From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Agus Safudi Sent: 23 September 2009 6:06 To: [email protected] Subject: Re: [Is-lam] Mari Bersama Memantapkan Ummat Islam di Indonesia dan Mencegah Pemurtadan --- Pada Sel, 22/9/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> menulis: Dari: Dewa Gede Permana <[email protected]> Judul: Re: [Is-lam] Mari Bersama Memantapkan Ummat Islam di Indonesia dan Mencegah Pemurtadan Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 22 September, 2009, 1:16 AM >Bayi nggak dimana-mana kalo lahir besar kemungkinan akan nangis (siapa >tuh yg >nyuruh nangis?) dan suara tangisnya ya sama gitu-gitu aja, blom >terima >pelajaran “nangis berbudaya” ala Indonesia, cina, rusia, dst… he.he.. He..he..he..lha ya itu mas, pada saat akal nya katanya sudah sempurna, pada saat sudah bisa menerima persepsi kok ya malah berubah dari fitrah..tapi para ahli bilang budaya adalah produk pemikiran manusia yang terkait dengan ruang dan waktu..,mungkin bayi belum sempurna akalnya sehingga dimana-mana bayi itu sama nangisnya, he..he..he..tapi bayi itu lahir sesuai degnan fitrahnya...(sesuai fitrah tapi akal ndak sempurna, wah piye iki,..hik..hik..hik..). Yang sempurna itu…. tuh Andra & The Backbone…. JJ Mas apakah ada hal-hal yang bisa mengingatkan kita setelah lahir dan akalnya sempurna bahwa dulu di alam arwah Allah pernah menanyakan/mengingatkan kita, tahu ndak, kalo tahu kasih tahu saya ya..he..he..he.. Gimana mas Agus ini, saya kan dulu juga pernah nanya masalah alam alastu tapi gak ada yg nyahut, dicuekin jeh… kacian deh gw…. qiqiqiiii…. >Sedangkan dlm sejarah masuknya “Islam” yg dibawa oleh Walisongo ke >Indonesia, >bukanlah berarti bhw konsep syahadat itu sama sekali tidak >pernah ada di bumi >nusantara ini sebelumnya, akan tetapi konsep tsb sudah >mulai luntur >tercampur-aduk dengan konsep2 budaya lokal. Ini konsepnya yang mana ya mas yang sampeyan maksud, apa maksute seperti yang saya tulis di atas, yang diterima di alam bawah sadar..mungkin alam bawah sadarnya terlalu bawah jadi susah naik ke permukaan ngkali ya he..he..he.. Ya iya… yg ada dibawah gundukan permukaan laut kesadaran preconscious sampai unconscious (kalo pinjam istilah di psikoanalisis). >Dari situ para Wali meluruskan kembali sesuatu yg esensial yg telah luntur >>tsb, menuju pemahaman hakikat yg semestinya. Selama para Wali masih >hidup >tentu saja mereka menjaga ajarannya; akan tetapi setelah selang >beberapa >generasi kemudian… ya kembali lagi tercampur aduk dengan >budaya baru hasil >olah pikir manusia generasi baru, dan itu artinya terjadi >kekotoran lagi…. >begitu terus pola yg terjadi, saling silang pengaruh; Jadi yang harus dilakukan itu kritik nalar terhadap BUDAYA atawa kritik nalar terhadap TEKS mas Dewa?... Nurut saya lebih tepatnya adalah kritik terhadap pemahaman pribadi, yaitu pemahaman thd budaya maupun pemahaman terhadap teks. >dan proses-proses ini semua sering kita kenali dengan istilah “peradaban”. >>Peradaban islami adalah peradaban dimana masyarakatnya mampu >mempertahankan >konsep syahadat sebagai ajaran pokok dlm >bermasyarakat, dan oleh karenanya >mereka disebut sebagai golongan >beradab. Dan kelompok masyarakat yg gagal >menjaga ini akan disebutnya >sebagai golongan masyarakat biadab atau jahiliyah >alias bodoh, meskipun >menguasai teknologi canggih, bisa mengintip planet >Pluto, korupsi gak >karuan, kemana-mana bawa blackberry, macam wisata kuliner, > trus upload >foto-foto makanan2 mewah ke fesbuk tapi gak tersentuh lagi fakir >miskin >itu buka puasanya pake apa…. J Ngono ya mas,...Wah sampeyan bisa di seneni sama samuel huntington lho mas, bawa blackberry (HiTech) dibilang jahiliyah dan biadab, itukan salah satu ciri peradaban..he..he..(sampeyan punya fesbuk ndak ya,.cmiw.) Iya ya.. Huntington pasti bilang saya ni orang kafir kale…. xixixiii….. >Mengenai Pokok dan cabang, saya kog melihatnya gini mas, cabang itu >buanyak >sekali dan justru manusia itu suka rame di yang cabang-cabang itu. >Karena >saking khusyu nya ngurusi cabang gak tahu nya malah terlupakan >yang Pokok. >Dunia ini rame oleh urusan percabangan tapi sepi urusan >pokok, (--deleted--) Ya lumrah mas, mungkin hukum alam kali ya..he..he..lha wong burung aja nemploknya di cabang atawa ranting, gak di batang utama mas, kenapa ndak bisa,...ntar kepleset ngkali he..he..he..he.. Itu masih mending mas, banyak yg melihat bhw segala sesuatu itu nggak ada bagian yg pokok. Tau-tau mak jleg ranting semuah…. trus nganggap hidup ini permainan yg tak berujung pangkal, ya sudah hidup menjadi tak ada tujuan nilai-nilai tinggi yg hendak diraih. >Jujur saja bhw dari dulu kajian sifat 20 itulah yg membawa saya mengkaji >diri >pribadi. Syukur lah kalo sampeyan begitu, tapi apa cuma 20 ya DIA punya sifat, padahal ALLAH itu kan YANG MAHA MEMILIKI mas.. Tau tuh siapa dulu yg bilang cuma 20? Kalo saya nggak gitu nanya nya mas, tapi “mana dari sifat-sifat itu yg menjadi bukti di diri sendiri ?” >Nafsul muthmainah (jiwa tenang) itu bukannya kondisi berIslam (tunduk >patuh) >itu sendiri tha mas? >Maksute semacam keadaan yg “terberikan”, jiwa terdudukan dalam posisi >tenang, >untuk kemudian melakukan perjalanan berikutnya. Ada orang ndak/bukan Islam dan belum berIslam tapi tenang, kalem, ndak pemarah, tapi ada yang sebaliknya, he..he..he.."Fa alhamaha fujuraha wa taqwa ha"... Ini bukan keadaan yg ditenang-tenangkan (padahal didalem usrek-umek), atau dikalem2kan (padahal didalem nguamukan), atau disengaja-sengajakan…. tetapi suatu keadaan yang “kembali kepada Allah”. >wassalam _____ Yahoo! Mail Kini Lebih Cepat dan Lebih Bersih. <http://id.mail.yahoo.com> Rasakan bedanya sekarang!
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
