Semakin terorisme - antiterorisme secara frekwentif dimunculkan bersandingan
dengan pembahasan agama, dlm ruang publik; apalagi oleh pejabat publik;
maupun oleh tokoh-tokoh publik yg dianggap memiliki kharisma agama apapun,
maka konsekwensi logisnya adalah semakin kuatnya pembentukan opini publik
mengenai hubungan asosiatif antara tindakan terorisme dengan tindakan
keberagamaan, meskipun secara esensial belum dapat ditemukan bukti2 absah
dan kuat mengenai keterkaitan langsung antara kedua hal tersebut.

 

Didalam realitas kehidupan banyak sekali fenomena sosial yg senada dengan
kejadian diatas, silahkan saja secara berjamaah memborbardir isu BBM akan
naik, maka tak lama kemudian harga BBM akan naik beneran meskipun kajian
ekonomi belum tentu mengisyaratkan akan hal itu. Begitupun ketika awal-awal
diisukan bhw pansus century akan masuk angin, maka wajarlah jika kemudian
muncul usaha2 utk membuat pansus menjadi banjir kipas angin, media massa pun
ikutan kipas-kipas. Begitu pula dgn isu-isu penggembosan KPK; semakin sebuah
isu itu diperkuat oleh tokoh2 terkait maka peluang akan pembenaran
terjadinya isu itu akan semakin meningkat, dan masyarakat luas pun, suka-tak
suka, kemudian akan menerima begitu saja. Ternyata isu seringkali membentuk
warna kehidupan manusia, dan dlm bahasa yg berbeda tdklah terlalu berlebihan
jika isu-isu ini tak ubahnya dianggap sebagai TAHYUL, yaitu produk-produk
pikiran yg masih belum terbukti namun kemudian dipercaya sebagai BENAR
(WAJAR) dan kemudian terterapkan secara beramai-ramai dan akhirnya dapat
diterima secara beramai-ramai pula.

 

JIka demikian, maka bangsa yg menyukai isu-isu atau yg mudah menerima isu
tiada lain adalah bangsa yg masih akrab dengan tahyul. Rasio akan diwarnai
oleh tahyul-tahyul, entah tahyul terorisme ataupun tahyul agama, atau
kedua-duanya. Tentu saja ini hanya pendapat dari otak kadal saya saja, jadi
ga usah diambil ati.. krn komentar inipun juga dipengaruhi oleh
tahyul-tahyul di pikiran saya juga.

 

 

 

From: [email protected]
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Alkhori M
Sent: Sunday, March 14, 2010 10:10 PM
To: [email protected]
Subject: [Is-lam] Pesantren Jadi Benteng Antiterorisme

 

Minggu, 14/03/2010 19:39 WIB
Menag: Pesantren Jadi Benteng Antiterorisme
Anwar Khumaini - detikNews

Magelang - Menteri Agama Suryadharma Ali mengharap seluruh pesantren dan
madrasah di Indonesia menjadi benteng pencegah masuknya paham terorisme ke
lembaga pendidikan Islam. Untuk merealisasikanya, Kementerian Agama terus
melakukan pendekatan ke sejumlah pesantren. 
"Kita melakukan berbagai cara termasuk pendekatan ke pondok pesantren dan
madrasah agar menjadi benteng pencegah masuknya terorisme," katanya Surya
saat menghadiri peringatan maulid nabi di Ponpes Watucongol Muntilan, Jawa
Tengah, dalam rilis yang diterima detikcom, Minggu (14/3/2010).
Menurut Surya,  Islam bertentangan dengan paham terorisme karena tidak
mengajarkan perjuangan dengan cara kekerasan. Sedangkan, terorisme
menghalalkan segala cara dalam perjuangan termasuk menghilangkan nyawa warga
tak berdosa. Selain itu, dalam konsep perjuangan Islam, musuh dihadapi nyata
dan jelas, sementara terorisme memiliki musuh tak jelas.
Karena itu, gerakan terorisme di Indonesia juga tidak mencerminkan aspirasi
seluruh masyarakat muslim tanah air. Jumlah pendukung gerakan anarkis itu
diperkirakan kurang dari setengah persen dari total populasi. "Tapi memang
menjadi kelihatan karena menarik perhatian, maka jadi (isu) besar," kata
Surya.
Pendidikan Agama Antiterorisme
Pemerintah tengah menyusun program pendidikan agama antiterorisme bagi
narapidana. Hal itu dilakukan untuk memberantas tersebarnya paham terorisme
yang bertentangan dengan ajaran Islam. Penyusunan program pendidikan juga
bertujuan untuk meningkatkan pemahaman agama bagi narapidana. 
"Kami sedang membuat pendidikan agama di penjara untuk anak-anak, perempuan,
dan laki-laki termasuk teroris," kata Surya.
Penyusunan program pendidikan agama bagi Napi penting dilakukan agar Napi
pelaku tindak terorisme bisa kembali meyakini ajaran Islam sebenarya yang
damai. Selain itu, memang terdapat kebutuhan mendalami agama bagi Napi.
"Idealnya mereka harus kembali (ke ajaran Islam)," katanya.
Surya juga menyebutkan, pelaksanaan pendidikan agama di penjara menjadi
semakin penting untuk mengatasi penyebaran pemahaman ajaran Islam sempalan.
Saat ini, terdapat sejumlah kelompok mengatasnamakan Islam, tapi ajaran
dijalankan bertentangan dengan Islam. "Antara lain di Kuningan ada aliran
yang kalau kaum ibu mau suci harus mau ditiduri oleh imamnya. Ini jelas
aliran sesat. Ada juga yang mengaku Islam, tapi salat cukup satu kali
sehari, kiblatnya ke selatan, dan bayar Rp 4 juta untuk masuk surga,"
pungkas Menag. (anw/anw) 
Alkhori M

Al-Dhakhira Area, Villa No. 2

Doha, State of Qatar

 

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke