Sementara ada blok tegang-tegangan, kita jadi blok he...he...he sajalah mas Saidi.
Sekali lagi, pemilik "bukan kebetulan" atau kepastian itu kan Allah. Lha dari sisi manusia, IMHO, ada relativitas atau ketidakmutlakan kepastian tersebut, maka lahirlah persepsi kebetulan dalam berbagai tingkatannya. Munculnya tukang es cincau pada sisi mas Saidi adalah kebetulan, tapi pada sisi Allah tetap adalah kepastian. Dengan IQRO' kita ditugaskan untuk mereduksi berbagai kebetulan menjadi kepastian gaya manusia, maka: - belajarlah agar pinter (tapi jangan minteri orang!) - minum obat A agar sakit X sembuh - ada sains, baik sains alam atau sains sosial - dll. Mas Saidi kebetulan (ditakdirkan Allah) belum menikah, maka sebagai seorang muslim, harus berupaya keras berjalan ke kebetulan (takdir Allah) yang lain, yakni pernikahan. Dengan upaya keras itu, moga-moga tingkat kebetulan mas Saidi untuk menikah akan semakin besar. Kalau udah nikah, nah tingkat kebetulannya lalu menjadi 100%. He...he...he, tambah membingungkan tho? Tapi yang penting, tetap peace lah. Salam hangat B. Samparan --- On Fri, 5/1/09, saidi <[email protected]> wrote: From: saidi <[email protected]> Subject: Re: [is-lam] (no subject) To: [email protected] Date: Friday, May 1, 2009, 9:34 AM Berarti pengertian kebetulan antara saya dan Kang Bango ada sedikit perbedaan nih.... Kalo menurut saya, kebetulan itu sendiri saya artikan sederhana, kejadian yang tak terduga dan terjadi secara tidak disengaja atau terjadi begitu saja.... Kalo menurut Kang Bango, yang saya tangkap kebetulan itu adalah peluang. Peluang dan kebetulan kalo menurut saya jelas berbeda..... Misalnya saat saya sedang kehausan di perjalanan, tidak ada warung... ehhh.... secara tiba2 datang tukang es cincau..... kebetulan bukan yah Kang ???? Berapa tingkat kebetulannya Kang ???? hehehe.... udah ah... ndak usah dijawab lagi Kang... Case closed again...... _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
