Ini saya ambil dari milis sebelah. Saya tdk tahu apakah Om Marconi masih aktif di milis ini, namun saya sangat berterimakasih atas analisa; mungkin tepatnya sebuah kritik; terhadap konsepsi dasar pemikiran JIL. Memang bahasa tipikal Om Marconi sejauh yg saya ketahui selama ini memang sangat scientific (dan mungkin agak membingungkan menurut kebanyakan orang awam seperti saya) dalam menjelaskan segala sesuatu; dan ini wajar saja jika mengingat background beliau. Namun justru melalui kritik beliau ini saya baru lebih ngeh apa yg dimaksudkan dgn JIL tsb. Thx Om…. J
Saya cuman bisa komen : lho.. apa yg ada dibenak Ulil itu sebetulnya ya apa yg terjadi pada diri saya di jaman masa aqil-baligh dulu itu tha? Secanggih apapun filsafat tetap akan terhalang oleh inderawiyah. Saya dah bosan dan capek dengan kebenaran macam beginian. Muter-muter di bumi mlulu… gak naik-naik… Mendingan cangkruk diwarung kopi ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, tapi bisa langsung kena ke sasaran…JJ J Salam hangat Dari: A. Marconi <[email protected]> Topik: Renungan Bulan Safar Untuk Direnungkan Bersama di Bulan Safar: Saya kira para cerdik-cendekia Muslimin perlu melakukan re-evaluasi pemikirannya sendiri mengenai 1 - gagasan, pemikiran, pemahaman, penafsiran, bahwa Al-Dinu al-Islam yang dijelaskan oleh Firman-Firman Wahyu Qurani (bukan yang dijelaskan oleh para 'ulama Muslimin klassik dan kontemporer) dapat dikategorikan, didefinisikan dan dihipotesekan atau diteorikan sebagai AGAMA/RELIGION/KEPERCAYAAN dalam kerangka kerja (frames of reference) sejarah pemikiran manusia. Seorang sarjana Muslim bernama Ulil Abshar Abdalla yang sedang belajar di Emmory University mengirim sebuah mail ke maillist [email protected] dengan judul "Nasionalisme Nasi: Ikut pengajian sambil "berwisata kuliner Nusantara"." Dalam mailnya ini beliau berolah fikiran "Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau ritus. Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering disebut oleh para teolog sebagai "the ultimate concern". Tentu, semua itu adalah "ingredient" atau bahan mentah yang penting dalam setiap komposisi agama. Tetapi ada fungsi lain yang jauh lebih kasat mata, tetapi kerap diabaikan oleh para pemeluk agama itu sendiri, yaitu fungsi sosial. Tanpa disadari oleh penganutnya sendiri, agama sebetulnya adalah salah satu sarana yang dipakai oleh manusia untuk melaksanakan "hidup bebrayan", hidup bersama orang lain. Rumah manusia adalah masyarakat. Agar tahan lama, sudah tentu "masyarakat" haruslah dirawat agar anyamannya tidak kendor. Para ahli sosiologi menyebutnya sebagai "social cohesion", kerekatan sosial. Agama adalah salah satu alat yang dapat mencapai tujuan itu." Dalam olah fikirnya ini beliau sebagai ahli teologi Muslim yang menggeluti Al-Dinu al-Islam sebagai "agama, religion" melihat diskrepansi agama dalam kaitan fungsional kemasyarakatan yang dikatakannya sering dilupakan oleh kaum beragama sendiri. Hal demikian ini tidak sekarang saja, tetapi pada zaman penurunan Wahyu Qurani periode pertama di Mekah berisi kritik tajam kepada kaum beragama, religius, yang sholat, namun tidak mempedulikan realitas penindasan diantara sesama manusia, diskriminasi gender, ketidak pedulian terhadap kaum miskin-papa, kebanggaan pamer kekayaan dan keagungan tradisi merampok kabilah tetangga (ghosywu), ketidakpedulian terhadap anak yatim-piatu serta pelecehan seksual terhadap perempuan. Wahyu Qurani juga menjelaskan bahwa isi pokok Wahyu Qurani adalah segala sesuatu yang difirmankan Allah swt dalam model ayat-ayat muhkamat. Ayat-ayat muhkamat ini berisi secara prinsip petunjuk dan bimbingan dalam memecahkan problema kehidupan manusia biologis, baik secara individual maupun secara kemasyarakatan. Jika menurut beliau "Agama bukan sekedar mengenai apa yang secara mengerikan sering disebut oleh para teolog sebagai "the ultimate concern" dan "Agama sebetulnya memiliki fungsi yang sangat penting di luar masalah sorga-neraka, iman-kafir, ajaran benar-salah, dosa, sesat, dan doktrin-doktrin yang lain. Agama bukan sekedar masalah ibadah atau ritus.", maka secara kwalitatif agama tidak lagi dapat disebut dan dinamakan sebagai agama, religion, menurut doktrin dan dogma teologi. Sejarah pemikiran, pemahaman dan pengertian serta interpretasi manusia terhadap interaksi diantara diri manusia biologis dengan alam lingkungan dan masyarakatnya menunjukkan adanya bekas-bekas peninggalan dan tingkat-tingkat perkembangan pengetahuan dan kesadaran manusia dalam usaha memecahkan problematika kehidupan manusia di Bumi. A - Semula manusia menduga bahwa pengorbanan manusia yang diperuntukkan bagi Yang Maha Pencipta merupakan kunci pembuka pintu kebahagiaan dan kemakmuran serta kemudahan hidup di Bumi. Pengorbanan manusia yang didedikasikan secara ritual dan diinstitusikan ke dalam tradisi budaya kemasyarakatan secara organik tersebut dikenal sebagai agama yang darinya lahir suatu ilmu-ilmu ritual religius yang dinamakan sebagai ilmu keagamaan - theology. Tradisi teologis dalam masyarakat manusia telah berlangsung ribuan tahun lamanya sebagai suatu daya usaha manusia guna memperingan derita hidupnya di Bumi. Ketika manusia tidak mampu lagi memecahkan problematika kehidupannya dan pengembangan intelegensinya melalui konsep pemikiran (ilmu) keagamaan - theology, B - maka manusia maju setapak dengan mencobanya lewat konsep pemikiran (ilmu) filsafat - phylosophy. C - Akan tetapi beberapa abad perkembangan pemikiran filsafat juga tidak sanggup menemukan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan hidup bermasyarakat manusia tanpa harus mengorbankan kebutuhan hidup manusia lainnya. Sehingga diturunkanlah Wahyu Qurani yang rasional, logis dan dialektis Islami kepada raslullah Muhammad saw, yang mana Wahyu Qurani memberikan petunjuk dan bimbingan bagaimana manusia dapat hidup di Bumi dan membangun masyarakat yang adil, makmur kerta raharja dan berkebudayaan tinggi serta beradab Islami. Sesudah para cerdik-cendekia Muslimin di masa lampau mengembangkan pemikiran bebas (tanpa terikat dan terhalang doktrin dan dogma keagamaan) dalam mengkaji alam lingkungan, sebagai penafsiran atas ayat-ayat Wahyu Qurani yang membimbing ke arah pengenalan terhadap Allah swt, barulah dasar-dasar modern bagi ilmu pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan diletakkan, yang kini dikenal dengan sebutan Sains - Science sebagai ilmu pengetahuan modern. 2 - selanjutnya harus meneliti kembali postulasi pemikiran, pemahaman, penafsiran, mana yang lebih awal muncul: a) manusia biologis (al-basyor) atau b) jagad raya, alam semesta, kosmos, space-time continum (al-kaun). Data terahir yang disuguhkan oleh team research yang dipimpin oleh Wendy L. Friedman terhadap ledakan SN Ia (Super Novae tipe I-a) menetapkan umur alam semesta setua 13,7 milyar tahun (13.700.000.000 tahun Bumi). Dan umur Bumi baru mencapai 4,5 milyar tahun (4.500.000.000 tahun Bumi). Sehingga beda umur alam semesta dengan umur Bumi berada pada jarak ketuaan sebesar 9,2 milyar tahun (9.200.000.000 tahun Bumi). Sesudah Bumi dengan segala prenik-preniknya siap memelihara, mengembangkan dan menjaga keberlangsungan hidup secara relatif berkesinambungan maka diciptakanlah manusia dengan tujuan hendak dijadikan "holifatan fii al-ardzh" yang bertugas memelihara kehidupan dan alam lingkungan di Bumi dan sistim tata surya. Dari sample DNA yang diperoleh dalam studi lapangan, di tahun 1987, Rebecca L. Cann dan Allan C. Wilson, keduanya dari University of California, Berkeley, menerbitkan suatu makalah yang menggegerkan para agamawan (teolog). Makalah tersebut mendasarkan diri kepada hasil analisis mitochondria DNA, yaitu sel-sel organel yang memproduksi tenaga (energy). Sel-sel organel tersebut diwariskan turun temurun menurut garis keturunan dari fihak ibu. Mereka melaporkan bahwa umat manusia modern (homosapiens-sapiens) dari berbagai kelompok kependudukan yang berbeda-beda kesemuanya adalah keturunan dari SEORANG IBU ("Yaa ayyuhaa al-nnaasuttaquu robbakumu al-ladzii kholaqokum mmin nnafsin wa hidatin........" Surah An-Nisaa' ayat 1) yang hidup di suatu lingkungan alam di benua Afrika kira-kira 200.000 tahun yang telah silam. Dari keberhasilan kita mengenal alam lingkungan hidup dan mengenal kehadiran diri kita melalui re-evaluasi terhadap 2 point di atas, jika kita dapat jujur pada diri sendiri dan jujur terhadap ilmu pengetahuan maka kita akan sampai kepada suatu kesimpulan pemahaman, bahwa kata al-Diin yang digunakan di dalam ayat-ayat Qurani memiliki essensi yang beda dengan yang dimengerti oleh para 'ulama Muslimin (baik oleh para 'ulama Muslimin klasik maupun kontemporer). Apabila kita referensikan dengan firman Qurani tentang sejarah para rasulullah dan nabiullah dan definisi al-Islam yang difirmanlkan dalam Al-Quranu al-Kariim serta diinferensikan dengan ketetapan "Inna diina 'indallohi al-Islam", maka kita akan faham bahwa pemahaman atas kredo "semua agama adalah sama baiknya/benarnya" yang dikemukakan selama ini oleh para ahli teologi sesungguhnya adalah konsekwensi dari titik tolak antrophomorphism, bukan dari titik tolak selfsustained objective reality of the cosmos (realitas obyektif kosmos yang mandiri). Dalam hal ini Al-Diinu al-Islam (menurut bacaan saya pribadi terhadap Al-Quranu al-Kariim) tidak bertolak dari antrophomorpism (sebab menurut wahyu Qurani semua wahyu yang diterima para nabiullah dan rasulullah adalah Al-Dinu al-Islam) tetapi dari selfsustained objective reality of the cosmos yang menjadi tanda (ayat) keberadaan Yang Maha Pencipta (something undefined by human's intelligence - QS.112). Wassalam, A.M
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
