Hebat sungguh bangsa serumpun kita di Indonesia ketika ini. Mereka sedang dalam 
proses membuat kapal selam yang bergerak seperti seekor buaya. Sebenarnya kapal 
selam yang menyerupai buaya ini pertama kali direka oleh saintis dan jurutera 
Islam zaman kerajaan Othmaniah di Turki sekitar abad ke 18.
 
Sebelum ini Indonesia telah membuat dan akan membuat pelbagai persenjataan yang 
hebat seperti kapalterbang, jet pejuang, kereta perisai, kapal selam dan banyak 
lagi seperti artikel di 
http://amkns.blogspot.com/2011/08/orang-melayu-dah-boleh-buat-kapal-selam.html 
 
Kapal Selam dari Surabaya 
 
4 November 2011, Jakarta (Humasristek): Perilaku buaya dalam menyelam, 
mengapung di permukaan, dan melayang untuk menyergap mangsa diadopsi menjadi 
Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil. Kapal tiga mode ini dirancang Wisnu Wardhana, 
dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya untuk pengamanan perairan.
 
Ini jenis kapal kombinasi yang pertama kali saya rancang. Sebelumnya, sudah 
puluhan kali merancang dan membuat kapal normal untuk kapal permukaan,” tutur 
Wisnu, saat ditemui pada hari Selasa (1/11), di bengkel kerjanya di Jurusan 
Teknik Kelautan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh 
Nopember (ITS) Surabaya.
 
Kapal Perang Crocodile-Hydrofoil (KPC-H) masih tahap pembuatan di tahun pertama 
selama tiga tahun berturut-turut. Proses saat ini mencapai 20 persen.
 
”Tahun ini sudah mendapat dua mesin kembar dan (kami) menyelesaikan tahap 
moulding atau pembuatan cetakan badan kapal,” kata dia.
 
Panjang kapal dirancang 12 meter dengan lebar maksimum 2,8 meter, dan tinggi 2 
meter. Berat jenis kapal supaya mudah melayang di dalam air harus disesuaikan 
dengan berat jenis air.
 
”Cara menghitungnya, berat kapal dibagi volume kapal sama dengan satu. Karena 
berat jenis air itu satu,” kata Wisnu. Bobot KPC-H direncanakan 14,37 ton.
 
Perilaku Buaya
 
Karakter atau perilaku buaya dalam menyelam ditiru dengan maksud untuk 
mewujudkan kapal pertahanan dan keamanan yang menghindari radar. Oleh karena 
mesin kapal yang dipilih sebagai mesin diesel tak dilengkapi sistem baterai, 
kapal ini tak bisa menyelam dalam.
 
”Kemampuan menyelam dirancang 5 hingga 7 meter dengan cerobong udara tetap di 
atas permukaan air,” kata Wisnu.
 
Kapal selam yang mampu menyelam dalam, biasanya menggunakan sumber energi yang 
pembakarannya tidak membutuhkan udara. Energi yang lazim digunakan berupa 
sistem baterai, fuel cell (sel bahan bakar), atau nuklir.
 
”Kecepatan maksimum kapal saat menyelam sampai 20 knot (sekitar 36 kilometer 
per jam),” kata Wisnu.
 
Untuk karakter berikutnya, yaitu kemampuan mengapung seperti kapal normal. 
KPC-H dirancang berkapasitas penumpang 6-8 orang.
 
Untuk karakter melayang di atas permukaan dirancang sebagai mode berkecepatan 
tinggi. Sebagai kapal pertahanan dan keamanan, kemampuan kecepatan tinggi 
tersebut berguna untuk melarikan diri.
 
”Pada saat mode melayang, hanya bagian sayap kapal yang menyentuh permukaan 
airnya,” kata Wisnu.
 
Kecepatan maksimum KPC-H pada saat melayang di atas permukaan mencapai 40 knot 
atau sekitar 72 kilometer per jam untuk hitungan 1 knot sekitar 1,8 kilometer 
per jam.
 
Berbagai Fungsi
 
Wisnu memaparkan, dengan berbagai karakter buaya tersebut menjadikan KPC-H 
memiliki berbagai fungsi. Ketika menyelam, memberikan kemampuan kapal ini untuk 
penyamaran hingga tidak terdeteksi radar.
 
”Radar tidak akan bisa menembus air,” kata dia.
 
Kemampuan menyelam itu sekaligus bisa untuk menyusup atau mencegat kapal yang 
menjadi target. Kapasitas angkut penumpang juga membuat kapal ini bisa untuk 
melepas pasukan komando secara hening (silent deployment).
 
Selanjutnya, kapal bisa untuk menempatkan ranjau, menyerang atau menghindar 
dengan cepat, serta meningkatkan akurasi tembakan dengan karakteristik gerak 
yang lebih leluasa.
 
Kapal ini juga bisa digunakan untuk mendukung perekaman data meteorologi, 
seperti kondisi awan, kecepatan angin, dan gelombang laut. Wisnu mengatakan, 
KPC-H dirancang untuk meringankan tugas pengamanan wilayah perairan.
 
”Pengawasan dan penjagaan perbatasan laut secara rutin dapat dilakukan dengan 
KPC-H ini sehingga dapat mengurangi biaya operasional secara rutin dari 
kapal-kapal perang besar,” kata dia.
 
Kondisi geografis Indonesia didominasi kelautan menjadikan kebutuhan akan kapal 
penjaga perbatasan wilayah kian mendesak.
 
Penjagaan teritorial dengan KPC-H, di antaranya, bisa mengurangi pencurian ikan 
atau penyelundupan kapal-kapal asing yang masuk wilayah perairan Indonesia di 
luar prosedur.
 
Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengalokasikan dana 
Rp 3 miliar untuk pembuatan prototipe kapal selam dengan tiga mode ini. KPC-H 
direncanakan selesai pada tahun 2013. Rencananya, akan diuji coba di Selat 
Madura, Jawa Timur.
 
http://beritahankam.blogspot.com/2011/11/kapal-selam-dari-surabaya.html 

Kirim email ke