--- On Thu, 2/26/09, Alkhori M <[email protected]> wrote:
> "Tiga Dara Pendekar Siaw Lim" ada kalimat yang
> sangat menarik diucapkan
> sangat mendalam artinya yaitu kira-kira "1000 Sahabat
> Masih Terasa Sedikit,
> Mengapa Harus Ditambah Seorang Musuh"
Setuju sajalah, cuman konteksnya mau dibawa ke mana dulu nih?
> Saya menulis
> adalah ingin sharing apa
> yang pernah dipelajari, terutama dilemma antara seruan
> Rasulullah agar
> ilmunya Islam diterima secara KAMIL/ MENYELURUH, tapi what
> to do, ternyata
> ummat hanya mengambil penggalan penggalan-nya saja, yaitu
> Fiqih saja, lalu
> mengatakan Tauhid Kafir, Fiqih saja lantas mengatakan
> Tasauf sesat. Maka
> perlu diambil makna dari Kulit Buku Pengantar Sosilogi.
> Dimana saya coba
> rubah paradigma berfikir dengan TIDAK MENILAI, tapi
> memberikan suatu
> karakter buat:
Perhatikan PENILAIAN suhu yang tampaknya sudah BUILT IN di benak suhu: "...
yaitu Fiqih saja, lalu mengatakan Tauhid Kafir, Fiqih saja lantas mengatakan
Tasauf sesat ..."
Siapa tuh yang menyatakan TAUHID kafir?
Siapa tuh yang menyatakan TASAUF sesat? Kalau yang ini memang ada, tapi ya
mesti dibaca alasannya apa? Alasan penyesatannya masuk akal atau sesuai syariah
enggak? Sama juga kalau kalau ada yang menyatakan TASAUF itu benar, tetep saja
harus dibaca alasannya apa? Alasan pembenarannya masuk akal atau sesuai syariah
enggak?
Ahli sosiologi sendiri selalu mencoba menilai konstelasi sosial yang ada dalam
masyarakat tho suhu. Dan, pada objek penelitian yang sama pun seringkali ahli
sosiologi berbeda pendapat. Setiap ilmu sering diklaim "bebas nilai", tapi apa
begitu? Bahkan dalam ilmu pastipun seperti fisika, "bebas nilai" ini mulai
dipertanyakan juga. Fisika Newtonian, ternyata terbukti sangat tidak bebas
nilai, sehingga melahirkan kerusakan yang luar biasa terhadap alam semesta
(baca The Turning Point karangan Firjof (?) Capra misalnya).
> * Fiqih, yaitu salah, benar, baik & buruk, orang
> fiqih tegas (kalau
> takut dikatakan kaku), kerja Fiqih cenderung mencari
> KESALAHAN, itu karakter
> FIQIH.
Cara pandang suhu sangat stereotip (dari awal sudah membawa penilaian
tertentu), oleh karena itu suhu lebih suka menyatakan "kerja Fiqih cenderung
mencari KESALAHAN". Padahal, andaipun konstantasi ini diterima, pada saat yang
sama bukankah kalau begitu "kerja Fiqih adalah mencari KEBENARAN"
Suhu pasti paham istilah debugging dalam pemrograman tho? He ... he kalau
syxtax error mah mudah dicari salahnya, dan dibenarkan, lha kalau logical
error, wah program jalan, tapi hasilnya ndak karu-karuan. Lha program jalan
saja bisa GIGO kok. Suhu saya mohon hati-hati:-)
Pada kenyataannya ahli fiqih itu malah tidak kaku, yang kaku justru ahli
Aqidah. Aqidah itu pendekatannya hitam putih. Fiqih malahan tidak kaku (luwes),
oleh karena itu, sebagai ahli fiqih Umar tidak memotong tangan pencuri saat
terjadi paceklik. Aqidah itu YANG, fikih itu YING. Nah, harus diselaraskan.
> * Tasauf, yaitu akhlak mulia, dan penuh dengan cinta
> kasih, hidup
> orang Tasauf adalah indah tanpa beban, sehingga seorang
> tasauf bisa
> menikmati hidup yg penuh damai
Ini juga definisi suhu kan? IMHO, yang ingin dicapai tasauf sebenarnya adalah
IHSAN, yang manifestasinya nanti mampu TANPA BEBAN MEMBENCI APA YANG DIBENCI
ALLAH DAN MENCINTAI APA YANG DICINTAI ALLAH. Ekspresinya tentu saja tidak hanya
damai.
> * Tauhid, ilmu ini tidak punya masalah, tapi orang yg
> belajarnya bisa
> menimbulkan masalah, baik utk diri sendiri atau juga orang
> lain
Ketauhidan tentu saja menimbulkan masalah bagai ketidaktauhidan, seperti
kemusyrikan, keagnotisan, keateisan, dan sejenisnya:-) Ketauhidan juga
menimbulkan masalah pada sisi konsekuensinya, karena setelah diterima tauhid
itu tidak penting lagi, yang lebih penting adalah bagaimana ketauhidan itu
diekspresikan dalam laku men-tauhid-kan.
Sekali lagi siapa yang MENGKAFIRKAN TAUHID?
> Ibarat Civil Engineering, STRUKTUR SEGITIGA TERTUTUP adalah
> Struktur yang
> paling kokoh. Kalau mau memakan bahasa AWAM, tungku yg
> terbuat dari 3 buah
> batu adalah yang terbaik. Kalau hanya dua batu, kuali masak
> akan tumpah, apa
> lagi kalau satu batu, malahan kuali tidak bisa diletakan.
> Makanya tungku
> untuk memasak adalah 3 batu yang paling kuat. Makanya
> ketiga ilmu FTT yang
> punya 3 karakter yang berbeda jika telah dirangkul menjadi
> satu maka itulah
> yang diinginkan rasulullah. Silahkan penggemar KPH mas BS
> kita tunggu
> komentarnya.
Terus terang saya tidak paham mengenai Teknik Sipil, yang pakar di sini adalah
tuan Skywalker:-)
BTW, kalau suhu stereotip-nya memang memasak pakai kuali (alat memasak yang
bawahnya cembung) ya tungku tiga batu lebih oke. Tapi, kalau memasaknya pakai
panci (alat memasak yang bawahnya rata), rasanya sih dua batu saja cukup. BTW,
setahu saya tungku yang baik itu terdiri dari satu batu saja, tetapi diberi
lubang-lubang, lubang untuk menaruh alat masak, lubang untuk memasukkan kayu,
kadang ditambahi pula lubang-lubang untuk masuk dan keluarnya udara.
Lingkaran (siklus) justru lebih disukai oleh ahli-ahli spiritual: Tao, Budha,
Zen, dll.
Diskusi bagi saya tuh tak mencari menang kalah kok mas, tapi untuk menguatkan
diri saya sendiri, lewat pengalaman orang lain. He ... he, teman saya mah belum
sampai seribu, jadi buat apa menjadikan suhu Alkhori (atau siapa saja) sebagai
musuh:-)
Salam sayang selalu
B. Samparan
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam