Penelitian Perilaku nonton TV: Keseringan Nonton TV Bisa Picu Stress

 

February 26th, 2009 by yahdillah 


Anda ingin hidup jauh dari stress? hindarilah  terlalu sering nongkrong di
depan televisi berlama-lama. Demikian hasil riset tim peneliti AS

Ingin menghindari depresi terutama di kalangan muda? Jangan terlampau sering
nongkrong di depan televisi alias nonton program-program TV. Riset di AS
menunjukkan anak remaja atau ABG yang terlampau sering nonton tayangan TV
sampai berjam-jam, kemungkinan menghadapi risiko lebih tinggi kena depresi
seperti orang dewasa.

Sejumlah remaja yang dilibatkan dalam riset ini menghadapi keganjilan lebih
banyak seperti depresi pada tujuh tahun kemudian. Risiko ini meningkat
setiap jam menonton televisi dalam satu hari. Lebih dari 4.000 remaja
berpartisipasi dalam riset tersebut. Bukti sama didapatkan untuk media
elektronik lainnya.

"Kami tak dapat memastikan ini merupakan unsur penyebab-dan-pengaruh," jelas
penulis riset, dr. Brian A. Primack, seorang asisten guru besar pengobatan
dan dokter anak di University of Pittsburgh School of Medicine. Alasan bahwa
riset ini kemungkinan karena unsur penyebab-dan-pengaruh, adalah tayangan
televisi yang menjadi faktor utama. Ini tidak mencakup orang-orang yang
memiliki gejala depresi ketika riset dimulai.

Lebih dari 4.100 responden diberikan pertanyaan pada 1995 soal jumlah jam
yang mereka habiskan untuk menonton tayangan televisi, kaset video, bermain
game komputer atau mendengarkan radio. Mereka mengaku rata-rata setiap hari
kurang lebih 5 sampai 7 jam termasuk 2 atau 3 jam nonton tayangan televisi.

Tujuh tahun kemudian, responden yang sudah berusia 22 tahun, 308 atau 7,4%
anak muda mengalami gejala yang setingkat dengan depresi. Insiden dari
gejala ini secara langsung berkaitan dengan jumlah jam nonton televisi dan
media elektronik lainnya yang dilaporkan pada awal riset.

Kendati begitu, "Ketika kami mampu mengontrol banyak hal seperti status
sosial ekonomi dan pendidikan, dalam analisa akhir, kami tak yakin ini
akibat unsur penyebab-dan-efek," jelas Primack.

Bisa berspekulasi soal alasan menonton televisi yang bisa memicu depresi,
katanya. "Satu teori yakni Apakah Anda melihat banyak kejadian yang
mengundang depresi pada tayangan-tayangan televisi dan kemungkinan adanya
proses menginternalisasi kejadian-kejadian tersebut. Televisi banyak
menayangkan berita-berita buruk dan tayangan berulangkali bisa memicu proses
tersebut, tambah Primack.

Tayangan komersil TV juga bisa menimbulkan pengaruh. "Anda melihat kurang
lebih 20.000 iklan televisi dalam satu tahun, dan proporsi besar dari
tayangan itu mendatangkan fakta bahwa kehidupan tidaklah sempurna," lebih
lanjut periset ini katakan.

Tayangan televisi mungkin juga menggantikan aktivitas sosial, intelektual
dan atletik yang bisa melindungi diri dari depresi. Menonton televisi pada
tengah malam bisa menggangu jam tidur yang normal yang penting bagi
pengembangan intelektual dan emosi. [msn/htb/

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke