Jika kita bisa memaklumi pilihan orang lain untuk mengimani hal yang
berbeda, itu namanya penerimaan atau toleransi. Tetapi menyamakan keimanan
yang satu dengan iman-iman yang lain, itu sudah mem-paralel-kan values
keimanan atau, gampangane, mempersekutukan Tuhan. 

Universalitas agama, jika memang ada, tertentu hanya pada sedikit aspek dan
"selesai" di batas nilai moralnya saja. Syari'at dan dogma yang mengatur
perikehidupan beragama ummatnya, juga memiliki garis tegas yang mendasari
perbedaan itu. Meski terdapat beberapa agama yang bisa ditelusuri kesamaan
asal rumpunnya, yang samawy, umpamanya, syari'at atau dogma masing-masing
telah memagari ummatnya dengan konsep khusus hingga membentuk entity atau
identitas masing-masing sebagai pembeda. Dengan "lakum diinukum-waliya diin"
kita bisa bertenggang rasa, hidup berdampingan dengan "salaam", dhimmah atau
perjanjian, tetapi jika memakai "walladziina kafaruu, auliyaa'ahumut
thoghuut" jelas kita dapati di sisi mana sesungguhnya kita berdiri.

Konsep "agama kita berasal dari sumber yang sama" masih bisa dipakai sejauh
ia dipergunakan hanya sebagai bahan dakwah kepada non muslim. Karena hal itu
merupakan fakta naqly.

Nuwun;
Tejosuroso

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke