Menelusuri Jiwa yang Sakit
Health News Sat, 14 Feb 2009 11:00:00 WIB "Tidak ada enak, kecuali mengenakkan orang lain." Itulah pedoman jiwa yang sehat menurut pengembang psikologi Jawa, Ki Ageng Suryomentaram. Jika rasa hati dan pikiran kita masih berat menggunakan pedoman tersebut, artinya ada bagian jiwa yang sakit. Kita perlu menelusuri supaya dapat mengobati secukupnya. Bagaimana menelusuri bagian jiwa yang sakit, Suryomentaram memberikan contoh perbuatan berjudi. Orang berusaha memberantas judi dalam diri sendiri, tidak cukup dengan menahan perbuatannya. Harus diteliti arti main judi itu dalam diri. Jika kesimpulannya untuk menghibur diri (menghindari penderitaan), penelusuran diteruskan untuk mencari penyebab menghibur diri. Akhirnya, akan ditemukan bahwa yang dihibur ialah catatan penderitaan atau catatan luka karena jika teringat perasaannya jadi tidak enak. Jadi berjudi merupakan usaha melupakan catatan (memori) luka. Hiburan tidak akan menyembuhkan, tetapi justru membuat luka baru. Memberantas judi dalam diri sendiri adalah mengobati catatan luka. Jika catatan luka sudah sembuh, dia tidak butuh berjudi lagi. Catatan luka Catatan luka (rasa batin yang luka) disebabkan aliran kebendaan (pendapat bahwa yang memberikan rasa enak adalah barang-barang). Raja semat, drajat, kramat (orang yang mengutamakan kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan), menghargai orang lain dan barang-barang dengan ukurannya sendiri; bermanfaat atau tidak bagi dirinya. Ukuran tersebut membuatnya tak mampu merasakan rasa orang lain. Raja semat, drajat, kramat itu jika terlaksana menjadi mabuk. Orang lain harus menuruti kehendaknya, jika perlu dengan kekerasan. Jika tidak terlaksana, raja semat, drajat, kramat menjadi putus asa, lama kelamaan timbul perbuatan rendah seperti mengemis, mencuri, melacur, pergi ke tempat pelacuran, dsb. Jadi raja semat, drajat, kramat menyebabkan berbagai penyakit jiwa. Catatan luka telah merusak hati (alat untuk merasakan rasa pribadi), sehingga tidak dapat digunakan untuk merasakan rasa. Catatan luka inilah yang jadi sumber penyakit jiwa. Bila luka tidak disembuhkan, akan makin hebat, sehingga merembet ke tempat lain. Catatan luka menimbulkan rasa malu dan sesal (Sigmund Freud: konflik antara id dengan ego atau super ego, menyebabkan kecemasan). Karena malu, orang takut melihat lukanya sendiri, meskipun tidak diketahui orang lain. Dihibur pun tak akan sembuh. Namun, karena tidak mengerti bagaimana mengobati catatan luka, biasanya orang hanya menghibur diri. Padahal, hiburan akan menjadi kebiasaan, berupa penghidupan hiburan atau kemewahan. Suryomentaram menganggap kehidupan mewah merupakan (sumber) penyakit jiwa yang tinggi tingkatannya. Kemewahan bukan hanya memerlukan biaya mahal, melainkan juga digunakan untuk menghibur diri (menghindarkan diri dari penderitaan). Seperti telah disebutkan di atas, jiwa sehat adalah bila raga, hati, dan pikiran sudah mau menerima raja kejiwaan yang punya semboyan: "Tldak ada enak, kecuali mengenakkan orang lain". Jika catatan raja semat, drajat, kramat sudah kalah, raja tersebut menjadi tawanan raja kejiwaan. Semua catatan masih lengkap, tetapi sudah tidak mengganggu. Untuk menguasai perbuatan, kita perlu menguasai catatan (memori) lebih dulu. Namun, hanya menguasai perbuatan tetapi tidak menguasai catatan, hasilnya tak akan memuaskan dan perasaan tidak akan enak. Pemisahan catatan dan yang dicatat Selain dengan menemukan catatan luka, akar gangguan jiwa perlu dicari dengan menemukan kemungkinan bercampurnya catatan dengan yang dicatat. Hidup manusia sejak lahir hingga mati pekerjaannya mencatat. Hal yang dicatat berasal dari pancaindra, keinginan (karep), dan aku. Keinginan dan aku tidak kasat mata. Catatan hanyalah gambar. Untuk memahami bercampurnya catatan dan yang dicatat ini, kita perlu lebih dulu mengetahui apa yang disebut dengan "kramadangsa", yaitu barang hidup dalam jiwa manusia yang bekerja sebagai si tukang pikir. Yang dipikirkan adalah memenuhi kebutuhan akan catatan-catatan. Kramadangsa merasa sebagai aku. Rasa kramadangsa menyatukan diri dengan semua catatan yang berjenis-jenis itu sebagai: hartaku, keluargaku, golonganku, agamaku, ilmuku, dsb. Aku sering kali luluh dengan kramadangsa, sehingga merasa aku kramadangsa, mengejar semat, drajat, kramat. Di sini mulai terjadi kekeliruan mencatat rasa: jika (keinginan) terlaksana akan bahagia dan jika tidak terlaksana akan menderita. Inilah permulaan bibit penyakit jiwa. Padahal, aku dan keinginan ialah rasa yang menjadi adonan (campuran) rasa-rasa yang lain. Jika kramadangsa keliru mencatat rasa yang berasal dari keinginan dan aku, untuk selanjutnya akan keliru mencatat rasa adonan yang lain. Rasa dari jiwa itu terjadi dari perpaduan antara rasa aku dan keinginan. Jika salah mencatatnya, jiwa menjadi ruwet. Sifat dari aku adalah sifat-sifat jiwa yang luhur, yang disebut sebagai sifat kedewaan. Sementara sifat-sifat keinginan adalah sifat-sifat jiwa rendah, yang oleh Suryomentaram disebut sifat kehewanan. Masing-masing catatan dari aku dan keinginan saling berkelahi, menyebabkan perang batin terjadi pada tiap orang. Dalam perang batin ini masing-masing bergantian menang dan keduanya merasa sebagai aku. Contohnya, penjahat saat melihat korbannya tak berdaya. Ia bingung, mengapa sampai berbuat jahat. Ia merasa itu bukan keinginannya. Jadi, waktu melakukan ia merasa "aku ingin...", tetapi setelah korban tak berdaya, ia merasa tindakannya bukan keinginannya. Pemisahan jiwa langgeng dan tidak langgeng Sebelum aku dan kramadangsa pisah, pusat kehidupan adalah kramadangsa. Akibatnya kita menghargai diri sangat besar, sangat penting, melebihi apa pun. Jika sudah terpisah, kramadangsa hanya bagian dari "kamu" yang kecil. "Kamu" adalah yang diketahui, dan "aku" yang mengetahui. Tentu, yang mengetahui lebih agung daripada yang diketahui, sebab yang mengetahui itu meliputi yang diketahui. Terpisahnya rasa aku dan rasa kramadangsa itu berupa rasa "aku bukan kramadangsa". Ini menimbulkan rasa "aku" langgeng, bahagia, yaitu jiwa yang langgeng. Rasa "aku kramadangsa" ialah jiwa yang tidak langgeng. Jika jiwa langgeng dicatat kramadangsa mengganti catatan jiwa yang tidak langgeng, catatan pokok menjadi benar. Selanjutnya, kramadangsa juga mencatat sifat aku "bahagia". Semua sifat aku itu merupakan idaman kramadangsa. Lahirlah jiwa langgeng, dan menyebabkan kramadangsa mengerti tujuan hidup yang benar. Tujuan hidup yang benar dalam hal rasa ialah "rasa enak", meskipun wujudnya beraneka ragam (sebelum lahir jiwa langgeng, idaman hidup kramadangsa adalah mencari semat, drajat, kramat). Bila cita-cita hidup yang benar sudah dicatat, catatan tersebut berkelahi dengan catatan lama, berupa perang batin yang amat hebat. Jika raja catatan lama kalah, catatan baru menjadi raja, semboyannya: "Aku bukan kramadangsa", mencari enak meskipun tidak mendapat semat, drajat, kramat. Aliran kejiwaan dalam hidup muncul, semboyannya: "Barang siapa mencari enak selain mengenakkan orang lain, sama dengan membuat tali untuk mengikat leher sendiri." Jika aliran kejiwaan berkembang dalam masyarakat, akan timbul keadaan yang aman dan tenteram. Oleh: M.M. Nilam Widyarini, Msi Dosen Psikologi
_______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
