dalam al-Quran memang ada ayat yang berbunyi "arrijalu kawamuna 'alannisa",
apakah makna tekstual dan kontekstual dari ayat ini memang mengharuskan bahwa
pria lah yang memimpin, atau spt yang mas Fakhru tulis "kalo ada wanita yg
'nglanangi' (tomboy?) itu boleh mimpin"..apakah bila ini terjadi kemudian
masyarakat Indonesia yang mayoritas notabene ISLAM akan menghantam dengan dalil
"bila suatu kaum di pimpin oleh bukan ahlinya maka tunggulah
kehancurannya"...terlepas bahwa seorang wanita muncul ke permukaan baik yang
melatar belakanginya adalah keadaan (anaknya si Fulan) atau karena
kedudukan(usaha dan kerja keras/cerdas) toh pasti alam (kauniy qadariy) yang
akan menyeleksi nya. Mengapa?, karena sebenarnya saya yakin ada kesesuaian
antara kauniy qadariy dan dinniy syar'i(alQuran, hadits, dll). maksud saya
bisakah kita kaum laki-laki
menerima dengan keridhoan bahwa apa yang harus terjadi memang pasti terjadi
tanpa harus melakukan penolakan minimal dalam hati yang menunjukkan adalah
selemah-lemahnya iman.Bahwa hasil suatu proses adalah tergantung masukan saya
probadi meyakini spt itu. terlepas bahwa proses nya di nilai ada kecacatan
mungkin itu permasalahan yang berbeda, tetapi disini justru ada indikasi bahwa
dalam rububiyah memang akan selalu terjadi dinamika-dinamika sampai dengan
waktu yang telah di tentukan oleh-Nya.bila pada suatu masa memang akan munucul
para wanita2 ke permukaan yang salah satunya adalah dalam bentuk panggung
politik ya bisa saja, hanya saja lantas timbul pertanyaan ada apa dengan kaum
pria nya?..
ini hanya trigger saja, bisa saja poin lain saya munculkan adalah masalah fiqih
waris (faroidh) misal. nash2 yang ada bahwa wanita mendapat 1/2 dari pria,
bagaimana jika kondisinya orang tua yang meninggal memiliki seorang anak
laki(yang telah berkeluarga)
dan dua orang anak wanita yang juga telah berkeluarga dimana salah satu anak
wanitanya adalah janda yang juga memikliki anak, jika mengikuti nash yang
tersurat bahwa wanita mendapatkan 1/2 pria, dan apalagi jika 1/2 ini adalah
keseluruhan yang maksudnya 1/2 tsb akan di bagi untuk 2 orang wanita sementara
anak laki yang sorang tsb hidup layak krn memiliki pekerjaan yang
baik.mungkinkah akan timbul pertanyaan ADIL kah ISLAM? ya memang ada dalil lain
berkaitan degnan masalah anak yatim dan apalagi anak yatim tsb adalah
ponakannya, hanya saja beranikah kita para orang tua yang memiki anak melakukan
sesuatu demi kemaslahatan walaupun terkesan ada penentangan/pengabaian pada
nash2 yang tersurat?..(jgn dianggap berlebihan pro feminis dgn maksud mencari
untung lho..bersyukur walaupun 1, mudah2an ndak terpikir untuk
2,3,4..he..he..he..).
bila kita kembali pada fitrah(kesengsaraan/kebahagiaan,keadilan, dll) saya
yakin bahwa walaupun tidak tersurat tapi insyaAllah tersirat pada kalam-Nya
yang mulia tsb. bukankah ada nash yang berbunya 'wama arsalnaka illa rahmatan
lil 'alamiin"...bgm kita
menginterpretasikannya (tafsir/takwil)?..
saya melihat dan mendengar terkadang banyak dari kita yang takut melakukan
sesuatu bila terkesan bertentangan degnan ayat2 yang muhkamat, tidakkah ini
menunjukkan bahwa kita masih terBELENGGU?..oleh apa? oleh sesuatu yang
merupakan hasil pemikiran orang2 yang hidup ratusan tahun lampau dan jarak
ribuan kilometer,bahwa kaidah ILMU dalam ISLAM adalah dengan menuturkan
riwatnya, silsilahnya bahkan kalo bisa dari sumber pertama saya tidak
menafikannya, bahwa selalu akan muncul dikotomi itu adalah sunnatulloh.apakah
saya menolak produk pemikiran para ulama masa lampau?.jelas tidak, tapi jsutru
bagmna kita bersikap dengan bijak dalam menyikapi "turats", toh rosul yang
mulia pun pernah mengatakan "urusan duniamu kamu lebih mengetahui"..dan para
sahabat yang mulia pun ketika menjabat khalifah pernah melakukan sesuatu yang
terkesan bertentangan dengan nash yang muhkamat spt yang di lakukan oleh kedua
Umar (bin khattab
dan bin aziz) baik dalam maslah ghanimah ataupun zakat profesi, begitu juag
dengan Ali r.a demi kemaslahatan pada saat itu.
dalam suatu hadits rasul saw pernah mengatakan bahwa mengapa beliau sehari
istigfar 70/100 kali karena dalam hati itu ada TUTUPAN, dan lawan dari tutupan
adalah BUKAAN, lantas apakah KETERBUKAAN itu?..
sekedar brain storming, tidak ada maksud lain.
wassalam.
a.s.
--- Pada Kam, 12/3/09, AFR <[email protected]> menulis:
Dari: AFR <[email protected]>
Topik: Re: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan --c|
Kepada: [email protected]
Tanggal: Kamis, 12 Maret, 2009, 9:14 AM
ya sudah, gak usah melebar
kemana-mana. wong pembicaraan ini gak ngomongin soal dza atw zat.
bukan soal 0 dan 1, tapi soal penjelasan yang dimaksud lanang iku berdasarkan
kelamin atau sifatnya?
konsekuensinya,
kalo ada wanita yg 'nglanangi' (tomboy?) itu boleh mimpin --> wanita boleh
ngimami shalat.
tapi kalo yg ditanya nggak njawab tapi malah 'cerita' protokol nyuruh audience
duduk kanan-kiri,
ya duduk saja yg anteng. simak pelan2 pelajaran bhs Arab asuhan kang Bango.
monggo kang Bango diteruskan eposide yg ke-3 ... saya ikhlas ngikutinya.
salam,
Fahru
From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, March 11, 2009 5:50:50 PM
Subject: Re: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan
Teropongan ente benul…. makanya pas diinget-inget lagi… ni ane nulis apaan
neh..…. JJ
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Agus Safudi
Sent: Wednesday, March 11, 2009 1:35 PM
To: [email protected]
Subject: [is-lam] Rijal secaralughot dan syari'at/Keterbukaan
Beli Dewa, ente kayanya mengarah pada dzat, sifat, asma, af'al-Nya ya?, (maaf
bukan neropong ntar dikira paranormal he..he..he..)
--- Pada Sel, 10/3/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> menulis:
Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]>
Topik: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal
secaralughot dan syari'at --??|
>Lha kalo rijal jadi dzat…. wah.. wah… wah… blaen iki… ntar ada yang >kerjanya
>suka ngeraba-raba selangkangan lageee…. JJ
>Kan sudah jelas lah yaw… Dzat sudah ketutup – tup. Yang tahu Allah ya Allah
>>sendiri. Muhammad SAW pun juga tidak tahu Dzat, meskipun kalo berdo’a blio
>>suka bilang “Wahai Dzat yang diriku berada dalam genggamanNYA…”. Itu
>>menggambarkan betapa akrab – karib dan tak berdayanya blio dihadapan >Allah.
>Yang namanya SIFAT kan ya sudah gumelar dan netes ke kita-kita sebagai
>>mahkluk…. ada hidup, daya, kehendak, lihat, dengar, rahman, rahiim, dst..dst…
mungkin saya rubah saja kata dzat/zat menjadi wujud materi yang bisa di tangkap
oleh pancaindera, piye nek ngono beli?
sebenarnya maksud saya glontorkan topik ini bisa saja nanti mengarah pada
keTERBUKAan umat ini dalam menyikapi segala sesuatu,..atau mungkin masih adanya
keterBELENGGUan pada sebagian umat kita (mudah2an tidak menuai badai nulis
gene..he..he..he..)
bahwa negeri ini pernah di pimpin oleh wanita itu adalah suatu realitas,artinya
hal tsb terjadi tentu saja atas kehendak-Nya dan umat Islam tidak bisa
menganggap itu sebagai sesuatu yang absurd(mustahil/tidak masuk akal) karena
terjadi, suka tidak suka, ridho atau tidak...tapi point ini hanya perjalanan
dari topik ini bukan tujuan..walaupun judul lebih nmengarah ke situ.maaf ndak
pinter bikin judul lha wong belum pernah jadi editor/redaktur,dll.ini cuma
tulisan secangkir kopi, pake rokok gak ya ntar haram lagi....(sampe sini dulu
he...he..he..)
kalo topik saya glontorkan ada di titik nol (0), maka penjelasan mas Fakhru ada
di titik satu (1),..dst mungkin kalo DIA berkehendak bisa berlanjut sampe titik
n, atau ~, atau mungkin dicukupkan saja karena hanya wasting time...monggo
kersa (kumaha kersana wae,hi..hi..hi.)
wasslam.
a.s.
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
On Behalf Of AFR
Sent: Tuesday, March 10, 2009 5:39 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal
secaralughot dan syari'at --??|
pertanyaan kang Agus sdrhn: rijal itu mewakili dzat atw sifat?
Alkhoir,
tak bantu njelasin kalo belom ngerti maksud pertanyaan kang Agus.
kalo rijal sbg dzat, maksude dpt dilihat dari cirinya punya anu
diselangkangannya.
kalo rijal itu sbg sifat, itu Dorce ...
---
1. dua titik kalo dihubungkan, selain jaraknay terdekat juga akan membentuk
garis
lurus serupa angka 1 (SATU). simbol KETAUHIDAN, bahwa semua yg mudah, sederhana
dan tidak harus mbulet, kompleks atw rumit.
2. ular itu binatang yg dzat-nya dikenal hanya punya kepala & ekor,
selebihnya adalah badan. wajar jika utk berjalan selalu meliuk-liuk. bila
ada 2 titik sesederhana kepala & ekor spt ular tapi jadi panjang meliuk-liuk
atw malah mbulet, itu cara/gaya hidup ular.
3. iblis itu bermanifesatsi sbg ular yg melilit di pohon, yg dgn segala
tipu dayanya
sebabkan Adam & Hawa keluar surga.
4. kalo mengira diri sdh pinter dan ternyata ada yg lbh pinter itu bijak
shg semakin tawadlu', tidak sombong & rendah hati. wal hasil,
boleh jadi diri ini yg paling bodo, ternyata masih ada yg lebih ...
saya ikut mas Agus:
a'udzubilllahi min asyaithaani rajiim, iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'iin
salam,
Fahru
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Monday, March 9, 2009 8:47:15 PM
Subject: Re: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal
secaralughot dan syari'at
Agus Safudi (AS), komentar anda panjang juga, tapi yang ingin saya tanggapi
adalah soal “RIJAL” dan saya menjawabnya adalah sbb: “Pada sebuah acara
Maulidan oleh protokol diumumkan, kepada adik-adik dan juga anak-anak
diharapkan duduk dibagian depan dan untuk ibu-ibu diharapkan mengambil tempat
duduk disebelah kiri dan yang terakhir untuk bapak-bapak diharapkan mengambil
tempat duduk disebelah kanan” diharapkan AS akan paham maksud saya tentang arti
“RIJAL” sekarang bagaimana pemahaman anda AS tentang jawaban saya.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Agus Safudi
Sent: Monday, March 09, 2009 2:39 PM
To: [email protected]
Subject: [is-lam] Bls: LA .... ILLA Tinjauan dari Perfektive/Rijal secaralughot
dan syari'at
(^_^) ......,??@@#$%^zzzz ,....., ketika ada email masuk inbox, suka atawa
tidak, terpaksa ato tidak (IYYAKA NA'BUDU WA IYYAKA NASTA'IN) , pasti saya
buka, baca,..dst...terkadang ada rasa senang, kadang ada rasa kesal,
dst......he.he.he..
--- Pada Sen, 9/3/09, Alkhori M < [email protected] > menulis:
Dari: Alkhori M < [email protected] >
>Kalimat LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), bisa ditambahkan menjadi super >kompleks
>yang berdasarkan riwayat singkat diatas yaitu:
>LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu),
mas, coba di lihat lagi tekstual arab nya bgm, coba anda liat di Qur'an, saya
lupa ayat nya tapi bunya nya begini:.."fa'lam anahu laa ilaha illallahu"..
Pertama: apakah betul terjemah "ila" dalam bahasa indonesia adalah ALLAH?
Kedua: apakah anda tidak salah dalam melakukan pemenggalan lafadz, seharusnya :
laa ilaha, ..jangan di penggal la ila, ha nya dalam kurung..
maksud judul mungkin perspektif ngkali ya..
mas, dalam al-Qur'an ada ayat yang berbunyi "laa takfuma laysa laka bihi
'ilmun",..kalo gak salah surah al-Israa..dan banyak dalil2 lain yang mengatakan
jangan berbicara tentang AKU bila tidak mengetahui....
pada ayat di atas ada kata "fa'lam",..maka keTAHUilah...sebenarnya mengucapkan
"laa ilaha illallahu" pun harus dengan ILMU.
>LA ILA (ha) ILLA ALLAH (hu), Allah minimal 5x sebagai muslim anda
>>menghadapnya atau minimal 34x anda sujud dihadapanya, pada saat itu,
>>Subhanallah, Masyalaah kita-kita bisa langsung berkomunikasi dengan >Allah.
Dzikron katsiiro...
Jangankan cuma komunikasi, bahkan bisa mendapati-NYA...
ada sebuah hadits qudsi " wahai anak adam carilah AKU, NISCAYA kamu akan
mendapati-KU. Bila kamu mendapati-KU maka kamu akan mendapati segala sesuatu,
bila kamu tidak mendapati-KU, maka kamu tidak akan mendapati segala sesuatu.
sesungguhnya AKU lebih mencuntai kepada kamu dari pada kepada segala
sesuatu"..mo tahu bgmana mendapati-NYA. bung Khori?..
"menurut saya" .... sampeyan ini sedang ber "tholabul ilmi", tapi kok kaya nya
kurang tepat dalam hal positioning nya....
_____________________________________________________________________________
menjelang pesta demokrasi ini ada hal yg ingin saya diskusikan sbb:
pada suatu saat saya pernah menonton di salah satu tv, waktu itu yg di
diskusikan adalah kata "rijal", pada saat itu JIL di wakili oleh DR. musdah
mulia, dan ada seorang ustadz (laki2) dan juga wanda hamidah..
yang ingin saya diskusikan/tanyakan apakah kata "rijal" dalam al Quran mutlak
melekat pada dzat, artinya harus laki-laki, atau bisa saja melekat pada sifat,
bila demikian maka perempuan pun bisa saja. bila kata rijal bisa melekat pada
sifat (mungkin baru wacana) maka ada dalil naqli lain yang memang mendukungnya.
mungkin ada yang punya kumpulan tafsir, kamus, dll..untuk ber sharing ria..
syukron katsiir
wassalam.
a.s.
Nama baru untuk Anda!
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan @rocketmail.
Cepat sebelum diambil orang lain!
-----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang!
Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo!
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba!
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam