Ass. wr. wb. moderator,
 
Pingin nanya, kenapa ya milist di emailku masuknya ke spam apa ada setting yang 
salah ya ?
 
Tks & salam,
Karni
 
 


--- On Thu, 12/11/08, [email protected] 
<[email protected]> wrote:

From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Is-lam Digest, Vol 7, Issue 39
To: [email protected]
Date: Thursday, December 11, 2008, 12:52 PM

Send Is-lam mailing list submissions to
        [email protected]

To subscribe or unsubscribe via the World Wide Web, visit
        http://server01.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
or, via email, send a message with subject or body 'help' to
        [email protected]

You can reach the person managing the list at
        [email protected]

When replying, please edit your Subject line so it is more specific
than "Re: Contents of Is-lam digest..."


Today's Topics:

   1. Re: Pindahkan Ibukota dari Jakarta! (hamami)


----------------------------------------------------------------------

Message: 1
Date: Thu, 11 Dec 2008 11:54:27 +0700
From: "hamami" <[email protected]>
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!
To: <[email protected]>
Message-ID: <[email protected]>
Content-Type: text/plain; charset="us-ascii"

Coba kita klasifikasikan aktifitas yang ada di Ibu Kota Negara Jakarta ini. 

Saya hanya dapat mengelompokkannya dalam 2 bagian:

 

-  Administrasi atau Birokrasi Kenegaraan

-  Bisnis dan Industri 

 

Dari ketiga aktifitas diatas, mana yang paling dominan menciptakan/membuat
masyarakat tertarik untuk datang ke Jakarta., yang mengakibatkan kepadatan
penduduknya meningkat dengan segala konsekuensinya ini.

 

Aktifitas yang berkaitan dengan Adm. dan Birokrasi kenegaraan, tidak banyak
orang yang berkecimpung disitu, itu hanya untuk kalangan tertentu dan
terbatas.

Beda dengan Bisnis dan Industri, inilah yang menjadi magnet bagi masyarakat
untuk mewujudkan impiannya.

Sehingga ber-bondong2 orang berusaha untuk dapat terlibat disitu. Kalaupun
mereka tidak dapat terlibat secara langsung (yang dikatakan P'Saidi harus
memiliki keterampilan tertentu) melibatkan diri dipinggirannyapun sudah
cukup untuk mereka dapat bertahan hidup yang mungkin tidak akan mereka
dapatkan ditempat lain atau daerah asalnya.

 

Contoh:

Adanya pemulung, pedagang kaki lima, pengojek, dan berbagai aktifitas social
ekonomi lainnya yang merupakan kegiatan informal, itu semua adalah komplemen
dari adanya aktifitas Bisnis atau Industri itu.

Dan sebagian besar yang berada pada komplemen itu "tidak" begitu
memerlukan
keterampilan yang njlimet2 amat, sehingga banyak orang bisa melakukannya.

 

Dilain sisi, langsung ataupun tidak langsung orang yang berada dilingkaran
"pemulung, pedagang kaki lima, pengojek, sopir angkot dll" itu,
kenyataannya
juga dibutuhkan oleh pelaku Bisnis atau Industri itu.

 

Sebagaimana kita ketahui, dampak yang timbul di Jakarta itu tidak se-mata2
ditimbulkan oleh warga Jakarta, Aktifitas Bisnis dan Industri yang ada
disekitarnya (Bogor, Tangerang, dan Bekasi khususnya) nampaknya itu lebih
dominan. 

 

Kalau saja kawasan Industri seperti yang ada disekitar Jabotabek itu, juga
ada di Kalimantan, atau Sulawesi, atau Sumatera, insya-Allah akan dapat
mengurangi masalah yang selama ini hanya dirasakan oleh JAKARTA.

 

Jadi intinya, saya ingin mengatakan "Batasi sudah pengembangan aktifitas
Bisnis dan Industri di Jawa secara umum dan JABODETABEK khususnya" 

Cobalah lirik tempat lain diluar Jawa. 

Kapan, sih kemakmuran atau kemajuan daerah akan merata dan dirasakan bersama
oleh masyarakat kalau segala sesuatunya selalu terpusat di Jawa...? Wajar
kalau Jawa, JABODETABEK khusunya selalu menjadi tujuan banyak orang meskipun
dengan kemampuan diri yang pas2an.  

 

Wassalam

Hamami

 

  

 

 

 

 

  _____  

From: Suwarno [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, December 11, 2008 10:35 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

Betul apa kata pak Saidi, tapi yang jadi topic awal kan tentang keamacetan
dan kepadatran penduduk di Jabotabek sekarang ini..

Kalau kita lihat yang memenuhi jalanan ibukota saat ini bukan "semut"
yang
sperti pak Saidi sebutkan tapi malah justru "semut" yang punya
ketrampilan
atau pendidikan cukup yang mampu mencicipi manisnya "gula" ibukota.
Jadi
tetap saja jadi masalah...

Nah dengan memindahkan ibukota harapannya "gula" yang tadinya numplek
di
ibukota jadi sedikit berpindah ke ibukota yang baru. Karena Jakadta dsktrnya
masih tetep jadi kawasan bisnis, jadi masih tetep banyak "gula",
sedangkan
untuk "gula" administratif dipindah ke ibukota yang baru. 

Jadi ibukota baru nantinya hanya menjadi pusat admisnitrasi.

 

Menyinggung masalah pertanian sedikit pak, sperti yang pak Saidi singgung.

Waduh pak... nasib petani di Indonesia saat ini sanagt miris pak.

Udah harga GKP (Gabah Kering Panen) yang rendah, harga pupuk yang tinggi
itupun sering terjadi kelangkaan pupuk disana sini.

Untuk membeli pupuk harus didata dulu, kalau gak ada data nya harus pake
KTP, itupun kalau jatah yang didata masih ada sisa baru dapet.

Sepertinya, perhatian pemerintah untuk masalah pertanian harus ditingkatkan
lagi dech.

 

Wallahu a'lam.

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Achmad Saidi
Sent: Thursday, December 11, 2008 10:40 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

Iya, saya paham maksud anda dan saya yakin teman2 di milist islam ini yang
pendatang pastinya punya kualifikasi dan track record yang bagus dan tidak
masuk ke dalam golongan yang saya sebutkan di email yang lain.

 

Memang akar permasalahannya seperti yang dibilang Pak Hamami (ada gula ada
semut), namun untuk memperoleh gula tersebut harus memiliki ketrampilan
serta pendidikan yang cukup. Sehingga "semut2" itu mampu bersaing
satu sama
lainnya. Untuk "semut2" yang tidak memiliki kemampuan apa2,
pendidikan
rendah serta tidak punya relasi di ibukota, jangan harap mampu bersaing di
ibukota, yang ada hanya akan menjadi gelandangan disini. 

 

Kalau kita hanya bergantung kepada pemerintah saja, akan sulit saya kira.
Untuk masalah ini diperlukan kesadaran tingkat tinggi dari segenap lapisan
masyarakat, khususnya kelompok masyarakat yang saya sebutkan diatas.
Sebaiknya untuk "semut2" yang saya maksud diatas, lebih baik
membangun
desanya sendiri dengan bercocok tanam atau memelihara kelestarian hutan atau
apalah. Lah... kalau semua "semut" desa mau ke ibukota semua, siapa
yang
akan menjadi petani untuk "menghidupi" "semut2" yang lain ?
 Siapa yang akan
menjadi nelayan ? 

 

Walhasil, Indonesia akan terus Import beras serta hasil alam lainnya ke
Thailand, Vietnam dan negara2 lain, yang sesungguhnya di Indonesia sendiri
amat banyak (zaman dulu)....

 

Bukankah ALLOH telah memberikan penghidupan di muka bumi ? Di mana saja,
entah di desa, entah di kota, di gunung, laut. Hanya saja kitanya yang
kurang mensyukuri nikmat yang diberikan olehNYA apa2 yang ada di bumi dan
apa2 yang ada dilangit serta diantara keduanya. Dan janganlah kita membuat
kerusakan bumi, mari kita pelihara alam kita, jangan ditinggalkan.

 

Allohua'lam....

 

 

 

Afwan.... disini saya menggunakan analogi semut dan pemerannya saya ganti
dengan semut, mengikuti analogi Pak Hamami (ada gula ada semut). Maaf bial
ada yang kurang berkenan.

 

 

 

----- Original Message ----- 

From: hamami <mailto:[email protected]>  

To: [email protected] 

Sent: Thursday, December 11, 2008 9:30 AM

Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 

 

Saya punya analogi berkaitan dengan nasehat orang tua kita "Ada gula ada
semut" :

 

Yang menyebabkan semut itu berkumpul, karena adanya gula ditempayan.

Agar semut tidak berkumpul semua disitu, bukan tempayannya yang dipindahkan,
gulanya saja disebar ke beberapa tempat atau ketempayan yang lainnya, bukan
tempayannya yang dipindahkan.

 

Alasan klasik yang sering dipakai untuk mencari kambing hitam penyebab
kesemrawutan di Jakarta biasanya adalah:

 

"Banyaknya pendatang-pendatang yang memutuskan "mengadu nasib"
di Jakarta
namun mereka tidak memiliki ketrampilan apa2 serta berpendidikan yang
rendah. Sehingga mereka ini, menetap di tempat2 yang sebenarnya dilarang
oleh Pemerintah. 

Misalnya di kolong2 jembatan, di pinggiran kali serta di lahan kosong milik
pemerintah atau milik instansi swasta. Hal ini dapat menimbulkan pemandangan
yang tidak enak dilihat mata untuk kota Jakarta yang katanya kota
Megapolitan.

Pada saat pemukiman2 liar tersebut ditertibkan oleh Pemerintah, mereka
dengan sepenuh jiwa mempertahankan "tanah" mereka, melawan aparat
yang
hendak mengeksekusi tempat tinggal mereka, walhasil semakin banyaklah
preman2, gelandangan, pengemis de el el.

Di bantaran kali Ciliwung misalnya, banyak dari mereka yang membuang sampah
sembarangan, sehingga menyebabkan kebanjiran yang besar di Jakarta"

 

Dimiliki atau tidaknya keterampilan oleh para pendatang itu bukanlah
penyebab utama kesemrawutan. Dalam mengatasi suatu masalah, sering kita
hanya melihat dari dampak yang ditimbulkannya. Kita tidak melihat
"akar"
masalahnya. 

 

Mengapa mereka tidak mengadu nasib di Pontianak, Ambon, Jambi, atau daerah
mereka sendiri misalnya. Jawabannya jelas, Jakarta lebih menjanjikan untuk
mereka dibanding tempat lainnya. Kalau kita tanya kepada beberapa orang
diantara mereka yang "kita anggap" sebagai penyumbang kesemrawutan
Jakarta
dengan pertanyaan "kenapa anda ke Jakarta meskipun dengan kehidupan hanya
seperti ini?" Jawabannya bisa kita terka "Yah...terpaksa, pak".
Apa dan
siapa yang memaksa mereka? Jawabanya akan makin panjang...

 

Wassalam

Hamami 

 

-----Original Message-----
From: Achmad Saidi [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, December 11, 2008 8:48 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Pindahkan Ibukota dari Jakarta!

 



__________ NOD32 3360 (20080815) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com

-------------- next part --------------
An HTML attachment was scrubbed...
URL:
http://server01.abangadek.com/pipermail/is-lam/attachments/20081211/676c10b0/attachment.htm


------------------------------

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


End of Is-lam Digest, Vol 7, Issue 39
*************************************



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke