Assalaamu alaikum warahmatullah 

Numpang lewat, hmmm ngomong-ngomong ttg emas. Kemarin, Sabtu 14/03 pergi ke 
masjid kubah emas Dian Al Mahri di Depok. Disana berdiri sebuah masjid yang 
berkubah emas, bener2 kuning, katanya kubah tersebut dibalur dengan emas 
setebal 2-3 mm. Diameter kubah bawah 16 m, tengah 20 m dan tingginya 25 m. 
Selain itu corak ukiran di dalam ruangan juga menggunakan prada (sisa emas), 
juga lampu yang berada di tengahnya. 

Di jalan masuk, terdapat penghambat licin menggunakan lempeng warna kuning, gak 
tahu, apakah itu juga emas?

Saya segede ini, sekali2nya beli emas juga beli waktu mau nikah aja, itu juga 
karena ada mahar pakai sejumlah emas. Kalau beli cincin itu sampai yang 1 gram 
seharga 200 ribu, kalo satu kubah dan konco2nya itu seharga berapa ya?

Dengan istri kemarin masih berfikir, apa ya yang mendasari hingga emas yang 
sangat berharga itu bisa dijadikan campuran pelapis untuk bangunan? Sampai detik
 ini pun kalao "seandainya" aku punya emas sebanyak itu .. aku pakai buat apa 
ya ?

Ternyata juga disepanjang jalan masuk di kiri jalan dan lingkungannya gitu 
banyak juga masjid dan mushola kecil2 yang dibangun oleh penduduk. 

Sampai hari ini masih berfikir, apakah dalam memutuskan untuk membangun masjid 
kubah emas itu masih ada pilihan lain ya waktu itu? Kira-kira apa ya yang 
menjadi bandingan dalam pilihan menentukan pembangunan masjid itu? Atau itu 
sebuah nadzar ya, mungkin kalau berhasil memperoleh sesuatu sampai sekian maka 
akan membangun masjid kubah emas itu. 

Memang sih luar biasa, bangunan megah itu... 
Mungkin memang nalarku yang belum bisa mengikuti alur berfikir orang2 selevel 
ini. Ya begitulah ... semoga Allah menyambungkan memberikan celah bagaimana 
orang2 selevel ini berfikir. Kagum sih kagum, tapi bagi semacam aku orang 
pinggiran kutho ini kan yaaaa.. piye yoo...kalo sholat disana kok jadi takut 
kiblate malah neng
 kubah iku. Ya begitu lah.... biasane ngonthel terus nganggo BMW, jadi ya 
walaupun sudah pakai AC ya tetep aja terasa panas, kurang diterpa angin 
sepoi-sepoi yang kalo naik sepeda onthel bisa semilir, apalagi di waktu pagi. 
Jangan2 pakai AC naik BMW malah jadi masuk angin. Yoooo.. dasar cah ndesa

Jadi ingat juga, uang 500an, 100 dan 1000 beberapa waktu yang lalu kan 
menggunakan logam yang warnanya kuning. Entah mengapa kakak mbahku ini punya 
cara untuk menjadikan uang tersebut menjadi sebuah cincin. Kembali dengan 
ditambah biaya produksi (jasa menempa) maka uang 1000 dua keping bisa jadi 
10000. Pemerintah yang sudah mencetak dengan dengan nominal 1000, ternyata bisa 
dibuat kreatif lagi oleh masyarakat menjadi 7000-10000. Bahkan beberapa kasus 
di daerah, 3 uang pecahan 500 dihargai lebih dari nilai nominalnya. Katanya ada 
pengumpulnya, saya sendiri tidak tahu apa yang kemudian dilalukan oleh 
pengumpul ini. Apakah kemudian menempanya menjadi barang jadi lainnya, saya 
juga tidak tahu. 



Wa'alaikukmsalaam warhmatullah 



--- On Sun, 3/15/09, Agus Safudi <[email protected]> wrote:

From: Agus Safudi <[email protected]>
Subject: Re: [is-lam] Misteri JUB,
 Nilai Rupiah, Fiat Standard, dan Standar Emas
To: [email protected]
Date: Sunday, March 15, 2009, 2:24 PM



--- Pada Rab, 11/3/09, Bango Samparan <[email protected]> menulis:
>Kalau kita baca Taiko, di Jepang dulu para samurai ya dibayar pakai beras, 
>>mungkin karena di Jepang lebih banyak beras daripada emas ya. 

dulu waktu saya kecil, guru ngaji saya juga mau di bayar pake beras, tapi kalo 
sekarang pasti lebih milih pake uang, khan guru ngaji juga pengen makan roti
 gak cuma beras, walopun bisa dijual lagi tapi akan ada cost lain yang muncul 
blom lagi kalo kwalitas beras nya macem2, he..he..he..

>Itulah mas:-) Asal tidak dicetak ngawur saja, harganya bisa kok dijaga stabil. 
>>Tapi diganti standar emas, kalau bener-beneran saya juga setuju lho:-) Kalau 
>>penguasanya yang rada rezim-rezim
 atau diktator-diktator tuh biasanya >seenaknya saja kok mas mencetak uang:-)

mungkin lebih kepada kinerja kali ya..cuman masalah nya bukan cuma pemerintah 
kali ya, gimana dengan budaya kerja kita,kalo menyangkut budaya kerja mungkin 
bukan cuma pemerintah malah bisa jadi semua lapisan baik pejabat maupun 
rakyat..seperti yang sampeyan bilang kali, kita kalo disuruh buat konsep 
rasanya gak kalah dgn orang lain, tapi ketika harus menjalankan apa yang sudah 
di tulis kira2apa hasilnya?, kalo selalu kejadiannya begini lantas bottle neck 
nya itu di mana ya?

ada yang bilang katanya naik turunnya nilai tergantung sektor riil, investasi, 
keamanan, dll. masalah deregulasi, dan si, si lainnya juga rasanya dah sering 
didengar tuh?..jadi kaya lingkaran setan (waduh, lingkaran setan apa lingkaran 
manusia..he.he.he...)
 
>Saya sendiri berpendapat menjadi lebih baik mas:-) Tapi ya tetep ada masalah 
>>-masalah yang mesti ditangani secara
 serius, seperti yang pernah saya >kemukakan, bagaimana JUB bisa optimal, 
secukupnya saja gitulah.

tapi jgn lupa, jaman rosul pun pernah mengalami hal2 spt ini, harga2 naik shg 
nilai tukar menjadi turun dan pada saat itu umat minta fatwa pada beliau tapi 
waktu itu justru rosul saw mengatakan Allah lah yang menentukan harga, waktu 
itu alat tukar menggunakan emas kan?

>Hayo, di zaman Rasulullah yang membuat atau memproduksi Dinar dan Dirham >itu 
>siapa?

kalo gak salah dinar/dirham itu dibuat jaman khulafaurrasyidin, setelah 
Rasulullah walaupun pada saat beliau sudah pake emas.

salam
a.s.


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


        Dapatkan alamat Email baru Anda!  

Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain!
-----Inline Attachment Follows-----

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam



      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke