JIL..  informasi apapun yang akan kita sampaikan ke Pak Alkhorie pastinya 
tidak akan diterima, karena yang ada adalah informasi tentang kebusukan JIL, 
sedangkan pak Alkhori merupakan salah satu "pengagum" atau mungkin "bagian" 
dari pada JIL itu sendiri...

Sebenarnya sudah menjadi rahasia umum kalo JIL itu memang merupakan kaki 
tangan dari AS dan juga Israel...  Contohnya sudah banyak, hanya saja Pak 
Alkhorie "tidak mau" buka mata...

Lihat kasus gugatan uji materi UU tentang penodaan agama. Dimana tokoh2 JIL 
seperti GD, UAA, dll di pihak penggugat, sedangkan pihak yang berusaha 
mempertahankan UU tersebut terdiri dari MUI, Menteri Agama, Menkumham, 
Pemerintah...  Di kasus tersebut, tokoh2 JIL "berjuang" agar MK mau 
menghapus UU tsb, karena mereka mati2-an membela Ahmadiyah....

Dan juga, pada suatu kesempatan di acara debat di TV One, ULIL justru 
menghina umat Islam, dan sangat memuja AS dan meminta umat Islam agar 
belajar ke AS. selengkapnya baca artikel saya di bawah yang pernah saya 
kirim ke milist ini tanggal 19 Maret 2010 kemarin.

Ulil JIL: Dunia Islam Paling Banyak Melanggar HAM, Harus Berguru pada Obama
SEMAKIN banyak berbicara, semakin terlihat kejahilannya. Itulah ciri khas 
kelompok liberalis. Setidak-tidaknya, itu diperlihatkan Ulil Abshar Abdalla 
dalam acara "Debat Kontroversi kedatangan Obama" di studio TVOne, Jakarta, 
Rabu (17/3/2010).

Dalam debat bertema "Obama Disayang Obama Ditentang" itu dihadiri dua kubu 
yang saling berseberangan. Dari pihak yang mendukung kedatangan Obama ke 
Indonesia, tampil dua narasumber: Ulil Abshar (Jaringan Islam Liberal) dan 
Effendy Choirie (Partai Kebangkitan Bangsa), sedangkan dari pihak yang 
menolak Obama diwakili oleh dua narasumber: Ismail Yusanto (Hizbut Tahrir 
Indonesia), Ali Mocthar Ngabalin (Partai Bulan Bintang).

Debat yang disiarkan secara langsung mulai pukul pukul 19.30 WIB itu dibagi 
dalam dua sesi yang diselingi dengan berbagai iklan. Pada sesi pertama, 
Ismail Yusanto berdebat dengan Ulil Abshar, disusul dengan debat sesi kedua 
antara Ali Mochtar Ngabalin dengan Effendy Choirie.

Ulil Abshar berapi-api menyatakan dukungannya terhadap rencana kedatangan 
Obama ke Indonesia, dengan ungkapan khas Arab "ahlan wa sahlan bihuduri 
Obama."

Sebagai anak didik Amerika, agaknya bisa dimaklumi bila Ulil sangat memuji 
Obama dan Amerikanya. Mungkin itulah apresiasi balas jasa yang 
dipersembahkan kepada negara yang telah memberikan beasiswa program magister 
di Universitas Boston, dan studi tingkat PhD di Department of Near Eastern 
Languages and Civilizations di Universitas Harvard.

Tapi Ulil -yang lama hidup di negara Amerika- itu menjadi sangat tidak wajar 
jika ia tidak tahu tentang Amerika. Berangkat dari ketidaktahuan itulah, 
Ulil memuji Amerika sembari menghina Islam, lalu menganjurkan umat Islam 
supaya belajar (baca: berkiblat) ke Amerika dalam mengatasi masalah 
diskriminasi.

"Ada pelajaran penting yang bisa diambil dari pengalaman Obama di Amerika.

Ini luar biasa. Jadi orang Islam harus belajar bagaimana mereka mengatasi 
diskriminasi. Di dalam negara Islam itu diskriminasi masih banyak sekali," 
kata Ulil.

Tak puas menyebut kaum Muslimin sebagai negara yang kaya diskriminasi, 
menantu Kiyai Mustafa Bisri ini bahkan menyebut dunia Islam paling banyak 
mengoleksi pelanggaran HAM.

.Pelanggaran HAM paling banyak di dunia Islam. Umat Islam harus belajar 
kepada Amerika, tegas Ulil.

"Pelanggaran HAM paling banyak itu di dunia Islam. Umat Islam harus belajar. 
Ada hal positif yang bisa diambil dari Amerika," tegasnya.

Menanggapi tudingan Ulil terhadap umat Islam, Ismail Yusanto menjawab dengan 
santai. Juru bicara HTI ini tidak membantah langsung, tapi membandingkan 
pendapat Ulil yang bertolak belakang dengan data Amnesti Internasional.

"Itu tadi menurut Ulil. Bahwa pelanggaran HAM itu paling banyak di negeri 
Islam. Tapi menurut Amnesti Internasional, pelanggaran HAM terbesar di dunia 
itu Amerika, yang sekarang presidennya Barrack Obama," jelas dia.

"Mana yang lebih kredibel, Saudara Ulil atau Amnesti Internasional?" tanya 
dia.

Ulil nampak kaget dan tidak percaya dengan pernyataan jubir HTI itu. Ulil 
rupanya belum pernah membaca data Amnesti Internasional bahwa Amerika adalah 
pelaku pelanggaran HAM terbesar di dunia. Ulil pun tidak terima jika bapak 
asuhnya disebut sebagai pelanggar HAM terbesar di dunia.

"Saya minta dibuktikan kalau data itu ada," protes dia.

"Silakan, itu sudah berulangkali dilansir di media," jawab Ismail.

Ulil yang belum membaca data itu, spontan berkata, "Saya sih nggak percaya!"

Pada debat sesi kedua,  meski yang dihadapinya bukan Ulil, tapi Ali Mukhtar 
Ngabalin masih menyempatkan untuk menyindir Ulil. Tidak terima umat Islam 
disuruh belajar kepada Amerika untuk mengatasi diskriminasi dan pelanggaran 
HAM, salah satu pendiri Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini menyemprot Ulil 
agar jangan menjadi "jongos" Amerika, sembari mengutip petuah Bung Karno.

"Ingat pesan Soekarno, kita boleh berteman dengan Amerika, tapi jangan 
mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi jongos 
Amerika!" tegasnya.

.Jangan mentang-mentang menerima beasiswa dari Amerika, kemudian menjadi 
jongos Amerika!" tegas Ali Mochtar.

Ia juga mengingatkan agar para intelektual tidak berpikir picik menjadi 
boneka Amerika hanya karena dapat beasiswa dari Amerika.

"Jangan mentang-mentang belajar di Amerika kemudian menjadi corong Amerika, 
menjadi boneka," ujarnya.

Mantan anggota DPR RI dari PBB ini juga memperingatkan bahwa sejak dulu 
kedatangan presiden Amerika ke Indonesia tidak pernah membawa manfaat bagi 
Indonesia, malah memperluas jajahannya. Antara lain Obama datang ke 
Indonesia dalam rangka evaluasi terhadap kontrak kerja Freeport, Chievron, 
ExxonMobil, dll. Kembali, ia mengingatkan petuah Bung Karno.

"Soekarno pernah mengajarkan kepada kita, Amerika itu tidak pernah 
menawarkan sesuatu yang baik kepada negara-negara berkembang atau dunia 
ketiga. Itu sebabnya, Amerika harus kita setrika, Inggris kita linggis! 
Masak kita intelektual masak berpikir sepicik itu?" pungkasnya.

Amnesti Internasional: AS Terbanyak Langgar HAM dalam 50 tahun terakhir

Dalam konferensi pers di London (26/5/2004), Amnesti Internasional, sebuah 
LSM HAM internasional yang berbasis di London ini melaporkan bahwa Amerika 
Serikat (AS) adalah pelaku pelanggaran HAM terburuk di seluruh dunia, selama 
50 tahun terakhir, sejak negara adidaya itu mengeluarkan kebijakan perang 
terhadap terorisme dan invasinya ke Iraq. Berita ini dilansir berbagai media 
internasional semisal AFB, BBC, dan lain-lain.

Sekjen Amnesti International, Irene Khan mengatakan, negara-negara berkuasa 
yang menyumbangkan pasukan tentara untuk Iraq telah mengabaikan hukum 
internasional dengan mengorbankan HAM secara `membabi-buta' atas nama 
keamanan.

"Agenda keamanan dunia yang diperjuangkan oleh AS tidak mempunyai visi dan 
prinsip yang jelas," kata Irena.

"Perbuatannya melanggar HAM di negara sendiri, sikapnya menutup mata 
terhadap insiden-insiden dan penyiksaan di luar negeri serta penggunaan 
kekerasan pasukan dengan sewenang-wenang telah menggugat keadilan serta 
menjadikan dunia ini lebih berbahaya," katanya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan butir-butir terperinci mengenai 
pembunuhan warga sipil oleh pasukan penjajah AS di Iraq dan juga mengenai 
siksaan yang pasukannya atas tahanan Iraq.

.Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau 
proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. AS juga menahan sejumlah 
tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui.

Invasi dan penguasaan wilayah Iraq oleh otoritas yang dibentuk negara-negara 
koalisi, menyebabkan ribuan orang di Iraq ditahan. Laporan itu juga 
menyebutkan, ratusan orang dari sekitar 40 negara, dipenjarakan AS tanpa 
proses hukum di Afghanistan.

Laporan Amnesti International itu juga menyentil sikap AS terhadap ratusan 
orang dari berbagai belahan dunia yang terus ditahan oleh AS tanpa dakwaan 
di Guantanamo, Kuba.

"Lebih dari 600 warga negara asing ditahan tanpa tuduhan yang jelas atau 
proses hukum, di penjara Guantanamo, Kuba. Mereka tidak diberi akses ke 
keluarga atau ke penasihat hukum. Orang-orang ini ditahan atas dugaan 
terkait dengan Al-Qaeda. Selain di Guantanamo, diduga AS menahan sejumlah 
tawanannya di beberapa lokasi yang tidak diketahui," papar laporan tersebut.

Irene menyatakan, perang terhadap terorisme seharusnya dibarengi dengan 
upaya melindungi hak asasi manusia, tapi pada kenyataannya, kampanye 
antiterorisme dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, saling 
bertentangan.

Irena mengatakan, dunia telah melihat kenyataan yang sebenarnya, setelah 
foto-foto penyiksaan dan pelecehan di penjara Abu Guraib tersebar di 
masyarakat luas. Ini adalah konsekuensi logis, dari perburuan yang membabi 
buta yang dilakukan AS sejak peristiwa 11 September. AS telah mengabaikan 
dan menempatkan dirinya diluar sistem hukum yang ada.

.AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan 
cara yang damai, kata Irene.

"AS telah kehilangan moral dan potensinya untuk melakukan segalanya dengan 
cara yang damai," kata Irene dalam keterangan persnya di London.

Amnesti Internasional menyatakan, pihak Departemen Kehakiman AS telah 
mengakui ada problem besar dalam menangani ratusan tahanan warga negara 
asing sejak peristiwa 11 September.

Selain tidak memberikan akses pada keluarganya, AS juga tidak memberi akses 
agar para tahanan bisa didampingi pengacara agar proses hukumnya bisa segera 
dilakukan. Selain itu, bukti-bukti menunjukkan adanya pola penyiksaan fisik 
maupun verbal yang dilakukan oleh para penyidik.

Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang dilakukan 
AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan tuduhan 
melakukan kenakalan remaja. Anak-anak ini ditahan sampai berbulan-bulan.

Disamping itu, polisi dan penjaga penjara di AS, telah menyalahgunakan 
senjata dan menggunakan bahan kimia terhadap para tahanannya, yang 
menyebabkan kasus tewasnya sejumlah tahanan di penjara AS.

.Amnesti Internasional juga memaparkan pelanggaran Ham lainnya yang 
dilakukan AS, antara lain, penahanan sekitar 6.000 anak-anak migran dengan 
tuduhan kenakalan remaja, sampai berbulan-bulan.

Amnesti Internasional juga mengkritisi penerapan hukuman mati di AS. 
Sepanjang tahun 2003, sudah 65 orang yang menjalani hukuman mati di AS. 
Total, sudah ada 885 orang yang menjalani hukuman mati sejak AS menerapkan 
kembali hukuman itu pada tahun 1976. AS dinilai juga telah melanggar aturan 
internasional dalam menerapkan hukuman mati ini, karena telah mengenakkannya 
pada anak dibawah umur 18 tahun.

Yang paling hangat, Amnesti Internasional, mengkritik AS karena berupaya 
mendapatkan kekebalan hukum dari pengadilan internasional bagi tentaranya 
yang melakukan kejahatan perang. [taz/dari berbagai sumber]

Sumber: 
http://www.voa-islam.com/trivia/liberalism/2010/03/18/4019/ulil-jildunia-islam-paling-banyak-melanggar-hamharus-berguru-pada-obama/




_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke