Assalamu'alaikum wr wb,
Satu nasehat yang baik dari Dr Daud Rasyid.
Apakah seseorang ingin menjadi pemimpin karena lillahi ta'ala untuk 
mensejahterakan rakyatnya?
Atau kah hanya untuk berkuasa dan memperkaya dirinya dan kelompoknya?

Apakah dia ingin menegakkan syariat Islam atau Sistem Ekonomi Islam?
Apakah hanya ingin menegakkan Sistem Thaghut atau Sistem Ekonomi Kapitalis 
Neoliberalis dengan suka cita?

Semoga nasehat tersebut bisa kita renungi bersama.

Wassalamu'alaikum wr wb

Nafsu Ingin Menjadi Pemimpin
Oleh Dr. Daud Rasyid

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah 
penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam 
Bukhori).

Perbedaan zaman Salafus-sholeh yang paling kentara dengan zaman sekarang, salah 
satunya dalam ambisi kepemimpinan. Dulu, khususnya zaman sahabat, mereka saling 
bertolak-tolakan untuk menjadi pemimpin.

Abu Bakar Shiddiq diriwayatkan, sebelum diminta menjadi Khalifah menggantikan 
Rasulullah mengusulkan agar Umar yang menjadi Khalifah. Alasan beliau karena 
Umar adalah seorang yang kuat.

Tetapi Umar menolak, dengan mengatakan, kekuatanku akan berfungsi dengan 
keutamaan yang ada padamu. Lalu Umar membai’ah Abu Bakar dan diikuti oleh 
sahabat-sahabat lain dari Muhajirin dan Anshor.

Dari dialog ini dapat kita pahami bahwa generasi awal Islam, yang terbaik itu, 
memandang jabatan seperti momok yang menakutkan. Mereka berusaha untuk 
menghindarinya selama masih mungkin. Tapi di zaman ini, keadaannya sudah 
berubah jauh.

Orang saling berlomba untuk menjadi pemimpin. Jabatan sudah menjadi tujuan 
hidup orang banyak. Semua tokoh yang sedang bertarung mengatakan, jika diminta 
oleh rakyat, saya siap maju. Inilah basa basi mereka. Entah rakyat mana yang 
meminta dia maju jadi pemimpin. Sebuah kedustaan yang dipakai untuk menutupi 
ambisi menjadi pemimpin.

Keberatan para Sahabat dulu untuk menjadi pemimpin, dikarenakan mereka 
mengetahui konsekuensi dan resiko menjadi pemimpin. Mereka mendengar 
hadits-hadits Nabi Saw tentang tanggung jawab pemimpin di dunia dan di akhirat. 
"Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung 
jawabannya. Imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung 
jawabannya atas kepemimpinannya...".

Dalam hadits yang lain Nabi Muhammad Saw memprediksi hiruk pikuk di akhir zaman 
soal kekuasaan dan menjelaskan hakikat dari kekuasaan itu. Beliau bersabda 
seperti dilaporkan oleh Abu Hurairah :

“Kalian akan berebut untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal kekuasaan itu adalah 
penyesalan di hari Kiamat, nikmat di awal dan pahit di ujung. (Riwayat Imam 
Bukhori).

Juga Rasulullah Saw memperingatkan mereka yang sedang berkuasa yang lari dari 
tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelayan rakyat dan tidak bekerja untuk 
kepentingan rakyatnya, dengan sabda beliau : “Siapa yang diberikan Allah 
kekuasaan mengurus urusan kaum Muslimin, kemudian ia tidak melayani mereka dan 
keperluan mereka, maka Allah tidak akan memenuhi kebutuhannya.” (Riwayat Abu 
Daud).

Dan dalam riwayat at-Tirmizi disebutkan : “Tidak ada seorang pemimpin yang 
menutup pintunya dari orang-orang yang memerlukannya dan orang fakir miskin, 
melainkan Allah juga akan menutup pintu langit dari kebutuhannya dan 
kemiskinannya.”

Hadits-hadits yang ada lebih banyak menggambarkan pahitnya menjadi pemimpin 
ketimbang manisnya. Sedang mereka adalah generasi yang lebih mengutamakan 
kesenangan ukhrowi daripada kenikmatan duniawi. Itulah yang dapat ditangkap 
dari keberatan mereka.

Sementara orang yang hidup di zaman ini berfikir terbalik. Yang mereka kejar 
adalah kesenangan duniawi yang didapat melalui jabatan dan kekuasaan. Mereka 
lupa dengan pertanggung jawaban di hari Kiamat itu. Mereka tidak segan-segan 
bermanuver dan merekayasa untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan itu.

Kadangkala cara yang dipakai sudah hampir sama dengan cara kaum kuffar atau 
kaum sekuler, menghancurkan nilai-nilai akhlak Islam yang sangat fundamental; 
mencari dan mengumpulkan kelemahan lawan politik dan pada waktunya aib-aib itu 
dibeberkan untuk mengganjal jalan kompetitornya.

Ada pula yang mengumpulkan dana dengan cara-cara yang tak pantas dan tak 
bermoral. Mendukung calon kepala daerah dalam pilkada dari partai mana saja, 
asal dengan imbalan materi dengan menyerahkan uang yang besar. Terserah orang 
itu menang atau kalah nanti, tak begitu penting, yang penting uangnya sudah 
didapat.

Para pemburu kekuasaan itu beralasan, jika kepemimpinan itu tidak direbut, maka 
ia akan dipegang oleh orang-orang Fasik dan tangan tak Amanah, yang akan 
menyebarkan kemungkaran dan maksiat. Tapi jika ia dipegang oleh orang soleh dan 
beriman, akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Alasan ini 
memang indah kedengaran.

Namun kenyataannya, semua yang berebut jabatan mengklaim bahwa ia lebih baik 
dari yang sedang memimpin. Dan tidak ada yang dapat memberi jaminan bahwa jika 
ia memimpin, keadaan akan menjadi lebih baik.

Bahkan rata-rata orang pandai berteriak sebelum menjadi pemimpin, tetapi 
setelah masuk ke dalam sistem, mereka tak bisa berbuat banyak. Akhirnya 
mengikuti gaya orang sekuler. Yang mencoba bertahan dengan idealisme, mendapat 
serangan dan kecaman dari berbagai pihak, lalu akhirnya menyerah kepada keadaan.

Berapa banyak mantan aktifis mahasiswa yang sebelumnya kritis dan berdemo 
menentang rezim masa lalu, tetapi sesudah masuk ke dalam sistem, tidak bisa 
merubah apa-apa, bahkan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh rezim 
sebelumnya, memanfaatkan jabatan untuk menimbun uang dan kekayaan.

Kemudian merekapun menyiapkan alasan-alasan pembelaan; antara lain, merubah 
sesuatu tak bisa sekejap mata, tetapi harus bertahap, menilai sesuatu tak boleh 
hitam-putih, apa yang ada sekarang sudah lebih baik dari masa sebelumnya.

Keadaan seperti ini semakin memperkuat keyakinan sebagian orang, bahwa 
memperbaiki sistem tidak harus masuk terjun ke dalam sistem itu. Bahkan tak 
mungkin melakukan perubahan selama kita ada di dalam. Sebuah logika terbalik 
dari slogan yang digembar gemborkan pihak lain, yang kalau mau merubah sistem, 
harus terjun ke dalam sistem itu. Ternyata kebanyakan yang pernah terjun ke 
dalam sistem, tidak mampu merubah kerusakan yang ada. Bukan sekedar tak mampu 
membersihkan, justru ikut terkena kotoran.

Memang ada sebagian yang masuk ke dalam sistem dengan cara yang sah, lalu 
berjuang di dalamnya dengan penuh resiko, mencoba melakukan perubahan dan 
bertahan dengan prinsip-prinsip yang dipegangnya. Mereka ini biasanya kalau tak 
tersingkir, dimusuhi atau makan hati.

Gerakan Islam sebenarnya lebih besar dari sekadar Partai Politik yang dibatasi 
oleh aturan-aturan formal, aturan main, dan bahkan ideologi kebangsaan. Gerakan 
Islam berjuang untuk jangka waktu yang tak terbatas, hingga Islam itu tegak 
berdiri dengan kokoh. Lingkup kerjanya juga tidak hanya menyangkut soal-soal 
politik.

Ketika gerakan Islam menjadi partai politik, sebenarnya ia sedang dipasung dan 
dihadapkan pada agenda kacangan yang didiktekan kepadanya yang bukan menjadi 
agenda utamanya. Bahkan kesibukannya mengurusi soal-soal politik hanyalah 
pembelokan dari target utama dan juga pemborosan energi yang tak setimpal 
dengan hasil yang dicapainya. Ibarat membayar dengan harga emas untuk membeli 
besi.

Betapa sayangnya seorang yang sudah tiga puluh tahun malang melintang dalam 
gerakan Islam, ujung-ujungnya hanya menjadi tukang lobi kesana-kemari untuk 
memperjuangkan kursi alias kekuasaan. Sungguh menyedihkan. Yang diperjuangkan 
oleh gerakan Islam adalah sebuah agenda besar yang mendunia (Ustaziyyatul 
‘Alam), bukan agenda lokal dan sektor sempit dan terbatas.

Lalu di sini mungkin pertanyaan akan muncul, apakah urusan lokal yang berujung 
pada kemaslahtan ummat Islam itu diabaikan? Jawabannya jelas tidak. Akan tetapi 
biarlah masalah-masalah lokal dan sektoral itu diurusi oleh anak-anak ummat 
yang mempunyai kualitas lokal.

Adapun gerakan Islam yang sudah mendunia haruslah bekerja sesuai dengan 
kapasitasnya. Tak pantas pemuda-pemuda gerakan diminta mengurus pilkada, 
pemilu, menempel-nempel poster, apalagi bertarung dengan orang-orang yang tak 
sekapasitas dengannya.

Gerakan Islam sekali lagi harusnya mengurusi hal-hal yang lebih besar, lebih 
strategis, yakni pembinaan ummat, membangun generasi intelek dan beriman, 
mengarahkan pemikiran ummat kepada cara berpikir yang Islami setelah mengalami 
degradasi. Anak-anak gerakan yang tak naik kelas bolehlah dipersilahkan terjun 
ke dunia politik praktis. Karena sampai di situlah mungkin batas kemampuannya.

Ada hikmahnya kenapa Allah swt tidak mengizinkan gerakan Islam di negeri 
induknya berkecimpung dalam politik praktis secara besar-besaran. Karena hal 
itu akan membuat mereka lalai dari perjuangan utama. Target utamanya bukan 
untuk mendapat kursi Perdana Menteri, atau bahkan Presiden sekalipun, tetapi 
untuk menjadi qiyadah fikriyah bagi pergerakan Islam sedunia.

Andaikan peluang lokal itu terbuka, niscaya mereka akan sibuk dengan 
masalah-masalah parsial di lapangan sementara tugas mereka jauh lebih kompleks 
dari membenahi sebuah negara yang masyarakatnya sudah rusak secara ideologis, 
moral dan perasaan.

Tugas Gerakan Islam lebih besar dari membersihkan korupsi, ketimpangan ekonomi, 
ketidak merataan pembangunan. Tugas mereka adalah mengembalikan penyembahan 
kepada Allah setelah mengalami degradasi dengan menuhankan manusia dan 
Tuhan-tuhan lainnya.. (Ikhrojun Naas min Ibadatil Ibad ilaa Ibadatil Robbil 
Ibaad).
http://eramuslim.com/nasihat-ulama/dr-daud-rasyid-nafsu-ingin-jadi-pemimpin.htm
===
Paket Umrah 2009 Mulai US$ 1.1490
ONH Plus (Haji Khusus) Mulai US$ 5.900
Informasi selengkapnya ada di:
http://www.media-islam.or.id
Ingin belajar Islam?
Kirim email ke: [email protected]


Jual Rumah Baru di Otista Kampung Melayu Jakarta Timur Rp 650 juta. Info: 
http://agusnizami.wordpress.com


      Berselancar lebih cepat. Internet Explorer 8 yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! otomatis membuka 2 halaman favorit Anda setiap kali Anda membuka 
browser. Dapatkan IE8 di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke