Slm,
“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal soleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS Al Furqan [25]:71) Salah seorang pelayan Rasulullah SAW bernama Abu Firas. Ia adalah pelayan yang sangat cekap dan banyak sekali membantu Nabi dalam kesehari-hariannya. Suatu ketika Rasulullah SAW ingin memberikan sesuatu kepadanya sebagai tanda penghargaan. Nabi bertanya, “Wahai Abu Firas, mintalah kepadaku sesuatu yang dapat menyenangkan hatimu!” Abu Firas terdiam sebentar dan berkata, “Ya Rasulullah, aku meminta untuk dapat menemanimu kelak di syurga.” Nabi tersenyum dan berkata, “Mintalah yang lain yang dapat memberikan kesenangan bagimu di dunia ini.” Abu Firas berkata, “Tidak ada yang dapat menyenangkanku, kapanpun, kecuali syurga ya Rasulullah. Nabi menjawab, “Jika demikian, bantulah aku (untuk memperoleh permintaanmu itu) dengan memperbanyak sujud.” (HR Muslim) Apa yg Rasulullah SAW maksudkan kepada pelayannya yang juga merupakan sahabatnya, Abu Firas, adalah bukan sekedar meletakkan anggota badan yang berupa dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut dan jari-jari kaki untuk tunduk kepada Allah SWT tetapi lebih dari itu. Sujud bermakna ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran Rabb Yang Maha Agung akan segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Disamping itu sujud dapat diartikan sebagai ketidakberdayaan seorang hamba yang selalu merasa bersalah dihatinya sehingga ia selalu membutuhkan ampunan dan perlindungan dari Rabb-nya. Pada kesempatan yang lain, Nabi pernah menyampaikan bahwa ‘sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Rabb-nya adalah saat ketika ia bersujud.' (HR Bukhari & Muslim) Alangkah indah jawaban Nabi ketika mengatakan, “Bantulah aku (untuk memperoleh permintaanmu itu)...” Karena selama seorang hamba selalu bersujud kepada Rabb-nya, maka ia akan selalu dekat kepada Rabb pencipta-nya dan layak memperoleh tempat kembali yang baik sedangkan ketika ia melupakan sujud, disaat itu ia menjauh dan melupakan Rabb-nya. Dalam hal ini diperlukan kontinuitas (kesinambungan) dalam melaksanakannya yang kita sebut dalam bahasa iman dengan istiqamah. Hal ini tercermin pada kisah di dalam Al Quran dalam kisah Nabi Adam as pada QS Al Baqarah [2]:35 dan 38: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam, berdiamlah kamu dan istrimu di syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (ayat 35) “Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (ayat38) Ketika nabi Adam as masih tunduk dan patuh kepada Allah Azza wa Jalla, Allah menggunakan kata-kata “ini” yang berarti kedekatan-Nya kepada hamba-Nya, tetapi ketika nabi Adam as telah melanggar ketentuannya (hukum-hukum-Nya) dengan memakan buah dari sebuah pohon yang Allah larang untuk didekati, maka kata-kata yang dipakai adalah ‘itu’ yang berarti jarak yang ada antara nabi Adam dan Allah Azza wa Jalla. Hal ini membuktikan bahwa kedekatan seorang hamba kepada Rabb-nya ditentukan oleh ketundukannya dan kepatuhannya dalam menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang fakir kepada ampunan Rabb-nya Yang Maha Berkuasa -abufiras-

