Tinjauan Kecerdasan Spiritual (SQ) Terhadap Permasalahan Sosial di Indonesia

 

 

Rahmat Ismail

 

Ketua Umum 2004-2007

PP Himpunan Psikologi Indonesia

 

 

 

Abstrak

 

Krisis moneter yang menimpa beberapa negara di Asia Tenggara pada tahun 1997
telah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan ekonomi, politik dan
sosial di Indonesia.

 

Di Indonesia sangat dirasakan adanya krisis ekonomi yang dimulai dari
kehancuran sektor perbankan, dilanjutkan dengan penarikan dana yang sangat
besar dari Bank Indonesia dalam bentuk BLBI untuk penyehatan sektor
perbankan. Akan tetapi justru yang terjadi adalah maraknya perdagangan
valuta asing sehingga nilai tukar rupiah jatuh ke titik yang terendah.

 

Kemelut dalam bidang politikpun terjadi. Presiden Suharto setelah berkuasa
lebih dari 32 tahun terpaksa harus meletakkan jabatan. Wakil Presiden saat
itu, BJ Habibie, diangkat menjadi Presiden. Melalui Sidang Istimewa MPR RI,
diputuskan adanya pemilihan umum dipercepat. Hasilnya terpilih Presiden baru
Abdurrachman Wahid, yang juga tidak dapat bertahan lama karena dianggap
sering mengambil keputusan yang kontroversial. Melalui Sidang Istimewa MPR
RI Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri diangkat menjadi presiden.

 

Muncul berbagai permasalahan sosial di hampir seluruh wilayah Indonesia.
Kerusuhan dengan latarbelakang kesukuan, agama, politik dan ekonomi telah
memicu berbagai unjuk rasa, main hakim sendiri hingga pertumpahan darah.

 

Pendekatan yang memanfaatkan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence)
diharapkan dapat menjadi alernatif pemecahan masalah konflik sosial yang
saat ini sedang terjadi di Indonesia.

 

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Krisis moneter yang diawali sejak pertengahan tahun 1997 dan terjadi di Asia
Tenggara, telah membawa dampak yang sangat besar dalam kehidupan
bangsa-bangsa menjelang diberlakukannya Zona Perdagangan Bebas.

 

Dimulai dengan adanya guncangan ekonomi di Kerajaan Gajah Putih Thailand,
dimana nilai tukar mata uang Bath yang selama 40 tahun terakhir berkisar
sekitar 24 Bath untuk 1 dollar Amerika, pada bulan April 1997 telah terpuruk
menjadi 50 Bath. Jatuhnya mata uang Bath ini menjadi pemicu dimulainya
krisis ekonomi di Korea, Malaysia, Philipina, Singapura dan Indonesia.

 

Perbaikan yang dilakukan di negara-negara Thailand, Korea, Malaysia,
Philipina dan Singapura dapat cepat membawa hasil, karena krisis yang mereka
alami hanya menyangkut moneter saja. Berbeda dengan di Indonesia, dimana
terjadinya krisis moneter telah diikuti pula oleh krisis politik yang pada
akhirnya menjadi sebuah krisis sosial.

 

 

 

Krisis multi dimensi di Indonesia

 

Krisis ekonomi di Indonesia diawali sejak dilakukannya praktik perdagangan
monopoli yang dilakukan oleh elit tertentu dan didukung oleh kekuatan
politik yang ada. Kekuatan ekonomi yang dibentuk dan ditentukan oleh
kekuasaan politik ini telah mendorong tumbuh suburnya korupsi di pelbagai
lini birokrasi pemerintahan dan militer.

 

Dalam bidang keuangan, lembaga perbankan lahir dengan mudah karena
persyaratan pendirian yang sangat ringan. Akan tetapi dalam perkembangannya,
dana yang dikumpulkan oleh perbankan di Indonesia lebih banyak digunakan
hanya untuk membiayai usaha dari kelompok pemilik bank itu sendiri. Karena
sebagian besar dari usaha ini gagal, maka perbankan harus memikul beban
kerugian yang sangat berat.

 

Akibatnya, likwiditas perbankan menjadi sangat lemah. L/C yang sudah dibuka
dan jatuh tempo untuk dibayarkan, tidak dapat dicairkan oleh bank-bank di
luar negeri. Oleh karena seringnya perbankan kalah kliring, mereka meminjam
dari bank yang lain dengan bunga yang sangat tinggi. Untuk mengatasi
permasalahan ini sekelompok pengusaha perbankan mengajukan permohonan
bantuan likwiditas dari Bank Indonesia dan terjadilah penarikan uang negara
secara besar-besaran yang diberikan kepada sekelompok pengusaha perbankan
yang dikenal sebagai kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) pada
bulan Nopember 1997. Di perkirakan dana BLBI tersebut sebagian besar tidak
digunakan untuk menyehatkan keuangan perbankan di dalam negeri, melainkan
dipindahkan ke luar negeri dipakai untuk spekulasi valuta asing. Fuad
Bawazier, mantan Menteri Keuangan yang pernah memeriksa BLBI menyebut kasus
ini sebagai "perampokan bank terbesar di dunia yang dilakukan secara
terang-terangan di siang hari bolong"

 

Nilai tukar rupiah yang sebelum masa krisis masih bisa bertahan pada posisi
sekitar Rp. 2.250 untuk 1 dollar Amerika telah merosot ke Rp. 4.000 pada
saat BLBI dilakukan. Akan tetapi hanya dalam waktu 45 hari setelah BLBI
dikucurkan, nilai tukar rupiah justru merosot empat kali lipat hingga
mencapai titik terendahnya pada pertengahan Februari 1998 senilai Rp 16.000
untuk 1 dollar Amerika. Suatu nilai tukar yang tidak pernah terbayangkan
akan terjadi menimpa ekonomi Indonesia.

 

 

NAMA BANK PENERIMA

JUMLAH POKOK

 

1. BDNI / Sjamsul Nursalim

Rp. 37.040 milyar

 

2. BCA / Soedono Salim

Rp. 26.596 milyar

 

3. DANAMON / Usman Atmadjaja

Rp. 23.050 milyar

 

4. BUN / Bob Hasan

Rp. 12.068 milyar

 

5. BIRA / Bambang Winarso

Rp. 4.018 milyar

 

6. BHS / Hendra Rahardja

Rp. 3.866 milyar

 

Tabel 1. Lima besar penerima BLBI (Sumber BI dan BPK)

 

Sebagai dampak dari merosotnya nilai tukar rupiah, terjadinya penguasaan
perekonomian di tangan sekelompok pengusaha besar dan penumpukan kekayaan
pada sekelompok orang saja, terutama di tangan pejabat negara dan militer
yang korup, semakin menyebabkan rasa ketidak percayaan rakyat terhadap
pemerintahan yang ada. Dipicu oleh pengunduran diri sejumlah Menteri Kabinet
Pembangunan 2 bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri yang diprakarsai oleh
Ginanjar Kartasasmita, Pemerintahan Soeharto yang telah berkuasa lebih dari
32 tahun berakhir dengan dibacakannya pengunduran diri Suharto sebagai
presiden dan dilantiknya B.J. Habibie sebagai Presiden Indonesia ke tiga
pada pagi hari Kamis 21 Mei 1998. Rezim Orde Baru yang telah berkuasa dengan
sangat kokoh di Indonesia, ternyata tidak mampu untuk bisa membendung
kehancuran perekonomian.

 

Sidang Istimewa MPR RI kemudian diadakan dan menetapkan dipercepatnya
pelaksanaan pemilihan umum agar para wakil rakyat dapat memilih Presiden
yang legitimate. Melalui hasil pemilu inilah kemudian MPR RI memilih
Abdurrachman Wahid menjadi Presiden RI ke empat. Akan tetapi usia
kepemimpinan Wahid inipun tidak dapat bertahan lama. Terjadi konflik antara
lembaga eksekutif dan legislatif. Wahid yang seringkali mengambil keputusan
yang kontroversial pada akhirnya mengeluarkan dekrit pembubarkan MPR RI. Hal
ini menyebabkan reaksi MPR RI mencabut mandat yang telah diberikan kepada
Wahid dan mengaangkat Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden
ke lima Indonesia.

 

 

 

Konflik sosial di pelbagai daerah di Indonesia.

 

Bersamaan dengan terjadinya krisis ekonomi dan politik, konflik sosialpun
bermunculan di berberbagai daerah. Bangsa Indonesia yang sebelumnya dikenal
sebagai bangsa yang ramah dan memiliki tata krama yang sangat tinggi, seolah
berubah menjadi bangsa yang brutal dan bengis.

 

Kerusuhan antar agama yang tidak dapat dibuktikan siapa pelakunya terjadi di
Situbondo pada tanggal 10 Oktober 1996. Demikian pula di Tasikmalaya pada
tanggal 26 Desember 1996 terjadi kerusuhan yang dipicu oleh adanya
penganiayaan dua orang santri oleh polisi setempat.

 

Di Ambon terjadi pula kerusuhan antar agama pada tanggal 19 Januari 1999
terjadi tepat pada pada hari raya 'Idul Fitri , di Galela, Maluku Utara
terjadi pembantaian di dalam masjid pada bulan puasa Desember 1999 dan di
Poso ditemukan ratusan mayat terapung di suangai Poso pada Mei 2000
menjelang pelaksanaan MTQ ke 19.

 

Konflik antar suku terjadi beberapa kali di Kalimantan antara suku Dayak dan
Madura. Di Sanggauledo pada tanggal 29 Desember 1996, di Pontianak 29
Januari 1997 dan 25 Oktober 2000, serta di Sungaikunyit Hulu 18 Pebruari
1997. Kejadian paling parah terjadi di Palangkaraya pada 18 Pebruari 2001
dan berkembang hingga ke Sampit. Konflik antar suku ini telah menyebabkan
terjadinya arus pengungsi etnis Madura ke Surabaya dan Pulau Madura secara
besar-besaran.

 

Sejak bulan Januari hingga Oktober 1998, di 13 wilayah Jawa dan Madura,
khususnya di daerah Tapal Kuda Jawa Timur terjadi pembunuhan massal yang
bermula dari isu pembersihan dukun santet. Para ustadz dan kiai menjadi
korban pembunuhan yang polanya mirip dengan pembunuhan yang dilakukan oleh
PKI menjelang meletusnya G30S. Di Bekasi, Serang, Demak, Bangkalan,
Lumajang, Situbondo dan Probolinggo ditemukan korban tewas dan luka-luka
parah.

 

Kejadian yang paling mencolok adalah korban pembantaian yang tewas di
Banyuwangi yaitu 85 orang, di Sumenep 23 orang, di Jember 17 orang, di
Pasuruan 13 orang dan di Pamekasan 5 orang. sejak bulan Januari hingga
Oktober 1998.

 

Di Aceh telah terjadi konflik sosial yang pada akhirnya tidak diketahui lagi
siapa yang memulainya. Tentara membunuh rakyat, rakyat membunuh tentara.
Rektor sebuah universitas dibantai, anggota legislatif dan eksekutif diculik
dan dibunuh. Fasilitas umum diluluh lantakkan. Pemerintah pada akhirnya
menyetujui untuk memberikan Otonomi Khusus bagi Aceh melalui Undang-undang
Nanggroe Atjeh Darussalam.

 

Di Jakarta juga terjadi berbagai konflik sosial dengan latar belakang
permasalahan yang beraneka ragam. Antara lain mulai dari perebutan lahan
parkir, tertangkapnya pencuri, konflik antar kampung/suku, konflik politik
hingga konflik antara mahasiswa dan tentara/polisi yang menyebabkan
meninggalnya 3 orang martir mahasiswa Universitas Trisakti, Elang Mulia,
Hafidin Royan dan Hery Hertanto pada tanggal 12 Mei 1998.

 

Konflik yang terjadi hampir di seluruh wilayah negara kesatuan Republik
Indonesia ini menyebabkan terjadinya pergeseran nilai-nilai. Sementara
nilai-nilai yang lama masih belum dapat ditinggalkan, nilai-nilai baru sudah
berlaku di masyarakat. Dalam kondisi anomi ini, masyarakat hidup dengan
penuh ketidak jelasan. Dapat dilihat dari sopan santun di jalan raya bagi
pengendara kendaraan, saat ini sudah hampir tidak ada lagi.
Kendaraan-kendaraan terutama yang besar-besar, melaju dengan sesuka hati
mereka tanpa memperhitungkan bahaya yang mungkin bisa terjadi bagi
pengendara lain. Sikap main hakim sendiri juga sudah merupakan kejadian
sehari-hari, sehingga tidak jarang terjadi pengeroyokan hingga mati terhadap
pencuri yang tertangkap basah.

 

Dalam kondisi sedemikian ini, diharapkan kita dapat memiliki kemampuan untuk
menghadapi berbagai permasalahan ini dengan baik dan memecahkan
persoalan-persoalan tersebut dengan mengetahui makna dan nilai yang
terkandung di dalamnya.

 

 

 

Kecerdasan Spiritual sebagai alternatif pemecahan masalah konflik sosial

 

Menghadapi bebagai permasalahan konflik sosial yang saat ini sedang dihadapi
oleh bangsa Indonesia dan bahkan telah mulai menjurus kepada kemungkinan
terjadinya disintegrasi bangsa, diperlukan kemampuan untuk dapat melihat
permasalahan yang ada secara holistik, dimana kita dapat melihat dengan
lengkap seluruh keterkaitan permasalahan dan mampu untuk bersikap secara
luwes. Hal ini dimungkinkan apabila seseoang itu memiliki Kecerdasan
Spiritual yang tinggi.

 

Danah Zohar dan Ian Marshal memberikan batasan tentang Kecerdasan Spiritual
(Spiritual Intelligence) ini sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dan nilai.

 

Apabila dikaitkan dengan teori chaos, maka saat ini kita sedang berada pada
titik "ujung", yaitu titik pertemuan antara tatanan dan kekacauan. Antara
yang diketahui dan yang tidak diketahui. Untuk itulah diharapkan agar kita
memiliki kemampuan untuk dapat membaca makna dan nilai yang tekandung di
dalamnya.

 

Kecerdasan Intelektual yang sangat dikenal sejak awal abad ke 20 dengan IQ
(Intelligence Quotient), adalah merupakan perkalian 100 atas Usia Mental
(MA, yang didapat melalui nilai test psikologi) dibagi dengan Usia Kalender
(CA, yang didapat dari usia kelahiran). Kecerdasan ini digunakan untuk
memecahkan masalah logika maupun strategis.

 

Daniel Goleman pada pertengahan 1990-an mempopulerkan Kecerdasan Emosional
atau EQ (Emotional Quotion), adalah kemampuan merasakan, memahami, dan
secara aktif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi,
informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. EQ merupakan persyaratan
dasar untuk dapat menggunakan IQ secara efektif.

 

Ditinjau dari ilmu saraf, IQ merupakan hasil dari pengorganisasian saraf
yang memungkinkan kita untuk berpikir rasional, logis dan taat asas. EQ yang
memungkinkan kita untuk bepikir asosiatif yang terbentuk oleh kebiasaan dan
memampukan kita untuk dapat mengenali pola-pola emosi. Sedangkan SQ
memungkinkan kita untuk berfikir secara kreatif, berwawasan jauh membuat dan
bahkan mengubah aturan.

 

SQ dengan demikian merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ
dan EQ secara efektif dan merupakan jenis pemikiran yang memungkinkan kita
menata kembali dan mentransformasikan dua jenis pemikiran yang dihasilkan IQ
dan EQ.

 

Sekalipun SQ tidak sama dengan beragama, tidak harus berhubungan dengan
agama dan beragama itu tidak menjamin dimilikinya SQ yang tinggi, namun
tantangan untuk mencapai kecerdasan spiritual yang tinggi sama sekali tidak
bertentangan dengan agama. Tetap diperlukan adanya kerangka acuan dari agama
untuk dapat mempermudah kita dalam memahami makna dan nilai dalam kehidupan
ini. Dengan demikian penguasaan agama akan membantu kita dalam mempermudah
meningkatkan Kecerdasan Spiritual, sehingga kita dapat menangkap makna dan
nilai-nilai dengan lebih baik.

 

Tanda-tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik adalah :

- Kemampuan bersikap fleksibel

- Tingkat kesadaran yang dimiliki tinggi

- Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan

- Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit

- Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai

- Keengganan untuk mengalami kerugian yang tidak perlu

- Kemampuan untuk melihat keterkaitan berbagai hal

- Memiliki kecenderungan bertanya "mengapa" atau "bagaimana jika" dalam
rangka mencari jawaban yang mendasar

- Memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri.

 

Dengan dapat terpenuhinya tanda-tanda SQ yang telah berkembang
ini,diharapkan seseorang akan mampu untuk selalu membuka diri terhadap
setiap pengalaman yang ditemuinya dan kemudian dapat menangkap makna yang
terkandung di dalamnya. Seseorang akan menjadi tegar untuk menghadapi setiap
permasalahan dan membuka diri untuk memandang kehidupan dengan cara yang
baru.

 

 

 

Kesimpulan

 

Di dalam menghadapi berbagai konflik yang timbul sebagai akibat dari tidak
segera diatasinya krisis multi dimensi yang saat ini sedang dihadapi bangsa
Indonesia, pertama-tama sangat diperlukan adanya kemampuan untuk dapat
melihat keterkaitan dari setiap permasalahan yang sedang dihadapi.

 

Dengan dimilikinya kemampuan untuk melihat permasalahan secara holistik,
diharapkan kita dapat menjadi lebih fleksibel dalam menentukan etika baru
yang akan kita pergunakan untuk menggantikan etika lama yang penuh dengan
kekerasan dan kekejaman. Diperlukan pula adanya seseorang pemimpin yang
penuh dengan pengabdian, mampu untuk melepaskan dirinya dari
kepentingan-kepentingan sempit kelompok, aliran atau partai politik yang
dianutnya dan kemudian menjadikan kepentingan mayoritas dari bangsa ini
sebagai acuan sikapnya.

 

Kita harus dapat melepaskan diri dari pengaruh budaya masyarakat modern yang
saat ini sangat dipengaruhi oleh humanisme barat, ternyata menurut Danah
Zohar dan Ian Marshall memiliki SQ kolektif yang rendah. Manusianya berada
dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme,
kelayakan, egoisme diri yang sempit, kehilangan makna dan komitmen. Oleh
karena itu ajaran-ajaran agama akan sangat membantu kita untuk dapat
meningkatkan SQ agar dapat menjadi tinggi dan dapat keluar dari konflik
sosial yang saat ini telah sampai pada "ujung"nya.

 

 

 

Kepustakaan

Danah Zohar & Ian Marshall (2000), SQ: Spiritual Intelligence - The

 

Ultimate Intelligence, Great Britain: Blomsbury

Robert K.C. & Ayman S (1997) , EXECUTIVE EQ, Emotional

 

Intelligence in Leadership and Organizations, NY: Advanced Intelligence
Technologies

Thomas M.H. (2000), Studying Psychology, Great Britain: Psychology Press
Ltd. 

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke