Assalamu’alaikum wr wb,

Kaum muslimin berserikat (memiliki bersama) dalam tiga hal, yaitu air, 
rerumputan (di padang rumput yang tidak bertuan), dan api (migas/energi). (HR. 
Ahmad dan Abu Daud)

Saat ini boleh dikata ribuan trilyun kekayaan alam Indonesia dikuras oleh 
perusahaan-perusahaan asing. 6 perusahaan dari 10 perusahaan terkaya versi 
majalah Forbes saja mendapat Rp 17 ribu trilyun/tahun. Belum lagi 
perusahaan-perusahaan lain seperti Freeport, Newmont, BHP, dsb yang menguras 
emas, perak, tembaga, nikel, dsb dari Indonesia. Bisa jadi hasil dari kekayaan 
alam Indonesia yang mereka dapat berkisar antara Rp 2.000-5.000 Trilyun/tahun.

Jika saja kita mandiri dan mengelola kekayaan alam sendiri, bisa jadi Rp 3.000 
trilyun/tahun hasil kekayaan alam Indonesia masuk ke tangan bangsa Indonesia. 
Saat ini APBN Indonesia hanya Rp 1.037 Trilyun/tahun. Sementara hutang Luar 
Negeri sebesar Rp 1.600 trilyun dan setiap tahun bertambah hampir Rp 100 
trilyun dalam 5 tahun terakhir. 

Jika kita mengelola sendiri, dan Rp 3.000 trilyun yang sebelumnya masuk ke 
kantong asing jadi milik bangsa Indonesia, maka hutang Luar Negeri Indonesia 
yang Rp 1.600 trilyun dengan mudah dapat dilunasi. Indonesia juga tak perlu 
menambah hutang Rp 100 trilyun/tahun dalam 5 tahun terakhir ini.

Selama bangsa Indonesia rela mendapat receh, maka Indonesia tidak punya cukup 
dana untuk menyediakan pendidikan murah hingga PTN, Rumah Sakit yang 
terjangkau, pembaruan Alutsista, dsb.

Lihat AS yang bukan hanya mengelola sendiri kekayaan alamnya, tapi berbagai 
perusahaannya juga menguras kekayaan alam Indonesia. Mereka dapat banyak uang 
sehingga anggaran militer mereka mencapai US$ 655 milyar/tahun (Rp 6.550 
trilyun lebih). Karena itu mereka dengan mudah membuat/membeli ribuan pesawat 
tempur dan kapal perang yang ternyata dipakai untuk membantai ummat Islam di 
Iraq dan Afghanistan dan mendanai upaya untuk merusak ajaran Islam dan 
menghalangi penegakkan syari’at Islam meski hanya untuk kalangan Islam sendiri.

Nabi berkata hendaknya kita melakukan amar ma’ruf nahi munkar dengan tangan, 
lisan, atau selemah-lemah iman dalam hati. Oleh karena itu saya coba mencegah 
kemungkaran dengan lisan agar kekayaan alam Indonesia tidak terus dinikmati 
asing yang hasilnya justru dipakai untuk membantai ummat Islam.

Hendaknya para tokoh dan aktivis Islam juga melakukan hal itu. Mencegah 
penguasaan kekayaan alam Indonesia oleh musuh Islam dengan sekuat tenaga. 
Berusaha menjadikan agar Indonesia jadi bangsa yang mandiri. Sebarkanlah email 
ini agar kita bisa jadi ummat yang mandiri.

Tidak pernah dalam sejarah Nabi membiarkan kekayaan negara Islam dikelola oleh 
orang kafir yang memusuhi Islam seperti kaum kafir Mekkah, orang-orang Romawi, 
atau pun orang-orang Persia. Bahkan Nabi pernah meminta sahabat untuk membeli 
sumur air orang Yahudi sehingga ummat Islam yang sebelumnya harus membayar, 
kemudian bisa mendapatkan air secara gratis. Hendaknya kita ikuti sunnah Nabi 
tersebut.

Bahaya sistem ekonomi Neoliberalis yang merupakan sistem yang dipaksakan AS 
untuk menguras kekayaan alam di berbagai negara di seluruh dunia saya tulis di:

http://media-islam.or.id
http://infoindonesia.wordpress.com

Berikut adalah diskusi saya dengan pak Faisal Basri di milis Forum Pembaca 
Kompas tentang Neoliberalisme dan Privatisasi:

Terimakasih pak Faisal Basri atas tanggapannya

"Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh 
negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" [UUD 1945 Pasal 
33 Ayat (3)]
===

--- Pada Sel, 16/6/09, Faisal Basri <[email protected]> menulis:

> Dari: Faisal Basri [email protected]
> Topik: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Adakah Basri Menangis Ketika BBM Naik  
> 125%? Bls: Boediono Dicerca Neolib, Faisal Basri Nangis
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Selasa, 16 Juni, 2009, 11:41 AM
> Ketika harga BBM dinaikkan 114 persen pada oktober 2005, saya geram dan 
> merintih >
> http://www2. kompas.com/ kompas-cetak/ 0510/01/utama/ 2092732.htm).
Tahun 

Terimakasih atas kegeraman anda atas kenaikan harga BBM sebesar 114% di Oktober 
2005. Namun kita tahu, ketika teman anda Boediono naik jadi Menko Perekonomian 
di Desember 2005, dia bukannya menurunkan harga BBM malah menaikkannya lagi 
sebesar 30%.

Anda pernah mengatakan pada orang yang menaikkan harga BBM: “”Saya melihat 
mereka itu tidak punya hati. Mereka adalah kelompok yang tega atas penderitaan 
rakyat”

Apakah anda tidak geram dengan tindakan teman anda itu?

Anda juga menyatakan sebaiknya BBM naik 50%:
=
FB:
Penetapan kenaikan harga bahan bakar minyak rata-rata 100 persen lebih oleh 
pemerintah, Sabtu (1/10) dini hari, dinilai keterlaluan karena melampaui batas 
kemampuan masyarakat yang hanya bisa menanggung kenaikan sekitar 50 persen.
==

Kemudian di Perspektif Wimar anda mengatakan BBM harus sering naik: agar harga 
BBM di Indonesia sama dengan harga pasar (baca: harga di AS):

==
http://www.perspektif.net/article/article.php?article_id=869
Faisal Basri: BBM Harus Sering Naik
==

Kenapa?
Silahkan lihat daftar harga bensin dunia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_usage_and_pricing

Saat ini harga bensin di Indonesia cuma beda sekitar Rp 2000/liter dengan di 
AS. Padahal garis kemiskinan di AS sekitar Rp 10,4 juta/orang/bulan, sementara 
di Indonesia hanya Rp 182 ribu/bulan (versi Bank Dunia US$ 60/bulan). Nah 
apakah anda ingin agar harga BBM di Indonesia = di AS padahal 80% minyak mentah 
diproduksi di Indonesia dengan  biaya lifting sekitar US$ 10/barrel atau kurang 
dan biaya refinery dan distribusi untuk di AS saja sekitar US$ 15/barrel? 
Padahal dengan harga US$ 25/barrel atau kurang dari Rp 2.000/liter saja sudah 
untung karena sudah di atas biaya pokok produksi + keuntungan. Silahkan 
download perhitungan harga bensin di:
http://www.mediafire.com/?jez4ynm4vzt

Dari daftar harga bensin di atas, kita lihat harga di Indonesia sekitar US$ 
0,53/liter. Sementara di Arab Saudi US$ 0,12, Malaysia 0,5, Brunei 0,39, di 
Venezuela US$ 0,045/liter (Rp 450/liter). Masih banyak lagi negara yang 
bensinnya murah.

Nah kenapa ekonom seperti anda bukannya meminta agar harga bensin di Indonesia 
dibuat semurah mungkin (selama masih di atas biaya produksi dan pemerintah 
dapat sedikit keuntungan), namun justru meminta agar harga bensin sering 
dinaikkan?

Bukankah itu akan menyengsarakan rakyat karena segala harga barang termasuk 
beras pasti naik? Belum lagi para nelayan, supir angkot, atau pun pengemudi 
sepeda motor yang mayoritas rakyat miskin. Mereka itu juga memakai BBM untuk 
perahu dan kendaraannya dan justru memakai lebih banyak karena kendaraan mereka 
terus lalu lalang sepanjang hari ketimbang segelintir orang kaya yang bersedan.

FB:
> Ketika jutaan petani masih dibodohi oleh perusahaan perkebunan "milik 
> negara", kita 
> sepantasnya meratapi dan melawan. Bagi saya, BUMN seperti itu wajib 
> diprivatisasi, 
> dikembalikan kepada petani. Bagaimana caranya, kita serahkan kepada para ahli.

Saya setuju jika 69,4 juta hektar tanah dikuasai oleh 652 BUMN/pengusaha (*1) 
diserahkan ke sekitar 100 juta petani di Indonesia. Tak pantas jika ada jutaan 
petani tidak punya sawah dan hanya jadi buruh tani sementara segelintir orang 
menguasai lebih dari 100 ribu hektar tiap orangnya.

Namun itu umumnya lebih dikenal dengan land reform yang nyaris tidak pernah 
terjadi. Bukan privatisasi yang saya maksud.

Privatisasi yang banyak terjadi selama ini justru penguasaan BUMN yang 
strategis dan menguasai kekayaan alam Indonesia untuk diserahkan kepada 
segelintir orang/pengusaha asing. Sehingga keuntungan yang biasanya masuk ke 
APBN dan dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia (jika sistem berjalan benar) 
sekarang justru dinikmati oleh segelintir pengusaha asing.

==
http://els.bappenas.go.id/upload/other/Telkom%20Untung%20Rp%204.htm
Telkom Untung Rp 4,25 Trilyun
Jakarta, Kompas - PT Telekomunikasi Indonesia (PT Telkom) berhasil meraih laba 
tahun 2001 sebesar Rp 4,25 trilyun, naik 41 persen dibanding tahun 2000 yang Rp 
3 trilyun. Pendapatan operasi perusahaan publik itu sendiri sebesar Rp 16,13 
trilyun, naik 33 persen dari Rp 12,11 trilyun tahun 2000
==

Contohnya: Telkom dan Indosat justru di”privatisasi” dan dikuasai BUMN 
Singapura Temasek lewat anak perusahaannya Singtel dan STT. Akibatnya segala 
percakapan telpon/hp oleh pejabat sipil dan militer di Indonesia yang lewat 
backbone telekomunikasi tsb bisa dengan mudah disadap Singapura/Asing. Nah 
harusnya para ekonom itu memikirkan hal2 yang strategis macam ini. Apalagi 
Telkom dan Indosat itu sebelum diprivatisasi juga sudah untung trilyunan rupiah 
yang seharusnya bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Belum lagi 
privatisasi ANTAM yang mengelola kekayaan alam, sementara Krakatau Steel dan 
Pertamina menyusul.

PAM juga diprivatisasi sehingga air minum yang dibutuhkan rakyat dikuasai 
Thames Pam Jaya dan PAM Lyonnaise Jaya. Mutu air tidak berubah dan mereka tidak 
banyak melakukan perbaikan karena jaringan pipa sudah ada. Namun harga air 
minum setelah diprivatisasi naik terus. Pernah tagihan PAM saya sampai rp 350 
ribu/bulan. 1/3 UMR!

Nah sedihkah anda dengan privatisasi macam itu?

FB:
> Selama Pertamina masih sangat boros dan jadi bancakan para kelompok 
> kepentingan 
> (http://faisalbasri. kompasiana. com/2009/ 06/16/virus- virus-itu- 
> ada-di-dalam- diri-kita/), sepantasnya kita juga bicara.


Kalau Pertamina boros atau jadi bancakan kelompok kepentingan, haruskah 
diprivatisasi/dijual ke asing?
Saat ini 90% migas kita dikuasai perusahaan asing, Pertamina hanya 10%. 
Banggakah anda sebagai ekonom jika ternyata 100% migas/kekayaan alam kita 
justru dikelola Kompeni-Kompeni baru berupa Multi National Company?

Saya beruntung sempat mendapat pencerahan dari pak Revrisond Baswir mengenai 
penjajahan Kompeni. Begitu pula dengan pakar minyak, pak Kurtubi yang waktu itu 
juga punya semangat yang sama.

Dulu yang menjajah Indonesia adalah Kompeni (Verenigde Oost Indische 
Compagnie). Bukan pemerintah Belanda. Mereka menguasai perkebunan dan 
perdagangan rempah2 di Indonesia. Para raja dan sultan tetap bangsa Indonesia, 
tapi Kompeni memanfaatkan mereka untuk mendikte kepentingan mereka. Rakyat pun 
bisa bekerja sebagai Kuli Kontrak.

Saat ini juga begitu. Bahkan lebih parah lagi. Jika masa Kompeni Belanda 
industrinya masih perkebunan yang ramah lingkungan. Sekarang isi bumi kita 
digali dan dikeluarkan sehingga merusak gunung2, bukit, dan mencemari sungai2. 
Lihat pertambangan emas di berbagai tempat seperti Freeport di Papua atau pun 
Newmont di Sulawesi. Sempat terbetik berita tentang pencemaran yang dilakukan 
berbagai perusahaan di atas. Sungai tidak lagi memberi ikan dimakan, begitu 
pula laut karena terkontaminasi.

Kalau BUMN boros, solusinya gampang, ganti manajemen. Ganti direksi. Pemerintah 
berhak mengganti manajemen BUMN. Jika pemerintah tidak becus, rakyat bisa 
mengganti pemerintah lewat Pemilihan UMUM. Pada BUMN, rakyat langsung atau 
tidak langsung punya kontrol terhadap BUMN. Buat beberapa BUMN baru sebagai 
kompetitor sehingga bisa bersaing. Bukan pakai cara gampang dengan 
memprivatisasi sehingga berpindah ke tangan asing.

Silahkan lihat Daftar Perusahaan Terkaya versi Forbes 500:
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_companies_by_revenue
1. Exxon Mobil, pendapatan $390.3 billion/tahun, gaji CEO, Rex W. Tillerson, 
$4.12M/tahun
3. Shell, pendapatan $355.8 billion/tahun, gaji CEO, Jeroen van der Veer, 
€7,509,244
4. British Petroleum, pendapatan $292 billion/tahun, gaji CEO, Tony Hayward, 
$4.73M
6. Total S.A., pendapatan $217.6
7.. Chevron Corp., pendapatan 214.1 billion/tahun, gaji CEO, David J. O'Reilly, 
$7.82M
8. Saudi Aramco (BUMN Saudi), pendapatan $197.9 billion/tahun
10. ConocoPhillips, pendapatan $187.4 billion/tahun, gaji CEO, James Mulva, 
$6.88M

Total dari perusahaan itu saja (10 perusahaan teratas versi Forbes 500) yang 
juga beroperasi di Indonesia mengelola kekayaan alam kita, itu US$ 1.655 milyar 
atau sekitar 17 ribu trilyun. Di antaranya berasal dari kekayaan alam Indonesia.

Arab Saudi cukup cerdas menasionalisasi perusahaan Aramco tahun 1974, Chavez 
presiden Venezuela juga menasionalisasi perusahaan migas di sana sehingga 
Venezuela yang merupakan negara penghutang terbesar, sekarang rasio hutangnya 
hanya kurang dari 40% total GDPnya. Di bawah Indonesia yang rasio hutangnya 
sudah mencapai 68% dari GDP dan terus bertambah sekitar Rp 100 trilyun/tahun. 
Kuwait dan Qatar juga mengandalkan BUMN mereka untuk mengelola kekayaan alamnya 
sehingga tidak bocor ke asing. 

Akibatnya negara mereka makmur. Ketika saya tinggal di Arab Saudi selama 6 
bulan di rumah satu warga negaranya, di sana bukan cuma bensin lebih murah, 
tapi sekolah, listrik, rumah sakit gratis. Bahkan di sana kalau kuliah diberi 
uang saku.

Negara-negara yang maju/makmur seperti AS, Inggris, Perancis, Arab Saudi, 
Qatar, Kuwait, dsb itu tidak pernah menyerahkan kekayaan alam mereka ke asing. 
Mereka mengelola sendiri kekayaan alam mereka. Qatar dan Kuwat meski SDMnya 
sedikit, mereka tetap buat BUMN sendiri. Tenaga ahli mereka cari dari luar 
negeri termasuk dari Indonesia. Coba lihat Kompas Sabtu-Minggu di kolom 
lowongan kerja, banyak iklan lowongan kerja dari BUMN Qatar, Kuwait, dsb yang 
mencari ahli migas dari Indonesia.

Sekali lagi, tidak ada negara yang maju/makmur dengan menyerahkan 100% kekayaan 
alam mereka ke perusahaan2 asing. Harusnya ekonom Indonesia berjuang agar 
Indonesia bisa mandiri. Bisa berdikari.

Bukan justru membujuk rakyat/pemerintah agar Indonesia tidak mandiri dan 
bergantung kepada perusahaan2 asing yang ternyata justru memperkaya perusahaan 
dan direksi mereka sendiri..
 
Teman saya dari Pertamina mengatakan kenapa Pertamina rugi, karena Pertamina 
hanya mengelola 10% dari migas di Indonesia. Pak Marwan Batubara mengatakan 
ketika Pertamina mengontrak Exxon untuk melakukan eksplorasi migas di Blok 
Cepu, begitu ketemu justru Exxon yang merebut blok tersebut. Akibatnya 
Pertamina tidak bisa mendapatkan migas murah di negeri ini. Pertamina harus 
beli di luar negeri dengan harga pasar/tinggi. Kemudian jika ada 
keuntungan/pendapatan, uang tersebut tidak bisa masuk ke Pertamina, tapi 
disalurkan sebagai deviden yang masuk dalam APBN. Itu yang menyebabkan “boros” 
atau rugi.

Coba lihat pendapatan perusahaan migas asing yang Rp 17 ribu trilyun/tahun. 
Meski untung segitu, uang itu masuk ke kas mereka. Bukan ke bangsa Indonesia. 
Paling tidak 10-20% dari uang tersebut berasal dari Indonesia karena banyak 
Negara seperti Arab Saudi, Venezuela, Qatar, Kuwait, dsb mengelola kekayaan 
alamnya dengan BUMN mereka. Itu belum perusahaan lain seperti Freeport, 
Newmont, BHP, dsb yang mengeruk emas, perak, tembaga, nikel, dsb dari bumi 
Indonesia. 

Menurut PENA, sekitar Rp 2.000 trilyun/tahun hasil kekayaan alam Indonesia 
masuk ke kantong asing. Menurut saya sekitar Rp 2.000-5.000 trilyun/tahun yang 
masuk ke kantong asing. Jika kita mengelola sendiri, dan Rp 3.000 trilyun yang 
sebelumnya masuk ke kantong asing jadi milik bangsa Indonesia, maka hutang Luar 
Negeri Indonesia yang Rp 1.600 trilyun dengan mudah dapat dilunasi. Indonesia 
juga tak perlu menambah hutang Rp 100 trilyun/tahun dalam 5 tahun terakhir ini.

Selama kekayaan alam kita masuk ke kantong asing, kita cuma dapat receh kecil 
saja. Pendidikan murah sampai PTN, Rumah Sakit dengan harga terjangkau, atau 
pembaruan Alutsista hanya janji belaka kalau kita tidak punya cukup uang.

Coba perhatikan, satu CEO gajinya mencapai US$ 7,8 juta atau rp 78 
milyar/tahun. Kalau ada 5 direksi dan 5 komisaris bisa untuk gaji saja sekitar 
rp 300 milyar/tahun. Apakah Pertamina seboros itu? Kalau ada 6 perusahaan 
berarti sekitar Rp 1000 trilyun hanya untuk gaji Direksi dan Komisaris saja. 
Sama dengan APBN kita di tahun 2008!

Kalau Pertamina kurang baik, cari solusi yang lebih baik dan cerdas ketimbang 
melakukan privatisasi atau melego ke pihak asing.

Kita bisa lakukan pergantian dengan manajemen yang jujur dan baik. Toh BUMN 
seperti Temasek, Petronas, Aramco, Venezuela justru makin membuat bangsanya 
makmur. Sementara SWASTA seperti Lehman Brothers, Citigroup, Chrysler, Enron, 
dsb bangkrut atau merugi hingga pemerintah AS harus mengucurkan bantuan sampai 
US$ 800 milyar dan “Menasionalisasi” Citigroup. Jangan anggap kalau mereka 
bankrut yang rugi perusahaan itu dan bukan rakyat. Karena kalau aset sudah 
puluhan milyar ke atas, biasanya perusahaan besar pakai uang rakyat mulai dari 
kredit Bank yang berasal dari simpanan rakyat hingga melempar saham di pasar 
modal yang juga dibeli dengan uang rakyat. Jika kredit macet atau perusahaan 
itu bangkrut, maka uang rakyat itu lenyap. Di BEI saja pernah dalam setahun 24 
perusahaan yang go public bangkrut/delisting.

Bisa juga membuat beberapa BUMN baru sebidang hingga ada benchmark dan BUMN 
yang merugi dilikuidasi.

Jadi hilangkan pandangan Stereotip Swasta pasti untung dan BUMN pasti rugi.
Sekali lagi tidak pernah ada dalam sejarah negara sapi perah yang dieksploitasi 
pihak asing bisa maju dan makmur.

FB:
> Kalau kita tahu apa yang dikatakan orang tidak benar dan lalu kita memberikan 
> perspektif lain, apakah itu salah. Ikhwal saya menangis, tentu ada alasan 
> yang lebih 
> dalam. Antara lain ketakutan saya bahwa kita mudah lupa akan apa yang terjadi 
> 11 
> tahun lalu..
>
> Mungkin saya terlalu emosional karena menangkap dimensi ketidakadilan, walau 
> itu 
> hanya terhadap seorang sosok yang bernama Boediono.

Pak Boediono dari tahun 1998 hingga sekarang malang melintang menjabat berbagai 
posisi penting di perekonomian Indonesia. Dari Ketua Bappenas, Menteri 
Keuangan, Menko Perekonomian, dan bisa jadi nanti sebagai Wapres. Jadi bisa 
berbuat banyak untuk mensejahterakan rakyat Indonesia.

Coba amati dalam rentang tahun 1998-2009:

1. Nilai rupiah anjlok dari Rp 2.200 sejak diberlakukan floating rate dan 
devisa bebas jadi Rp 10.500 (sempat rp 16.700). Padahal Arab Saudi yang 
menggunakan credit money real seperti yang dilakukan AS sebelum tahun 1971 yang 
mematok dollar ke emas, nilainya relatif stabil. Dari tahun 1980 hingga 
sekarang dengan uang 1 real kita bisa beli sebotol Pepsi Cola. Dengan turunnya 
nilai rupiah, ini adalah pemiskinan massal.

2. Harga BBM naik dari Rp 700/liter jadi Rp 4.500/liter. Harga BBM memicu 
kenaikan harga2 barang lainnya padahal penghasilan rakyat pertambahannya tidak 
sebesar itu. Ini adalah pemiskinan massal.

3. Uang masuk PTN seperti UI tahun 1998 sekitar rp 200 ribu dan SPP per 
semester sekitar rp 200 ribu. Sekarang untuk masuk UI uang masuknya saja bisa 
mencapai Rp 150 juta lebih belum uang semesternya. Bagaimana Indonesia bisa 
jadi bangsa yang cerdas jika PTN mahal karena diprivatisasi jadi BHMN untuk 
kemudian dijual?

Kebetulan saya kerja di industri retail jadi tahu betul apakah daya beli rakyat 
melemah/menguat karena retail adalah cermin dari daya beli rakyat. Penjualan di 
tahun 2009 kurang separuh daripada di tahun 2005 nilai rupiahnya. Perusahaan 
kompetitor juga begitu. Di media massa juga diberitakan bahwa retail lesu. 
Retail lesu karena daya beli rakyat melemah. Jadi meski katanya pertumbuhan 
ekonomi naik 6%/tahun, mungkin itu adalah “ekonomi” yang ngomong. Perusahaan 
saya justru turun. Gaji saya relatif tidak berubah dari tahun 2005. Teman2 saya 
dari perusahaan lain bahkan kena PHK dan menganggur hingga sekarang.

Gaji PNS naik katanya, tapi PNS itu jumlahnya kurang dari 5 juta atau <3% dari 
rakyat Indonesia. Kenaikan gaji justru memicu kenaikan harga barang yang 
menyengsarakan 80% rakyat Indonesia yang penghasilannya tidak berubah bahkan 
jadi tidak ada karena kena PHK.

Tiap saya naik bis, minimal pulang pergi ada 5 pengamen. Kemarin malam ada 
gadis kecil umur 5 tahun yang mengemis minta uang ke penumpang Mikrolet. Hari 
sudah malam, harusnya gadis kecil itu sudah di rumah beserta keluarganya. Bukan 
diterminal mencari uang jika dia adalah keluarga mampu karena dia bisa 
diperkosa para preman terminal. Banyak anak balita lain yang mengamen/mengemis 
di bis-bis yang saya tumpangi tiap hari kerja.

Harusnya anda menangis untuk mereka karena dengan kebijakan ekonomi yang 
keliru, rakyat Indonesia yang harusnya makmur justru jadi miskin dan terlunta2 
mencari makan di jalan.

> Jangan sampai kita cepat pukul-rata. Dunia tidak hitam-putih.
> Bagaimanapun, saya sepenuhnya sepakat bahwa negeri ini belum berdaulat dalam 
> banyak hal. Tapi jangan sampai musuh dalam selimut tertawa terbahak-bahak. .

Saat ini meski mungkin anda termasuk orang kaya, namun mayoritas rakyat 
Indonesia masih miskin. Ini karena hutang selalu diperbesar dan celakanya lagi 
pihak pengutang selalu mendikte bahwa Indonesia harus memprivatisasi BUMN, 
mencabut subsidi barang/BBM, dsb. Kekayaan alam juga diserahkan kepada 
Kompeni-kompeni asing.

Sekali lagi anda perhatikan bahwa negara yang maju dan makmur adalah negara 
yang mengelola sendiri kekayaan alamnya. Bukan menyerahkannya ke pihak asing.

Kompeni gaya baru ini tentu menyewa antek2nya untuk membela kepentingan mereka.
Benar peringatan anda: jangan sampai musuh dalam selimut tertawa terbahak-bahak

Pak Faisal, ucapan anda banyak didengar orang, termasuk di milis Forum Pembaca 
Kompas. Anda bisa melakukan perubahan/memberi masukan agar rakyat Indonesia 
makmur.

Saya pribadi tidak setuju dengan sistem komunis di mana negara memiliki 
semuanya. Tapi saya juga tidak setuju jika semua BUMN dijual sehingga BUMN 
berikut kekayaan alam yang dikelola dikuasai swasta yang mencari untung 
sebesarnya seperti yang dilakukan Sistem Ekonomi Neoliberalisme.

Untuk kekayaan alam, sembako yang meliputi hajat hidup orang banyak, harus 
dikelola negara bersama puluhan juta petani (bukan segelintir “petani”) untuk 
memakmurkan rakyat.

BUMN memang tidak SELALU harus untung karena ada Public Service/Layanan 
Masyarakat yang harus dijalankan oleh negara seperti penyediaan air minum yang 
bersih untuk rakyat, listrik, kesehatan, dan pendidikan. Sebagai gantinya, 
negara menerima pajak dari rakyat sebesar rp 500 trilyun lebih per tahunnya.

Sebagai contoh pagi ini saya dapat SMS dari teman saya yang berbunyi:
===
Salam, peluang beramal bagi yang ingin sedekah. Saat ini ada seorang ibu yang 
akan melahirkan sesar di RS Fatmawati. Tapi tak ada biaya, bagi yang ingin 
membantu bisa hubungi Musa di 08811812832
===

Tak semua orang miskin dapat kartu Gakin karena garis kemiskinan BPS yang 
terlampau rendah.

Teman saya dan saya juga berkunjung ke perkampungan nelayan di Muara Angke. 
Boleh dikata 90% warganya hidup dalam kemiskinan. Saya bersama teman saya 
bertamu ke satu rumah yang luasnya paling 9 m2 yang didiami 4 orang untuk 
mewawancarai calon penerima beasiswa dari satu yayasan yang didirikan teman 
saya pak Eko. Sedihnya, jauh lebih banyak orang yang harus menerima bantuan 
ketimbang jumlah donaturnya… Kalau tertarik membantu, silahkan kontak pak Eko 
dengan MIF Foundationnya.

Jumlah orang miskin saat ini sedikit cuma sekitar 35 juta jiwa karena garis 
kemiskinan yang dipatok BPS sangat rendah. Cuma rp 182 ribu/bulan per orang. 
Jika menurut standar Bank Dunia yang US$ 60/bulan, mungkin jumlahnya sekitar 
120 juta jiwa. Jika pakai standar AS yang Rp 10,4 juta/bulan, bisa lebih banyak 
lagi…
http://infoindonesia.wordpress.com/2008/03/11/umr-dan-garis-kemiskinan-kita-memang-beda-%E2%80%93-umr-indonesia-us-95bulan-as-us-4914bulan/

Neoliberalisme untuk mengidentifikasi paham ekonomi yang bertujuan 
memprivatisasi semua BUMN, mencabut subsidi barang/BBM itu ada di berbagai 
ensiklopedi seperti MS Encarta Encyclopaedia, Ensiklopedi Britannica, dsb. 
Contohnya lihat di bawah (*2)

==
http://encarta.msn.com/encyclopedia_1741588397_2/globalization.html

The IMF and the World Bank usually impose certain conditions for loans and 
require what are called structural adjustment programs from borrowers. These 
programs amount to detailed instructions on what countries have to do to bring 
their economies under control. The programs are based on a strategy called 
NEOLIBERALISM, also known as the Washington Consensus because both the IMF and 
the World Bank are headquartered in Washington, D.C. The strategy is geared 
toward promoting free markets, including privatization (the selling off of 
government enterprises); deregulation (removing rules that restrict companies); 
and trade liberalization (opening local markets to foreign goods by removing 
barriers to exports and imports). Finally, the strategy also calls for 
shrinking the role of government, reducing taxes, and cutting back on publicly 
provided services.
==

Beberapa gejalanya adalah privatisasi, pencabutan subsidi barang/BBM, dsb. 
Gejala demam berdarah adalah badan panasnya tinggi dan tidak turun selama 
beberapa hari, bercak merah, dsb. Namun penyakit demam berdarah tetap positif 
meski ada gejala yang tidak terbukti. Sebagai contoh, tidak semua penderita 
demam berdarah memiliki bercak merah di kulitnya. 

Nah Neoliberalisme juga begitu. Meski ada gejala yang tidak terlihat, bukan 
berarti itu bukan Neoliberalisme jika gejala2 lain yang disebut terlihat.

Tapi semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah dan benar-benar berjuang untuk 
mensejahterakan rakyat.

Saat ini saya paling cuma membuat blog seperti www.infoindonesia.wordpress.com 
yang paling banter cuma dikunjungi 1800 orang per hari dengan isi berbagai 
artikel yang diharap bisa mencerahkan bangsa Indonesia.

http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia/

Tabik,
> faisal basri

--- On Tue, 6/16/09, A Nizami <nizam...@yahoo. com> wrote:

From: A Nizami <nizam...@yahoo. com>
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Adakah Basri Menangis Ketika BBM Naik 125%? 
Bls: Boediono Dicerca Neolib, Faisal Basri Nangis
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, June 16, 2009, 2:01 AM

Apakah Faisal Basri menangis ketika BUMN-BUMN yang merupakan milik rakyat 
Indonesia dijual ke swasta/asing?

Adakah Faisal Basri menangis ketika harga BBM di Indonesia naik mengikuti harga 
minyak dunia sampai 125% sehingga memicu kenaikan harga-harga barang lainnya?

Adakah Faisal Basri menangis ketika sebagian besar kekayaan alam Indonesia 
dikelola oleh asing sehingga perusahaan2 migas/pertambangan asing yang 
beroperasi di Indonesia masuk daftar perusahaan terkaya versi FORBES 500 dengan 
pendapatan ribuan trilyun rupiah/tahun dan CEOnya penghasilannya sampai rp 7 
milyar lebih per bulan sementara 11,5 juta rakyat Indonesia kurang gizi/busung 
lapar?

Apakah itu Neoliberal (ini ada di berbagai ensiklopedia) , Ekonomi Jalan Tengah 
(yang tidak ada di Ensiklopedi) , selama BUMN-BUMN dijual ke swasta/asing, 
selama kekayaan alam Indonesia diserahkan kepada asing, mayoritas rakyat 
Indonesia akan terpuruk dalam kemiskinan..
===

Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id


--- Pada Sen, 15/6/09, Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id> menulis:
Dari: Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id>
Topik: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Boediono Dicerca Neolib, Faisal Basri Nangis
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 15 Juni, 2009, 4:33 AM

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/15/15020598/boediono.dicerca.neolib.faisal.basri.nangis.

JAKARTA, KOMPAS.com — Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, 
mengaku menangis ketika mendengar Boediono, rekannya sesama ekonom, dicerca 
sebagai neoliberalis. 

Ceritanya terjadi ketika dirinya berada di Singapura pada pertengahan bulan Mei 
kemarin. Saat itu, Faisal mengaku tengah berada di dalam MRT di Negeri Merlion 
tersebut. Dirinya membaca berita-berita yang menyatakan bahwa Boediono itu 
neolib karena telah melakukan privatisasi BUMN. 

"Mungkin saya agak cengeng. Tapi saya benaran menangis melihat kawan saya 
dicerca," ujar Faisal pada acara peluncuran buku karya Boediono yang berjudul 
Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana?, Senin (15/6) di Gedung Perpustakaan Nasional. 

Saat itu juga, Faisal langsung mempercepat kepulangannya ke Indonesia lewat 
Batam. Dalam perjalanan pulang itulah, Faisal menuliskan artikel yang "membela" 
mantan gubernur Bank Indonesia itu dan mengirimkannya ke blog pribadinya di 
Kompasiana.com. Tulisannya itu kemudian mendapat tanggapan banyak orang. 

Buku Ekonomi Indonesia, Mau ke Mana? merupakan kumpulan esai ekonomi karya 
Boediono yang pernah diterbitkan di berbagai jurnal, surat kabar, dan majalah. 
Sepuluh esai yang dipublikasikan itu terdiri dari delapan tulisan ekonomi 
makro, satu keynote speech Gubernur Bank Indonesia, dan satu catatan pribadi 
tentang Prof Widjojo Nitisastro. 

Turut hadir dalam peluncuran buku tersebut sejumlah ekonom, seperti Tony 
Prasetiantono, Sumarlin, dan juga tokoh-tokoh pers, seperti Rosihan Anwar, 
Fikri Jukri, dan Rektor UGM Soedjarwadi.

Sent from Indosat Blackberry 

HIN 
__._,_.___
Messages in this topic (2) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Polls 
=====================================================
Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] :

1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS

2..Topik bahasan disarankan bersumber dari http://epaper.kompas.com/ , 
http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/

3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke 
anggota

4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected]

5.Untuk bergabung: [email protected]

KOMPAS LINTAS GENERASI

=====================================================
Catatan kaki:
*1 
http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia/

*2 Policy implications

Broadly speaking, neoliberalism seeks to transfer part of the control of the 
economy from state to the private sector,[5] to, ostensibly, bring a more 
efficient government and, to improve economic indicators of the nation. The 
definitive statement of the concrete policies advocated by neoliberalism is 
often taken to be John Williamson’s[6] “Washington Consensus”, a list of policy 
proposals that appeared to have gained consensus approval among the 
Washington-based international economic organizations (like the International 
Monetary Fund (IMF) and World Bank). Williamson’s list included ten points:

* Fiscal policy discipline;

* Redirection of public spending from subsidies (”especially indiscriminate 
subsidies”) toward broad-based provision of key pro-growth, pro-poor services 
like primary education, primary health care and infrastructure investment;

* Tax reform – broadening the tax base and adopting moderate marginal tax rates;

* Interest rates that are market determined and positive (but moderate) in real 
terms;

* Competitive exchange rates;

* Trade liberalization  – liberalization of imports, with particular emphasis 
on elimination of quantitative restrictions (licensing, etc.); any trade 
protection to be provided by law and relatively uniform tariffs;

* Liberalization of inward foreign direct investment;

* Privatization of state enterprises;

* Deregulation  – abolition of regulations that impede market entry or restrict 
competition, except for those justified on safety, environmental and consumer 
protection grounds, and prudent oversight of financial institutions; and,

* Legal security for property rights.

http://en.wikipedia.org/wiki/Neoliberalism


http://encarta.msn.com/encyclopedia_1741588397_2/globalization.html


The U.S. defense budget for 2009 is $655 billion. China's is $70 billion, 
Russia's is $50 billion. America's cumulative cost overruns add up to more than 
the total annual defense budgets of China, Russia, Britain and France combined. 
This smacks less of deterrence and more of mindless extravagance and waste.
http://www.newsweek.com/id/193487


===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id


      Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke 
Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! 
http://downloads.yahoo.com/id/internetexplorer

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke