Tidak Berhukum dengan Hukum Allah: Kafir?
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Ustadz yang insya Allah dirahmati Allah SWT.
Saya mau menanyakan tentang:
1. Bagaimana kondisi aqidah kita sementara kita hidup di negara yang tidak
memakai hukum Allah? Saya pernah mendengar ceramah seorang da'i yang
menyampaikan ayat "barang siapa yang memutuskan hukum, tidak memakai apa yang
Allah turunkan (Al-Quran) maka mereka termasuk orang-orang yang kafir.
2. Apa upaya kita, supaya kita terhindar dari ayat Allah tersebut?
Kosasih
Jawaban
Asalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah akan mengakibatkan kekafiran.
Memang demikian salah bunyi ayat Allah di dalam surat Al-Maidah ayat 44.
Lengkapnya begini:
ومن لم يحكم بما أنزل اللّه فأولئك هم الكافرون
Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka
mereka adalah orang-orang kafir. (Al-Maidah: 44)
Namun apakah setiap orang yang tidak menjalankan hukum potong tangan, rajam,
cambuk dan sejenisnya, otomatis agamanya berubah dari Islam menjadi kafir?
Apakah kita semua yang tinggal di Indonesia yang notabene tidak menjalankan
hukum-hukum itu otomatis dianggap bukan muslim?
Tentunya kita perlu mengkaji ayat ini lebih dalam lagi. Bukan dengan semata
logika bahasa dan pemahaman yang lebih mendalam. Apalagi kalau kita lihat
asbabun-nuzulnya, maka sesungguhnya ayat ini turun dalam konteks memberi vonis
kepada pemeluk agama samawi lainnya, baik yahudi mau pun nasrani.
Dan nyatanya oleh banyak ulama, makna dan pengertian ayat ini dikomentari
dengan pendapat yang berbeda. Mari kita buka kitab-kitab tafsir yang muktabar.
Di sana kita akan dapati beragam komentar, antara lain:
Diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas ra berkata ketika menjawab status kafir bagi
orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, sesuaiayat ini, "Kufur yang bukan
seperi kufur kepada Allah dan hari akhir."
Dalam lain riwayat disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkomentar tentang ayat ini
bahwa ada dua hukum yang dikandungnya. Pertama, siapa yang mengingkari
kewajiban untuk menjalankan hukum Allah, maka dia kafir. Sedangkan siapa yang
tidak mengingkarinya, hanya sekedar tidak mengerjakannya, maka dia fasik dan
zhalim."
Ibrahim An-Nakhai sebagaimana diriwayatkan oleh At-Thabari mengatakan bahwa
ayat ini turun buat Bani Israil dan Allah merelakannya untuk umat ini untuk
menggunakan hukum itu.
Al-Hasan mengataan bahwa hukum-hukum Allah itu turun untukYahudi namun buat
kita hukumnya wajib.
Thawus berkata, "Kufur yang dimaksud bukanlah kufur yang meninggalkan millah
(agama)."
Atho' berkomentar tentang maksud kata 'kufur' dalam ayat ini, "Kufur yang bukan
kekufuran."
Dan masih banyak lagi silang pendapat tentang pengertian ayat ini. Semuanya
benar dan kita mudah saja untuk menarik kesimpulan secara umum.
Pertama, ayat ini memang turun kepada Bani Israil (yahudi), namun ketentuannya
berlaku secara umum termasuk umat Islam.
Kedua, sesuai dengan fatwa Ibnu Abbas, kita tidak bisa main vonis bahwa siapa
saja yang tinggal di negeri yang tidak menjalankan hukum Islam, boleh diberi
vonis kafir. Sebab sangat boleh jadi banyak dari umat Islam yang tetap
menginginkan dijalankannya hukum Islam, namun ternyata penguasa tidak mau
menjalankannya. Entah karena pemerintahnya bukan muslim, atau muslim tapi tidak
paham.
Ketiga, hukum kafir bisa dijatuhkan kepada para penanggung-jawab sebuah negeri,
baik lembaga yudikatif, legislatifmau pun eksekutif, apabila secara nyata
mereka menolak penerapan seluruh hukum Islam. Sementara kesempatan sudah
terbuka lebar.
Namun dalam hal ini, sebelum vonis kafir dikeluarkan, harus ada upaya untuk
mempresentasikan hukum-hukum Islam secara terbuka, adil dan objektif kepada
mereka. Hingga mereka tahu apa manfaat positif dari hukum Islam itu.
Jangan sampai kita menjatuhkan vonis kepada orang yang tidak tahu permasalahan.
Dan untuk mempresentasikannya, memang dibutuhkan waktu, tenaga, metode,
pendekatan, diplomasi, sinergi, dan juga energi yang panjang. Tidak boleh
setengah-setengah dan kurang tenaga.
Maka bila semua pesan sudah tersampaikan, semua ajakan telah diterima dengan
jelas, sejelas matahari bersinar di siang cerah, bolehlah vonis kafir itu
dijatuhkan kepada penguasa yang zalim dan menolak mentah-mentah syariah Islam
secara 100 persen. Itu pun harus diawali dengan syura umat Islam dari seluruh
penjuru negeri.
Adapun pemerintahan yang masih dijabat oleh banyak umat Islam, di mana mereka
masih dalam proses untuk melakukan Islamisasi baik lewat jalur internal maupun
eksternal, tidak pada tempatnya bila langsung divonis kafir. Sebab semua masih
dalam proses, harus ada space untuk sebuah proses.
Wallahu a'lam bishshawab, wasalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
www.eramuslim.com
__________________________________________________________
Did you know that Yahoo! Mail is the World's favourite email? Find out why for
yourself.
http://uk.docs.yahoo.com/mail/winter07.html