Serambi : Aktifitas Masyarakat
http://www.serambinews.com/old/gambar/blank.gifhttp://www.serambinews.com/ol
d/gambar/blank.gif <javascript:win2()> cetak berita Cetak Artikel
http://www.serambinews.com/old/gambar/blank.gif 

.  04/02/2009 08:16 WIB

Lagi, Ratusan Pengungsi Myanmar Hanyut ke Aceh
* 22 Orang Meninggal

[ rubrik:
<http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&t
opik=44> Serambi | topik:
<http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=indeksrubrikberita&rubrik=1&t
opik=44> Aktifitas Masyarakat ]

IDI -- Belum lagi selesai penanganan 193 warga asal Myanmar dan Bangladesh
yang terdampar di Sabang pada 7 Januari lalu, kini 198 orang lagi yang
diduga bernasib sama (diusir dari negara mereka) ditemukan terapung-apung di
perairan Aceh dan selanjutnya manusia perahu tersebut ditarik ke Kuala Idi,
Aceh Timur, Senin (2/2). Serombongan warga asing dengan menggunakan perahu
tanpa mesin diketahui terdampar di Selat Malaka, Senin (2/2) sekira pukul
14.00 WIB. Manusia perahu itu ditemukan pertama sekali oleh KM Sepakat asal
Kuala Idi, Aceh Timur. Selanjutnya perahu sesak penumpang itu ditarik ke
daratan Kuala Idi, dan tiba pada Selasa (3/2) dini hari sekira pukul 03.00
WIB. 

 

Informasi yang diperoleh Serambi menyebutkan, dari 198 manusia perahu
tersebut--semuanya laki-laki--seorang di antaranya asal Bangladesh. Warga
Myanmar plus Thailand tersebut dibuang dengan boat tanpa mesin oleh militer
Thailand setelah dikarantinakan pada sebuah pulau di negeri Gajah Putih itu.
Pada awalnya dalam rombongan ini ada 220 orang, namun selama terapung-apung
21 hari di lautan lepas, 22 di antaranya meninnggal dunia akibat kelaparan
dan dehidrasi. 

Setelah didaratkan di Kuala Idi, warga Myanmar itu ditempatkan di pelataran
Mes Danposal TNI AL Idi. Ratusan masyarakat Kuala Idi dan sekitarnya yang
mengetahui kedatangan manusia perahu itu datang berbondong-bondong untuk
melihat nasib warga yang semuanya beragama Islam tersebut. Warga setempat
secara bahu membahu membantu makanan, minuman, dan pakaian, serta
mengumpulkan uang. 

Sekitar pukul 10.00 WIB kemarin, warga asal Myanmar itu dievakuasi ke Kantor
Camat Idi Rayeuk dan ditempatkan di rumah dinas camat. Sedangkan yang lemas
dan sakit diboyong oleh PMI, petugas medis, masyarakat, Sat Pol PP, polisi,
dan TNI-AL ke RSUD Idi. Mereka dievakuasi dengan ambulance dan truk. 

Dibuang 

Rahmad (37), seorang warga Myanmar yang bisa berbahasa Melayu kepada Serambi
mengatakan, mereka dibuang oleh militer Thailand setelah ditangkap dan
dikarantinakan di sebuah pulau. Selain itu, mereka yang berjumlah ribuan
orang disiksa dengan cambuk. Bahkan beberapa orang di antara mereka masih
ada bekas siksaan. 

Menurut Rahmad, ada sekitar 1.200 orang di pulau itu. Mereka dibuang ke laut
dengan boat tanpa mesin secara bertahap. "Rombongan kami merupakan tahap
keempat dan akhirnya terdampar di sini. Dalam perjalanan, jumlah kami semua
220 orang namun 22 orang rekan kami meninggal. Tidak ada cara lain, yang
meninggal diceburkan ke laut," kata Rahmad dengan bahasa Melayu patah patah.


Rahmad dan kawan-kawan mengaku sangat senang bisa terdampar di Indonesia
(Aceh). Mereka juga bertekad tidak mau kembali lagi ke Myanmar. Di sana
mereka mengaku akan mendapat ganjaran 10 tahun penjara bagi warga yang telah
keluar dari negara dan kembali lagi. "Kami sangat terjepit, tolong bawa kami
ke mana ada negara Islam. Pemerintah Myanmar membatasi kami beribadah. Kami
selaku etnis Rohingya merupakan minoritas dan tertekan. Kami mau datang
kepada saudara kami yang Islam," ucapnya dengan penuh harapan. 

Ia melanjutkan, semua warga Myanmar yang terdampar tersebut sebelumnya
bekerja di Thailand. Ada sebagian yang membuat roti, bekerja di olahan kayu,
nelayan, dan lain-lainnya. "Saya sudah satu tahun di Thailand dan bekerja di
sana. Anak dan istri saya masih di Myanmar," kata Rahmad yang memiliki tiga
anak. 

Kepala Imigrasi Langsa, Iwan Rianto yang ditanyai Serambi menjelaskan,
pihakya belum mengetahui apa penyebab warga Myanmar terdampar ke Aceh Timur.
Pihaknya akan melakukan pendataan terlebih dahulu dan akan menyampaikan
kepada Dirjen di Jakarta. "Kita juga akan tanyakan kepada kedutaan besar
mereka nantinya, tapi itu urusannya dirjen," kata Iwan.(is)

http://www.serambinews.com/old/index.php?aksi=bacaberita&beritaid=63426&rubr
ik=1&kategori=1&topik=44

<<image001.gif>>

<<image002.png>>

<<image003.png>>

<<image004.png>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke