Pemerintah nampaknya harus segera tanggap, jangan menunggu ancaman jadi
kenyataan.

 

 

Kelaparan Ancam Separuh Masyarakat NTT 

Ancaman kelaparan merupakan dampak dari kekeringan panjang, yang berakibat
gagal panen. 

Kamis, 8 April 2010, 13:46 WIB

Amril Amarullah






  (godsdirectcontact.org) 

VIVANews -- Kelaparan serius mengancam separuh dari 4,2 juta penduduk Nusa
Tenggara Timur. Ancaman kelaparan merupakan dampak dari kekeringan panjang,
yang berakibat gagal panen. 

Kabupaten yang dilaporkan memiliki risiko rawan pangan tinggi yakni Nagekeo,
Sumba Timur, Rote Ndao, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu,
Alor, Manggarai Timur, Ende, Sika, Sabu Raijua dan Kabupaten Kupang.

Berdasarkan hasil analisa sementara kerawanan pangan menunjukkan, luas areal
pertanian yang mengalami gagal panen sebanyak 16.486,48 hektare atau enam
persen dari total lahan yang ditanami seluas 274.578 hektar. 

"Khusus untuk jenis tanaman padi, tingkat kegagalan panen dan kerusakan
tanaman mencapai 5.978,76 hektar atau 2,57 persen dari rencana tanam 232.315
hektar," kata Sekertaris Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan NTT, Edgar R
Tibuludji, di Kupang, Kamis, 8 April 2010. 

Sementara tanaman ubi-ubian, tingkat kegagalannya berdasarkan hasil analisis
mencapai 1.715,38 hektar atau 1,46 persen dari total rencana tanam seluas
117.313 hektar. Sedangkan tanaman kacang-kacangan yang masuk kategori gagal
panen sebanyak 786,38 hektar atau 1,93 persen dari total rencana tanam
seluas 40.792 hektar.

Untuk membantu mengatasi krisis pangan masyarakat, pemerintah menyiapkan
352,39 ton beras dan akan didistribusikan kepada masing-masing kabupaten.
"Setiap kabupaten mendapat alokasi beras 100 ton," ujarnya.

Selain juga, Pemerintah NTT telah menerjunkan tim terpadu untuk melakukan
pemantauan guna melihat langsung kondisi ketahanan pangan warga.

"Tim terpadu sudah dibentuk oleh Gubernur NTT Frans Leburaya dan
direncanakan pecan depan akan diterjunkan ke lapangan untuk memantau kondisi
rawan pangan yang dilaporkan dari daerah serta menganalisis tingkat risiko
rawan pangan di 21 kabupaten/kota," katanya.

Menurutnya, tim terpadu yang akan diterjunkan ke 21 kabupaten/kota akan
melakukan analisis secara lengkap untuk mengetahui daerah mana saja yang
memiliki risiko tinggi maupun resiko sedang rawan pangan. 

"Indikator yang akan digunakan untuk melakukan analisi lapangan yakni sistem
kewaspadaan pangan dan gizi  dengan memperhatikan kondisi ketahanan pangan,
kesejahteraan dan kesehatan keluarga," kata Tibuludji.

Laporan: Jemris Fointuna | Kupang

. VIVAnews 

<<image001.jpg>>

_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke