On 2/19/09, A Nizami <[email protected]> wrote:
> Saya adalah Muslim yang lebih mengutamakan kepentingan ummat Islam daripada
> kepentingan kelompok/partai.
>
> Biaya pendidikan saat ini justru semakin mahal karena tidak ada batasan gaji
> rektor/dosen atau pun besar biaya operasional. Harusnya seluruh ummat Islam
> mencegah kemungkaran yang akan membuat rakyat Indonesia khususnya ummat
> Islam semakin bodoh karena biaya pendidikan yang meroket.

Biaya pendidikan BISA ditekan jika kita MAU, karena pemerintah sudah
menyediakan pilihan.

Ya, kita PUNYA plihan.

Homeschooling / pendidikan swadaya itu sangat didukung Depdiknas.
Universitas terbuka juga ada.
Biayanya jelas JAUH dibawah institusi pendidikan yang berorientasi
bisnis. Dan kualitasnya juga tidak kalah, malah bisa lebih baik.

Masalahnya, sekarang apakah kita MAU mengambil pilihan yang telah
disediakan tersebut?

Saya kebetulan pernah di Inggris, dimana pendidikan itu gratis bahkan
sampai universitas. Hasilnya ? Kawan2 saya pada bolos kuliah melulu
sampai tidak lulus, tapi itupun tidak apa karena toh gratis. (walaupun
sebetulnya tentu mereka rugi juga, karena tidak mendapatkan ijazah =
sulit mencari kerja)

Hal-hal tersebut antara lain mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa
Solusi masalah pendidikan kita adalah dari orang tua. Kita perlu
mendidik para orang tua kita agar lebih peduli lagi terhadap masalah
pendidikan anak-anak kita, baik di sekolah maupun di luar sekolah.



Salam, HS



> ===
> http://iatekunsri.org/index.php?option=com_content&task=view&id=75&Itemid=39
> Kreativitas PTN Ancam Kualitas Pendidikan     
> The News - Berita
> Sunday, 01 February 2009
>
> Dunia pendidikan tinggi semakin memprihatinkan. Salah satu penyebabnya
> adalah mereka yang secara akademik tidak memiliki kualitas tapi mampu
> membayar uang masuk hingga ratusan juta rupiah, dapat diterima di PTN.
>
> Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) sendiri sebenarnya resah dengan
> mekanisme penerimaan mahasiswa baru yang dilakukan perguruan tinggi badan
> hukum milik negara (PT BHMN). Lantaran tergiur meraup dana maksimal dari
> mahasiswa baru, sejumlah PTN nekat membuka penerimaan mahasiswa yang tidak
> berbanding lurus dengan kemampuan daya dukung universitas.
>
> "Sejumlah PTN memang kebablasan dalam seleksi mahasiswa baru. Penerimaan
> dilaku kan tanpa becermin pada daya dukung kampus," keluh Sekjen Depdiknas
> Dodi Nandika.
>
> Depdiknas paham bahwa jika hal seperti itu dibiarkan, dapat berdampak pada
> mutu lulusan PTN yang bersangkutan. Lantaran itu, Depdiknas bakal memanggil
> sejumlah rektor.
>
> "Kita harus kembali duduk bersama," tukas Dodi. Menurutnya, perlu segera
> digagas secara bersama, panduan dan garis besar baru seleksi penerimaan
> mahasiswa.
>
> Namun, tambahnya, pembenahan yang dilakukan tidak akan sampai mereduksi
> tataran otonomi kampus karena telah diputuskan bahwa penerimaan mahasiswa
> diserahkan pada institusi masing-masing.
>
> Selain mutu, pembuatan berbagai jalur penerimaan baru tentunya juga berimbas
> pada membengkaknya biaya yang wajib dikeluarkan calon mahasiswa. Alhasil,
> situasi itu tentunya bakal memperkecil peluang pelajar dari keluarga
> berkantong tipis.
>
> Keprihatinan yang sama juga dikemukakan pengamat pendidikan Utomo Dananjaya.
> Dia mengatakan dengan perubahan status sejumlah PTN menjadi BHMN biaya masuk
> menjadi mahal. "BHMN telah menunjukkan bagaimana rakusnya PTN memungut uang
> dari mahasiswa melalui jalur khusus," kata Utomo.
>
> Mengenai mahalnya biaya masuk PTN, Utomo memberi contoh Institut Teknologi
> Bandung (ITB). PTN itu telah menerima 1.000 calon mahasiswa melalui jalur
> khusus dengan biaya minimal Rp45 juta pada 2008. ''Bagi orang kaya, uang
> sebesar itu tidak menjadi masalah,'' kata Utomo yang juga Direktur Institute
> for Reform Education Universitas Paramadina.
>
> Berdasarkan penelusuran Media Indonesia di sejumlah PTN baik yang telah
> berubah status menjadi BHMN maupun yang belum, calon mahasiswa harus
> membayar hingga ratusan juta rupiah untuk masuk.
>
> Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, mewajibkan calon mahasiswa fakultas
> kedokteran yang masuk melalui penelusuran bibit unggul pembangunan daerah
> membayar maksimal Rp125 juta.
>
> Menurut Sekretaris Direktur Administrasi Akademik UGM Yogyakarta Agus
> Wiranto, dana sumbangan itu naik jika dibandingkan dengan tahun lalu, yakni
> sebesar Rp100 juta.
>
> Tahun ini UGM merekrut 6.000 mahasiswa. Dari jumlah itu, yang diterima
> melalui seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) hanya
> sebanyak 18%, dan sisanya melalui penelusuran bibit unggul dan seleksi ujian
> tulis.
>
> Universitas Indonesia (UI) pun tidak jauh berbeda. Tahun ini, UI merekrut
> calon mahasiswa melalui SNMPTN hanya 5% dari 5.500 mahasiswa S-1 reguler dan
> paralel. Sisanya melalui jalur khusus. Uang pangkal S-1 reguler baik melalui
> SNMPTN maupun jalur khusus Rp25 juta.
>
> Biaya puluhan juta rupiah juga ditetapkan ITB bagi calon mahasiswa yang
> masuk melalui jalur khusus. Wakil Rektor Bidang Akademik ITB Adang Surahman
> mengatakan sumbangan melalui jalur khusus untuk lokal di atas Rp25 juta dan
> nasional di atas Rp50 juta.
>
> Tahun ini ITB merekrut 4.000 calon mahasiswa dengan perincian S-1 sebanyak
> 3.000 mahasiswa dan S-2 sebanyak 1.000 orang, melalui jalur lokal dan
> nasional. (Tim/S-3)
>
>
>
> ***Deri Dahuri - Media Indonesia
>
> ===
> http://indonesianic.wordpress.com/2008/06/21/biaya-masuk-perdana-jalur-snmptn-ub-tertinggi-um-terendah/
> Biaya Masuk PTN di Malang via SNMPTN Makin Mahal: Terendah UM (4,5jt) -
> Tertinggi UB (35,9jt) -
> Posted by indonesianic under Indonesia, Malang, Pendidikan | Tag: snmptn,
> um, uin, umptn, polinema, UB, spmb, PTN |
>
>
> Tiga perguruan tinggi negeri (PTN) di Kota Malang -Universitas Negeri Malang
> (UM), Universitas Brawijaya (UB), dan Universitas Islam Negeri (UIN)�-
> secara resmi telah merilis biaya masuk pertama. Terutama, dari jalur seleksi
> SNM PTN (seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri).
>
> Di UB, misalnya, program IPS dibanderol paling rendah Rp 4,8 juta dan
> tertinggi Rp 7,6 juta. Untuk program IPA, biaya terendah Rp 6,5 juta dan
> tertinggi Rp 35,9 juta. Biaya terendah program IPS adalah fakultas hukum dan
> tertinggi IPA di program studi (prodi) kedokteran gigi. Biaya masuk pertama
> tersebut untuk pembayaran SPP semester pertama, biaya praktikum, sumbangan
> pengembangan fasilitas, dan biaya lain-lain yang mencapai Rp 1,2 juta.
>
> Ketetapan biaya masuk tahun 2008 tersebut mengalami kenaikan dibandingkan
> tahun lalu. Terutama, di fakultas kedokteran. Tahun lalu, rekor tertinggi
> biaya masuk prodi pendidikan kedokteran mencapai Rp 12.900.000. Tapi, tahun
> ini prodi pendidikan kedokteran naik menjadi Rp 19,9 juta.
>
> Sementara rekor tertinggi ditorehkan prodi kedokteran gigi. Masuk pertama di
> prodi baru UB itu, mahasiswa harus siap dengan uang tunai Rp 35,9 juta.
> "Kalau dibilang mahal, memang begitu kenyataannya.. Tapi semua itu masih
> dalam batas proporsional," ungkap PR (Pembantu Rektor) I Unibraw Prof Dr Ir
> Bambang Suharto beberapa waktu lalu.
>
> Bambang menjelaskan, biaya masuk tersebut tidak saklek untuk semua program
> studi. Rincian itu hanyalah besaran variasi. Selebihnya disesuaikan dengan
> kebutuhan fakultas masing-masing. Parameter yang digunakan adalah kebutuhan
> praktikum. Semakin banyak praktikum yang dilakukan, semakin banyak biaya
> dibutuhkan. "FK misalnya. Tingginya biaya tersebut untuk peralatan dan bahan
> praktik. Dua hal ini menyedot anggaran paling banyak," kata dia.
>
> Jika dilihat dari nominal biaya masuk pertama untuk mahasiswa baru tahun
> ajaran 2008/2009 nanti, UB termasuk PTN dengan biaya masuk paling tinggi di
> Malang. Sebab, untuk masuk UIN, maba hanya menyiapkan dana antara Rp 6,1
> juta sampai Rp 6,2 juta. "Biaya masuk itu tak hanya jalur lewat SNM PTN,
> tapi juga empat jalur lainnya," terang Eko Budi Minarno, bagian informasi
> penerimaan mahasiswa baru UIN, kemarin.
>
> Bagaimana dengan UM? Jika diterima di kampus eks-IKIP Negeri Malang itu,
> paling tidak butuh dana segar mulai Rp 4,5 juta sampai Rp 5,8 juta.
> (nen/radar-malang)
>
> --- Pada Kam, 19/2/09, saidi <[email protected]> menulis:
>
>> Dari: saidi <[email protected]>
>> Topik: Fw: [is-lam] Peran Irwan Prayitno di DPR? Re: Biaya Pendidikan
>> MemangMahal,Kalau Perlu Uang Pangkal 100 Juta ...RE: Mahalnya Masuk UI? -
>> UangPangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15 Juta/Tahun
>> Kepada: [email protected]
>> Cc: "Bogi Triana" <[email protected]>
>> Tanggal: Kamis, 19 Februari, 2009, 12:46 AM
>>
>> ----- Original Message -----
>> From: "Bogi Triana" <[email protected]>
>> To: "saidi" <[email protected]>
>> Sent: Thursday, February 19, 2009 3:10 PM
>> Subject: RE: [is-lam] Peran Irwan Prayitno di DPR? Re:
>> Biaya Pendidikan
>> MemangMahal,Kalau Perlu Uang Pangkal 100 Juta ...RE:
>> Mahalnya Masuk UI? -
>> UangPangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15 Juta/Tahun
>>
>>
>> > ada yang aneh...Pak mizami ini kader PKs kenapa ngak
>> masukin sendiri
>> > statement letternya ke sana...
>> >
>> > tapi ane check ye....bener ngak ye...syukron
>> masukkannya.
>> >
>> > -----Original Message-----
>> > From: saidi [mailto:[email protected]]
>> > Sent: Thursday, February 19, 2009 3:35 PM
>> > To: Bogi Triana
>> > Subject: Fw: [is-lam] Peran Irwan Prayitno di DPR? Re:
>> Biaya Pendidikan
>> > MemangMahal,Kalau Perlu Uang Pangkal 100 Juta ...RE:
>> Mahalnya Masuk UI?
>> > - UangPangkal Rp 33 Juta danKuliah Rp 15 Juta/Tahun
>> >
>> >
>> > Nih Teh, ada sedikit kritikan buat PKS.....
>> >
>> > tengkiyu...
>> >
>> >
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke