JJJJ

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of AFR
Sent: Sunday, February 22, 2009 5:44 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: Re: [is-lam] FW: Hakikat Doa --?|

 

ini atrilek iisnya espreti ngelantur guit????



  _____  

From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Saturday, February 21, 2009 10:57:24 AM
Subject: [is-lam] FW: Hakikat Doa

Forwarded dari email tetangga.

Hakikat Doa

Doa adalah kata dari bahasa Arab yang artinya seru.

Bisa juga bermakna himbau, ajak atau meminta dengan penuh harap. Bisa juga 
berupa suatu tanda perhatian, deklarasi, tekad untuk sebuah objek yang 
direncanakan, sebagaimana seharusnya berlaku dalam praktisi muslim sehari hari.

Doa, dari dari asal kata du'a, huruf da (dal) dan huruf 'a ('ain). Kata du'a 
bisa membentuk beberapa puluh turunan kata lainnya. Diantaranya:

Du'a = doa = seru

Da'i = pen-doa = penyeru, priest atau pen-dakwah.

Da'wah = dakwah, doa-doa, plural dari kata du'a, materi penyampaian seruan.

Yad'u = berdoa, berseru

Tad'u = berdoa-lah, serukan.

Nad'u = Kami berdoa, kami seru

Nudia = Telah kami doakan, telah kami seru atau telah kami himbau.

Yang paling populer adalah doa, da'i dan da'wah. Jika dituliskan skrip Arabnya 
tentu akan lebih ‘nyambung’, karena peranan huruf da dan huruf 'a tadi akan 
lebih kentara. Seandainya doa kita artikan dengan harap saja (harapan atau 
keinginan) tanpa proaktif, tanpa dibarengi dengan usaha untuk membuktikan 
harapan tersebut, mungkin ini lebih mirip dengan menghayal atau kuatir menjadi 
omong kosong saja. Lebih parah lagi tentunya jika kita tidak tau apa arti dan 
maksud dari doa yang kita mohonkan tersebut. Atau malah sebaliknya, seperti 
kasus jalur Gaza baru baru ini. Banyak orang orang -umumnya non muslim- yang 
tidak menggelar acara khusus doa sebagaimana anjuran  bagi muslim. Namun mereka 
bermain langsung di hikmah dan hakikat doa. Padahal acara yang digelar adalah 
demontrasi. Seperti di Eropa, demontrasi anti penindasan yang dibarengi 
pengumpulan dana untuk membantu korban Gaza . Mereka melakukannya lewat bukti, 
usaha nyata dari butir butir doa yang tadinya di ikrarkan bareng dimesjid 
mesjid, dilain pihak, oleh ummat muslim. Berdoa panjang panjang untuk Gaza , 
bareng di mesjid. Dana yang terkumpul berbanding lurus dengan khidmat nya doa, 
Alhamdulillah. Tapi jika nyatanya masih banyak yang pelit. Itu namanya tidak 
benar, ini cuma harapan 'doang'. Benar bahasa Arabnya 'shodiq'. Usaha 
pembenaran dari komat kamit ikrar disebut 'Shodaqoh', yang bila diartikan 
kedalam bahasa Indonesia disebut dengan sedekah. Pantaslah, presiden kaum 
muslimin yang kedua --konglomerat Abubakar-- digelari As-shiddiq (yang juga 
dari etimologi 'shodiq'). Abubakar Sidik, saiyyidina pembenar. Bagi hamba 
hamba-Nya rajin sholat rajin dzikir, rajin ibadah sebagai seseorang mukmin, 
tentunya tau bahwa doa itu juga berarti sholat. Sholat itu 'Tanha Anil Fahsya-i 
Wal Mungkar', mencegah perbuatan buruk dan ingkar. Doa itu sama juga dengan 
dzikir. Dibolak balik ya larinya kesitu situ juga, 'Ash-Sholatu Hia Dzikri'. 
Jadi doa, zikir,  adalah ibadah. Bagi yang tidak mampu, usaha pembenaran 
(bukti) tersebut masih juga mendapat toleransi. Toleransi sebatas kemampuan, 
bukan sekedar. Oh, bisa juga se ala kadarnya. Tetapi ala-kadar yang benar, 
karena 'ala qodar juga berasal dari kutipan Arab yang di Indonesiakan, biasanya 
untuk sumbangan yang bersifat fardhu (wajib). Ala-kadar ('ala qodr) artinya 
berada pada batas nilai tertentu. Misalnya zakat, kadarnya 2,5%. Silahkan saja 
bikin 'slank' baru bagi yang berada di Arab: ala-kadar ya syeikh!, 'on spec 
sir!'. Bagi punya prospek doa yang besar, namun bila  sekedar harapan saja, 
tentu tidak boleh merefer ke toleransi. Ini namanya 'Fawailul Lil-mushollin. 
Kan boleh, kita serahkan saja kepada Allah? Ya sudah, sabar saja Tawakkal 
'Alallaah. Berserah diri kepada Allah? Udah nyerah kok 'bandel' he..hee.. 
Sementara tawakkal itu sendiri arti nya mewakili olehmu, wakili-lah (grammar 
untuk orang kedua tuggal,  atau olehmu manusia) kepada Allah. Yang menjadi 
wakil itu kita-nya, bukan Allah. Mewakili Allah dalam arti mengemban segala 
kemauan-Nya (mengabdi). Wakil, wakalat (perwakilan) , tawakkal, dan 
lain-lainnya ini adalah fonem fonem Arabik yang sedulur sama akar kata 
wa-ka-la, artinya wakil. La khaula wala quwwata illa bil-laah.... .., 
alternatif lain untuk menyatakan kesugguh sungguhan kita dalam mewakili doa 
kepada Allah. Atinya tiada daya dan tiada upaya melainkan selalu bersama Allah. 
Jangan diartikan menjadi, melainkan Allah saja, terserah Allah atau hak Allah. 
Beda, ini tarbiyyah buat kita, bukan ditujukan kepada Allah, dan Tuhan tidak 
memerlukan itu bagi diri-Nya sendiri. Pantas-lah kiranya, pada setiap usaha 
sesuatu kita dianjurkan selalu Bismillah. Dengan isim Allah. Dengan Isme-Nya 
atau dengan tata cara yang dikehendaki oleh-Nya, bukan sekedar tanpa bobot, 
sekedar santun sama Gusti Allah, tapi benar benar jadi abdi luar dalem. Doa, 
jika ditransformasikan ke al-siyashah (politik) sebagai doa pemilu (doa, 
-seruan)  sebenarnya harus tetap tunduk kepada teokrasinya Allah, bukan 
demokrasinya manusia. Karena demokrasi dalam islam adalah bahagian (sub) dari 
dinul islam itu sendiri, tidak boleh dibalik sehingga uu hasil ro’yu manusia 
yang mengatur (men-sub) ke syariat Allah. Juga tawakkal, dalam hal pemilu itu 
maksudnya bukan untuk memilih wakil rakyat. Yang diwajibkan bagi kita adalah 
memilih wakil Allah. Makanya paska khulafaurrasyidin, ummat islam dipimpin oleh 
kebanyakan orang yang amburadul. dimana amanah mulukhiyah Allah dikangkangi 
oleh banyak pengemban yang rakus dan dzolim. Orang orang beriman disingkirkan 
atau dihabisi, sehingga ummat akhirnya harus menabik ke ‘milah’ yang lain, 
..hatta ta-tabi’u millatuhum. Ssst..doanya jangan keras keras, oh, iya maaf, 
tapi mohon supaya yang jangan keras itu adalah hati kita, he..hee.. , mbok doa 
yang keras keras itu kan sejenis tereak tereak Allahu Akbar sambil 
ndorong-ndorong pagar kedubes AS, gimana ini...

 Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke