----- Original Message -----
From: Suzarah
Subject: Kronologis Penyerbuan Densus 88 Habisi Jamaah Sedang Shalat
--------------------------------------------------------------------------------
From: Nur Abdi Zakaria
Sent: Wednesday, September 29, 2010 1:53 PM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته (Arrahmah.com) - Nama saya Kartini Panggabean,
kelahiran 20 Februari 1980. Panggilan saya Cici, anak-anak memanggil saya Ummi.
Saya adalah isteri dari Ustadz Ghozali, anak-anak memanggilnya Buya, saya
memanggilnya Bang Jali. Saya tinggal bersama suami saya di di Jalan Bunga
Tanjung Gang Sehat, saya bersama Bang Jali tinggal bersama empat anak kami.
(Umar Shiddiq, Raudah Atika Husna dan Ahmad Yasin dan Fathurrahman).
Bang Jali lahir tahun 1963, tamat SD 1971. Kemudian bang Jali Masuk SMP
Muhammadiyah di Sei. Sikambing Medan. Bang Jali tidak tamat SMP, berhenti
karena protes terhadap sekolah SMP di Indonesia memakai celana pendek (tidak
menutup aurat) Secara otodidak Bang Jali belajar menulis. Dia menjadi
kolumnis tetap di beberapa surat kabar yang terbit di Medan. Kemudian Bang Jali
ke Malaysia selama 10 tahun. Aktif menjadi wartawan di majalah Islam. Tahun
1996-2000 bang Jali pulang ke Indonesia menetap di Medan membuka kursus
komputer, kemudian ke Malaysia lagi pada tahun 2000-2004 bekerja sebagai
penulis buku di beberapa penerbitan. Sejak 2004-2010 menetap di Tanjungbalai
sebagai penulis buku-buku agama yang produktif dan semua diterbitkan di
Malaysia, lebih kurang 50 judul buku. Ada satu judul buku yang diterbitkan di
di Indonesia Selain menulis, Bang Jali juga berprofesi sebagai pengobat
tradisional (bekam). Bang Jali juga mengisi pengajian.
Sejak satu bulan terakhir (bulan Agustus 2010), Bang Jali tidak pergi ke
mana-mana, atas permintaan saya selaku Ummi anak-anak, alasan saya karena saya
sedang hamil tua, hari-hari menjelang persalinan sudah kian dekat. Saya meminta
Bang Jali untuk menemani saya melahirkan. Begitu pun, seingat saya Bang Jali
sekali ada pergi ke Medan awal Agustus ke Medan, itu pun karena menjenguk
ibunya di salah satu rumah sakit di Medan. Saya melahirkan anak putera saya
yang keempat pada tanggal 28 Agustus 2010 (usianya 3 minggu).
Sejak saya melahirkan bayi yang kami beri nama Fathurrrahman Ramadhan itu, Bang
Jali juga tidak ada pergi ke mana-mana karena saya tidak ada teman di rumah.
Di saat waktu Maghrib, hari Minggu sekitar jam 18.45 WIB menjelang Senin
malam, tanggal 19 September 2010. Saya, bayi saya, dua perempuan dewasa (istri
Abu dan teman Deni), Buya, Dani, Deni, Alek, Abdullah dan 2 orang lagi anak
tamu.(salah satu dari dua perempuan dewasa). Jadi, ada di dalam rumah tersebut
10 orang, terdiri dari 5 laki-laki dewasa, 3 perempuan dewasa, 3 anak-anak.
Saat adzan Maghrib terdengar, Bang Jali bersiap-siap melaksanakan sholat
Maghrib berjamaah. Bang Jali, Deni, Deden, Alek, Abu mengambil wudhu. Saya
bilang kepada Bang Jali, Buya bajunya diganti saja, basah kena air wudhu. Saya
berada di ruang tamu, menyusukan anak saya Fathur.
Bersama saya dua perempuan dewasa. di dekat pintu depan rumah, pintu rumah kami
hanya di depan, rumah kami tidak ada pintu belakang. Saya memanggil ketiga anak
untuk pulang ke rumah, karena sudah masuk waktu Maghrib. Bang Jali dan empat
temannya mulai melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dengan Bang Jali sebagai
imamnya. Mereka sholat di ruang belakang dekat dapur.
Dani, usianya sekitar dua puluh lima tahun tahun adalah murid mengaji Bang
Jali. Kerjanya sehari-hari menjahit gorden, dia tinggal di Tanjung Balai. Dani
membawa dua orang temannya, Alek (30 tahun) dan Deni (20 tahun) ke rumah. Bang
Jali sebelumnya tidak mengenal kedua orang itu. Sejak saat itu, Deni dan Alek
menginap di rumah. Tapi Dani tidak menginap di rumah. sedangkan alek dan deni
saya tidak mengenalnya. Mengenai Abu, atau Abdullah (35 tahun), saya tidak
jelas orang mana berasalnya. Jadi Deni dan Alek sudah menginap 2 minggu di
rumah kami, kedatangan mereka ke Tanjungbalai karena rencana mau cari kerja,
saat itu mau hari hari raya. Bang Jali bilang ini sudah dekat hari raya, tidak
mungkin ada kerjaan. Tunggulah habis hari raya. Jadi mereka di rumah kerjanya
hanya makan tidur. Seingat saya selama ini tidak ada kegiatan yang mencurigakan.
Tiba-tiba sebuah mobil datang, terdengar suara dari luar ada orang berteriak,
"keluar!" Saat itu ketiga anak saya masih bermain di rumah tetangga. Saya mau
memanggil anak-anak untuk pulang, saya pun berjalan menuju pintu depan rumah.
Saya menyuruh mereka masuk, tapi mereka tidak mau masuk, saya sempat melihat
wajah mereka seperti ketakutan. Saya terkejut karena pas saya di depan pintu
saya lihat sudah turun dari mobil 30 orang bersenjata. Anak-anak saya diam tak
bersuara. Densus 88 langsung saja menerobos masuk ke dalam rumah dengan
bersenjata. Mereka semuanya ada sekitar 30 orang membawa senjata. Mereka dari
samping sebagian, masuk ke dalam rumah sebagian, sambil melepaskan tembakan.
Saya sambil menggendong bayi saya, dua perempuan dewasa serta anak-anaknya
ditodongkan senjata sama Densus 88. Sepasang daun pintu rumah kami ditunjang
(ditendang) sama Densus 88. Tidak ada baku tembak, tidak ada perlawanan dari
dalam rumah, karena Bang Jali sedang sholat, sedang membaca surah al-Qur'an
sehabis membaca surah al-Fatihah. Tiba-tiba tiga makmum (Alek, Deni dan Dani)
keluar dari shaff (membatalkan sholat mereka) karena mendengar suara ribut
tembakan dan segera mengetahui datangnya orang-orang bersenjata. Alek, Dani dan
Deni lari menuju kamar mandi. Alek keluar dengan membobol seng (atap) kamar
mandi. Orang-orang yang sudah masuk rumah menembaki mereka Deni dan Dani
ditembaki secara membabi buta sewaktu mereka di depan kamar mandi.
Saya, dua perempuan dewasa yang bersama saya, bayi saya yang berumur 20 hari,
dan anak tetangga yang balita itu menyaksikan kejadian itu. Jadi dua orang
ditembak di kamar mandi, satu orang lagi lari. Bang Jali dan seorang makmumnya,
Abu masih tetap melanjutkan sholat, walaupun orang-orang bersenjata itu sudah
masuk ke dalam rumah, di ruang belakang dekat dapur. Bang Jali tetap
melanjutkan membaca surah al-Qur'an. Tapi orang-orang bersenjata itu langsung
menarik paksa Bang Jali, sholat Bang Jali dihentikan secara paksa. Buya
ditunjangi (ditendang) saat sholat kemudian dipijak-pijak (diinjak-injak)
hingga babak belur. Saya kasihan melihat Bang Jali karena saat itu dia sedang
sakit batuk. Bang Jali diseret sama Densus, bang Jali tak henti-hentinya
meneriakkan takbir, Allahu Akbar, Allahu akbar.
Saya masih dalam todongan senjata bersama dua perempuan dan tiga anak-anak.
Kami langsung disuruh ke rumah tetangga sambil ditodong. Saya digiring ke rumah
tetangga sambil ditodong senjata, di rumah tetangga. Anak-anak saya dari tadi
memang berada di situ. Saya dan anak-anak saya bisa mengintip (melihat dari
sela-sela atau lobang) kejadian yang terjadi di rumah kami dari rumah tetangga.
Anak-anak saya berteriak-teriak tidak tak henti-hentinya. "Ummi, Ummi itu Buya,
itu Buya." Anak-anak memberitahu saya mereka melihat Buya mereka dipijak-pijak
(diinjak-injak). Mereka menembaki rumah kami dengan membabi buta, walaupun saya
sangat yakin Bang Jali tidak ada senjata. Bang Jali hanya terus bertakbir,
Allahu akbar, hanya itu yang bisa Bang Jali lakukan. Mereka menembaki saja
walau tidak ada perlawanan. Dari luar mereka menembaki, di dalam juga
menembaki, mereka dalam waktu satu jam itu menembak terus dengan membabi buta.
Tiba-tiba ada yang menggiring saya keluar, saya dibawa ke mobil Densus 88. Saya
terus menengok (melihat) ke arah Bang Jali tapi sudah tidak terlihat. Saya
tengok (lihat) suami kawan saya (Abu) dibawa ke mobil tak berapa lama. Densus
membentak saya menanya saya di mana tas Bang Jali. Saya jawab (katakan),
"Tengok saja sendiri." Mereka semua penakut, saya yang disuruh mengambil tas
Bang Jali, mereka takut granat, padahal tidak apa-apa di tas Bang Jali.
Satu jam kemudian polisi (dari Polresta Tanjung Balai) datang ke sana, polisi
pun rupanya tahu apa-apa mengenai kejadian itu. Densus pergi begitu saja. Saya
tidak tahu informasi ke mana Bang Jali dibawa, apakah Bang Jali dibawa ke Medan
atau ke mana. Dari pihak Polres malah menanyakan sama saya ke mana Bang Jali
dibawa Densus. Saya dinaikkan ke mobil Patroli Polresta Tanjungbalai dibawa ke
kantor Polresta Tanjungbalai. Saya tidak dikasih pulang ke rumah.
Esok hari, tanggal 20 September, saya masih tidak dikasih pulang. Sebagian
besar anggota Polres Tanjung Balai memperlakukan saya dengan baik, mereka
kasihan melihat saya karena menengok anak saya kecil (bayi), tapi ada juga
polisi di sini yang jahat dan memperlakukan saya sewenang-wenang. Saya ingin
tahu kabar suami saya. Saya lihat ada koran, saya ambil untuk saya baca. Polisi
berpakaian preman itu merampas koran itu dari tangan saya. Hati saya sangat
sakit, tapi saya diam saja. Kapolresta baik sama saya. Dia menanyakan saya,
apakah mau pulang ke rumah mengambil baju? Saya sudah bilang sama penyidik
cemana ini, Pak, kalau saya masuk tahanan jelas status saya, tapi di sini saya
tidak jelas sebagai apa, saya tidak tahu apa-apa. Kata penyidik tunggu kabar
dari Medan saja, baru saya kasi informasi di sini.
Saya sedih karena Bang Jali tak bisa dijumpai, karena dia sudah babak belur
dipijak-pijak dua puluhan orang. Mereka main serbu saja, mereka itu begitu
datang tak ada basa-basi lagi. Dinding rumah kami rusak. Polisi pun tidak boleh
lewat-lewat di situ selama satu jam itu. Padahal kan semua pakai peraturan.
Polresta Tanjungbalai membantu saya mempertemukan saya dengan keluarga saya
agar anak-anak saya yang empat orang tidak tinggal di tahanan. Saya dipinjamkan
telepon sama Polisi untuk menelepon adiknya agar saya bisa menitipkan anak-anak
saya kepada keluarga kecuali yang bayi tetap bersama saya, karena dia masih
saya susukan umurnya kan baru 3 Minggu.
Pada 20 September 2010 sekitar jam 9.00 WIB pagi saya pertama kali menghubungi
keluarga. Saya mengasih tahu, saya sekarang di Polresta Tanjung Balai, tidak
boleh keluar dari sini karena saya kata polisi dijadikan saksi. Adik saya ke ke
Tanjung Balai hari Senin, 20 September itu juga, adik saya menjenguk saya.
Kondisi saya sudah beberapa hari tetap tak jelas, tidak dikasih pulang, padahal
saya sudah di BAP hari Minggu sampai sekarang tidak keluar-keluar. Tidak jelas,
tidak boleh pulang, soalnya tidak ada yang mau datang menjenguk saya, adik saya
pun hanya datang untuk mengambil si Umar, dibawa ke sana, kasihan bang Jali. Di
sini saya bayi saya tidur dan hidup di sebuah ruangan yang menyerupai gudang
kertas-kertas, hanya beralas tikar plastik, kasihan Fathur (bayi saya), baru 3
minggu usianya. []
Narasumber: Kartini Panggabean (semoga Allah melindunginya), istri ustadz
Khairul Ghozali (semoga Allah merahmatinya) yang dituduh sebagai teroris oleh
Densus 88.
Sumber: - Tim Kuasa Hukum Ustadz Khairul Ghozali, - keluarga, yakni adik Ustadz
Khairul Ghozali (Ustadz DR. Adil Akhyar, SH, MH, LLM dan Ahmad Sofian, SH, MA
serta abang Ustadz Khairul Ghozali, DR.Ikhwan) Facebook: Widyasave Palestina,
starnews.com
(suara-islam/arrahmah.com) -------------------
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://server03.abangadek.com/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam