Politik itu seni dari segala kemungkinan

Memungkinkan kemungkinan yang tidak mungkin

Dimungkinkan kemungkinan yang bisa saja memungkinkan kemungkinan yang belum
mungkin (Bung Kanis, 1982)

JK-WIN telah mendeclare sebagai Capre-cawapres,

Bagaiamana siapakah pasangan SBY, siapa pasangan Mega dan siapa pasangan
Probowo???


Tiga Nenek Sihir


Senin, 27 April 2009

Tiga nenek sihir muncul di tepi jalan, ketika Jendral Macbeth dan Jendral
Banquo melewati hutan yang gelap berkabut itu. Cuaca didera hujan dan
guntur. Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah pertempuran yang
berhasil. Setengah ketakutan setengah ingin tahu, mereka terpacak di depan
ketiga makhluk aneh itu - tiga sosok yang mengelu-elukan Macbeth dengan
gelar kebangsawanan yang tinggi, seperti bagian dari sebuah ramalan yang
dahsyat: bahwa Macbeth kelak bahkan akan disebut sebagai sebagai raja. Pada
detik itu, bagi perwira tinggi Skotlandia itu, masa depan tiba-tiba tampak
berubah. Raja? Tahta? Benarkah puncak itu akan tercapai, jika mengingat,
bahwa Duncan, raja yang diabdinya dan dibelanya dalam perang yang baru saja
usai, masih kukuh berkuasa? Sahkah keinginan mencapai posisi itu, berada di
kedudukan milik baginda? Bagi saya, penting buat dicacat bahwa Macbeth,
lakon Shakespare yang termashur ini dimulai dengan adegan tiga nenek sihir
itu. Tiga perempuan yang ganjil, yang hidup disisihkan dari tata sosial dan
percaturan kekuasaan, ternyata tak bisa diabaikan. Justru mereka itulah yang
pada akhirnya mengharu-biru tertib yang ada - dan tanpa melalui kekerasan.
Di Skotlandia waktu itu tertib yang ada tak akan memungkinkan Macbeth bisa
jadi raja. Adat yang berlaku tak membuka peluang bagi Macbeth untuk
mengambil-alih tampuk. Tapi malam itu, di hutan berkabut itu, di bawah cuaca
buruk itu, tertib, adat dan lambangnya guncang. Tapi bukan salah para nenek
sihir itu jika tertib itu akhirnya jadi keadaan yang dibangun dengan
pembunuhan. Sebab Macbeth, begitu ia merasa nasib akan menjadikannya seorang
raja, ia pun segera menyisihkan sang takdir. Ia tak sekedar pasif menunggu
sampai keberuntungan itu datang.  Ia bertindak menyingkirkan Duncan. Bukan
karena petunjuk ketiga perempuan misterius di hutan itu bila ia membunuh
sang Raja. Itu sepenuhnya inisiatifnya. Itu dorongan kehendaknya yang kian
kuat. Ia bahkan tak perlu lagi dihasut isterinya untuk merebut kekuasaan.
Ketika nujum mengatakan bahwa kelak yang akan menggantikannya sebagai
penguasa adalah anak-cucu Jendral Banquo, Macbeth pun diam-diam (bahkan
tanpa memberi tahu isterinya) menyuruh agar sahabatnya dalam perang itu
dibunuh. Banquo mati. Dengan itu Macbeth berharap nujum, atau "takdir", bisa
dikalahkannya.  Tapi dengan itu semua terungkap bahwa manusia dan
perbuatannya-lah yang akhirnya menentukan. Takdir tak ada artinya. Tertib
yang semula ditaati oleh seluruh Skotlandia terbukti bukan tertib yang
datang secara alamiah, bukan tatanan yang ditentukan oleh langit. Kedudukan
raja bukanlah sesuatu yang secara a priori ditetapkan. Ia seperti kursi
kosong yang bisa diisi siapa saja yang bisa merebutnya. Tertib dan adat itu
pada akhirnya dibentuk oleh ambisi, akal, dan antagonisme manusia.  Apalagi
yang diucapkan nenek sihir itu bukan nubuat: mereka tak pernah dihormati
sebagai para nabi. Wibawa mereka praktis tak ada. Ucapan mereka tak berdiri
di atas (dan terlepas dari) tafsir subyektif Macbeth sendiri. Dalam adegan
ke-3 Babak I sang jenderal secara tak langsung menunjukkan hal itu. Ia
menyebut ketiga makhluk itu "imperfect speakers" yang cuma sebentar bicara
dan kemudian menghilang ke udara malam yang basah.  Itu sebabnya Macbeth
bukan hanya sebuah cerita tentang ambisi. Drama ini juga bercerita tentang
kekuasaan yang tak tahu di mana mesti berhenti - dalam arti berhenti
menaklukkan yang lain. Kekuasaan itu jadi lingkaran setan karena ia dimulai
dengan kekerasan.  Sebelum akhirnya kekerasan itu membinasakan manusia, pada
mulanya ia berupa kekerasan terhadap misteri. Macbeth mencampakkan nujum
tiga nenek sihir yang sebenarnya diutarakan dalam bentuk puisi yang
remang-remang dan belum selesai; ia menggantikannya dengan tafsir dan
rencana yang tegar; ia mengertikan kata-kata para nenek sihir dengan
harfiah. Ketika ketiga perempuan setengah gaib itu meramal bahwa Macbeth
hanya bisa dikalahkan oleh seseorang yang "tak dilahirkan oleh perempuan,"
jenderal itu yakin tak akan ada manusia akan bisa merubuhkannya. Padahal
ternyata ada kemungkinan arti lain dari kalimat itu: Macduff, orang yang
akhirnya berhasil membunuh Macbeth, dulu tak dilahirkan dengan cara normal.
Ia bayi yang direnggutkan keluar setelah perut ibunya dibedah. Betapa
malangnya Macbeth: ia ambisi yang lempang seperti tombak yang keras dan
menakutkan. Ia tak tahu bahwa selalu ada lapis yang tak akan tertembus
olehnya. Ketiga nenek sihir itu misalnya, yang tak pernah bisa
diperintahkannya dan tak pernah bisa penuh dimaknainya. Juga hutan yang
gelap itu. Juga guruh dan cuaca buruk itu.  Juga rasa bersalah yang tak bisa
dilenyapkan. Isterinya merasa tangannya selalu berlumur darah; tak ada
minyak yang bisa membersihkannya. Macbeth sendiri melihat hantu Banquo yang
dibunuhnya datang malam-malam. Kian mengusik rasa bersalah itu, kian
paranoid pula ia jadinya, dan makin buas.  Lakon Macbeth akhirnya
menunjukkan: betapa destruktifnya ambisi kekuasaan politik ketika ia
berkali-kali ingin menembus apa yang tak tertembus, menaklukkan apa yang tak
akan tertaklukkan, menghapuskan apa yang tak bisa terhapuskan, ketika ia
menyangka dunia bisa dikuasai seperti dalam markas militer.  Maka biarlah di
sini saya memperingatkan: Tuan bisa menculik, menyiksa, menggertak - atau,
sebaliknya membeli manusia dengan uang - tapi di balik kehidupan selalu
tersembunyi nenek-nenek sihir. Kalau Tuan tak tahu kapan harus berhenti,
Tuan akan bertaut dengan mala - yang buruk, yang busuk, yang keji, yang
akhirnya akan mengenai Tuan sendiri.

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke