/16/metro/2362255.htm
> Pencemaran Kali Malang Tidak Tertangani
>
> Jakarta, Kompas - Pencemaran air di Kanal Tarum Barat
> atau Kali Malang yang dipergunakan sebagai sumber air
> baku untuk air minum di DKI Jakarta selama ini tidak
> tertangani.
>
> Pencemaran air ini semakin membebani pengolahannya
> menjadi air minum oleh dua mitra Perusahaan Daerah Air
> Minum (PDAM) DKI, yakni PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja)
> dan PT Thames PAM Jaya (TPJ).
>
> "Pencemaran makin meningkat dari limbah domestik
> yang mengalir dari berbagai permukiman di Bekasi.
> Selama ini pencemaran Kali Malang tidak tertangani,"
> kata Direktur Utama Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta
> I Djendam Gurusinga kepada Kompas, Jumat (13/1).
> Baik Palyja maupun TPJ, lanjutnya, sering mengeluhkan
> tingkat pencemaran air baku tersebut. Namun, Djendam
> menuturkan, kewenangan untuk menanggulangi pencemaran
> air tidak hanya terletak pada instansi Jasa Tirta.
>
> Saat ini Palyja mengambil air baku dari Kali Malang
> sebanyak 4,5 meter kubik per detik, lalu dialirkan ke
> instalasi pengolahan air di Pejompongan.
>
> Selain dari Kali Malang, Palyja juga mengambil air
> dari Sungai Cisadane, Sungai Krukut, dan Sungai
> Pesanggarahan, mencapai 3 meter kubik per detik.
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke