Yo ora tho mas. Lha kalau perbankannya masih pakai gaya bunga dan tidak pakai gaya profit loss sharing (mudharabah), kan riba ya masih eksis. Nah, gaya ribawi ini juga akan memicu instabilitas ekonomi juga.
Atau, kalau aku utang ente 10 dinar, setahun ente suruh mengembalikan 15 dinar, itu kan juga riba. Ngomong-ngomong, iki sebetulnya rodo filosofis lho:-) Kenapa hayo, kok emas lebih berharga daripada beras? Darimana sih sebenarnya muncul harga itu? Nah, kalau begitu, salah enggak selembar kertas bisa berharga Rp. 100.000? Salam hangat B. Samparan --- On Mon, 3/9/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: From: Dewa Gede Permana <[email protected]> Subject: RE: [is-lam] Misteri JUB, Nilai Rupiah, Fiat Standard, dan Standar Emas To: [email protected], [email protected] Date: Monday, March 9, 2009, 9:02 PM Tengkyu bro atas usaha pencerahannya… J Lantas kalo dikaitkan dengan masalah diawal-awal topik semula terkait dengan unsur ribawi itu gimana Mas? Taruhlah diasumsikan tercapai kondisi dimana emas telah menjadi standard moneter, apakah benar dikatakan ribawi akan hilang dengan sendirinya? Atau mungkin masih ada dinamika-dinamika yang lainnya lagi yang masih harus diperhitungkan? J Matur Nuwun
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
