Tergugah Terbunuhnya Profesor Dawood dari Serambi Makkah
Kemana ilmuwan yang dalam bahaya mencari perlindungan? Kehadiran Scholars at Risk (SAR) menjadi shelter bagi akademisi yang dalam kondisi darurat itu. "Saya hanya menolong orang-orang yang juga memberi pertolongan pada yang lain." Kata-kata ini ditegaskan Robert Quinn, pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Scholars at Risk (SAR). Lembaga nonprofit yang dirintisnya memiliki jaringan lebih dari 200 universitas yang tersebar di 26 negara. Tujuannya hanya satu, memberikan jasa keamanan secara profesional agar ilmuwan terbebas dari ancaman fisik dan emosional. Sehingga mereka bisa bebas berkreasi, bertukar pendapat dan mengembangkan relasi. Salah satu peristiwa memilukan yang terekam kuat di benak Quinn adalah kematian Profesor Dayan Dawood. Rektor Universitas Syiah Kuala, Aceh, itu tewas terbunuh pada 6 September 2001. Padahal, empat hari sebelumnya Dawood masih sempat menujukkan semangatnya berdiskusi di hadapan publik. Dengan semangat membara Dawood menyampaikan bahwa universitas tempatnya bekerja membutuhkan tempat yang netral guna membicarakan resolusi perdamaian, terkait krisis politik yang terjadi di Serambi Makkah kala itu. "Kami mencoba membangun dunia yang lebih baik termasuk bertanggung jawab atas ilmu pengetahuan dan (menjamin) adanya kebebasan dalam bertukar pikiran," tutur Quinn kepada The Christian Science Monitor. Keinginan Quinn untuk bekerja membela hak asasi manusia muncul segera setelah dia menempuh pendidikan politik dari Princeton University dan bidang hukum dari Fordham Law School. Proyek pertamanya berlangsung pada 1999. Ketika MacArthur Foundation bersedia menjadi pemberi dana Quin dengan cepat merilis SAR pada 2000. Badan yang bermarkas di New York University ini sama sekali tidak mengambil keuntungan sepersen pun. Salah satu akademisi yang ditolongnya adalah Taslima Nasrin dari Bangladesh. Jiwa Nasrin sejatinya berada dalam bahaya sejak 1994. Kesalahannya hanya satu, dia getol memperjuangkan hak-hak perempuan melalui berbagai karya tulisannya. Untuk itu dia pindah ke India pada 2008. Tetapi ternyata kondisinya tak ada yang berbeda. Hidupnya kembali terancam. Sekelompok penganut agama yang fanatik menghadang dan mengancam Nasrin. Sebab dia berusaha untuk menulis dan berbicara mengenai kebebasan wanita. Demi keselamatannya, Nasrin tidak mungkin kembali ke dua negara tersebut. "SAR membantuku bertahan di tanah yang baru," ungkap Nasrin yang kini menjadi bagian dari ilmuwan SAR di New York University. Pengakuan senada diucapkan Profesor Radwan Ziadeh. Kini Ziadeh menjadi bagian dari Universitas Harvard di bagian pusat pelayanan kebijakan hak asasi manusia. "Saya selalu mengatakan ada perbedaan besar ketika berada di Harvard dan di penjara di Syria, tempat tinggalku," ujar Ziadeh. "SAR memberiku atmosfer (baru) untuk dapat melanjutkan penelitian. Sekarang, saya hampir menyelesaikan buku yang akan dipublikasikan tahun depan. Dan berkat SAR saya telah berpartisipasi di lebih dari 25 konferensi dan workshop baik tingkat nasional dan internasional," imbuh Ziadeh. Sebenarnya untuk menjadi bagian dari SAR cukup mudah. Syaratnya hanyalah Anda haruslah seorang ilmuwan dan berada dalam bahaya. "Bagiku, pendidikan adalah peluru perak. Ketika kami mempertahankan ilmuwan ini, kami melangkah ke dalam kekuatan pendidikan untuk merubah dunia menjadi lebih baik," tegas Quinn. SAR bergerak di dua area. Pertama membantu seseorang dalam hal ini ilmuan yang menghadapi ancaman maut. SAR mencoba menolong untuk mendapatkan keamanan di negaranya sendiri. Namun, jika terpaksa, SAR berusahan mencarikan pekerjaan sebagai dosen atau guru besar di universitas lain. Atau membantu mereka mendaftarkan ke program yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Bidang yang kedua, SAR berusaha untuk menemukan solusi jangka panjang. Seperti membantu melakukan penelitian, workshop dan membentuk jaringan di seluruh dunia. untuk itu, SAR berusaha melihat akar permasalahan yang ada. SAR mengupas penyebab mengapa kelompok masyarakat (bukan hanya pemerintah) ingin mencegah pertukaran ide secara bebas. Dan, menurut mereka jawabannya adalah budaya, kepentingan komersial, gender, atau agama yang berbeda. (jawapos) Alkhori M Alkhor Community Qatar
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
