kang Bango, 
itulah gambaran org yg 2 muka. mereka itu gak istiqamah. bagusan iblis, sejak 
bersumpah 
mau sesatkan manusia maka ide-denya, kerjaannya, profesinya gak ada lain 
kecuali sesatkan
manusia. yg plin-plan pun pd hakikatnya sdh masuk jebakan iblis. 

Qur'an itu sdh mewanti-wanti

a'udzubillahi min asyaithaani rajiim,

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan 
tetapi 
sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, 
malaikat-malaikat, 
kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, 
anak-anak yatim, 
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang 
meminta-minta; 
dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan 
orang-orang 
yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam 
kesempitan, 
penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar 
(imannya); dan mereka 
itulah orang-orang yang bertaqwa. (al-Baqarah:177)
---

maksudnya, 
kalo melihat org non- 'mampu' berbuat baik, jangan pernah ingin tahu bgmana 
agama mereka bisa 
bentuk dirinya demikian, lalu basa-basi memuji utk sekedar ungkapkan rasa 
toleransi karena di antara 
mereka ada yg bersikap demikian. jika cukup akrab dgn mereka, lalu ada dialog 
antar agama utk mencari 
kesamaan2 yg ada, lalu sama2 tersenyum, lalu sama-sama tak jujur sembunyikan 
misi dirinya utk 
mengajak yg lain ikut golongannya. dan ketika itu tak berhasil, masuklah ke 
dalam zona pluralisme ...

pdhl dlm Islam itu ada nash: 

bagimu agamamu, bagiku agamaku; 
dan kamu itu adlh ummat yg terbaik!

ditambah sikap mbanding-bandingin dgn akhlak si Fulan yg awam dari kalangan 
sendiri, jeleknya 
Fulan jadi ukuran jeleknya ummat Islam, yg disebut gak cerdas. jadilah org ini 
sbg hamba yg munafik.
dari cara belajar yg salah ...

maaf, 
umurku tinggal bbrp hari lagi.



salam,
Fahru


________________________________
From: Bango Samparan <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Friday, June 5, 2009 5:28:18 AM
Subject: Re: [Is-lam] Manohara oh Manohara dan TKI / TKW


Lha kalau kami geger-geger, nanti suhu Alkhori bilang, "kita enggak suka yang 
peace-peace."

Osama bin Laden ngelawan Amerika yang membunuhi kaum muslim seenaknya - 
langsung lewat tentara atau lewat penjajahan ekonominya. Tokoh-tokoh Islam 
Indonesia macam Syafii Maarif dkk. mencerca-cerca terus. Katanya, "begitulah 
kalau mencerna Islam secara tidak cerdas."

Jadi, gini salah gitu salah, rewel ... (lagunya siapa nih?)

Salam hangat
B. Samparan

--- On Thu, 6/4/09, Alkhori M <[email protected]> wrote:


From: Alkhori M <[email protected]>
Subject: [Is-lam] Manohara oh Manohara dan TKI / TKW
To: [email protected]
Date: Thursday, June 4, 2009, 10:23 PM


 
Manohara
oh Manohara...
Rabu, 03 Juni 2009 18:14:55
Sulit mencari kata paling
pas untuk menggambarkan sosok Manohara. Mungkin fenomenal, spektakuler,
sekaligus luar biasa.  Semua
orang berbincang tentang model yang mengaku disiksa Tengku M Fakhri, sang
suami, dari Kasultanan Kelantan Malaysia .
Cerita yang dia tuturkan mampu mengharu biru perasaan jutaan orang. Meski
cerita itu dituturkan dengan tetap mengumbar senyumnya. Semua orang pun angkat
bicara membela dia. Tak kurang Kementerian Luar Negeri, anggota Dewan, bahkan
seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang tengah melakukan kunjungan
kerja ke Korea Selatan pun menyempatkan waktu untuk berkomentar tentang dia. 
Dan,
Manohara pun berubah dari sekadar korban kekerasan dalam rumah tangga, menjadi
simbol nasionalisme.


Bahkan teman kantor yang
duduk di samping saya sempat tertawa terbahak-bahak sembari menggebrak-gebrak
mejanya ketika membaca pernyataan seorang artis di sebuah media online yang
mengatakan " Mudah-mudahan Indonesia dan Malaysia tidak perang karena
Manohara". Luar biasa. Sang artis melihat persoalan Manohara sepenting
masalah perbatasan Ambalat yang juga sedang menghangat. Pernyataan artis itu
juga mengingatkan pada Perang Bubat antara Padjajaran dan Majapahit. Perang
besar yang meletus karena persoalan Putri Diyah Pitaloka. Kejadian yang sudah
berlangsung berabad-abad yang lalu.
Apa istimewanya Manohara? Tanpa mengurangi keprihatinan atas apa yang dia alami,
sebenarnya apa yang terjadi pada Manohara hanya masalah kecil  jika
dibandingkan dengan nasib para tenaga kerja Indonesia (TKI). 
Sebenarnya, dalam waktu yang tidak berselang lama, seorang pembantu rumah
tangga (PRT) asal Indonesia 
ditemukan tewas di rumah majikannya pada Sabtu 22 Mei lalu di Kuala Lumpur , 
Malaysia .
Diduga, wanita malang 
ini dianiaya majikannya. PRT asal Indonesia ini baru bekerja di rumah
majikannya selama dua bulan. Siapa yang berkomentar terhadap nasib PRT ini? 


Ratusan orang Indonesia yang
harus mati di negeri orang, disiksa majikan dengan sadis hanya untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik.  Mari baca data. Migrant Care
mencatat  jumlah TKI  yang meninggal di luar negeri periode
Januari-Juli 2008 telah mencapai 84 orang. Jumlah TKI yang meninggal di luar
negeri juga terus meningkatkan. Pada 2003, angka kematian TKI sempat mencapai
99 orang. Jumlah itu terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada 2007 lalu
di mana TKI yang meninggal tercatat sebesar 212 orang. (Bisnis Indonesia 23
Juli 2008) Pernahkah orang Indonesia 
sebegitu heboh dengan kondisi ini seperti apa yang terjadi pada Manohara? Apa
yang membedakan antara Manohara dan para TKI? Mereka sama-sama orang Indonesia 
yang
mendapat perlakuan tidak adil di negeri lain. Tetapi kenapa orang-orang tidak
geram ketika sebuah keluarga menangis ketika keluarganya datang dari negeri
orang sudah terbujur kaku? Kenapa para artis tidak takut Indonesia dan Malaysia 
akan perang karena ada TKI
yang meninggal di negeri jiran itu?


Jangan-jangan karena
Manohara adalah selebritis, cantik dan kaya? Atau karena dia disiksa oleh
suaminya yang kerabat Kasultanan? Kalau itu jawabannya, maka kita sudah menjadi
orang yang bersikap tidak adil.
Padahal jika mau berkomentar ekstrem, Manohara lebih beruntung dibandingkan
para TKI. Selama di Malaysia, setidaknya Manohara hidup di tengah kemewahan.
Sementara para TKI meninggal di tengah kemiskinan. Itu jika mau berpikir
ekstrem. Menarik menyimak pernyataan Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)
Masruchah yang dimuat di harian ini, Selasa (2/6) yang mengatakan dalam kasus
Mano ini pemerintah terkesan memberi respons berlebihan. Namun yang patut
disayangkan bahwa kasus-kasus serupa yang berjumlah sekian banyak tidak
mendapat perhatian memadai dari pemerintah. "Saya harap tidak hanya Mano
yang diperhatikan, tetapi juga kasus-kasus buruh migran lain yang banyak
terjadi," saran Masruchah.


Sekali lagi, tanpa
mengurangi keprihatinan terhadap kasus Manohara, semua harus sadar bahwa sikap
yang berlebihan dalam memperlakukannya justru akan memunculkan kecemburuan bagi
rakyat lain. Manohara tetap harus dibela. Tetapi para TKI yang nasibnya jauh
lebih menderita juga harus dibela. Jangan pilih kasih. Jangan over dosis!!!
 
Alkhori M
Alkhor Community
Qatar
 
-----Inline Attachment Follows-----


_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke