Manohara oh Manohara...

Rabu, 03 Juni 2009 18:14:55

Sulit mencari kata paling pas untuk menggambarkan sosok Manohara. Mungkin
fenomenal, spektakuler, sekaligus luar biasa.  Semua orang berbincang
tentang model yang mengaku disiksa Tengku M Fakhri, sang suami, dari
Kasultanan Kelantan Malaysia. Cerita yang dia tuturkan mampu mengharu biru
perasaan jutaan orang. Meski cerita itu dituturkan dengan tetap mengumbar
senyumnya. Semua orang pun angkat bicara membela dia. Tak kurang Kementerian
Luar Negeri, anggota Dewan, bahkan seorang Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, yang tengah melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pun
menyempatkan waktu untuk berkomentar tentang dia. Dan, Manohara pun berubah
dari sekadar korban kekerasan dalam rumah tangga, menjadi simbol
nasionalisme.



Bahkan teman kantor yang duduk di samping saya sempat tertawa terbahak-bahak
sembari menggebrak-gebrak mejanya ketika membaca pernyataan seorang artis di
sebuah media online yang mengatakan "Mudah-mudahan Indonesia dan Malaysia
tidak perang karena Manohara". Luar biasa. Sang artis melihat persoalan
Manohara sepenting masalah perbatasan Ambalat yang juga sedang menghangat.
Pernyataan artis itu juga mengingatkan pada Perang Bubat antara Padjajaran
dan Majapahit. Perang besar yang meletus karena persoalan Putri Diyah
Pitaloka. Kejadian yang sudah berlangsung berabad-abad yang lalu.
Apa istimewanya Manohara? Tanpa mengurangi keprihatinan atas apa yang dia
alami, sebenarnya apa yang terjadi pada Manohara hanya masalah kecil  jika
dibandingkan dengan nasib para tenaga kerja Indonesia (TKI). 
Sebenarnya, dalam waktu yang tidak berselang lama, seorang pembantu rumah
tangga (PRT) asal Indonesia ditemukan tewas di rumah majikannya pada Sabtu
22 Mei lalu di Kuala Lumpur, Malaysia. Diduga, wanita malang ini dianiaya
majikannya. PRT asal Indonesia ini baru bekerja di rumah majikannya selama
dua bulan. Siapa yang berkomentar terhadap nasib PRT ini? 



Ratusan orang Indonesia yang harus mati di negeri orang, disiksa majikan
dengan sadis hanya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.  Mari baca
data. Migrant Care mencatat  jumlah TKI  yang meninggal di luar negeri
periode Januari-Juli 2008 telah mencapai 84 orang. Jumlah TKI yang meninggal
di luar negeri juga terus meningkatkan. Pada 2003, angka kematian TKI sempat
mencapai 99 orang. Jumlah itu terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada
2007 lalu di mana TKI yang meninggal tercatat sebesar 212 orang. (Bisnis
Indonesia 23 Juli 2008) Pernahkah orang Indonesia sebegitu heboh dengan
kondisi ini seperti apa yang terjadi pada Manohara? Apa yang membedakan
antara Manohara dan para TKI? Mereka sama-sama orang Indonesia yang mendapat
perlakuan tidak adil di negeri lain. Tetapi kenapa orang-orang tidak geram
ketika sebuah keluarga menangis ketika keluarganya datang dari negeri orang
sudah terbujur kaku? Kenapa para artis tidak takut Indonesia dan Malaysia
akan perang karena ada TKI yang meninggal di negeri jiran itu?



Jangan-jangan karena Manohara adalah selebritis, cantik dan kaya? Atau
karena dia disiksa oleh suaminya yang kerabat Kasultanan? Kalau itu
jawabannya, maka kita sudah menjadi orang yang bersikap tidak adil.
Padahal jika mau berkomentar ekstrem, Manohara lebih beruntung dibandingkan
para TKI. Selama di Malaysia, setidaknya Manohara hidup di tengah kemewahan.
Sementara para TKI meninggal di tengah kemiskinan. Itu jika mau berpikir
ekstrem. Menarik menyimak pernyataan Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia
(KPI) Masruchah yang dimuat di harian ini, Selasa (2/6) yang mengatakan
dalam kasus Mano ini pemerintah terkesan memberi respons berlebihan. Namun
yang patut disayangkan bahwa kasus-kasus serupa yang berjumlah sekian banyak
tidak mendapat perhatian memadai dari pemerintah. "Saya harap tidak hanya
Mano yang diperhatikan, tetapi juga kasus-kasus buruh migran lain yang
banyak terjadi," saran Masruchah.



Sekali lagi, tanpa mengurangi keprihatinan terhadap kasus Manohara, semua
harus sadar bahwa sikap yang berlebihan dalam memperlakukannya justru akan
memunculkan kecemburuan bagi rakyat lain. Manohara tetap harus dibela.
Tetapi para TKI yang nasibnya jauh lebih menderita juga harus dibela. Jangan
pilih kasih. Jangan over dosis!!!

 

Alkhori M

Alkhor Community

Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke