Buyung Sarankan Pansus Century Panggil SBY

Laporan wartawan Persda Network Rachmat Hidayat

Minggu, 7 Februari 2010 | 17:45 WIB



KOMPAS/AGUS SUSANTO

Adnan Buyung Nasution

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan anggota dewan pertimbangan presiden
(Wantimpres) Adnan Buyung Nasution menyarankan kepada Pansus Angket Kasus
Bank Century untuk berani memanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Pemanggilan ini, menurut Buyung untuk membuka tabir benar tidaknya ada
dugaan publik atas keterlibatan Presiden atas kebijakan bail out Rp 6,7
triliun ke Bank Century.
Ia tidak sepakat dengan pernyataan berbagai kalangan yang menyatakan tidak
perlu bagi pansus untuk memanggil Presiden SBY terkait masalah Bank Century
ini. Buyung kemudian meminta kepada pengamat untuk menjelaskan secara
terbuka kenapa presiden dianggap tidak perlu didengar penjelasannya oleh
pansus.
"Kalau tidak perlu, kenapa? Jelaskan argumentasinya di depan umum supaya
rakyat bisa mengkritik juga. Bagi saya layak (pemanggilan Presiden SBY).
Pertanyaannya kenapa mereka bertiga (Sri Mulyani, Boediono dan Raden
Pardede) mengambil kebijakan itu. Apakah mereka minta izin dengan presiden
sehingga akhirnya keputusan diambil? Atau, mereka yang ditekan sama
presiden? Ini kan musti jelas dan kita perlu keterbukaan," ungkap Adnan
Buyung,
"Keterbukaan ini kan persyaratan sebagai negara demokrasi. Good governance
itu kan, keterbukaan, transparansi, people participation, dan akuntabilitas.
Kalau syarat ini pemerintah tidak menjalankan, berarti sudah tidak
demokratis lagi dan menyalahi prinsip-prinsip demokrasi," tandas Buyung.
Usai hadir sebagai pembicara dalam diskusi bertajuk Dalam diskusi di Rumah
Perubahan bertajukMemprediksi Rekomendasi Pansus Century Apakah Demokrasi
Terancam?, Minggu (7/2/2010), Buyung kemudian menguraikan apa yang ia
ketahui terkait skandal aliran dana ke Bank Century ini. Dijelaskan, dalam
rapat mengenai Bank Century tanggal 20 November 2008 yang dipimpin oleh
Wakil Presiden Jusuf Kalla, tidak ada kesepakatan bank ini akan berdampak
sistemik. Dalam rapat itu selain Jusuf Kalla juga dihadiri Menkeu Sri
Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia (BI) ketika itu, Boediono.
"Dalam rapat itu , tidak ada kesepakatan Bank Century akan berdampak
sistemik, tidak ada sama sekali. Kemudian rapat dibubarkan, rapat
dilanjutkan kembali di Departemen Keuangan tanpa dihadiri oleh Jusuf Kalla.
Rapat dihadiri Boediono, Sri Mulyani, dan para nara sumber. Dalam rapat itu
juga tidak ada kesepakatan, kalau enggak salah hingga jam 12. 00 malam"
Buyung menjelaskan.
"Setelah itu, rapat dilakukan hanya tiga orang, Boediono, Sri Mulyani dan
Raden Pardede. Kenapa mereka ambil keputusan sendiri? Yang ternyata
tiba-tiba itu (Bank Century) dinyatakan sistemik. Itu keputusan diambil
antara jam 1 hingga jam 5 pagi. Ada apa tiba-tiba berubah? Apa ada tekanan,
apa ada pesanan atau ada komunikasi politik per telpon atau apa?" Buyung
mempertanyakan.
Selain itu, Adnan Buyung mempertegas, terlepas benar tidaknya rapat yang
dilakukan itu, kenapa dana yang semula berjumlah Rp 6,3 miliar untuk Bank
Century kemudian bertambah menjadi total Rp 6,7 triliun. "Ini juga tidak
jelas. Kenapa itu bisa terjadi?" tandasnya.

Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

<<attachment: image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke