Serambi : Aktifitas Masyarakat
http://www.serambinews.com/old/gambar/blank.gifhttp://www.serambinews.com/ol
d/gambar/blank.gif <javascript:win2()> cetak berita Cetak Artikel
http://www.serambinews.com/old/gambar/blank.gif 

.  04/02/2009 09:50 WIB

Manusia Perahu: Jangan Pulangkan Kami 

[ rubrik:
<http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&t
opik=44> Serambi | topik:
<http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&t
opik=44> Aktifitas Masyarakat ]

KETIBAAN ratusan manusia parahu asal Myanmar, Selasa (3/2) pagi kemarin
benar-benar membetot perhatian seluruh masyarakat Aceh Timur, terutama warga
Kuala Idi. Kedatangan orang-orang berkulit hitam yang beragama Islam itu
disambut warga setempat dengan penuh rasa persaudaraan. 

 

Ombak besar dan dinginnya pantai Kuala Idi, seakan tak jadi penghalang
berbaurnya 198 warga Myanmar bersama warga Idi. Mereka tampak tak
sungkan-sungkan berbaur dengan warga asing yang dijuluki "manusia perahu"
itu. 

Para manusia perahu itu mengaku dibuang oleh militer Thailand ke laut dan
hanya dibekali boat tanpa mesin. Setelah 21 hari terkatung-katung di laut,
akhirnya mereka diselamatkan oleh KM Sepakat, milik nelayan Idi. 

Kalangan pemburu berita pun berduyun-duyun datang ke Kuala Idi, daerah yang
semasa konflik berkecamuk dulu, pernah begitu mencekam. Wartawan menyaksikan
bahwa semua wajah pendatang dari Myanmar ini meyimpan seribu "ketakutan dan
harapan", seakan-akan ketika didaratkan di Kuala Idi mereka telah menemukan
saudaranya kembali. 

Tidak perlu diperintah, seluruh warga Idi dengan sukarela ikut membantu
memberikan pakaian, makanan, dan minuman kepada manusia perahu ini, sebagai
saudara seiman mereka. 

Sungguh tak terbayangkan bagi para manusia perahu itu bahwa pada akhirnya
mereka terdampar di Kuala Idi. Boat yang mereka tumpangi sebenarnya tidak
memiliki arah yang jelas. Pada saat dilepas di tengah laut oleh militer
Thailand dengan maksud membuang manusia perahu ini, boat tersebut pun tanpa
dilengkapi mesin dan label nama. 

Embusan ombak, ganasnya samudra, dan lapar yang tak tertahankan akhirnya
membuat 22 teman mereka meninggal dalam perjalanan yang tak menentu itu. 

Rahmad (37), salah seorang dari manusia perahu ketika dihampiri wartawan dan
tengah dikerumuni warga, masih terlihat tegar. Tangannya menjinjing satu pak
roti Unibis dan teh manis hangat yang telah dibungkus plastik, itu semua
merupakan pemberian warga. Namun, Rahmad tidak bisa menyembunyikan rasa
letihnya, meski ia coba untuk tegar berdiri dan bercerita dalam bahasa
Melayu. Sesekali kakinya tampak gemetaran. 

Matanya terkadang menerawang ke arah laut, tempat ia dan rekannya pernah
lama terombang-ambing dilamun ombak. Dengan pakaian yang digunakan penuh
dengan kotoran debu dan lusuhnya calana kain panjang, Rahmad tak bisa
menyembunyikan kegembiraannya tiba di Aceh. "Saya senang di sini. Kami
semuanya muslim, kami menemukan saudara kami," ujarnya. 

Tali dipotong 

Dia berkisah bahwa boat yang mereka tumpangi itu awalnya ditarik militer
Thailand ke laut, lalu talinya dipotong, hingga akhirnya 220 warga Myanmar
itu terkatung-katung tanpa arah. Sebanyak 22 orang rekan mereka meninggal di
perahu tanpa mesin dan tanpa kompas itu. 

Rahmad yang terus bercerita dengan logat Melayunya yang patah- patah
mengisahkan pahitnya hidup sebagai etnis Rohingya dalam beberapa tahun
belakangan. Ia mengaku bekerja membuat roti di Thailand, namun akhirnya
ditangkap bersama ratusan warga etnis Rohingya, Myanmar, lainnya, lalu
dikarantinakan di sebuah pulau. 

Di pulau itu, total warga Rohingya dan Bangladesh yang dikarantinakan
militer Thailand mencapai 1.200 orang. Mereka kemudian dilepaskan ke laut
secara bertahap naik perahu tanpa mesin. Rahmad dan kawan-kawannya mendapat
giliran dilepas oleh militer Thailand. Di perahu tanpa mesin itu mereka
berjumlah 220 orang. 

"Kami mendapat perlakuan kasar dari militer Thailand. Punggung kami
dicambuk, seolah mereka tidak memperlakukan kami secara manusiawi," ujarnya
dengan mata berkaca-kaca. 

Sedangkan di negara asalnya, sambung pria ini, mereka merupakan kalangan
Islam minoritas. Etnis Rohingya seperti mereka terus tersisih dan disisihkan
oleh pemerintah junta. Masjid sebagai tempat ibadah umat muslim ditutup,
meunasah-meunasah juga demikian. Tidak hanya itu, pemerintah yang seharusnya
memberi mereka pekerjaan, malah sebaliknya. "Kami tidak mendapatkan
pekerjaan yang layak. Kami terusir dari negeri kami. Tolong selamatkan
kami," pintanya memelas. 

Rahmad dengan penuh ketegaran mengungkapkan, dia dan temannya tidak mau lagi
kembali ke Myanmar, lantaran jaminan keamanan bagi mereka tidak ada sama
sekali. Malah kalau pulang ke negeri asalnya, mereka terancam dihukum
sepuluh tahun. 

Dengan penuh harap, ia meminta kepada pemimpin negara-negara Islam untuk
bisa ikut membantu ratusan warga Rohingya yang terusir itu. 

"Jangan pulangkan kami ke negeri kami sendiri. Meski anak dan istri saya
masih di sana. Bila ada negara ketiga yang mau menampung, kami akan minta
istri dan anak kami untuk ikut bersama," kata Rahmad berlinang air mata. 

"Cukuplah kepedihan yang kami alami, ratusan saudara kami dibuang ke laut.
Kaum perempuan juga ikut dibuang. Kami tidak tahu mereka di mana sekarang.
Saudara kami banyak yang meninggal di perjalanan dan terpaksa kami buang ke
laut. Mohon mata dunia untuk melihat nasib kami. Apa yang kami miliki
sekarang hanyalah kemiskinan dan kepapaan. Tolong bantu kami," pintanya. 

Usai mengutarakan aspirasinya, suara Rahmad agak tercekat. Beberapa saat
kemudian, ia kembali tenang dan diminta warga untuk menikmati roti Unibis
yang ia pegang sejak tadi. Dengan sedikit terbatuk-batuk, Rahmad kembali
duduk bersama rekan-rekannya, sambil selalu mengucapkan Assalamualaikum. 

Semoga dunia mendengar jeritan Rahmad, jeritan mereka yang terusir dari
negaranya hanya karena beda agama, bahasa, dan warna kulit. (iskandar usman)

http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=63444&rubr
ik=1&kategori=2&topik=44

<<image001.gif>>

<<image003.png>>

<<image005.png>>

<<image006.png>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke