Muhammadiyyah itu artinya pengikut Nabi Muhammad.
Nabi Muhammad itu menyeru manusia agar menyembah Allah dan tidak
mempersekutukannya dengan yang lain, termasuk tidak mempertuhankan Yesus.
Nabi Muhammad juga membawa Al Qur'an dan menyatakan bahwa Islam adalah satu2nya
agama yang diridhai Allah.
Jadi jika betul2 "Muhammadiyyah" atau pengikut Nabi Muhammad, tentu dia kan
masuk Islam dan mengikuti seluruh ajaran Nabi Muhammad.
Saya lihat ujung2 dari bom yang dilakukan segelintir orang tak dikenal
juntrungannya ini akhirnya memojokkan Islam keseluruhan dan berusaha merusak
ajaran Islam.
===
Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Info untuk Indonesia lebih baik: www.infoindonesia.wordpress.com
Belajar Islam via SMS: REG SI ke 3252 Berhenti ketik:UNREG SI Hanya dari
Telkomsel
Milis Syiar Islam: [email protected]
--- Pada Sel, 11/8/09, saidi <[email protected]> menulis:
Dari: saidi <[email protected]>
Judul: [Is-lam] Fw: Di dalam Muhammadiyah Muncul Kristen-Muhammadiyah
Kepada: "[is-lam]" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 11 Agustus, 2009, 2:56 AM
Muhammadiyah yang semakin liberal.....
----- Original Message -----
Sent: Tuesday, August 11, 2009 4:23 PM
Subject: Di dalam Muhammadiyah Muncul
Kristen-Muhammadiyah
Di dalam Muhammadiyah Muncul
Kristen-Muhammadiyah
FRANS
AGUNG
/
Selasa, 11 Agustus 2009 | 02:44 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi teror tidak hanya mengguncang
tata keamanan nasional, tapi juga wajah Islam ikut terbawa. Pelaku teror yang
mengatasnamakan Islam cukup mengundang reaksi dari banyak pihak. Di tengah
situasi demikian, saat proses hukum pascapeledakan bom Mega Kuningan masih
berlangsung, duet intelektual Muhammadiyah menerbitkan buku Kristen
Muhammadiyah Konvergensi Muslim dan Kristen dalam Pendidikan. "Kelahirannya
sangat tepat, soalnya ekstremisme dan terorisme sedang berkembang. Itu
merupakan
bentuk intolerisme," komentar Suyanto, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional, dalam peluncuran buku terbitan
Al-Wasat
Publishing House di Gedung Muhammadiyah Jakarta, Senin (10/8).
Buku karangan Abdul Mu'ti dan Fajar Riza Ul Haq ini memang mengisahkan
toleransi antara minoritas Islam dengan mayoritas Kristen baik Katolik maupun
Protestan dalam wadah pendidikan Muhammadiyah. Buku yang merupakan bagian dari
desertasi Mu'ti ini memaparkan bagaimana SMA Muhammadiyah di Ende diterima baik
oleh masyarakat yang mayoritas beragama Katolik. Bahkan 2/3 muridnya beragama
Katolik. Bagi mereka ini disediakan guru agama Katolik secara tersendiri.
Bagitu
pula dengan SMP Muhammadiyah di Serui Teluk Cenderawasih Papua dan SMA
Muhammadiyah di Putussibau Kalimantan Barat.
Selain di Putussibau perguruan yang dirintis Kyai Haji Ahmad Dahlan itu,
menyediakan guru Kristen atau Katolik dan tidak mewajibkan memakai jilbab bagi
yang non-Muslim. Dengan demikian, menurut Suyanto, melalui buku ini orang bisa
mengembangkan pendidikan partisipatif yang menjamin toleransi. "Pada prinsipnya
orang akan cepat belajar kalau ada contoh-contohnya. Ini contoh baik untuk
mengajari anak-anak dalam toleransi keberagaman," tuturnya.
Adapun menurut Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional pada
Kabinet Gotong Royong, buku setebal 269 halaman ini menarik karena mampu
menggugah kita bersama, bahwa bumi nusantara ini memerlukan upaya konvergensi
untuk mencari titik temu kemajemukan dalam menyongsong Indonesia baru. "Oleh
karena itu, saya yakin Indonesia mampu menjadi juru bicara perdamaian dunia,"
lontarnya.
Lain lagi pendapat Bambang Pranowo. Ia berpendapat karya paduan mantan ketua
umum PP Pemuda Muhammadiyah dan direktur program Ma'arif Institute ini menepis
paradigma Muhammadiyah yang puritan, tidak toleran dan tidak bersahabat dengan
tradisi lokal. Dari awalnya Muhammadiyah lekat dengan anti TBC (takhayul,
bid'ah
dan khurafat), namun akhirnya dikembalikan pada lambang matahari. "Sinarnya
memancar pada siapapun di manapun. Menyinari dengan amal karyanya terutama
melalui pendidikan," papar Bambang.
Sinar itu kini memacar di Ende, Serui dan Putussibu. Mereka hadir karena
mereka melihat titik temu kepentingan dakwah dengan kebutuhan masyarakat. Hal
ini terbukti, dengan melihat 2 alasan tertinggi kenapa banyak anak Katolik dan
Protestan bersekolah di Muhammadiyah, yakni karena bagus dan murah. "Musuh kita
sebagai musuh bersama adalah kemiskinan.. Siapapun yang concern pada hal ini
akan
diterima," ucap Bambang.
Saat ini, Fadjar menambahkan bahwa Muhammadiyah yang katanya puritan ternyata
telah berintegrasi dengan lahirnya Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama (MuNU) dan
Marhaenisme-Muhammadiya (Marmud). "Namun sekarang sudah tambah satu lagi,
Krismuha atau Kristen-Muhammadiyah. Krismuha adalah orang Kristen yang sangat
memahami, menjiwai dan mendukung Muhammadiyah,"
tandasnya.
Thanx
-----Berikut adalah Lampiran dalam Pesan-----
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
Pemerintahan yang jujur & bersih? Mungkin nggak ya? Temukan jawabannya di
Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam