kalau pendekatan iman taqdir, qadla', spt yg sampeyan uraikan, itu bias dan itu bukan ruang qadla' lagi namanya tapi kerelativitasan, kenisbian hasil usaha manusia. masa iya pensikapan dlm memahami qadla' itu ada optimisasinya memangnya jiwa/iman manusia itu spt mesin?? sekali waktu jabarian dan kalo kepepet qadarian? ... :-)
ketetapan taqdir itu tidak peduli dgn ketajaman analisa, tingginya pendidikan. sebab ia sifatnya qath'i yg berlaku pd setiap makhluk. yg sering terjadi pd manusia, ketika dirinya berbuat amalan utk suatu perubahan, mereka merasa bahwa karena dirinya itu terjadi. org yg dulu tak dpt terbang spt burung, kini bisa terbang, mereka merasa karena ilmulah semua itu bisa terjadi. yg dulu berkendara kuda, bighal dlsbgnya sdg kini ada truk, kapal laut, bis ... mereka kira karena teknologi semua itu bisa terjadi. mental spt itulah myg menggerus iman ummat shg byk org lalai hakikat taqdir. lalu jadilah penyembah2 ilmu, teknologi & peradaban modern. mereka menyisihkan titik pokok dr mana sebenarnya karunia itu berasal? bgmana semua itu terjadi? kenapa kebykan dilimpahkan pd golongan kafir? --- contoh 2 itu bagus sekali, bahwa dgn org lakukan analisa permasalahan, lalu membuat keputusan mesti lakukan ini-itu utk satu tujuan tertentu. kebetulan analisanya 'tepat', shg maksud & tujuannya 'tercapai'. apakah manusia pelaku itu yg 'merubah' keadaan (taqdir), atw taqdir sdh ditetapkan atas manusia pelaku itu utk berbuat ini-itu dgn hasil sedemikian? lebih menyengat lagi, andai byk bayi terselamatkan dgn upaya itu, Allah SWT yg kehendaki-kah atw manusia pelaku itu yg kehendaki? --- kawans, kunci memahami falsafah qadla' itu adlh sifat tetap, dan tidak akan pernah berubah sekalipun manusia berusaha merubah-ubah dgn berbagai upayanya. bahkan, upaya manusia mau berusaha melakukan perubahan dgn niat apapun itu sdh tertera di sana lengkap dgn hasilnya. namun ketetapan itu spt apa, tidak ada yg tahu kecuali Allah SWT Sendiri. tapi harus diyakini, itu ada, sdh tertulis, bersifat rahasia. sikap tawakal manusia dlm beramal adlh berbuatlah semampu kamu, sebebas kamu mau, dengan semua karunia yg ada. mau itu barang wujud atw tak wujud (kecerdikan). Islam tidak pedulikan dr siapa ide brilian itu muncul, apakah dr kalangan kafir atw muslim. yg penting bgmana pintar kamu pergunakan utk hari esokmu. 'audzubillahi min asyaithaani rajiim, Dan Yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: "Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami." (Az-Zukhruf 12-14) --- notes: kecerdikan, jabatan, harta kekayaan, kebun2, kendaraan2, keluarga, hingga semua amal duniawi ibarat punggung binatang ternak saja yg dpt hantar kita kepada-Nya. salam, Fahru ________________________________ From: Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Friday, November 28, 2008 11:11:09 AM Subject: Re: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah Gent / AFR/ SH, 1. Jujur saja sebenarnya tidak ada orang yg pure jabariyah dan tidak ada orang yg pure qadariyah, itu hanyalah terminologie dlm makalah untuk nilai yang paling atas dan untuk nilai yang paling bawah atau dg perkataan lain yaitu nilai maksimum dan nilai minimum. Sementara dalam kehidupan manusia yang terjadi adalah menjurus ke nilai OPTIMAL dalam artian orang hidup di dunia ini selalu dynamis makanya orang itu akan bertindak diantara jabariyah dan qadariyah. Orang yang sudah tajam analysanya akan cenderung ber jabariyah, sementara orang awam karena keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan akan cenderung ber qadariyah. Orang yang jabariyah dengan mudah menjadi qadariyah tapi orang yang qadariyah tidak mampu berjabariyah. Untuk menarative apa yang saya sebutkan, itu terlalu panjang dan tidak akan dibaca untuk mudahnya akan dilanjutkan dengan beberapa contoh. 2. Di Indonesia angka kematian bayi, masih tinggi. Bagi ibu ibu yg awam dan yg tertimpa musibah ini dengan ikhlas akan mengatakan itu adalah TAQDIR TUHAN. Tapi tidak demikian bagi pakar kesehatan, it is not the case to scientist. Bagi mereka ada yang salah yg terjadi dan ini harus diperbaiki. Nah disitu terlihat ada benang merah bagi pakar kesehatan ada yang masih dapat diperbaiki untuk menekan angka kematian. Always there is a room for improvement. Jadi terlihat makin tinggi knowledge seseorang, akan makin menjauhi dia dari qadariyah dan akan menuju ke jabariyah. Tapi jangan puas doeloe lihat pula contoh berikut. 3. Saya setiap akan nyupir selalu saya periksa kesiapan kendaraan, mulai dari pemeriksaan rutin hingga berkala saya lakukan. Oleh karenanya saya yakin benar mobil saya tersebut adalah SAFE untuk digunakan. Kalau di terminal, kalau ingin menggunakan bus, pertama tama saya usahakan melihat bus yang akan saya tumpangi, baru saya naiki bus tersebut dan membeli tiket tersebut. Disana masih terlihat saya masih berjabariyah, tapi apa yang bisa saya lakukan kalau lagi di stasion kereta api, saya tidak bisa berbuat apa apa hanya pasrah saja. Begitu juga kalau naik pesawat, kalau di LN saya masih bisa memilih penerbangan yang terbaik, tapi kalau di Indonesia , terpaksa ber qadariyah beli saja tiket untuk penerbangan indonesia yg hingga saat ini maish dilarang terbang di UE. Dicontoh contoh diatas bisa dilihat bagaimana dynamisnya kehidupan manusia berpindah pindah dari jabriyah ke qadariyah dan vise versa. Bagaimana komentar anda AFR, masihkah anda berpendirian seperti tulisam anda. Insya Allah kalau masih sempat akan disambung lagi tentang jabriyah dan qadariyah, sehingga dalam beragama tidak lagi memakai KACA MATA KUDA dan menganggap DIRI SENDIRILAH yang BENAR, kalau beda sedikit lantas menganggap orang lain itu musuh dan halal darahnya dan yang sangat menyedihkan menganggap diri telah berJIHAD jika telah membunuh orang yg tidak bersalah. Sekarang timbul pertanyaan utk orang orang ini apakah mereka telah ber JIHAD atau mereka telah ber JAHAT. Marilah membuka mata dan juga membuka hati untuk melihat agama Islam adalah sumber KEDAMAIAN. Salam kompak selalu dari Qatar . Alkhori M Alkhor Community Qatar -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Syarif Hidayat Sent: Friday, November 28, 2008 5:34 AM To: [email protected] Subject: [is-lam] Jabariyah & Qadariyah Hmmm,.. Ikut nyumbang. Rahasia hidup? Rahasia Takdir, Rahasia masa depan? ALLAH yang Maha Tahu,.. Kita hanya diwajibkan menjalaninya dengan tawakal, bukan untuk mengetahui mana yang ALLAH putuskan atau mana yang diri kita putuskan atau mana yang akan berobah atau mana yang tidak akan berobah. -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Alkhori M Sent: Friday, November 28, 2008 9:15 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] antara Michael dan Mikaeel...apakah bedanya ? --c3| AFR, apa benar demikian yang seperti anda tuliskan. Tentunya tidak sesederhana ini, untuk itu anda boleh membaca tentang Jabariyah & Qadariyah. Jika anda telah membaca tentang Jabariyah & Qadariyah ternyata pemahaman tentang beragama itu tidaklah antara HITAM dan PUTIH, beragama itu sangat tergantung dimana pemahaman level tentang ilmu dunia yang telah dikawinkan dengan ilmu agama. Ilmu dunia cukup banyak sementara ilmu agama juga beragam, yang sangat pelik adalah pemahaman ilmu agama tentang theologie atau ilmu kalam atau ilmu tauhid. Karena manusia yang sangat terbatas daya nalarnya, yaitu pikiran manusia terbatas apa yang pernah dilihat dan apa yang pernah dialami. Namun dengan keterbatasan ini manusia mencoba menebak ilmu allah, maka hasilnya adalah sebatas DUGAAN BELAKA. Mau digunakan wahyu sebagai ref. ternyata wahyu yang ada sangat generative. Makanya tentu dapat dibayangkan seberapa akurasinya tulisan anda yang dibawah ini? Setelah anda mendalami tentang Jabariyah & Qadariyah, tinjau kembali tulisan anda yang dibawah, salam kompak selalu dari Qatar . Alkhori M Alkhor Community Qatar ________________________________ From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of AFR Sent: Friday, November 28, 2008 3:46 AM To: [email protected] Subject: Re: [is-lam] antara Michael dan Mikaeel...apakah bedanya ? --c3| saat manusia berusaha, berikhtiar dgn segala daya upayanya, itupun sdh tertera disana. bahkan termasuk bgmana hasilnya sdh juga ditentukan. kitanya tak tahu ... sepenggal 'skenario' saja, ... mobil sampeyan remnya seret. lalu sempeyan berpikir bgmana perbaikinya, ada dana cukup utk perbaiki dgn pemilihan kampas, spare part mana yg perlu diganti, bengkel mana yg bagus .. hingga hasilnya sangat memuaskan & mobil dpt kendara lagi dgn nyaman, lalu bersyukurlah sampeyan dgn semua itu ... mulai dr sampeyan tahu rem mobil itu rusak, upaya perbaikan hingga sampeyan bisa bersyukur, itu sdh ditulis disana, mas. sepenggal itu sdh tertera dlm kitab induk sblm sampeyan tahu ada problem rem, sblm punya mobil itu, sblm sampeyan dilahirkan, bahkan jauh lebih awal lagi dr itu. stlh diservis mobil itu sampeyan jual atw tidak pun sdh ditulis disana. saat ini sampeyan mungkin gak tahu/gak rencana apapun thd mobil yg baru diservis itu lha wong itu bagian dari rahasiaNya koq. tapi Allah SWT maha tahu akan sempeyan apakan itu mobil. kalau Dia mau tunjukkan apa yg akan terjadi, Dia cukup bilang 'Kun', maka jadilah apa yg Dia Kehendaki walau mungkin kalimat-Nya tidak sesuai dgn hasrat/rencana sampeyan. ---
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
