Kalo dipikir-pikir lagi mungkin bukan saja di ke-3 nenek sihir tetapi
bisa seribu, sejuta, atau hanya satu....
Dan bisa singgah disetiap orang tanpa peduli dikehendaki atau tidak.
Dia singgah di diri sang jendral, sang duncan, sang istri, sang nenek
sihir, kegelapan malam, desiran angin, dan bahkan di diri Shakespeare...
Dan hanya mau mengatakan "Ini lho GUE... mosok elu-elu pada kagak bisa
lihat !!?"
:)
salam hangat
On May 2, 2009, at 10:31 PM, Alkhori M wrote:
Politik itu seni dari segala kemungkinan
Memungkinkan kemungkinan yang tidak mungkin
Dimungkinkan kemungkinan yang bisa saja memungkinkan kemungkinan
yang belum mungkin (Bung Kanis, 1982)
JK-WIN telah mendeclare sebagai Capre-cawapres,
Bagaiamana siapakah pasangan SBY, siapa pasangan Mega dan siapa
pasangan Probowo???
Tiga Nenek Sihir
Senin, 27 April 2009
Tiga nenek sihir muncul di tepi jalan, ketika Jendral Macbeth dan
Jendral Banquo melewati hutan yang gelap berkabut itu. Cuaca didera
hujan dan guntur. Mereka dalam perjalanan pulang dari sebuah
pertempuran yang berhasil. Setengah ketakutan setengah ingin tahu,
mereka terpacak di depan ketiga makhluk aneh itu - tiga sosok yang
mengelu-elukan Macbeth dengan gelar kebangsawanan yang tinggi,
seperti bagian dari sebuah ramalan yang dahsyat: bahwa Macbeth kelak
bahkan akan disebut sebagai sebagai raja. Pada detik itu, bagi
perwira tinggi Skotlandia itu, masa depan tiba-tiba tampak berubah.
Raja? Tahta? Benarkah puncak itu akan tercapai, jika mengingat,
bahwaDuncan, raja yang diabdinya dan dibelanya dalam perang yang
baru saja usai, masih kukuh berkuasa? Sahkah keinginan mencapai
posisi itu, berada di kedudukan milik baginda? Bagi saya, penting
buat dicacat bahwa Macbeth, lakon Shakespare yang termashur ini
dimulai dengan adegan tiga nenek sihir itu. Tiga perempuan yang
ganjil, yang hidup disisihkan dari tata sosial dan percaturan
kekuasaan, ternyata tak bisa diabaikan. Justru mereka itulah yang
pada akhirnya mengharu-biru tertib yang ada - dan tanpa melalui
kekerasan. Di Skotlandia waktu itu tertib yang ada tak akan
memungkinkan Macbeth bisa jadi raja. Adat yang berlaku tak membuka
peluang bagi Macbeth untuk mengambil-alih tampuk. Tapi malam itu, di
hutan berkabut itu, di bawah cuaca buruk itu, tertib, adat dan
lambangnya guncang. Tapi bukan salah para nenek sihir itu jika
tertib itu akhirnya jadi keadaan yang dibangun dengan pembunuhan.
Sebab Macbeth, begitu ia merasa nasib akan menjadikannya seorang
raja, ia pun segera menyisihkan sang takdir. Ia tak sekedar pasif
menunggu sampai keberuntungan itu datang. Ia bertindak
menyingkirkan Duncan. Bukan karena petunjuk ketiga perempuan
misterius di hutan itu bila ia membunuh sang Raja. Itu sepenuhnya
inisiatifnya. Itu dorongan kehendaknya yang kian kuat. Ia bahkan tak
perlu lagi dihasut isterinya untuk merebut kekuasaan. Ketika nujum
mengatakan bahwa kelak yang akan menggantikannya sebagai penguasa
adalah anak-cucu Jendral Banquo, Macbeth pun diam-diam (bahkan tanpa
memberi tahu isterinya) menyuruh agar sahabatnya dalam perang itu
dibunuh. Banquo mati. Dengan itu Macbeth berharap nujum, atau
"takdir", bisa dikalahkannya. Tapi dengan itu semua terungkap bahwa
manusia dan perbuatannya-lah yang akhirnya menentukan. Takdir tak
ada artinya. Tertib yang semula ditaati oleh seluruh Skotlandia
terbukti bukan tertib yang datang secara alamiah, bukan tatanan yang
ditentukan oleh langit. Kedudukan raja bukanlah sesuatu yang secara
a priori ditetapkan. Ia seperti kursi kosong yang bisa diisi siapa
saja yang bisa merebutnya. Tertib dan adat itu pada akhirnya
dibentuk oleh ambisi, akal, dan antagonisme manusia. Apalagi yang
diucapkan nenek sihir itu bukan nubuat: mereka tak pernah dihormati
sebagai para nabi. Wibawa mereka praktis tak ada. Ucapan mereka tak
berdiri di atas (dan terlepas dari) tafsir subyektif Macbeth
sendiri. Dalam adegan ke-3 Babak I sang jenderal secara tak langsung
menunjukkan hal itu. Ia menyebut ketiga makhluk itu "imperfect
speakers" yang cuma sebentar bicara dan kemudian menghilang ke udara
malam yang basah. Itu sebabnya Macbeth bukan hanya sebuah cerita
tentang ambisi. Drama ini juga bercerita tentang kekuasaan yang tak
tahu di mana mesti berhenti - dalam arti berhenti menaklukkan yang
lain. Kekuasaan itu jadi lingkaran setan karena ia dimulai dengan
kekerasan. Sebelum akhirnya kekerasan itu membinasakan manusia,
pada mulanya ia berupa kekerasan terhadap misteri. Macbeth
mencampakkan nujum tiga nenek sihir yang sebenarnya diutarakan dalam
bentuk puisi yang remang-remang dan belum selesai; ia
menggantikannya dengan tafsir dan rencana yang tegar; ia mengertikan
kata-kata para nenek sihir dengan harfiah. Ketika ketiga perempuan
setengah gaib itu meramal bahwa Macbeth hanya bisa dikalahkan oleh
seseorang yang "tak dilahirkan oleh perempuan," jenderal itu yakin
tak akan ada manusia akan bisa merubuhkannya. Padahal ternyata ada
kemungkinan arti lain dari kalimat itu: Macduff, orang yang akhirnya
berhasil membunuh Macbeth, dulu tak dilahirkan dengan cara normal.
Ia bayi yang direnggutkan keluar setelah perut ibunya dibedah.
Betapa malangnya Macbeth: ia ambisi yang lempang seperti tombak yang
keras dan menakutkan. Ia tak tahu bahwa selalu ada lapis yang tak
akan tertembus olehnya. Ketiga nenek sihir itu misalnya, yang tak
pernah bisa diperintahkannya dan tak pernah bisa penuh dimaknainya.
Juga hutan yang gelap itu. Juga guruh dan cuaca buruk itu. Juga
rasa bersalah yang tak bisa dilenyapkan. Isterinya merasa tangannya
selalu berlumur darah; tak ada minyak yang bisa membersihkannya.
Macbeth sendiri melihat hantu Banquo yang dibunuhnya datang malam-
malam. Kian mengusik rasa bersalah itu, kian paranoid pula ia
jadinya, dan makin buas. Lakon Macbeth akhirnya menunjukkan: betapa
destruktifnya ambisi kekuasaan politik ketika ia berkali-kali ingin
menembus apa yang tak tertembus, menaklukkan apa yang tak akan
tertaklukkan, menghapuskan apa yang tak bisa terhapuskan, ketika ia
menyangka dunia bisa dikuasai seperti dalam markas militer. Maka
biarlah di sini saya memperingatkan: Tuan bisa menculik, menyiksa,
menggertak - atau, sebaliknya membeli manusia dengan uang - tapi di
balik kehidupan selalu tersembunyi nenek-nenek sihir. Kalau Tuan tak
tahu kapan harus berhenti, Tuan akan bertaut dengan mala - yang
buruk, yang busuk, yang keji, yang akhirnya akan mengenai Tuan
sendiri.
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam