ini atrilek iisnya espreti ngelantur guit????



________________________________
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Saturday, February 21, 2009 10:57:24 AM
Subject: [is-lam] FW: Hakikat Doa

 
Forwarded dari email tetangga.
Hakikat Doa
Doa
adalah kata dari bahasa Arab yang artinya seru.
Bisa
juga bermakna himbau, ajak atau meminta dengan penuh harap. Bisa juga berupa
suatu tanda perhatian, deklarasi, tekad untuk sebuah objek yang direncanakan,
sebagaimana seharusnya berlaku dalam praktisi muslim sehari hari.
Doa,
dari dari asal kata du'a, huruf da (dal) dan huruf 'a ('ain). Kata du'a bisa 
membentuk
beberapa puluh turunan kata lainnya. Diantaranya:
Du'a
= doa = seru
Da'i
= pen-doa = penyeru, priest atau pen-dakwah.
Da'wah
= dakwah, doa-doa, plural dari kata du'a, materi penyampaian seruan.
Yad'u
= berdoa, berseru
Tad'u
= berdoa-lah, serukan.
Nad'u
= Kami berdoa, kami seru
Nudia
= Telah kami doakan, telah kami seru atau telah kami himbau.
Yang
paling populer adalah doa, da'i dan da'wah. Jika dituliskan skrip Arabnya tentu
akan lebih ‘nyambung’, karena peranan huruf da dan huruf 'a tadi
akan lebih kentara. Seandainya doa kita artikan dengan harap saja
(harapan atau keinginan) tanpa proaktif, tanpa dibarengi dengan usaha untuk
membuktikan harapan tersebut, mungkin ini lebih mirip dengan menghayal atau
kuatir menjadi omong kosong saja. Lebih parah lagi tentunya jika kita tidak tau
apa arti dan maksud dari doa yang kita mohonkan tersebut. Atau malah
sebaliknya, seperti kasus jalur Gaza 
baru baru ini. Banyak orang orang -umumnya non muslim- yang tidak menggelar
acara khusus doa sebagaimana anjuran  bagi muslim. Namun mereka bermain
langsung di hikmah dan hakikat doa. Padahal acara yang digelar adalah
demontrasi. Seperti di Eropa, demontrasi anti penindasan yang dibarengi
pengumpulan dana untuk membantu korban Gaza .
Mereka melakukannya lewat bukti, usaha nyata dari butir butir doa yang tadinya
di ikrarkan bareng dimesjid mesjid, dilain pihak, oleh ummat muslim. Berdoa
panjang panjang untuk Gaza ,
bareng di mesjid. Dana yang terkumpul berbanding lurus dengan khidmat nya doa,
Alhamdulillah. Tapi jika nyatanya masih banyak yang pelit. Itu namanya tidak
benar, ini cuma harapan 'doang'. Benar bahasa Arabnya 'shodiq'. Usaha
pembenaran dari komat kamit ikrar disebut 'Shodaqoh', yang bila diartikan
kedalam bahasa Indonesia disebut dengan sedekah. Pantaslah, presiden kaum
muslimin yang kedua --konglomerat Abubakar-- digelari As-shiddiq (yang juga
dari etimologi 'shodiq'). Abubakar Sidik, saiyyidina pembenar. Bagi hamba
hamba-Nya rajin sholat rajin dzikir, rajin ibadah sebagai seseorang mukmin,
tentunya tau bahwa doa itu juga berarti sholat. Sholat itu 'Tanha Anil Fahsya-i
Wal Mungkar', mencegah perbuatan buruk dan ingkar. Doa itu sama juga dengan
dzikir. Dibolak balik ya larinya kesitu situ juga, 'Ash-Sholatu Hia Dzikri'. 
Jadi
doa, zikir,  adalah ibadah. Bagi yang tidak mampu, usaha pembenaran
(bukti) tersebut masih juga mendapat toleransi. Toleransi sebatas kemampuan,
bukan sekedar. Oh, bisa juga se ala kadarnya. Tetapi ala-kadar yang
benar, karena 'ala qodar juga berasal dari kutipan Arab yang di Indonesiakan,
biasanya untuk sumbangan yang bersifat fardhu (wajib). Ala-kadar ('ala qodr)
artinya berada pada batas nilai tertentu. Misalnya zakat, kadarnya 2,5%.
Silahkan saja bikin 'slank' baru bagi yang berada di Arab: ala-kadar ya
syeikh!, 'on spec sir!'. Bagi punya prospek doa yang besar, namun bila
 sekedar harapan saja, tentu tidak boleh merefer ke toleransi. Ini namanya
'Fawailul Lil-mushollin. Kan 
boleh, kita serahkan saja kepada Allah? Ya sudah, sabar saja Tawakkal 
'Alallaah. Berserah
diri kepada Allah? Udah nyerah kok 'bandel' he..hee.. Sementara tawakkal itu
sendiri arti nya mewakili olehmu, wakili-lah (grammar untuk orang kedua
tuggal,  atau olehmu manusia) kepada Allah. Yang menjadi wakil itu
kita-nya, bukan Allah. Mewakili Allah dalam arti mengemban segala kemauan-Nya
(mengabdi). Wakil, wakalat (perwakilan) , tawakkal, dan lain-lainnya ini
adalah fonem fonem Arabik yang sedulur sama akar kata wa-ka-la, artinya wakil. 
La
khaula wala quwwata illa bil-laah.... .., alternatif lain untuk menyatakan
kesugguh sungguhan kita dalam mewakili doa kepada Allah. Atinya tiada daya dan
tiada upaya melainkan selalu bersama Allah. Jangan diartikan menjadi, melainkan
Allah saja, terserah Allah atau hak Allah. Beda, ini tarbiyyah buat kita, bukan
ditujukan kepada Allah, dan Tuhan tidak memerlukan itu bagi diri-Nya sendiri.
Pantas-lah kiranya, pada setiap usaha sesuatu kita dianjurkan selalu Bismillah.
Dengan isim Allah. Dengan Isme-Nya atau dengan tata cara yang dikehendaki 
oleh-Nya,
bukan sekedar tanpa bobot, sekedar santun sama Gusti Allah, tapi benar benar
jadi abdi luar dalem. Doa, jika ditransformasikan ke al-siyashah
(politik) sebagai doa pemilu (doa, -seruan)  sebenarnya harus tetap tunduk
kepada teokrasinya Allah, bukan demokrasinya manusia. Karena demokrasi dalam
islam adalah bahagian (sub) dari dinul islam itu sendiri, tidak boleh dibalik
sehingga uu hasil ro’yu manusia yang mengatur (men-sub) ke syariat Allah.
Juga tawakkal, dalam hal pemilu itu maksudnya bukan untuk memilih wakil rakyat.
Yang diwajibkan bagi kita adalah memilih wakil Allah. Makanya paska
khulafaurrasyidin, ummat islam dipimpin oleh kebanyakan orang yang amburadul.
dimana amanah mulukhiyah Allah dikangkangi oleh banyak pengemban yang rakus dan
dzolim. Orang orang beriman disingkirkan atau dihabisi, sehingga ummat akhirnya
harus menabik ke ‘milah’ yang lain, ..hatta ta-tabi’u
millatuhum. Ssst..doanya jangan keras keras, oh, iya maaf, tapi mohon
supaya yang jangan keras itu adalah hati kita, he..hee.. , mbok doa yang keras
keras itu kan 
sejenis tereak tereak Allahu Akbar sambil ndorong-ndorong pagar kedubes AS,
gimana ini...
 Alkhori M
Alkhor
Community
Qatar


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke