Mengenal Muhammad Sebuah Psychobiografi Sang Rasul Allâh Oleh Ali Sina Tentang Pengarang Aku adalah warga negara Kanada keturunan Iran. Aku menerima pendidikan Islam di sekolah saat negara Iran masih sekuler dan kebangkitan Islam, meskipun sudah tampak beriak di permukaan, belum meledak. Saat itu hanya sedikit orang yang menyadari keadaan sebenarnya. Aku meninggalkan Iran sewaktu remaja sebelum terjadi Revolusi Islam untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Eropa. Di Eropa aku belajar berpikir merdeka dan tentang demokrasi. Demokrasi adalah konsep yang sama sekali asing dalam pemikiran Muslim sampai2 tiada kata yang sama artinya dengan kata ini dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang dipakai Muslim. Jika mereka tidak punya kata untuk istilah tertentu, maka mereka tidak tahu apa maknanya pula.
Setelah belajar sejarah filosofi Barat dan melihat perkembangannya yang mengakibatkan terjadinya Renaisans dan Pencerahan, aku mengambil kesimpulan bahwa dunia Muslim terbelakang karena mereka tidak memiliki kebebasan dalam berpikir. Akan tetapi, baru setelah membaca Qur’an dari halaman pertama sampai akhir, aku untuk pertama kalinya menyadari alasan keterbelakangan Muslim adalah Islam. Setelah membaca Qur’an, aku kaget sekali. Aku sangat terkejut melihat kekerasan, kebencian, ketidaktepatan, kesalahan sains, kesalahan matematika, logika yang jungkir balik, kesalahan tata bahasa dan ketetapan etika yang tidak jelas. Setelah masa penuh rasa bimbang, bersalah, tak tentu arah, bathin tertekan, dan marah, akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa Qur’an bukanlah buku Tuhan, tapi buku penuh ayat2 setan, kepalsuan dan hasil dari pikiran yang sakit jiwa. Aku merasa seperti terjaga dan menyadari apa yang kualami bagaikan mimpi. Setelah mempelajari literatur2 Islam yang diakui Muslim, seperti hadis dan Sirat Rasul Allah (biografi Muhammad), aku jadi yakin bahwa penyakit2 yang dialami dunia Muslim disebabkanoleh Islam dan agama ini merupakan ancaman serius bagi umat manusia. Seperti yang selanjutnya dapat dibaca di buku ini, Islam adalah paham yang menghancurkan dan anti kemanusiaan yang langsung mencerminkan pikiran Muhammad. Aku melancarkan anti-jihad di tahun 1998. Pikiran untuk merubah Islam tidaklah mungkin. Islam bagaikan batu yang keras. Kau tidak dapat membentuknya, tapi kau bisa menghancurkannya berkeping-keping dan menggerusnya. Para Muslim sadar akan kelemahan Islam dan itulah sebabnya mereka begitu tidak toleran pada kritik akan Islam. Islam itu bagaikan rumah kartu, yang ditunjang kebohongan2; yang dibutuhkan untuk menghancurkannya adalah menantang satu dari kebohongan2 yang saling berkaitan menopang Islam. Islam bagaikan gedung yang tinggi, yang berdiri di atas pasir; begitu pasir disingkirkan dan fondasi diperlihatkan maka struktur bangunan akan runtuh dengan sendirinya. Di tahun 2001, aku mengumumkan bahwa Islam akan lenyap bagaikan kenangan buruk dalam waktu sekitar tiga dekade dan akan banyak yang menyaksikan akhir Islam di masa hidupnya. Pernyataanku mengejutkan banyak orang. Aku akui akupun awalnya ragu untuk menyatakan hal itu karena akan banyak orang yang mengatakan hal itu tidak masuk akal dan bahkan ngawur. Tapi semakin aku memikirkan hal itu, semakin yakin pula aku. Saat ini, banyak orang lain yang juga melihat proses kematian Islam yang tidak dapat dihindari lagi. Bisikan2 kritik Islam terdengar di mana2, baik dari mereka yang lahir di dunia Islam atau bukan. Sudah semakin jelas tampak bahwa masalahnya bukan terletak pada diri Muslim dan bagaimana mereka mengertikan Islam, tapi pada Islam itu sendiri. Muslim adalah korban utama dari Islam. Tujuanku menulis buku tidak hanya untuk menunjukkan bahaya Islam, tapi juga menyelamatkan Muslim dari belenggu kebohongan ini. Aku ingin menyelamatkan mereka dari usaha meledakkan dunia, membuat mereka sadar bahwa umat manusia adalah satu keluarga, dan menolong mereka bersatu kembali dengan umat manusia, untuk hidup makmur dan damai. Aku mengharapkan kesatuan umat manusia, tidak dengan menawarkan paham kepercayaan baru yang akhirnya malah sering memecahbelah manusia, tapi dengan menunjukkan dan menghapus kepercayaan penuh kebencian yang terutama di dunia. Banyak Muslim yang bingung dan tidak tahu harus mencari jawaban ke mana. Mereka sudah siap untuk meninggalkan Islam tapi tidak tahu harus berbuat apa. Mereka memerlukan jawaban dan kelompok yang mendukungnya. Site yang kudirikan yakni www.faithfreedom.org bertujuan untuk memberi keterangan yang dibutuhkan Muslim yang bingung. Teknologi internet memungkinkan seorang netter merahasiakan jati diri dan jadi anonim. Internet merupakan tempat ideal bagi murtadin untuk bertukar pikiran, menjelaskan keraguan yang dialami, membagi pengalaman, mendukung dan meneguhkan satu sama lain. Islam sudah runtuh sejak dulu jika Muslim dapat bertanya secara kritis akan ajaran ini tanpa merasa takut kehilangan nyawanya. Islam terus ada sampai kini hanya karena Islam berhasil memberangus semua kritik. www.faithfreedom.org dibaca jutaan orang di seluruh penjuru dunia. Site ini jadi ajang pertemuan mereka yang khawatir akan ancaman Islam dan ingin tahu apa yang menyebabkan beberapa Muslim begitu membenci dan melakukan perbuatan2 biadab. Faith Freedom International (FFI) telah berkembang menjadi suatu gerakan. FFI adalah gerakan murtadin yang bertujuan untuk (a) mengungkapkan Islam yang sebenarnya dan menunjukkan ideologi penjajahannya yang sama seperti Nazisme tapi dibungkus rapi dalam kedok agama, dan (b) untuk menolong Muslim meninggalkan Islam, menghentikan budaya benci yang menyebabkan timbulnya anggapan “kami” (Muslim) lawan “mereka” (non-Muslim) dan merangkul umat manusia secara damai. Murtadin baru bermunculan setiap hari dan mereka pun pada gilirannya menjadi prajurit2 terang lawan kegelapan dan jumlah mereka semakin banyak. Yang awalnya hanyalah riak sekarang telah menjadi gelombang. Dalam perang ini, pihak musuh beralih menjadi rekan dan bahkan sekutu terbaik! Jim Ball yang adalah penyiar radio utama Sidney menulis: “Ali Sina adalah murtadin Iran yang memelopori website faithfreedom.org. Bersama-sama dengan murtadin2 lainnya seperti Ibn Warraq, Sina adalah ujung tombak gerakan murtadin pertama dalam sejarah Islam. Hal ini dimungkinkan terjadi dalam sepuluh sampai lima belas tahun terakhir karena imigrasi Muslim ke tanah Barat dan perkembangan teknologi internet…. Tidak berlebihan untuk mengatakan jika orang2 seperti Ali Sina, Ibn Warraq dan Wafa Sultan selamat dari ancaman mati bagi yang meninggalkan Islam, maka Islam tidak akan tampak sama lagi.” Aku sekarang adalah Humanis Sekuler dan Pendukung Demokrasi. Secara politik, aku tidak berpihak pada paham politik kiri atau kanan. Tapi aku bersikap kritis atas politik kiri yang tidak mengerti dan mendukung Islam padahal itu berarti bunuh diri. Dalam pandangan mereka yang keliru, pihak politikus kiri yakin siapapun yang menentang Kristen Yudaisme harus didukung. Sedangkan yang mendukung Islam layak dikecam. Ali Sina Penghargaan Aku berterima kasih atas banyak orang yang menolongku menulis buku ini. Mereka memperbaiki Inggrisku dan menawarkan kritik membangun yang berharga. Sayangnya, aku tidak dapat menyebut nama2 mereka. Ini karena aku sendiri tidak tahu nama asli mereka. Meskipun mereka tetap tanpa nama, aku berhutang budi sangat banyak pada mereka. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan2 yang menyumbangkan waktu mereka untuk mengawasi kelangsungan faithfreedom.org sebagai administrator, editor, dan moderator di forum2 FFI. Bantuan mereka memungkinkan aku untuk menyelesaikan buku ini. Perang melawan terorisme Islam dilakukan oleh pahlawan2 tanpa nama. Orang2 inilah yang menyumbangkan waktu dan bakat mereka untuk menyadarkan dunia atas ancaman Islam. Mereka tidak minta apa2 sebagai imbalan dan tetap tanpa nama. Kata Pengantar Oleh Ibn Warraq Dr. Ali Sina lahir dari keluarga Muslim Iran. Beberapa anggota keluarganya adalah Ayatollah2. Seperti kebanyakan orang Iran yang berpendidikan tinggi, dia dulu percaya bahwa Islam adalah agama kemanusiaan yang menghargai hak2 azasi manusia. Tapi Dr. Sina juga dianugerahi pemikiran yang kritis, semangat bertanya, meneliti, dan melihat bukti yang nyata. Yang dia perlahan-lahan temukan tentang Islam sangat mengejutkan dirinya secara moral dan intelek. Hal ini membuat dia sadar, jauh sebelum terjadinya peristiwa 11 September, 2001, bahwa jika tiada orang yang menunjukkan wajah asli Islam agama yang sejak lahir dianutnya, maka dunia akan menghadapi sistem pemikiran dan kepercayaan yang tidak hanya akan menghancurkan dunia Barat saja, tapi seluruh budaya manusia pula. Sejak dia menyadari hal ini, Dr. Sina mengabdikan hidupnya untuk melakukan diskusi, kritik yang menunjukkan sisi Islam yang gelap. Hal ini dilakukannya di website-nya Faith Freedom International dan pernyataannya banyak dikutip berbagai sumber. Pihak Barat dapat memanfaatkan murtadin seperti Dr. Sina, sama seperti dulu pihak Barat memanfaatkan orang2 yang meninggalkan Komunisme. Sewaktu aku menulis Leaving Islam [1] (Meninggalkan Islam), kutemukan analogi2 yang berguna untuk menggambarkan Komunisme dan Islam, seperti yang ditulis Maxime Rodinson [2] dan Bertrand Russell ketika membandingkan pemikiran Komunis di tahun 1930-an dan Islamis di antara tahun 1990-an dan abad ke 21. Russell berkata, ”Diantara agama2, Bolshevism (Komunisme) lebih mirip dengan agama Muhammad, dibandingkan dengan Kristen dan Budha. Kristen dan Budha adalah kepercayaan2 pribadi semata dengan doktrin mistis dan paham kasih. Muhammadisme dan Bolshevisme adalah gerakan sosial, tanpa paham rohani, yang mengutamakan kemenangan mendirikan kekuasaan di seluruh dunia.” [3] Karena itu keadaan Islam saat ini serupa dengan Komunisme yang dianut pemikir2 Barat di tahun 1930-an. Sebagaimana yang dikatakan Koestler, “Kau benci tangisan2 Cassandra kami dan menolak kami sebagai sekutumu, tapi pada akhirnya, kami eks-Komunis adalah satu2nya orang yang berpihak padamu, kamilah yang mengetahui apa sebenarnya Komunis itu.” [4] Sebagaimana yang ditulis Crossman di Kata Pendahuluannya, “Silone (seorang eks-Komunis) bergurau ketika berkata pada Togliatti bahwa perang akhir akan terjadi diantara Komunis dan eks-Komunis. Tapi siapapunyang belum pernah bertarung melawan filosofi Komunisme dan lawan politik Komunis tidak akan pernah memahami nilai sebenarnya Demokrasi Barat. Setan dulu hidup di surga, dan orang yang belum pernah melihat setan tidak mungkin bisa mengenal malaikat meskipun melihatnya.” [5] Komunisme telah dikalahkan, setidaknya saat ini, tapi Islamisme belum kalah. Sebelum ada bentuk Islam yang disesuaikan, penuh toleransi, dan liberal, maka mungkin perang akhir akan terjadi antara Islam dan Demokrasi Barat. Para eks-Muslim, seperti kata2 Koestler, ada di pihak Demokrasi Barat, dan merekalah yang benar2 tahu apa Islam itu, dan kami akan mendengarkan baik2 tangisan2 Cassandra mereka. Kita yang hidup di negara Barat menikmati kebebasan mengungkapkan pendapat dan kemajuan ilmu pengetahuan harus mengajak orang untuk melihat Islam secara logis dan melakukan kritik atas Qur’an. Hanya kritik Qur’an saja yang dapat menolong Muslim untuk meninjau kembali kitab suci mereka dengan penilaian yang lebih masuk akal dan obyektif, dan mencegah Muslim2 muda untuk bersikap fanatik taat pada ayat2 keras Qur’an. Sudah menjadi kewajiban semua orang yang hidup di dunia Barat untuk mengerti tentang Islam yang sebenarnya. Tapi jika mereka mencari tahu tentang Islam di toko2 buku utama, yang mereka dapatkan hanyalah Islam yang tampak lunak dari luar. Hanya dengan membaca tulisan2 yang disusun secara rinci dan sarat keterangan oleh Dr. Sina dan tim penulisnya saja kita bisa mendapat keterangan lebih jelas tentang Islam. Sekarang kita memiliki buku Dr. Sina dan kuanjurkan semua warga negara yang bertanggungjawab yang tadinya mengira Islam adalah agama damai untuk membacanya dengan seksama. Karena usaha2 berani ilmuwan independen seperti Dr. Ali Sina, sekarang orang tidak lagi buta terhadap agama yang dapat memusnahkan segala yang kau sayangi dan hargai. Ibn Warraq adalah penulis Leaving Islam, What the Koran Really Says, The Quest for the Historical Muhammad, The Origins of the Koran dan Why I Am Not a Muslim, buku yang membuka mata banyak Muslim dan mempertanyakan agama yang mereka banggakan. [1] Ibn Warraq. Leaving Islam. Apostates Speak Out. Amherst: Prometheus Books. p.136 [2] Maxime Rodinson: Islam et communisme, une ressemblance frappante, in Le Figaro [Paris, daily newspaper], 28 Sep. 2001 [3] B.Russell, Theory and Practice of Bolshevism, London, 1921 pp .5, 29, 114 [4] A.Koestler, et al, The God That Failed, Hamish Hamilton, London, 1950, p.7 [5] Ibid. p16 (bersambung)
<<Fiesta Bkgrd.jpg>>
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
