Pak Gede, saya kemarini habis diskusi dengan seorang boss, dan saya sedikit 
protes ttg harga tiket nonton MU yang gak jadi ternyata ada yagn booking dengan 
harga puluhan juga untuk nginap bareng tokoh idola. Atau ngopi puluhan ribu 
secangkir. Saya dibilang bahwa otak IT kok badan wadag masih dibungkus era 
bercocok tanam. Jadi ibarat menganut ilmu ke-AKU-an dianggap pada maqom yang 
berbeda... ya saya akhirnya manggut-manggut saja... ya maqom duiknya beda ....


MAwan



--- On Thu, 8/20/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote:

> From: Dewa Gede Permana <[email protected]>
> Subject: Re: [Is-lam] BUKU HARIAN SANG PRAMUGARI YANG MENGHARUKAN
> To: [email protected]
> Date: Thursday, August 20, 2009, 10:07 AM
> 
> 
> 
>  
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> TIDAK
> MASUK AKAL !!!  
> 
> he…
> he.. he….
> Kebajikan memang tidak membutuhkan AKAL untuk bisa
> MASUK. 
> 
> 
>   
> 
> Ijinkan
> ocehan ini lewat sebelum
> brangkat kerja… 
> 
> 
>   
> 
> Kebajikan
> seketika menyeruak
> begitu saja tak perduli lewat lorong-lorong pintu mana.
>  
> 
> Bahkan
> tak perduli lewat seorang
> pelacur jalanan yang kalian anggap hina
> sekalipun. 
> 
> 
>   
> 
> Sementara
> kalian wahai tuan-tuan
> besar, dengan sebutir ilmu yg telah AKU
> sematkan, 
> 
> Kalian
> telah tdk sabar
> menanggung beban penguasaan atas dunia,  
> 
> kalian
> coba mencuri kesombongan
> yang sepenuhnya menjadi HAK KU. 
> 
> Kini
> rasakan akibat dari segala
> perbuatan itu, perbuatan yg sungguh paling AKU
> benci. 
> 
> 
>   
> 
> Meskipun
> berjuta-juta kali
> NamaKU kalian sebut… tetaplah kalian
> kufur. 
> 
> Sebagaimana yg dilakukan para
> rahib-rahib dan pemuka agama dalam memusuhi para
> nabiKU. 
> 
> Kalian
> buta, kalian tidak pernah
> mengundang KU dalam perjamuan suci. 
> 
> Kalian
> hanya kenal nama…
> nama… dan nama…  
> 
> tetapi
> kalian tidak pernah
> mengenali AKU, Pemilik Nama! 
> 
> 
>   
> 
> Tidakkah
> kalian mengenali
> kekasihku yang selalu merasakan jiwanya berada dalam
> genggamanKU ? 
> 
> 
>   
> 
> J 
> 
> Salam
> hangat 
> 
> 
>   
> 
> 
> 
> 
> 
> From:
> [email protected]
> [mailto:[email protected]] On Behalf
> Of Wong Lim Pok
> 
> Sent: 19 Agustus 2009 9:15
> 
> To: [email protected]
> 
> Subject: [Is-lam] BUKU HARIAN SANG PRAMUGARI YANG
> MENGHARUKAN 
> 
> 
> 
> 
> 
>    
> 
> BUKU HARIAN SANG PRAMUGARI YANG
> MENGHARUKAN
> 
> 
> 
> Seorang ayah tua yang datang
> dari desa, membopong
> sekantung ketela merah kering menempuh jarak jauh pergi
> menjenguk anaknya yang
> sedang kuliah di Beijing, tindak tanduknya selama di
> pesawat telah membuat
> seorang pramugari yang baik hati menjadi terenyuh.
> Pramugari tersebut
> menuliskan rasa harunya itu ke dalam buku harian dan
> disebar luaskan di
> internet, “Buku Harian Sang Pramugari” ini
> dengan cepat telah membuat
> puluhan ribu Netter terharu…
> 
> 
> 
> Saya adalah seorang
> pramugari biasa dari Eastern
> Airlines, karena masa kerja saya belum lama, jadi belum
> menjumpai masalah besar
> yang tidak bisa dilupakan, setiap hari terlewati dengan
> hal-hal kecil yaitu
> menuangkan air dan menyuguhkan teh. Tidak ada kegairahan
> dalam bekerja,
> sangatlah hambar.
> 
> 
> 
> Tapi hari ini, tanggal 7
> Juni, saya telah
> menjumpai suatu kejadian yang merubah pemikiran saya
> terhadap pekerjaan dan
> pandangan hidup.
> 
> 
> 
> Hari ini kami melakukan
> penerbangan dari Shanghai
> ke Beijing, penumpang saat itu sangat banyak, satu unit
> pesawat terisi penuh.
> 
> 
> 
> Di antara rombongan orang
> yang naik pesawat ada
> seorang paman tua dari desa yang tidak menarik perhatian,
> dia membopong satu
> karung goni besar di punggungnya, dengan membawa aroma
> tanah yang khas dari
> pedesaan.
> 
> 
> 
> Saat itu saya sedang berada
> di depan pintu pesawat
> untuk menyambut para tamu, pikiran pertama yang menghampiri
> saya saat itu
> adalah masyarakat sekarang ini sudah sangat makmur, bahkan
> seorang paman tua
> dari desa pun memiliki uang untuk naik pesawat, sungguh
> royal.
> 
> 
> 
> Ketika pesawat sudah mulai
> terbang datar, kami
> mulai menuangkan air, hingga tiba di baris kursi ke 20-an,
> terlihat paman tua
> tersebut, dia duduk dengan sangat hati-hati, tegak tidak
> bergerak sama sekali,
> karung goninya juga tidak diletakkan di tempat bagasi
> bawaan, tingkah si paman
> tua itu menggendong karung goni besar sekilas seperti rak
> penyangga bola dunia
> (globe), tegak seperti patung.
> 
> 
> 
> Saat ditanya mau minum apa,
> dengan gugup dia
> menggoyang-goyangkan tangannya dan berkata tidak mau. Saat
> hendak dibantu untuk
> menyimpan karungnya di tempat bagasi dia juga menolak.
> Terpaksa kami biarkan
> dia menggendong karung tersebut.
> 
> 
> 
> Beberapa saat kemudian tiba
> waktunya untuk
> membagikan makanan, kami mendapatkan bahwa dia masih duduk
> dengan tegak dan
> tidak bergerak sama sekali, kelihatannya sangat gelisah,
> saat diberi nasi, dia
> tetap saja menggoyangkan tangannya menolak tanda tidak
> mau.
> 
> 
> 
> Karenanya kepala pramugari
> datang menghampirinya
> dengan ramah menanyakan apakah dia sedang sakit. Dengan
> suara lirih dia berkata
> ingin ke toilet tapi dia tidak tahu apakah boleh
> berkeliaran di dalam pesawat,
> dia takut merusak barang-barang yang ada di dalam
> pesawat.
> 
> 
> 
> Kami memberitahu dia tidak
> ada masalah dan
> menyuruh seorang pramugara mengantarkannya ke toilet. Saat
> menambahkan air
> untuk kedua kalinya, kami mendapati dirinya sedang
> mengamati penumpang lain
> minum air sambil terus menerus menjilat-jilat bibirnya
> sendiri, karenanya kami
> lantas menuangkan secangkir teh hangat dan kami letakkan di
> atas mejanya tanpa
> bertanya kepadanya.
> 
> 
> 
> Siapa sangka tindakan kami
> ini membuat ia sangat
> ketakutan dan berkali-kali ia mengatakan tidak perlu, kami
> pun berkata
> kepadanya minumlah jika sudah haus. Mendengar demikian dia
> melakukan tindakan
> yang jauh lebih mengejutkan lagi, buru-buru dia mengambil
> segenggam uang dari
> balik bajunya, semuanya berupa uang koin satu sen-an, dan
> disodorkan kepada
> kami.
> 
> 
> 
> Kami mengatakan kepadanya
> bahwa minuman ini
> gratis, dia tidak percaya. Dia sepanjang perjalanan
> beberapa kali ia masuk ke
> rumah orang untuk meminta air minum tetapi tidak pernah
> diberi, bahkan selalu
> diusir dengan penuh kebencian.
> 
> 
> 
> Akhirnya kami baru
> mengetahui ternyata demi
> menghemat uang, sepanjang perjalanannya ia sebisa mungkin
> tidak naik kendaraan
> dan memaksakan diri berjalan kaki hingga mencapai kota
> terdekat dengan bandara,
> barulah dia naik taksi ke bandara, bekal uangnya tidak
> banyak, maka dia hanya
> bisa meminta air minum dari depot ke depot sepanjang
> perjalanan yang
> dilewatinya. Sayang sekali dia sering sekali diusir pergi,
> orang-orang
> menganggapnya pengemis.
> 
> 
> 
> Kami menasihatinya selama
> beberapa waktu lamanya
> hingga akhirnya dia mau mempercayai kami, duduk, lalu
> perlahan-lahan meminum
> tehnya. Kami menanyakan apakah dia lapar, maukah memakan
> nasi, dia masih tetap
> saja mengatakan tidak mau.
> 
> 
> 
> Dia bercerita bahwa ia
> memiliki 2 orang putra,
> keduanya bisa diandalkan dan sangat berguna, keduanya
> diterima di perguruan
> tinggi, yang bungsu sekarang kuliah di semester 6,
> sedangkan si sulung telah
> bekerja.
> 
> 
> 
> Kali ini dia ke Beijing
> menjenguk anak bungsunya
> yang sedang kuliah. Karena anak sulung sudah bekerja
> bermaksud menjemput kedua
> orang tuanya untuk tinggal bersamanya di kota, akan tetapi
> kedua orang tuanya
> tidak terbiasa, mereka hanya menetap beberapa waktu lamanya
> lalu kembali lagi
> ke desa.
> 
> 
> 
> Kali ini karena anak
> sulungnya tidak ingin sang
> ayah susah payah naik angkutan, maka dibelikanlah tiket
> pesawat khusus bagi
> ayahnya dan bermaksud menemani ayahnya untuk berangkat
> bersama dengan pesawat
> karena sang ayah tidak pernah menumpang pesawat sebelumnya,
> ia sangat khawatir
> ayahnya tidak mengenali jalan. Akan tetapi ayahnya
> mati-matian tidak mau naik
> pesawat karena beranggapan bahwa hal tersebut adalah suatu
> pemborosan.
> 
> 
> 
> Akhirnya setelah bisa
> dinasihati sang ayah tetap
> bersikukuh untuk berangkat sendirian, tidak mau anaknya
> memboroskan uang untuk
> membeli selembar tiket lagi.
> 
> 
> 
> Dia membopong sekarung
> ketela merah kering yang
> diberikan pada anak bungsunya. Ketika pemeriksaan sebelum
> naik ke pesawat,
> petugas mengatakan bahwa karungnya itu terlalu besar, dan
> memintanya agar
> karung itu dimasukkan ke bagasi, namun dia mati-matian
> menolak, dia bilang
> takut ketelanya hancur, jika hancur anak bungsunya tidak
> mau makan lagi. Kami
> memberitahu dia bahwa barang bawaannya aman jika disimpan
> disitu, dia berdiri
> dengan waspada dalam waktu lama, kemudian baru
> diletakkannya dengan hati-hati.
> 
> 
> 
> Selama dalam perjalanan di
> pesawat kami sangat
> rajin menuangkan air minum untuknya, dan dia selalu dengan
> sopan mengucapkan
> terima kasih. Tapi dia masih bersikukuh tidak mau makan.
> Walaupun kami tahu
> perut si paman tua sudah sangat lapar. Sampai menjelang
> pesawat akan mendarat,
> dia dengan sangat berhati-hati menanyakan kepada kami
> apakah kami bisa
> memberikan sebuah kantongan kepadanya, yang akan digunakan
> untuk membungkus
> nasi jatahnya tersebut untuk dia bawa pergi.
> 
> 
> 
> Dia bilang selama ini dia
> tidak pernah mendapatkan
> makanan yang begitu enak, dan dia akan bawakan makanan itu
> untuk diberikan
> kepada anak bungsunya. Kami semua sangat terkejut.
> 
> 
> 
> Bagi kami nasi yang kami
> lihat setiap hari ini,
> ternyata begitu berharganya bagi seorang kakek tua yang
> datang dari desa ini.
> 
> 
> 
> Dia sendiri enggan untuk
> makan, dia menahan lapar,
> demi untuk disisakan bagi anaknya. Oleh karena itu, seluruh
> makanan yang sisa
> yang tidak terbagikan kami bungkus semuanya untuk diberikan
> kepadanya agar
> dibawa. Lagi-lagi dia menolak dengan penuh kepanikan, dia
> bilang dia hanya mau
> mengambil jatahnya saja, dia tidak mau mengambil keuntungan
> dari orang lain.
> Kami kembali dibuat terharu oleh paman tua ini.
> 
> 
> 
> Meskipun bukan suatu hal
> yang besar, akan tetapi
> bagi saya ini adalah suatu pelajaran yang sangat
> mendalam.
> 
> 
> 
> Tadinya saya berpikir bahwa
> kejadian ini sudah
> selesai sampai disini saja, siapa tahu setelah para tamu
> lainnya sudah turun
> dari pesawat, tinggallah paman tua itu seorang diri, kami
> membantunya
> membawakan karung goninya sampai ke pintu keluar, saat kami
> akan membantunya
> menaikkan karung goni tersebut ke punggungnya, mendadak
> paman tua itu melakukan
> suatu tindakan yang tak akan pernah saya lupakan seumur
> hidup: dia berlutut di
> atas tanah, lalu dengan air mata berlinang dia bersujud
> kepada kami dan
> mengatakan, “Kalian semua sungguh adalah orang-orang
> yang baik, kami
> orang desa sehari hanya bisa makan nasi satu kali, selama
> ini kami belum pernah
> minum air yang begitu manis, tidak pernah melihat nasi yang
> begitu bagus, hari
> ini kalian bukan saja tidak membenci dan menjauhi saya,
> malah dengan ramah
> melayani saya, sungguh saya tidak tahu bagaimana harus
> berterima kasih kepada
> kalian, saya hanya bisa berharap kalian orang-orang yang
> baik suatu hari nanti
> akan mendapatkan balasan yang baik”.
> 
> 
> 
> Sambil tetap berlutut,
> sambil berkata seperti itu,
> sambil menangis, kami semua buru-buru memapahnya untuk
> berdiri, sambil tiada
> hentinya menasihatinya dan menyerahkannya kepada seorang
> penjaga yang bertugas
> untuk membantunya, setelah itu kami baru kembali ke pesawat
> untuk melanjutkan
> pekerjaan kami.
> 
> 
> 
> Terus terang saja, selama 5
> tahun saya bekerja, di
> dalam pesawat saya telah menemui berbagai macam penumpang,
> ada yang tidak
> beradab, ada yang main pukul, juga ada yang berbuat onar
> tanpa alas an, tapi
> kami tidak pernah menjumpai orang yang berlutut kepada
> kami, terus terang kami
> juga tidak melakukan hal yang khusus kepadanya, hanya
> menuangkan air agak
> sering untuk beliau, hal ini telah membuat seseorang yang
> telah berumur 70
> tahun lebih berlutut untuk berterima kasih kepada kami,
> lagi pula melihat dia
> memanggul satu karung ketela merah kering, dia sendiri rela
> tidak makan dan
> menahan lapar demi membawakan anaknya nasi yang dibagikan
> di pesawat, juga
> tidak mau menerima nasi jatah milik orang lain yang bukan
> menjadi miliknya,
> tidak serakah, saya sungguh merasakan penyesalan yang amat
> mendalam, lain kali
> saya harus bisa belajar berterima kasih, belajar membalas
> budi orang lain.
> 
> 
> 
> Adalah paman tua ini yang
> telah mengajarkan kepada
> saya, bagaimana saya harus hidup dengan penuh kebajikan dan
> kejujuran. (The
> Epoch Times) 
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 
> -----Inline Attachment Follows-----
> 
> _______________________________________________
> Is-lam mailing list
> [email protected]
> http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
> 


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke