Dulu waktu awal kuliah saya juga bingung kenapa harus ada istilah ilmu
psikologi, sosiologi, ekonomi, antropologi, arkeologi, dan logi-logi lainnya
hasil sub2 bidang ilmu tsb. Padahal semua ya sama-sama bicara masalah
manusia. Tetapi setelah nyemplung disitu baru deh saya ngeh, oh rupanya
titik pijakan (obyek) nya yg berbeda tho. Semua pakar2 dalam bidang masing2
ini tidak akan saling bertabrakan ataupun tidak saling menuding "kafir" satu
sama lain krn utk memperbaiki kondisi bangsa indonesia yg morat-marit ini
misalnya, ya memang dibutuhkan pengetahuan interdisipliner (ber-sinergy
nurut bung Alkhori).

Syariat = lebih menitikberatkan pada aspek hukum
Tasawuf = lebih menitikberatkan pada aspek psikologis (tadzkiyatun nafs)
Tarikat = lebih menitikberatkan pada aspek teknik
Tetapi semuanya ini harus digulung jadi satu, saling crosscheck, berpandukan
pada Al-Quran dan Al-Hadits.

Mudah-mudahan Mas Bango tambah bingung, krn hanya itu persepsi yg terlintas
dibenak saya :):)

:)
Wassalam

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of Bango Samparan
Sent: Sunday, February 15, 2009 5:43 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Tasauf dan Thariqat Saling Tergantung Sesamanya

Lha saya malah jadi bingung dengan yang mas Alkhori maksudkan dengan
tasauf:-)

Hasil dari laku yang tertuntun oleh fiqih dengan komprehensif adalah takwa
dan yang tertinggi, IMHO, adalah ihsan (melihat Allah atau jika maqam ini
belum dicapai, merasa diawasi Allah). Jadi, sekali lagi IMHO, hasilnya bukan
tasauf.

> Tasauf yang berupa Ilmu yang akan dicapai untuk
> membersihkan hati dengan
> tujuan Akhlakul Kharimah sangat tergantung bagaimana cara
> Thariqat yang
> diamalkan, apakah thariqatnya telah sesuai dengan fiqih
> atau melenceng
> sehingga hasil akhir yang bakal dicapai jauh dari yang
> diharapkan.

IMHO lagi, soal contoh memasak itu, tidak menunjukkan adanya perbedaan
antara fikih, tasauf, dan thariqoh. Bagi saya itu menunjukkan dua wilayah
fikih: fikih bidang dien dan fikih bidang memasak. Maqam kepiawaian akan
tercapai dengan mempraktekkan kedua-keduanya secara ajeq dan terus-menerus.

IMHO, fikih itu manual, cara membuatkan memakai ushul fiqih. Ketergesaan
mengatakan orang lain sebagai, sesat dan yang sejenisnya, bukan karena orang
tidak mempelajari tasauf, tetapi justru karena tidak tahu fikih secara
benar.

Pun begitu, banyak juga orang yang sebetulnya sesat (tapi tentu saja bukan
saya yang harus menghakiminya), tetapi merasa dirinya di atas kebenaran. Ini
juga bukan karena tasauf:-) IMHO, karena dia tidak tahu fiqihnya secara
benar.

Bagi saya definisi itu - walau kadang diperlukan untuk pembelajaran -
sering berbahaya, karena justru membatasi dan kadang merubah realitas.

Ini juga fiqih, ibadah adalah segala sesuatu yang dilakukan dengan niat yang
benar (hanya karena Allah) dan dilakukan sesuai sunnatullah (ketentuan).
Perlu diketahui sunnatullah ada yang tertulis (kitabullah dan hadist), ada
yang tertulis di alam semesta. Umat Islam mundur karena tidak bisa menjaga
keimbangan ketiganya: niat yang lurus, memahami sunnatullah tertulis, dan
sunnatullah tak tertulis.

Salam hangat selalu
B. Samparan



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke