anda baik sekali mau menerangkan dgn panjang lebar... kalau banyak org seperti anda di milis ini akan asik sekali. ini pujian lho...bukan sarkasme. :-)
On 12/29/05, xneakers <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > hmm...nilai 20% ini diukur berdasarkan apa dan dengan apa? > > mp3 encoder seperti LAME menggunakan prinsip psychoacoustic utk > mengencode. > > jadi kalau berdasarkan kualitas, mp3 dgn bitrate tertinggi (320kbps) > > sudah sangat bagus sekali oleh telinga manusia. saya yakin dengan > > perangkat multimedia high-end (yg consumer grade) pun anda akan > > kesulitan membedakan kualitas antara cd audio dgn LAME mp3 320kbps > > dalam blind listening test. > > ===== Saya akuin, nilai 20% ini memang murni keluar sebagai penilaian > saya untuk kualitas MP3, bukan objektif. Untuk orang lain saya yakin > masih ada banget koq yang bilang MP3 itu 100% sama dengan CD. It's > oke, karena tiap orang punya kualitas telinga yang berbeda dan juga > menggunakan peralatan yang berbeda untuk mendengarkan musiknya. > Beruntunglah Anda yang masih puas dengan MP3, dan kurang beruntunglah > Anda yang kupingnya selalu minta CD asli (apalagi jika Anda bukan > termasuk orang yang rela keluarkan ratusan ribu buat 10-15 lagu dalam > satu CD). hmm..saya tidak bilang mp3 itu sudah 100% sama dengan audio cd. tp di perangkat multimedia yg dipakai di kebanyakan pc dan apalagi discman, praktis akan susah sekali membedakan kualitasnya. > > Btw, Anda pernah cobain sendiri gak bandingkan MP3 dengan CD asli di > perangkat yang bagus? Kebetulan rekan saya banyak sekali yang termasuk > audiophile hi-end, yang kupingnya uda emas atau platinum kali (sayanya > sih masih kuping pangsit dengan peralatan cap kucing kurap). Orang2 > macam ini memang agak2 sulit dipercaya... beli speaker 1 Milyard, beli > amplifier 100 juta, CD Player (enggak bisa MP3, enggak bisa DVD, CD > Audio only) seharga 22.000 pounds, dan ada lagi yang kabel speakernya > seharga 1 Avanza sepasang! Awalnya saya sendiri enggak percaya dengan > tetek bengek gituan... la wong saya ini orang teknis, liat apa2 itu > dari pengukuran... kalo sama ya teorinya akan sama pula hasilnya... > saya pernah ukur parameter dua buah kabel yang bedanya hanya > sepersekian angka di belakang koma (saya pe-de bahwa dua kabel ini > akan berbunyi sama persis, angka sepersekian di belakang koma itu saya > percaya tidak akan ditangkap telinga manusia), satu harganya kurang > dari Rp 10.000/meter dan satu lagi beberapa juta Rp per-meter... saya > sempet bilang kalo orang2 ini cuman pamer doank beli peralatan ratusan > sampe milyaran... tapi pas saya denger sendiri, kabelnya diganti aja > langsung kedengaran bedanya (dan tanpa dikasih tau kabelnya, saya > jujur bilang kalo kabel X ini lebih bagus, dan ternyata kabel yang > saya bilang lebih bagus itu adalah kabel X, yang harganya lebih mahal) > ... apalagi puter CD asli ama MP3... langsung deh ibarat orang mah > ditelanjangin... > wow...saya percaya itu. tp saya juga percaya ngga banyak org di milis ini yg mampu membeli peralatan audio seharga bermilyar2 dan punya telinga emas/platinum. saya ngerti kok kerewelan para audiophile2 itu. > Saya sudah buktikan sendiri koq... saya sempat jebak mereka dengan > beberapa CD (ada yang dari MP3, encoded pake LAME 320 Kbps dan > beberapa loseless compression macam Monkey Audio) dan mereka terbukti > bisa membedakan mana yang asli dan mana yang convertan. Saya enggak > pake contoh diri saya sendiri ya, saya pake contoh orang lain aja > hihihi... > > Ada yang lebih extreme lagi, CD copy-an dengan berbagai jenis media > juga menghasilkan kualitas suara yang berbeda. Dan ini bisa koq > dibedakan, khususnya oleh mereka yang punya peralatan hi-end dan > kuping yang bagus tentunya... walaupun sekali lagi tidak dengan > perangkat yang standar. > > Anda boleh bilang kalo MP3 itu pake psychoacustic dan tetek bengek > lainnya. Tapi saya pernah bikin program untuk menebak sample rate dari > MP3. Saya bisa membedakan MP3 128 Kbps dengan akurasi 100%. MP3 dengan > bitrate 256-320 Kbps saya akuin agak sulit dibedakan dengan perangkat > consumer (PC standar). Tapi begitu di burn ke CD dan diplay di > perangkat beneran, barulah kerasa sekali kalo ini MP3 dan ini adalah > original. wah..itu bukan tetek bengek bro...itu beneran, coba deh diskusi ini di hydrogenaudio.org. and that's what i said....di pc multimedia biasa (biarpun yg high-end) akan sulit sekali membedakannya. well, setidaknya itu untuk saya. hmm sayang sekali...padahal saya merasa telinga saya sudah cukup rewel... :-( > Kasarnya sama kaya kompresi gambar. JPEG kalo dipake kompresi terendah > (ukuran file terbesar) juga sepintas sih keliatan sama2 bagusnya > dengan uncompressed. Tapi begitu kita print di printer dengan dpi > tinggi dan ukuran besar, barulah keliatan, mana yang JPEG dan mana > yang TIFF misalnya. Tapi dalam most cases, misalnya print 4R, rasanya > mau JPEG compresi rendah (ukuran file maksimal) dengan TIFF juga > enggak akan berbeda. > > > > Dari CD ke WAV kualitasnya masih di atas 75% dari kualitas asli. > > > > kalau proses ripnya (membaca bit2 yg ada di cd) 100% akurat ya anda > > bisa mendapatkan kualitas 100% dr yg asli, bukan krn dijadiin wav. > ini > > ditentukan oleh faktor seperti apakah cdnya ada scratch, atau > optiknya > > perfect > > ===== Masalahnya, hampir tidak mungkin mendapatkan perfect di sini. > Anda tau alasan kenapa CD Audio itu mahal? Bukan karena license koq... > Anda bisa lihat CD keluaran lokal yang termasuk audiophile-like-grade > macam Sangaji Music itu dijual kurang dari 100.000 per-CD. Mereka > sudah nyanyikan lagu2 barat populer (bayar lisensi tentunya). > > Yang membuat CD Audio mahal itu adalah kualitas duplikasi. Beda mesin > stamper juga menghasilkan kualitas CD yang berbeda. Untuk memastikan > dua CD itu sama persis harus dibandingkan lagi dengan detail. Tolerasi > vendor CD ternama itu IIRC 0.01-0.05%. Di luar itu, CD tidak boleh > dijual (atau reputasi mereka akan rusak). Oleh karena kesulitan inilah > harga CD jadi mahal. Enggak semua vendor seperti ini sih, setau saya > yang macam Opus, Proprius, Linn, Telarc, Naim, etc. Kalo CD-CD > "Audiophile wanna-be" macam Susan Wong, Emi Fujita, Basso, etc sih > maaf-maaf saja, tidak masuk hitungan. CD-CD ini lebih ngejar ke suara > yang dipengenin ama calon pendengar (di-boost sana-sini). Hasilnya > adalah suara yang sudah tidak murni lagi. Saya menemukan beberapa > clipping di CD-CD seperti ini akibat terlalu tinggi boost-nya (enggak > liat kalo uda nyentuh 0 dB kali ya?). Sekali lagi, enggak semua orang > bisa denger itu clipping... beberapa rekan saya baru ngeh ketika saya > suruh dia denger presisi di menit sekian detik sekian. Sebelumnya dia > bilang dia enggak nyadar kalo ada clipping di sana-sini. > > Ada salah satu produsen CD yang terkenal dari Jepang yaitu JVC. Mereka > merilis teknologi CD yang dikenal dengan sebutan XRCD. XRCD ini > kompatibel dengan CD Player biasa, tetapi proses mastering harus > dilakukan di Lab JVC Jepang. Apa yang dilakukan oleh JVC itu > sebenarnya tidak sulit, yaitu menyamakan word clock antar perangkat > mastering dan menjamin aliran listrik yang stabil (dengan frekuensi > yang sama). Hasilnya adalah kualitas CD yang sangat premium (walaupun > menurut saya terlalu detail bahkan, jadi cenderung bright karakternya) > . Coba kalo Anda iseng, mampirlah ke toko CD (saya biasa ke Sangaji > atau Audiophile's di M2M). Coba tanya title XRCD (biasanya sih XRCD > enggak bisa dicoba, karena packingnya exclusive, kecuali kalo Anda > kebetulan ketemu demo yang bisa dicoba ataupun uda kenal ama yang jual > hihihi). Silakan cobain deh XRCD ini dan saya tunggu komentarnya... > XRCD ini juga harganya termasuk sangat mahal, berkisar antara 225-275 > ribu per-CD-nya. ya saya percaya dengan anda dan keliatannya anda tahu mengenai seluk beluk audio cd. tp yg saya tekankan adalah lossless compressionnya bukan cd, saya pake contoh saja ya. kalau anda mengkompres file A dengan winrar (lossless compression) dan kemudian uncompress kembali ke file asalnya. apakah file A dan file terakhir ini identical? yes, of course. end of story. > Ada banyak klenik lagi di audio... susah untuk bikin orang2 teknis > kaya kita ini buat percaya (kecuali disuruh denger langsung). Saya > juga awalnya enggak percaya dengan speaker yang bisa sampe 40000 Hz, > 60000 Hz dan seterusnya. Telinga manusia kan cuman bisa terima 20- > 20000 Hz. Penasaran, saya dan rekan pernah coba tweeter yang bekerja > sampe 20000 Hz dan yang sampe 40000 Hz bahkan 100000 Hz. Simply, > dengan tweeter yang bekerja di atas 20000 Hz akan memberikan nuansa > suara yang lebih "hidup". Sama juga kaya subwoofer, saya pernah coba > beberapa subwoofer yang bekerja secara extreme, sampe 15 Hz. Jelas ini > di bawah pendengaran manusia. Tapi kalo pas lagi nonton film horror > misalnya, kerasa sekali subwoofer seperti ini memberikan nuansa extra > (lebih mencekam), walaupun umumnya frekuensi rendah ini sudah tidak > bisa kita dengar, tapi bisa kita rasakan. Otak memang tidak > menerjemahkan nada2 ini sebagai musik, tapi mengirimkan nada2 ini ke > saraf kita yang lain. You cant hear it, but you can feel it. hmm ini benar sekali...saya pernah baca suatu artikel. frekuensi rendah (20hz kebawah) bisa mengakibatkan efek creepy seperti udara terasa mendadak dingin dan bulu tengkuk yg berdiri. > Kayanya kurang pantas kalo bicarakan audio di sini. Ada baiknya rekan > yang mau bahas lebih lanjut silakan bahas di http://www.chip.co.id/ > forum/forumdisplay.php?f=112 aja. Ada beberapa rekan yang kerjanya di > studio lokal, ada juga yang punya peralatan ratusan juta bahkan sampe > Milyaran yang join di forum ini (kebanyakan dari mereka sih cuman > posting sesekali aja). Mungkin dari mereka bisa lebih banyak sharing, > daripada saya yang cuap2 disangka mengada-ada :) wah..saya tidak bilang anda mengada2 kok, saya tau anda cukup knowledgeable dari posting-an2 anda sebelumnya. saya cuma heran dengan angka 20% itu. that's all. :-) > Thanks maaf kalo jadinya curhat... :) > > Sincerely, > Jimmy Auw. -- www.itcenter.or.id - Komunitas Teknologi Informasi Indonesia Info, Gabung, Keluar, Mode Kirim : [EMAIL PROTECTED] :: Hapus bagian yang tidak perlu (footer, dst) saat reply! :: ## Jobs: itcenter.or.id/jobs ## Bursa: itcenter.or.id/bursa ## $$ Iklan/promosi : www.itcenter.or.id/sponsorship $$ [@@] Jaket ITCENTER tersedia di http://shop.itcenter.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
