Assalamu'alaikum wr wb,
Kelihatan sekali rekayasa Yahudi (macam George Soros yang bolak-balik ke 
Indonesia) dengan antek-anteknya untuk mengadu-domba antar ummat Islam seperti 
Indonesia dgn Malaysia.

Terakhir adalah isyu DKP yang tidak bersenjata yang menangkap nelayan Malaysia 
kemudian akhirnya ditangkap polisi Malaysia yang bersenjata. Kesalahan 
Indonesia yang tidak menggunakan angkatan bersenjata seperti TNI AL atau Polri 
Air yang bersenjata dalam menangani "penyusup" akhirnya dituduhkan kepada 
Malaysia dan jadi alasan untuk perang melawan Malaysia.

Padahal Malaysia yang sebetulnya satu suku, satu bahasa (sama2 suku Melayu dan 
berbahasa Melayu dengan Indonesia), juga mayoritas beragama Islam. Mereka juga 
menyediakan 1,7 juta lowongan kerja yang upahnya lebih layak ketimbang di 
Indonesia saat di Indonesia pengangguran merajalela.

Sementara negara lain seperti Singapura yang mayoritas kafir dan telah merampas 
100 km2 wilayah Indonesia dengan "Impor Pasir" serta mencuri ratusan trilyun 
rupiah dari Indonesia dengan menjadi tukang tadah hasil para koruptor Indonesia 
justru aman dari serangan Indonesia.

Sabda Nabi, jika 2 Muslim berperang/saling bunuh, maka keduanya masuk neraka.

Hendaknya ummat Islam terhindar dari tipu daya Yahudi dan antek2nya yang gemar 
mengadu domba ummat Islam.

Solusi untuk menghindari perang/konflik antara Malaysia vs Indonesia atau 
negara2 Islam lainnya adalah dengan mendirikan 1 negara Islam yang membentang 
dari Maroko hingga Merauke.

Mudah2an artikel di bawah mencerahkan pikiran dan hati kita.

Wassalam


Nasehat Allah via Al Hujuraat untuk Kasus Indonesia vs Malaysia

peta Indonesia dan Malaysia Bersatu

Pada kasus ketegangan antara Indonesia vs Malaysia di mana kedua penduduk kedua 
negara saling hina bahkan mengancam saling perang, ada baiknya kita kembali 
pada petunjuk Allah yang tercantum dalam surat Al Hujuraat.

[49.6] Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa 
suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu 
musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu 
menyesal atas perbuatanmu itu.

Ayat di atas berkaitan dengan seorang fasik yang menyiarkan kabar bohong kepada 
Nabi bahwa suku X tidak mau bayar zakat dan bahkan ingin membunuhnya. Namun 
Nabi tidak begitu saja percaya berita itu dan menyerang mereka. Nabi mengirim 
utusan ke suku X untuk menanyakan kebenarannya.

Celakanya rakyat Indonesia dan Malaysia yang mayoritas Muslim banyak yang 
mempercayai begitu saja berita-berita yang disiarkan oleh kaum kafir dan 
sekuler tanpa mau memeriksa kebenarannya atau chek and recheck kepada pihak 
tertuduh. Tahun 1966 Indonesia dan Malaysia pernah perang. Sekarang juga nyaris 
perang.

Para ulama juga banyak yang tidak menyadari pentingnya penguasaan Media Massa 
agar ummat Islam tidak dijejali oleh berita yang disiarkan kaum kafir dan 
sekuler. Ummat Islam baru menguasai media cetak dan radio yang pemirsanya cuma 
500 ribu atau kurang. Belum mampu menguasai TV yang bisa mempengaruhi 100 juta 
orang lebih sekali siaran.

Tak heran akhirnya pikiran ummat sesuai dengan opini publik yang dibentuk oleh 
kaum kafir dan sekuler.

[49.7] Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia 
menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat 
kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan 
iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, 
kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang 
lurus,

[49.8] sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi 
Maha Bijaksana.

Saat Nabi ada, masih begitu mudah mengingatkan ummat dengan firman Allah karena 
mereka cinta pada keimanan dan benci pada kekafiran, kefasikan, dan 
kedurhakaan. Sayangnya sekarang tidak ada tokoh sekelas Nabi yang dihormati 
ummat. Lebih parah lagi, ummat meski sudah diingatkan dengan firman Allah, Al 
Qur’an, tidak mau mengimaninya dan mengamalkannya. Sebagian tetap saja 
membangkang seperti Iblis yang sombong mentaati perintah Allah.

[49.9] Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka 
damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat 
aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya 
itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu 
telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan 
adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku 
adil.

Kita tahu mayoritas penduduk Indonesia dan Malaysia adalah Muslim. Hanya 
segelintir yang kafir dan mungkin jadi biang pengadu-domba. Oleh karena itu 
hendaknya kita berusaha mendamaikan mereka.

Aneh rasanya jika kaum kafir dan sekuler berusaha “mendidik” ummat Islam untuk 
toleran dan cinta damai terhadap kaum kafir AS, Israel, dan Eropa yang 
membantai ummat Islam di Iraq, Palestina, dan Afghanistan. Namun di sisi lain 
mereka menggunakan media massa yang mereka miliki untuk mengadu-domba ummat 
Islam Indonesia dengan Malaysia.

[49.10] Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu 
damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu 
mendapat rahmat.

Ayat di atas merupakan firman Allah yang menyatakan mukmin itu bersaudara. Jadi 
harus berdamai.

[49.11] Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum 
yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka 
(yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) 
wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) 
lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu 
sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.  
Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang 
siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.

[49.12] Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, 
sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari 
kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang 
lain.  Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang 
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada 
Allah.  Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Allah memerintahkan ummat Islam untuk tidak saling mengejek atau menghina. 
Allah juga melarang kita berburuk-sangka, mencari kesalahan orang, dan 
membicarakan keburukan orang karena itu sama dengan memakan daging saudaranya 
yang sudah mati.

Terakhir Allah menegaskan bahwa kita semua adalah saudara karena memiliki nenek 
moyang yang sama, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa.

[49.13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki 
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku 
supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di 
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.  
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Baru setelah itu dijadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling 
mengenal. Kita harus tahu bahwa negara Indonesia itu baru muncul tahun 1945 
setelah bebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Itu pun petanya berubah di 
mana Papua baru masuk tahun 1966 dan Timor Timur masuk di tahun 1976 untuk 
kemudian keluar lagi dari Indonesia. Malaysia pun baru merdeka tahun 1957 dari 
penjajahan Inggris.

Tapi di zaman sebelum penjajahan Portugis, Belanda, dan Inggris, baik Indonesia 
dan Malaysia pernah bersatu beberapa kali yaitu pada Kerajaan Sriwijaya, 
Majapahit, dan Kerajaan Malaka. Bahasa Melayu yang merupakan bahasa persatuan 
wilayah itu pun merupakan sumber dari Bahasa Indonesia.

Bangsa Indonesia dan Malaysia terpisah dalam 2 negara kurang dari 70 tahun. 
Tapi kita pernah tergabung dalam 1 negara di Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, dan 
Malaka selama ratusan tahun.

Ummat Islam itu satu. Bersaudara. Jangan biarkan ilusi negara yang 
berubah-rubah peta dan pemerintahannya seiring perkembangan zaman memecah-belah 
persatuan ummat Islam!

Dulu negara Islam/Kekhalifahan Islam membentang dari Spanyol hingga Ternate. 
Tidak ada konflik antar ummat Islam karena beda negara. Jadi solusi agar tidak 
terjadi perang antara Indonesia dengan Malaysia atau pun antar negara Islam 
lainnya adalah dengan membentuk 1 negara Islam yang meliputi seluruh ummat 
Islam di berbagai penjuru dunia.

Nabi berkata, jika 2 muslim berperang atau saling bunuh, maka keduanya masuk 
neraka, tak peduli dia dari suku, bangsa, atau negara yang berbeda:

Jika terjadi saling membunuh antara dua orang muslim maka yang membunuh dan 
yang terbunuh keduanya masuk neraka. Para sahabat bertanya, “Itu untuk si 
pembunuh, lalu bagaimana tentang yang terbunuh?” Nabi Saw menjawab, “Yang 
terbunuh juga berusaha membunuh kawannya.” (HR. Bukhari)

Nabi juga berkata bahwa orang yang marah karena fanatisme golongan/kebangsaan, 
maka jika dia mati dia mati dalam keadaan jahiliyah/kafir:

Barangsiapa membangkang dan meninggalkan jama’ah lalu mati maka matinya 
jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah bendera nasionalisme (kebangsaan 
atau kesukuan) yang menyeru kepada fanatisme atau marah karena mempertahankan 
fanatisme golongan lalu terbunuh maka mati dalam keadaan jahiliyah. (HR. 
An-Nasaa’i)

Hendaknya kita ummat Islam setelah mempelajari ayat Al Qur’an dan Hadits di 
atas segera taat dan tunduk. Sami’na wa atho’na. Tidak membangkang seperti 
Iblis.

http://berita.liputan6.com/sosbud/200910/247117/Malaysia.Bantu.Korban.Gempa.Sumbar

Malaysia Bantu Korban Gempa Sumbar

Rinaldo

11/10/2009 15:06

Liputan6.com, Padang: Pemerintah Malaysia memberikan bantuan sebesar US$ 1 juta 
untuk perbaikan infrastruktur dan bangunan publik yang rusak di Sumatra Barat 
akibat gempa bumi pada 30 September lalu. Bantuan tersebut secara resmi 
diserahkan Menteri Pertahanan Malaysia Dato Seri Ahmad Zahid bin Hamidi kepada 
Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di Padang, Ahad (11/10).

Menurut Ahmad Zahid, bantuan itu akan diprioritaskan untuk pembangunan 
infrastruktur, gedung pemerintahan serta fasilitas umum seperti rumah ibadah 
dan sekolah yang rusak akibat gempa. Sebelumnya, pemerintah Malaysia telah 
mengirimkan bantuan yang diangkut dengan 15 pesawat terbang khusus yang juga 
membawa 15 tim relawan. Mereka langsung bergerak ke lokasi bencana pascagempa.
http://media-islam.or.id/2009/10/11/pelajaran-surat-al-hujuraat-untuk-kasus-indonesia-vs-malaysia/
 Mengapa Kita Beraninya Hanya pada Malaysia?
Thursday, 26 August 2010 14:01
E-mail Print PDF

Apakah kita akan tetap  “berperang” dengan Malaysia atau mempertahankan 
persaudaraan besar bernama “rumpun Melayu?”

Oleh: Afriadi Sanusi*


SEORANG Profesor Singapura menulis dalam sebuah artikelnya; Kebanyakan rumah 
mewah yang ada di Singapura, Kebanyakan uang yang beredar di Singapura adalah 
punya orang Indonesia. Kebanyakan pembangunan yang ada di Singapura, dibangun 
dari uang yang datangnya dari Indonesia. Dan di saat Singapura mengadakan Grand 
Sale setiap tahunnya, lebih 2 juta orang Indonesia datang belanja ke sana..”

Seorang sahabat di Singapura pernah mengatakan, “dari jalan ini sampai ke ujung 
sana dulunya adalah lautan, dan sekarang menjadi daratan cantik yang ditimbun 
dengan pasir yang didatangkan dari pulau-pulau kecil di Riau”.

Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari Singapura?

Pertama, TKI laki-laki dari Indonesia diharamkan bekerja dan mencari nafkah di 
Singapura seperti di bidang pembangunan, kuli kasar, buruh dan sebagainya. 
Singapura lebih memilih warga negara lain daripada WNI, dengan berbagai alasan 
yang tidak masuk akal.

Kedua, banyak orang mengatakan dan dari sumber lainnya, “Satu per satu 
pulau-pulau kecil di Riau hilang karena pasirnya diangkut ke Singapura.

Ketiga, identitas orang Melayu yang identik dengan Islam seperti istana, rumah, 
perkampungan orang Melayu, dihilangkan. Adat dan budaya melayu dimuseumkan. 
Azan diharamkan menggunakan pengeras suara di semua masjid dan surau di 
Singapura.

Keempat, pemerintah Singapura melayani dan melindungi koruptor RI yang telah 
membuat rakyat RI sengsara selama ini  (karena hak-hak rakyat untuk mendapatkan 
pendidikan, rumah sakit, infrastruktur, makan dan tempat tinggal yang baik 
terjajah dan terzalimi), dengan tidak mau menandatangani perjanjian ekstradisi.

Kelima, banyak rakyat, nelayan dan petugas kita diacungi senjata berat dan 
diusir dengan pengeras suara karena disangka telah melintasi garis batasan laut 
kepunyaan Singapura.

Malaysia Lebih Baik dari Singapura

“Sejahat” apapun Malaysia, saat ini ada 2 juta orang lebih WNI yang sedang 
mencari rezeki di Malaysia untuk nafkah keluarga mereka di RI. Triliyunan uang 
TKI dikirim ke Indonesia setiap tahunnya. Dapat dibayangkan, bagaimana dampak 
sosial, ekonomi dan budaya yang akan berlaku di Indonesia kalau TKI pulang 
sekaligus.

Faktanya, TKI-lah sebenarnya “pahlawan” yang harus dilindungi, karena mereka 
penyumbang devisa negara. Di saat lain, ada banyak institusi yang keberadaannya 
hanya menghambur-hamburkan uang negara. Kegunaan mereka sangat perlu 
dipertanyakan di saat keberadaan mereka tidak memberikan manfaat yang berarti 
kepada rakyat. Ibarat pepatah Arab, ”wujuduhu ka adamihi.” (adanya seperti 
tidak adanya). Dengan kata lain, ada atau tidak adanya mereka, sama saja. Tak 
memberi manfaat.

Ribuan orang Indonesia sedang belajar S2 & S3 di Malaysia saat ini. 
Kebanyakannya mendapat bantuan atau keringanan biaya dari pemerintah Malaysia 
dan banyak juga yang sambil bekerja. Uang kuliah di perguruan tinggi negeri 
Malaysia lebih murah dari Indonesia. Kualitas, infrastruktur dan kemudahan 
lainnya jauh lebih baik dari di Indonesia tentunya.

Sebagai warga asli Indonesia, penulis tidak merasa sakit hati kalau ditilang 
oleh polisi Malaysia. Karena kami yakin, uang itu pasti akan masuk ke dalam kas 
negara untuk pemerintah Malaysia memperbaiki jalan, jembatan, lampu jalan yang 
aku gunakan setiap hari di negara ini.

Sebalinya, saya sering sakit hati jika ditilang oleh polisi Indonesia. Karena 
kami yakin, uang itu belum tentu masuk kas negara. Bahkan ada yang masuk 
pribadi polisi, keluarga dan golongannya tanpa dikembalikan kepada ke negara 
untuk membangun infrastruktur.

Lalu yang sangat mengherankan, isu-isu yang sebenarnya bisa diselesaikan di 
tingkat diplomat, tetapi menjadi barang dagangan pasar yang dikonsumsi oleh 
rakyat umum. Boleh jadi isu ini sepertinya dimanfaatkan oleh segelintir orang 
yang memang memiliki agenda, bagaimana supaya Islam, Melayu dan Nusantara yang 
kaya dengan SDM & SDA ini, tidak menjadi sebuah kekuatan. Mengapa rakyat di 
negaraku begitu mudah emosi?

Pengalihan Isu

Isu-isu penangkapan Abubakar Ba‘asyir, isu VCD porno artis, isu teroris, dan 
sebagainya, faktanya tidak berhasil mengalihkan perhatian rakyat terhadap 
berbagai skandal perampokan uang rakyat melalui kasus BLBI, Century, Rekening 
Gendut Polisi, kenaikan BBM dan harga bahan pokok, penangkapan Susno Duadji, 
buruknya birokrasi dan pelayanan publik, maraknya korupsi, pelemahan KPK, 
gagalnya sebuah kepemimpinan, meningkatnya jumlah kemiskinan, pengangguran, 
perbuatan kriminal, buta huruf dan gagalnya hampir setiap departemen dan 
institusi pemerintahan, dalam memberikan manfaat keberadaan mereka yang berarti 
kepada rakyat.

Isu “memanasnya" hubungan Indonesia-Malaysia tidak akan membuat rakyat lupa 
terhadap semua penipuan, pembodohan dan “perampokan” uang rakyat yang telah, 
sedang dan akan berlaku.

Damaikanlah Saudaramu

Pakar Melayu Prof. Dr. Dato’ Nik Anuar Nik Mahmud dari  Institut Alam dan 
Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dalam sebuah wawancara 
khusus dengan hidayatullah.com [“Ada Kuasa Besar Halangi Terbentuknya Melayu 
Raya], mengatakan, dalam buku-buku sejarah Melayu yang ditulis sebelum perang 
dunia ke-2, seperti “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Abdul Hadi dan Munir 
Adil, wilayah Semenanjung dan Indonesia dianggap sebagai alam “Melayu Raya”. 
Mereka menamakan tanah Melayu; Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, 
Johor, Kelantan, Pattani, dan lainnya sebagai “alam Melayu”, atau di Indonesia 
dikenal istilah Nusantara. Yaitu wilayah Semenanjung tanah Melayu dan gugusan 
tanah Melayu.

Sejarah ini diajarkan kepada pelajar-pelajar Melayu sebelum Perang Dunia ke-2. 
Saat itu, ada semangat untuk memulai kembali bersatunya Melayu. Intinya, ada 
hasrat untuk bersatu.

Kalau mau jujur, semua suku di Indonesia ada di Malaysia: Jawa, Bugis, Aceh, 
Minang.  Kini banyak orang Jawa di Johor, juga di Selangor. Termasuk banyak 
warga Aceh di Malaysia. Negeri sembilan sebagian penduduknya dari Minangkabau. 
Bahkan Sultan Selangor itu berasal dari Bugis.

Jadi seharusnya, semangat kita (Indonesia dan Malaysia) adalah semangat “satu 
rumpun”  untuk bekerjasama untuk bangunkan alam Melayu ini. Hanya saja, jika 
berpecah, mustahil, bangsa Melayu tumbuh menjadi bangsa yang besar.  

Aksi ingin mengajak perang dengan Malaysia, pelemparan kotoran ke Kedutaan 
Malaysia, sweeping warga Malaysia pasti akan menyakitkan hati  dan membuat 
hubungan bukan makin mendekat, tapi malah menjauh.

Walaupun gerakan LSM Bendera tidak mewakili gerakan orang-orang cerdas di 
Indonesia, seperti Senat Mahasiswa, Muhammadiyah, ICMI, HMI, dll., namun warga 
Indonesia harus lebih peka dan mencari tahu, siapakah LSM ini? Ada apa di balik 
 agenda mereka?

Apakah mereka bergerak untuk kepentingan partai politik tertentu, ataukah untuk 
menaikkan partai dan pemimpin tertentu, ataukah mereka dibiayai oleh pihak 
asing untuk menghancurkan rumpun Melayu?

Di sisi lain, biasanya, isu-isu yang akan memungkinan pecahnya hubungan 
Malaysia-Indonesia jarang ditanggapi dan dibesar-besarkan media Malaysia. Namun 
akhir-akhir ini, khususnya pemberitaan ‘ketegangan’ hubungan 
Indonesia-Malaysia,   ditanggapi berbagai pihak. Termasuk pakar politik di 
berbagai media massa, seperti oleh Samy Vellu, Bernama dll.

Ada dua kemungkinan mengapa mereka menanggapinya. Pertama, untuk membangkitkan 
rasa nasionalisme rakyat menjelang hari kemerdekaan Malaysia yang jatuh pada 
setiap tanggal 31 Agustus. Kedua, mungkin juga dimanfaatkan oleh keturunan 
China dan India Malaysia yang memang kurang suka dengan hubungan baik 
Indonesia-Malaysia. Karena ini akan menguatkan kepentingan mereka dari segi 
politik, ekonomi, sosial, budaya dan pembangunan di Malaysia.

Apakah kita akhirnya memutuskan “berperang” dengan Malaysia? Apakah kita tetap 
ngotot mengajak perang dengan Negara yang di dalamnya banyak keturunan Melayu 
Riau, Palembang, Aceh, Bugis, Minang, Mandailing, Rao, Jambi, Kerinci, Jawa, 
karena kita seagama Islam dan satu rumpun melayu?

Di saat yang sama, sudah ratusan kali pasir kita dicuri, minyak kita 
diselundupkan,  tapi kenapa kita selama ini tidak membenci Singapura yang 
menguras minyak kita dengan Caltexnya? yang menguras  gas kita dengan Harunnya 
dan sebagainya, tanpa memberikan dampak yang berarti terhadap pembangunan, 
ekonomi dan sosial rakyat?

Apakah kita takut pada Singapura karena mereka memiliki peralatan perang yang 
sangat canggih dan jauh meninggalkan Indonesia? Ataukah kita sengaja dibuat 
takut, karena para pejabat kita banyak yang memiliki hubungan mesra dengan 
Singapura yang menyimpan uang mereka dalam bentuk saham dan investasi?.

Malaysia secara tidak resmi telah melarang rakyatnya datang ke Indonesia. Kalau 
ini berlanjut, pasti semua ini akan memberikan pengaruh terhadap perusahaan 
penerbangan, hotel, pariwisata, tempat berbelanja, investor di Indonesia.  

Kalau sengketa ini berlanjut di tingkat pemerintah, maka akan sama-sama kita 
dengar, tiga, lima bulan lagi. Malaysia akan membeli peralatan perang yang 
baru, Amerika pula akan menawarkan “jasanya” pada TNI untuk memberikan pinjaman 
utang, untuk membeli peralatan perangnya yang katanya, harga sebuah kapal 
perang bekas saja, sama dengan harga sebuah pulau besar di Indonesia.

Namun sebelum itu terjadi, ada sebuah pesan dari al-Quran.

“Sesungguhnya orang beriman itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah 
antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah semoga kamu mendapat 
rahmat.” (QS: al-Hujurat ayat 10)

*)Penulis yang berasal dari Sumatera, PhD. Candidate Islamic Political Science, 
University of Malaya, Kuala Lumpur  
http://www.hidayatullah.com/kolom/opini/opini/13117-mengapa-kita-beraninya-hanya-pada-malaysia
===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits
http://media-islam.or.id
Milis Ekonomi Nasional: [email protected]
Haji ONH Plus 2010 Mulai dari US$ 6.500:
http://media-islam.or.id/2010/05/09/paket-haji-onh-plus-2010-mulai-dari-us-6-000/



_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam

Kirim email ke