seneng wong koen rumongso pengen dianggep 
sedulur Islam meskipun gaya pikirmu liberalis laknat.

Fahru

________________________________
From: Alkhori M <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, March 23, 2010 10:52:14 AM
Subject: Re: [Is-lam] Yahudi Bukan Israil


Brother,
 
Posting ini sungguh senang saya membaca-nya. Terasa lain dan sudah tinggi kadar 
PENAFISAN alias FILTRATION-nya. Alangkah INDAH dan DAMAI-nya dunia, kalau 
posting-posting email disini seperti ini. Tapi sebaliknya yang kebanjiran 
adalah posting-posting orang GRUSA-GRUSU karena PENDEK ANTHENA sehingga boleh 
dikatakan SALAH METHODE dalam meresapi ajaran Islam yang sesuai Sunnah 
Rasulullah sebagai Khataman Nabiyin. Khataman Nabiyin hanya digunakan untuk 
meng-KAFIR-kan Ahamdiyah saja. Begitulah jika seseorang HANYA MEMPUNYAI PALU, 
setiap PROBLEM SOLVING HANTAM PAKAI PALU. Disini ada dua atau tiga orang yang 
sering pakai PALU, padahal Islam adalah AGAMA untuk orang yang ber-AQAL bukan 
untuk orang yang pakai PALU. Salam cool selalu dari Qatar .
 
FR: pengen ta' palu gundulmu apa piye?
 
 
Alkhori M
Al-Dhakhira Area, Villa No. 2
Doha, State of Qatar

________________________________

From:[email protected] 
[mailto:[email protected]] On Behalf Of Risang Dipta Permana
Sent: Tuesday, March 23, 2010 6:09 AM
To: Is_lam MailingList
Subject: [Is-lam] Yahudi Bukan Israil
 
YAHUDI BUKAN ISRAIL
http://www.almanhaj.or.id/content/2430/slash/0

Jika seseorang menyebut Israil, maka kata ini selalu disandingkan
dengan Yahudi. Ini terjadi di banyak kalangan dari media, forum
diskusi, bahkan majlis-majlis ta’lim, tak urung para pembicara tidak
membedakan antara Yahudi dengan Israil. Seakan dua kata ini memiliki
terminologi yang sama. Yahudi adalah Israil, dan Israil adalah Yahudi.
Padahal penisbatan Yahudi kepada Israil merupakan kekeliruan !. Lantas,
bagaimana kedua hal ini bisa disebut berbeda?

Berikut ini kami sampaikan penjelasan mengenai perbedaan ini, menurut
pandangan Syaikh Bakar bin Abdillah Abu Zaid dan Syaikh Abu Ubaidah
Masyhur bin Hasan Alu Salman.

Tersebut di dalam kitab Mu’jam Manahil Lafzhiyah, Darul Ashimah,
Cetakan III, Tahun 1413H halaman 93-94, Syaikh Bakar bin Abdillah Abu
Zaid mengatakan :

Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang
berjudul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan
Nashara Minat Tabdil. Di dalam kitab tersebut terdapat tahqiq yang
menyinggung, bahwa Yahudi telah terlepas dari Bani Israil. Yakni
sebagaimana terpisahnya Nabi Ibrahim Alaihissalam dari bapaknya, Azar.
Kekufuran itu telah memutuskan loyalitas antara kaum Muslimin dengan
orang-orang kafir, sebagaimana diceritakan dalam kisah antara Nabi Nuh
Alaihissalam dengan putranya.

Oleh karena itu, keutamaan-keutamaan yang pernah dimiliki Bani Israil
pada zaman dahulu, sedikitpun tidak ada yang dimiliki kaum Yahudi.
Karenanya, justru penyematan nama Bani Israil untuk menyebut kaum
Yahudi, akan menjadikan mereka meraih keutamaan-keutamaan, dan
keburukan mereka pun tertutupi. Demikian ini berakibat hilangnya
perbedaan antara Bani Israil dengan Yahudi sebagai kaum yang dimurkai
Allah Azza wa Jalla dan dihinakan dimanapun mereka berada.

Begitu pula, tidak boleh mengganti nama Nashara menjadi Al-Masihin,
yaitu menisbatkan kepada pengikut Nabi Isa Al-Masih. Ini merupakan nama
baru yang tidak ada dasarnya dalam sejarah, dan tidak juga dalam
perkataan para ulama. Karena orang Nashara telah mengganti dan
menyelewengkan kitab Alla Azza wa Jalla, sebagaimana kaum Yahudi telah
melakukannya terhada din (agama) Nabi Musa Alaihissalam. Memberi nama
kepada mereka dengan Al-Masih, tidak memiliki dasar hujjah. Kepada
mereka Allah Azza wa Jalla hanya memberikan nama Nashara, bukan
Al-Masihin.

Kemudian, kekufuran kaum Yahudi dan Nashara terhadap syari’at Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka menjadi musabab penyebutan atas
diri mereka sebagai kafir. Allah berfirman.

“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik,
(mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum
datang kepada mereka bukti yang nyata” [Al-Bayinnah : 1]

Jadi sesungguhnya, Yahudi adalah nama bagi orang-orang yang tidak
beriman kepada Nabi Musa Alaihissalam. Adapun yang beriman, mereka
itulah yang disebut Bani Israil. Karena itu, orang-orang Yahudi
(sendiri) merasa tidak senang (jika) disebut dengan nama Yahudi.

Adapun Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman menuliskan di
catatan kaki kitab beliau, As-Salafiyun wa Qadhiyatu Filasthina, Markaz
Baitul Maqdis, Cetakan I, Tahun 1423H, halaman 12-13, sebagai berikut :

Penamaan ini, -yaitu menamakan Yahudi dengan nama Israil- merupakan
kemungkaran. Telah meluas di tengah masyarakat di negeri Muslim sebuah
perkataan yang berkonotasi celaan “Israil melakukan ini dan itu, dan
akan melakukan tindakan ini dan itu”, padahal Israil itu, merupakan
salah seorang Rasul Allah (utusan Allah), yaitu Nabi Ya’qub
Alaihissalam. Dan beliau Alaihissalam, sama sekali tidak memiliki
hubungan apapun dengan negara yang senang berbuat makar dan keji ini.
Antara para nabi dan rasul, sama sekali tidak ada saling waris-mewarisi
dengan orang-orang kafir, musuh mereka. Yahudi, sama sekali tidak
memiliki hubungan din (agama) dengan Nabi Allah, Israil.

Penamaan seperti ini, memberikan dampak buruk pada pemahaman diri kita.
Allah dan para rasul-Nya tidak akan pernah meridhainya, terutama Nabi
Israil Alaihissalam. Karena Yahudi adalah kaum kafir dan pembohong.
Menyematkan nama ini kepada mereka mengandung pelecehan terhadap Nabi
Israil Alaihissalam. Dan yang wajib adalah mencegah penamaan itu.

Dalam Shahih Bukhari no. 3533, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,
dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Tidakkah kalian merasa heran, bagaimana Allah mengalihkan celaan dan
kutukan orang kafir Quraisy dariku. Mereka hanya mencela orang yang
tercela, dan mengutuk orang yang tercela. Sedangkan aku, tetap Muhammad
(terpuji)”

Dan kewajiban kita –minimal- membuat mereka gusar dengan penyematan
nama Yahudi pada mereka, karena mereka membenci nama ini dan senang
dengan penisbatan palsu kepada Nabi Ya’qub Alaihissalam. Mereka,
sedikitpun tidak mendapatkan keutamaan maupun kemuliaannya.

Syaikh Abdullah bin Zaid Alu Mahmud memiliki sebuah risalah yang sudah
dicetak di Qathar, tahun 1398H, dengan judul Al-Ishlahu wat-Ta’dilu
Fiima Thara-a Ala Ismil Yahudi wan Nashara Minat Tabdil..

Tentang masalah ini juga, coba lihat Muja’mul Manahil Lafzhiyah (44),
karya Syaikh Bakar Abu Zaid, majalah kami Al-Ashalah, Edisi 32, Tahun
ke-6, Tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1422H, halaman 54-57, makalah Syaikh
Rabi’ bin Hadi, Hukmu Tasmiyati Daulati Yahuda bi Israil. Peringatan
dalam masalah ini, juga saya temukan dalam kitab Khurafatu Yahudiyah,
karya Ahmad As-Syuqairi, halaman 13-30, dengan judul Lastum Abna-u
Ibrahima, Antum Abna-u Iblisa.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M. 
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta , Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 
Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
 

________________________________

regards,
Risang Dipta Permana
+6281393127309
 

________________________________

New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!


      
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke