Sosiologi Tidak Menilai dan Fiqih, Tasauf & Tauhid (FTT), lanjutan 3

Abstraks:
Pada sebuah tulisan, memang dihindari yg terlalu panjang, maka dipersingkat
dengan harapan, tidak hilang main konsep-nya. Tapi sebaliknya kadang-kadang
bisa menimbulkan confusing sehingga munculah tanggapan yg premature dan
tidak matching sama sekali. Untuk terhindar dari hal tersebut, maka perlu
diketahui Ilmu Semantik  (maaf sudah masuk sebentar keruang lingkup
linguistik yaitu ilmu yg bergelut tentang makna bahasa) diantara makna-makna
tersebut adalah: makna Kontektual, makna Konseptual, makna Gramatikal, makna
Referensial, makna Konotatif, makna Idiom & makna Peribahasa dll dll, untuk
jelas apa itu semua baca saja ilmu Semantik. Tapi agar terhindar salah
persepsi dalam membaca sebuah artikel/ tulisan memang hal tersebut mutlak
diketahui, maka terhindarlah dari ASBUN, biasanya yang paling serius adalah
beda antara pemakaian makna Kontekstual & makna Konseptual, diantara
keduanya yaitu kontekstual dan konseptual harus sangat pintar dan hati-hati
digunakan sehingga makna sebuah paragraph dengan tepat disimpulkan.

*       Fiqih ruang lingkupnya adalah (salah, benar, baik & buruk), serta
cenderung kaku dan mencari kesalahan.

FIQIH YG KAKU & FIQIH MENCARI KESALAHAN.
Diantara ajaran-ajaran Islam di-FIQIH-lah yang banyak membuat masalah.
Setelah nabi wafat, mulailah Fiqih membuat masalah hingga sampai sekarang
ini (juga Tauhid & Tasauf), malahan pada saat email ini ditulis masalah
Fiqih terus berlanjut, tentu timbul pertanyaan, mengapa bisa demikian?
Jawabanya adalah sederhana, karena yang pertama memang Fiqih itu tugasnya
adalah untuk mencari KESALAHAN dan kedua karena sifat Fiqih itu yang KAKU
itulah karakteristik FIQIH yang kaku dan mencari kesalahan. Fiqih itu kaku
dan mencari kesalahan adalah sesuai dengan sifatnya Fiqih. Fiqih itu adalah
pemahaman para ulama terhadap al-Qur'an dan as-Sunnah, tapi para Ulama
terdahulu mereka itu telah dengan amat sangat bijak membalut/ membungkus
Fiqih mereka dengan Tauhid dan Tasauf maka mereka telah menjalankan dan
meng-amalkan ajaran Islam secara kamil yaitu 3 in 1 yaitu FTT. Juga ulama
kontemporer yang sudah ber-FTT yaitu sudah ber- Three in One, mereka mereka
ini juga sudah sangat bijak, maka dimana mereka disitu tercapai KEDAMAIAN.
Tapi berbeda yang masih KAKU dan MENCARI KESALAHAN , dimana mereka berada
yang ditimbulkan adalah pembakaran EMOSI MASYARAKAT, yang diungkit-ungkit
atau diceramahkan hari-hari adalah yang ditonjolkan PERBEDAAN, selalu yang
dicari dan diumbar nafsu untuk memperuncing PERBEDAAN, sehingga ummat Islam
lelah alias tha'ban mendengarkan ocehan ULAMA MURAHAN seperti ini. Tapi on
other hand cukup banyak ulama-ulama yang FTT yang sudah 3 in 1, mereka ini
selalu dengan SEJUK & DAMAI selalu menonjolkan PERSAMAAN & KEDAMAIAN,
sehingga ummat Islam bisa hidup hari-hari dengan damai. Mereka yang sudah
FTT sudah mengamalkan Management Qur'ani sebagai Way of Live yang sesuai
dengan "yang membawa berita GEMBIRA dan yang membawa PERINGATAN, tetapi
kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau)
mendengarkan"

Insyaallah bersambung, Akhirul kalam, Wa Iyakun Shawaaban Faminallah, Wa
Iyakun Khatha Aan Faminii Wa Minasyaithan, Astaghfirullah & Subhanallaah.
Salam kompak selalu dari Qatar.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke