TIDAK MASUK AKAL !!! 

he. he.. he.. Kebajikan memang tidak membutuhkan AKAL untuk bisa MASUK.

 

Ijinkan ocehan ini lewat sebelum brangkat kerja.

 

Kebajikan seketika menyeruak begitu saja tak perduli lewat lorong-lorong
pintu mana. 

Bahkan tak perduli lewat seorang pelacur jalanan yang kalian anggap hina
sekalipun.

 

Sementara kalian wahai tuan-tuan besar, dengan sebutir ilmu yg telah AKU
sematkan,

Kalian telah tdk sabar menanggung beban penguasaan atas dunia, 

kalian coba mencuri kesombongan yang sepenuhnya menjadi HAK KU.

Kini rasakan akibat dari segala perbuatan itu, perbuatan yg sungguh paling
AKU benci.

 

Meskipun berjuta-juta kali NamaKU kalian sebut. tetaplah kalian kufur.

Sebagaimana yg dilakukan para rahib-rahib dan pemuka agama dalam memusuhi
para nabiKU.

Kalian buta, kalian tidak pernah mengundang KU dalam perjamuan suci.

Kalian hanya kenal nama. nama. dan nama. 

tetapi kalian tidak pernah mengenali AKU, Pemilik Nama!

 

Tidakkah kalian mengenali kekasihku yang selalu merasakan jiwanya berada
dalam genggamanKU ?

 

J

Salam hangat

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Wong Lim Pok
Sent: 19 Agustus 2009 9:15
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] BUKU HARIAN SANG PRAMUGARI YANG MENGHARUKAN

 

BUKU HARIAN SANG PRAMUGARI YANG MENGHARUKAN

Seorang ayah tua yang datang dari desa, membopong sekantung ketela merah
kering menempuh jarak jauh pergi menjenguk anaknya yang sedang kuliah di
Beijing, tindak tanduknya selama di pesawat telah membuat seorang pramugari
yang baik hati menjadi terenyuh. Pramugari tersebut menuliskan rasa harunya
itu ke dalam buku harian dan disebar luaskan di internet, "Buku Harian Sang
Pramugari" ini dengan cepat telah membuat puluhan ribu Netter terharu.

Saya adalah seorang pramugari biasa dari Eastern Airlines, karena masa kerja
saya belum lama, jadi belum menjumpai masalah besar yang tidak bisa
dilupakan, setiap hari terlewati dengan hal-hal kecil yaitu menuangkan air
dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan dalam bekerja, sangatlah hambar.

Tapi hari ini, tanggal 7 Juni, saya telah menjumpai suatu kejadian yang
merubah pemikiran saya terhadap pekerjaan dan pandangan hidup.

Hari ini kami melakukan penerbangan dari Shanghai ke Beijing, penumpang saat
itu sangat banyak, satu unit pesawat terisi penuh.

Di antara rombongan orang yang naik pesawat ada seorang paman tua dari desa
yang tidak menarik perhatian, dia membopong satu karung goni besar di
punggungnya, dengan membawa aroma tanah yang khas dari pedesaan.

Saat itu saya sedang berada di depan pintu pesawat untuk menyambut para
tamu, pikiran pertama yang menghampiri saya saat itu adalah masyarakat
sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan seorang paman tua dari desa pun
memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh royal.

Ketika pesawat sudah mulai terbang datar, kami mulai menuangkan air, hingga
tiba di baris kursi ke 20-an, terlihat paman tua tersebut, dia duduk dengan
sangat hati-hati, tegak tidak bergerak sama sekali, karung goninya juga
tidak diletakkan di tempat bagasi bawaan, tingkah si paman tua itu
menggendong karung goni besar sekilas seperti rak penyangga bola dunia
(globe), tegak seperti patung.

Saat ditanya mau minum apa, dengan gugup dia menggoyang-goyangkan tangannya
dan berkata tidak mau. Saat hendak dibantu untuk menyimpan karungnya di
tempat bagasi dia juga menolak. Terpaksa kami biarkan dia menggendong karung
tersebut.

Beberapa saat kemudian tiba waktunya untuk membagikan makanan, kami
mendapatkan bahwa dia masih duduk dengan tegak dan tidak bergerak sama
sekali, kelihatannya sangat gelisah, saat diberi nasi, dia tetap saja
menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak mau.

Karenanya kepala pramugari datang menghampirinya dengan ramah menanyakan
apakah dia sedang sakit. Dengan suara lirih dia berkata ingin ke toilet tapi
dia tidak tahu apakah boleh berkeliaran di dalam pesawat, dia takut merusak
barang-barang yang ada di dalam pesawat.

Kami memberitahu dia tidak ada masalah dan menyuruh seorang pramugara
mengantarkannya ke toilet. Saat menambahkan air untuk kedua kalinya, kami
mendapati dirinya sedang mengamati penumpang lain minum air sambil terus
menerus menjilat-jilat bibirnya sendiri, karenanya kami lantas menuangkan
secangkir teh hangat dan kami letakkan di atas mejanya tanpa bertanya
kepadanya.

Siapa sangka tindakan kami ini membuat ia sangat ketakutan dan berkali-kali
ia mengatakan tidak perlu, kami pun berkata kepadanya minumlah jika sudah
haus. Mendengar demikian dia melakukan tindakan yang jauh lebih mengejutkan
lagi, buru-buru dia mengambil segenggam uang dari balik bajunya, semuanya
berupa uang koin satu sen-an, dan disodorkan kepada kami.

Kami mengatakan kepadanya bahwa minuman ini gratis, dia tidak percaya. Dia
sepanjang perjalanan beberapa kali ia masuk ke rumah orang untuk meminta air
minum tetapi tidak pernah diberi, bahkan selalu diusir dengan penuh
kebencian.

Akhirnya kami baru mengetahui ternyata demi menghemat uang, sepanjang
perjalanannya ia sebisa mungkin tidak naik kendaraan dan memaksakan diri
berjalan kaki hingga mencapai kota terdekat dengan bandara, barulah dia naik
taksi ke bandara, bekal uangnya tidak banyak, maka dia hanya bisa meminta
air minum dari depot ke depot sepanjang perjalanan yang dilewatinya. Sayang
sekali dia sering sekali diusir pergi, orang-orang menganggapnya pengemis.

Kami menasihatinya selama beberapa waktu lamanya hingga akhirnya dia mau
mempercayai kami, duduk, lalu perlahan-lahan meminum tehnya. Kami menanyakan
apakah dia lapar, maukah memakan nasi, dia masih tetap saja mengatakan tidak
mau.

Dia bercerita bahwa ia memiliki 2 orang putra, keduanya bisa diandalkan dan
sangat berguna, keduanya diterima di perguruan tinggi, yang bungsu sekarang
kuliah di semester 6, sedangkan si sulung telah bekerja.

Kali ini dia ke Beijing menjenguk anak bungsunya yang sedang kuliah. Karena
anak sulung sudah bekerja bermaksud menjemput kedua orang tuanya untuk
tinggal bersamanya di kota, akan tetapi kedua orang tuanya tidak terbiasa,
mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya lalu kembali lagi ke desa.

Kali ini karena anak sulungnya tidak ingin sang ayah susah payah naik
angkutan, maka dibelikanlah tiket pesawat khusus bagi ayahnya dan bermaksud
menemani ayahnya untuk berangkat bersama dengan pesawat karena sang ayah
tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya, ia sangat khawatir ayahnya tidak
mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya mati-matian tidak mau naik pesawat
karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu pemborosan.

Akhirnya setelah bisa dinasihati sang ayah tetap bersikukuh untuk berangkat
sendirian, tidak mau anaknya memboroskan uang untuk membeli selembar tiket
lagi.

Dia membopong sekarung ketela merah kering yang diberikan pada anak
bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum naik ke pesawat, petugas mengatakan
bahwa karungnya itu terlalu besar, dan memintanya agar karung itu dimasukkan
ke bagasi, namun dia mati-matian menolak, dia bilang takut ketelanya hancur,
jika hancur anak bungsunya tidak mau makan lagi. Kami memberitahu dia bahwa
barang bawaannya aman jika disimpan disitu, dia berdiri dengan waspada dalam
waktu lama, kemudian baru diletakkannya dengan hati-hati.

Selama dalam perjalanan di pesawat kami sangat rajin menuangkan air minum
untuknya, dan dia selalu dengan sopan mengucapkan terima kasih. Tapi dia
masih bersikukuh tidak mau makan. Walaupun kami tahu perut si paman tua
sudah sangat lapar. Sampai menjelang pesawat akan mendarat, dia dengan
sangat berhati-hati menanyakan kepada kami apakah kami bisa memberikan
sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan untuk membungkus nasi
jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.

Dia bilang selama ini dia tidak pernah mendapatkan makanan yang begitu enak,
dan dia akan bawakan makanan itu untuk diberikan kepada anak bungsunya. Kami
semua sangat terkejut.

Bagi kami nasi yang kami lihat setiap hari ini, ternyata begitu berharganya
bagi seorang kakek tua yang datang dari desa ini.

Dia sendiri enggan untuk makan, dia menahan lapar, demi untuk disisakan bagi
anaknya. Oleh karena itu, seluruh makanan yang sisa yang tidak terbagikan
kami bungkus semuanya untuk diberikan kepadanya agar dibawa. Lagi-lagi dia
menolak dengan penuh kepanikan, dia bilang dia hanya mau mengambil jatahnya
saja, dia tidak mau mengambil keuntungan dari orang lain. Kami kembali
dibuat terharu oleh paman tua ini.

Meskipun bukan suatu hal yang besar, akan tetapi bagi saya ini adalah suatu
pelajaran yang sangat mendalam.

Tadinya saya berpikir bahwa kejadian ini sudah selesai sampai disini saja,
siapa tahu setelah para tamu lainnya sudah turun dari pesawat, tinggallah
paman tua itu seorang diri, kami membantunya membawakan karung goninya
sampai ke pintu keluar, saat kami akan membantunya menaikkan karung goni
tersebut ke punggungnya, mendadak paman tua itu melakukan suatu tindakan
yang tak akan pernah saya lupakan seumur hidup: dia berlutut di atas tanah,
lalu dengan air mata berlinang dia bersujud kepada kami dan mengatakan,
"Kalian semua sungguh adalah orang-orang yang baik, kami orang desa sehari
hanya bisa makan nasi satu kali, selama ini kami belum pernah minum air yang
begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang begitu bagus, hari ini kalian
bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya, malah dengan ramah melayani
saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada kalian,
saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang baik suatu hari nanti akan
mendapatkan balasan yang baik".

Sambil tetap berlutut, sambil berkata seperti itu, sambil menangis, kami
semua buru-buru memapahnya untuk berdiri, sambil tiada hentinya
menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang penjaga yang bertugas untuk
membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat untuk melanjutkan
pekerjaan kami.

Terus terang saja, selama 5 tahun saya bekerja, di dalam pesawat saya telah
menemui berbagai macam penumpang, ada yang tidak beradab, ada yang main
pukul, juga ada yang berbuat onar tanpa alas an, tapi kami tidak pernah
menjumpai orang yang berlutut kepada kami, terus terang kami juga tidak
melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya menuangkan air agak sering untuk
beliau, hal ini telah membuat seseorang yang telah berumur 70 tahun lebih
berlutut untuk berterima kasih kepada kami, lagi pula melihat dia memanggul
satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela tidak makan dan menahan
lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan di pesawat, juga tidak mau
menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan menjadi miliknya, tidak
serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat mendalam, lain kali
saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas budi orang lain.

Adalah paman tua ini yang telah mengajarkan kepada saya, bagaimana saya
harus hidup dengan penuh kebajikan dan kejujuran. (The Epoch Times)

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke